Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA65


__ADS_3

"Tapi ini beneran gak bisa ditahan Ra..." Fabian meraih tangan kanan Khey dan menumpu pada gulungan handuk di atas perut ratanya.


Lagi dan lagi tindakan Fabian membuat Khey harus menelan salivanya kelat. Sepertinya mulai besok Khey harus menyiapkan air putih di atas nakas agar Khey dapat sewaktu waktu meminumnya untuk membasahi kerongkongannya yang bakalan terasa kering saat berdekatan dengan Fabian tengil.


"Please Bi jangan sekarang..." Khey menarik tangannya dari atas gulungan handuk mandi Fabian dengan cepat. Takut jika Fabian membawa tangannya ke dalam handuk, dan tangan perawannya itu bakal ternodai dengan menyentuh pabrik kecebong Fabian.


"Gue gak bisa menahannya Ra..." lagi Fabian dengan mimik wajah menahan sesuatu.


Khey bingung bagaimana caranya mengundur keinginan Fabian yang menurutnya hendak menyalurkan hasrat kelakiannya, Khey tau itu. Karena Khey bukan anak yang bodoh dan tidak memahami maksud suaminya, tidak mungkin dirinya salah memahami maksud Fabian. Khey yakin.


Khey menghembuskan nafas dalam, sepertinya percuma membuang pikiran dan tenaga untuk menolak keinginan Fabian.


Akhirnya Khey memilih merebahkan tubuhnya ke ranjang kembali.


"Lakukanlah apa yang lo pengen lakukan, itu hak lo Bi..." Khey lalu memejamkan kedua matanya.


Fabian mengernyit heran saat melihat apa yang dilakukan oleh isteri barbarnya. Namun sedetik kemudian Fabian tertawa dalam hati, saat menyadari maksud Khey.


"Ra... ngapain lo merem?" Fabian yang masih duduk di tepi ranjang pura pura tidak mengerti.


Ngapain tanya gue merem segala sih... enggak tau apa kalau ini pengalam pertama gue, ya malu lah... Dasar cowok tengil nggak peka... Khey menggerutu dalam hati.


"Udah lakuin aja yang lo pengen..." Khey dengan menahan kegugupannya.


Fabian semakin tidak dapat menahan tawanya dengan tingkah Khey yang menurutnya terlihat pasrah menyerahkan dirinya. Sepertinya Khey mengira jika Fabian akan meminta haknya malam ini.


"Melek dulu..." tangan dingin Fabian menepuk pipi Khey.


Meskipun tangan Fabian itu dingin karena baru saja selesai mandi, namun tangan dingin itu membuat efek rasa hangat menjalar pada sekujur tubuh Khey.


Khey pun sekuat tenaga menahan gejolak tubuhnya yang seakan menginginkan sentuhan lebih pada seluruh bagian tubuhnya.


"Ngapain lagi sih, ntar keburu gue berubah pikiran nih.." Khey dengan kedua mata yang masih terpejam, menggigit bibir bawahnya, tegang.


"Buka dulu mata lo..." tangan Fabian kini mencoba membuka kedua kelopak mata Khey yang masih saja tertutup rapat.


"Apa lagi sih?!" Khey ketus dengan terpaksa membuka kedua matanya.


"Ini nggak bisa ditahan kenapa lo malah merem sih..." Fabian dengan mengusap perutnya.


"Maksud lo apa sih Bi?"


Kruukk... krukk...


Belum sempat Fabian mengatakan yang sebenarnya terdengar bunyi dari perutnya. Sepertinya perut Fabian lebih jujur dari mulutnya.


"Tu kan cacingnya udah kelaperan min ta disuapin..." Fabian berucap dengan santainya.


Khey tersentak kaget, ternyata apa yang diinginkan Fabian bukan seperti dugaannya.


Fabian tidak dapat menahan tawanya saat melihat reaksi terkejut.


Emmpftt.... hakahakakk

__ADS_1


"Elo pikir gue bakalan minta jatah kan?" Fabian ngakak dengan mendekatkan wajahnya pada Khey.


"Enggak!!" Pekik Khey dengan memalingkan wajah merah padamnya dari hadapan Fabian tengil.


Sungguh rasanya Khey ingin mencakar wajah tampan suaminya itu saat ini juga namun apa daya rasa gugup dan malu lebih mendominasinya saat ini.


Kennan bangkit dari ranjang dengan tawa tergelak. Fabian sengaja meninggalkan Khey menuju almari pakaian agar gadis bar bar itu memiliki ruang untuk menghapus rasa malunya.


Khey menatap Fabian tidak percaya, selalu saja cowok tengil itu mempermainkannya.


Tetapi dengan beranjaknya Fabian dari ranjang, Khey menjadi sedikit lega dan menghembuskan nafasnya karena sudah terhindar dari situasi yang menurutnya sangat sulit untuk bernafas.


"Habis gue pakek baju kita makan malam bareng." Fabian dengan memasukkan kaos pada tububnya.


"Tunggu... Gue keluar dulu." Khey dengan gegas beranjak dari ranjang dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia harus segera menghindar sebelum matanya kembali ternodai.


Khey tidak mau mengulang melihat Fabian memakai celana pendek dengan seenak udel di depannya, apalagi saat ini dengan kondisi kedua matanya yang terbuka lebar.


