
"Bunda liat Abi nggak?" Khey sedikit berseru karena dirinya sedang menuruni tangga sedangkan bunda mertuanya terlihat berjalan ke arah dapur.
Bunda Fabian menghentikan langkah kakinya saat mendengar seruan Khey. Lalu menoleh ke arah tangga rumah, dimana Khey berjalan menuruni tangga.
"Bukane dia dari tadi di atas?" Bunda dengan kening mengerut.
"Di kamar nggak ada Bun." Khey dengan menuruni anak tangga kembali, karena barusan sempat berhenti saat bertanya pada sang mertua.
"Sejak pulang sekolah tadi keknya bunda belum liat dia turun deh." Bunda terlihat mengingat.
"Masak sih Bun, dari tadi Ara di kamar sendirian kok. Abi nggak ikut masuk kamar." Khey berkata yang sebenarnya.
Sepulangnya dari taman kota tadi siang Khey dan Fabian memang tidak memasuki rumah bersamaan. Khey berlari masuk rumah terlebih dahulu karena baju seragam sekolahnya sedikit kotor terkena tumpahan es krim.
Sedangkan saat Khey masuk ke dalam rumah, suami tengilnya itu masih berada di dalam mobil.
Hingga Khey selesai mengganti baju seragamnya, sosok suami tengilnya itu tidak kelihatan batang hidungnya di dalam kamar. Bahkan hingga Khey tertudur lelap pun Fabian tidak muncul di dalam kamar mereka.
"Lah emangnya Abi nggak naik apa?" Bunda dengan raut bingung.
Khey menggedikkan bahu. "Di kamar beneran nggak ada bun."
"Apa di taman belakang ya? Tapi perasaan bunda lihat Abi naik deh..."
"Nyatanya nggak ada bun." Khey pun sedikit berlari menuruni anak tangga agar cepat sampai ke lantai bawah.
Membuat sang mertua memandang miris aksi menantu remajanya.
"Jangan lari lari kek gitu, nanti bisa jatuh."
Bukannya menghentikan larinya Khey malah mempercepat dengan tertawa riang. Layaknya anak kecil yang kesenangan mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan.
"Ara... jalan aja!" seru Bunda Fabian dengan meletakkan telapak tangan tepat di dadanya.
Khey mengabaikan seruan mertuanya.
Bruk.
Khey menghambur memeluk erat sang mertua saat berhasil mencapai lantai bawah.
"Bunda takut Ara jatuh kan..." Khey dengan merenggangkan pelukannya.
"Huh... berasa mau copot jantung bunda." sang mertua dengan memasang wajah pura pura kesal.
"Nyatanya enggak kan?!" Khey menggelayut manja pada lengan sang mertua.
"Ck... masih saja seperti dulu, selalu bikin khawatir." Bunda menyentil pelan kening sang menantu.
"Bunda sakit ih..." Khey mengusap keningnya berulang.
"Siapa suruh bikin bunda khawatir."
Hehehe...
Khey terkekeh kecil dengan watadosnya.
__ADS_1
"Coba cek taman belakang sana, siapa tau Abi di sana. Deket sama kamu lama - lama bisa bikin bunda jantungan."
"Enggak segitunya kali bun..." Khey masih saja terkekeh.
"Udah sana." Bunda mengusir dengan tersenyum seraya berlalu menuju ke arah dapur.
Sungguh menantu yang berlaku bagai anak kandung, jika ada orang lain yng melihat interaksi mereka.
Khey segera beranjak menuju taman belakang setelah sang mertua kembali melanjutkan tujuannya.
"Ck... masih saja seperti dulu, selalu bikin khawatir." ucapan sang mertua beberapa saat lalu tetiba terngiang kembali di telinga Khey.
"Tunggu bunda tadi ngomong gitu nggak sih, atau gue yang salah denger..." Khey mengingat dengan berjalan pelan menuju taman belakang rumah keluarga Fabian tengil.
"Ah... gue pasti salah denger." Khey menngelengkan kepala pelan, membuang ingatannya yang samar.
Khey menoleh ke kanan di mana terdapat kolam renang yang sangat besar di sana, memastikan pandangannya. Namun sepertinya suami tengilnya tersebut tidak berada di sana.
Kemudian Khey beralih menoleh ke kiri dimana terdapat lapangan basket yang biasa Fabian gunakan untuk berlatih saat senggang. Sepi...
Khey pun melanjutkan langkahnya menuju ruang gym, mungkin saja Fabian di sana.
Sesampainya di sana tidak tampak batang hidung Fabian. "Kemana sih dia...?" Khey dengan menggumam.
Karena masih penasaran Khey pun melanjutkan langkah kakinya hingga sampai ke garasi mobil.
"Mobilnya lengkap, apem dia juga ada... terus ke mana dia..."
Khey memutuskan kembali ke dalam rumah setelah tak kunjung menemukan Fabian suaminya.
"Kok bisa?! Keluar mungkin..." Bunda dengan kurang yakin.
"Nggak mungkin, mobilnya sama motornya ada