Lagi lagi Fabian terbahak saat melihat reaksi Khey yang tentunya sangat malu saat ini. Dan lagi gadis bergelar isteri sahnya itu pasti mengira jika dirinya akan mengganti handuk mandi dengan celana pendek di depannya.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Enak nggak?" Fabian dengan menumpukan kedua lengan tangan pada punggung sofa saat melihat Khey mengunyah martabak manis yang dibelikan oleh Septi saat pulang dari mall tadi.


Khey menoleh dengan mengangguk mengiyakan karena mulutnya masih penuh dengan potongan martabak manis rasa coklat keju kesukaannya.


Fabian menunggu beberapa saat hingga gadis itu selesai mengunyah potongan martabak manis dan menelannya.


"Ini tadi barusan makan kan...?!" Khey dengan menunjukkan sisa gigitan martabak manis yang masih di tangan.


"Maksud gue bukan makan itu yang, tapi makan nasi." jelas Fabian.


"Gue udah makan, tadi bareng Bik Mun sama Pak Ujang."


"Oh... lo gak mau nemenin gue makan nih?"


"Enggak. Gue udah pewe, lagian drakornya hampir habis... episode terakhir nih." Khey dengan memandang layar datar di depannya yang telah kembali menayangkan gambar manusia manusia plastik kek manekin baju di mall.


Kennan menghembuskan nafas pelan sembari menegakkan tubuhnya.


Melihat hal itu Khey sedikit merasa bersalah, Khey menilai jika saat ini Fabian kecewa karena dirinya telah menolak menemani Fabian makan. Padahal setelah pernikahan keduanya beberapa bulan lalu tersebut. Fabian selalu berusaha menemaninya makan jika berada di rumah.


"Bawa sini aja makannya, biar ada temannya." Khey mencoba memberikan Kennan pilihan agar dia tidak kecewa.


"Gak papa... gue makan di meja makan aja, ntar gue balik ke sini kalau udah selesai. Lo jangan kemana mana, di sini aja." Fabian tersenyum mengacak pucuk kepala Khey sejenak lalu berjalan ke ruang makan.


Fabian memang terbiasa makan bersama dengan anggota keluarganya saat di rumah, makanya dia sudah terbiasa makan dengan tidak meninggalkan meja makan.


"Eh Aden... Aden mau makan?" Bik Mun yang sedang merapikan meja makan bertanya saat melihat kedatangan Fabian di sana.


"Iya Bik." Sahut Fabian ramah lalu mendudukkan diri pada kursi makan.


"Mau bibik angetin dulu sayurnya?" tawar Bik Mun pada Fabian.

__ADS_1


"Enggak usah Bik, nasinya hangat kok." Fabian menolak halus, dia tidak ingin membuat asisten rumah tangga itu kerepotan. Toh Fabian bukan orang yang pemilih, kecuali pada makanan yang membuatnya alergi.


"Kalau gitu bibik tinggal ke belakang ya den, nanti piring kotornya di taruh saja biar bibik yang beresin."


Bik Mun pun segera berlalu dari ruang makan yang terhubung dengan dapur bersih, menuju area belakang tempatnya beristirahat setelah mendapatkan anggukan dari Fabian.


Fabian pun segera menyantap makanannya dengan segera.


Beberapa menit kemudian, Fabian pun menyelesaikan makan malamnya.


"Biar gue yang beresin." Tetiba Khey berdiri di samping Fabian sambil meraih piring kotor Fabian.


Fabian pun membiarkan Khey membawa bekas alat makan miliknya dan mencucinya.


Dalam hati Fabian tersenyum dengan sedikit perhatian dari Khey. Biarpun perlahan, Fabian yakin isteri bar barnya tersebut pasti akan menerima kehadirannya.


Sepeninggal Khey, Fabian menutup sisa makanan di atas meja dengan tudung saji kemudian berlalu menuju ruanga keluarga.


"Nih teh anget buat lo." Khey meletakkan secangkir Teh dengan tatakannya di atas meja.


"Tanks yang..." Fabian tersenyum manis.


Hm...


Khey menggumam lalu mendudukkan diri di samping Fabian.


"Martabak telornya nggak dimakan? Kenapa nggak suka? Itu rasa daging sapi kesukaan lo..." Fabian merepet saat melihat marbak telornya masih utuh tersaji di atas piring.


"Kenyang. Tadi makan martabak manisnya kebanyakan." jelas Khey agar Fabian tidak merasa kecewa.


"Oh... Kirain nggak suka."


"Suka kok, lagian rasanya juga enak banget."jujur Khey. Karena memang rasa martabak oleh oleh Fabian benar benar pas di lidah, mengingatkan Khey pada penjual martabak kesukaannya yang berada di daerah neneknya.


Khey pun menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, membuat bahunya merapat pada bahu Fabian.


Khey sedikit menjauhkan tubuhnya karena takut membuat jantungnya tidak sehat jika terlalu lama berdekatan dengan Fabian.


Melihat itu Fabian merengkuh bahu Khey kembali merapat padanya.


"Nggak usah jauhan. Gue lebih suka kek gini, biar makin mesra. Lagian filmnya cocok untuk mesra mesraan." Fabian dengan merebahkan kepalanya pada bahu sang isteri.


"Apaan sih Bi..." Khey salah tingkah, memandang layar datar di depannya untuk menghilangkan rasa aneh yang menjalari tubuhnya.


Manik mata Khey membola saat layar datar di depannya menampilkan sepasang remaja yang berciuman bibir dengan mesra di atas sofa.


"Ra kita praktekin yuk, yang kek gitu..." Fabian dengan suara serak berbisik pada Khey.


Hek....


Jantung gue..... Khey tercekat.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2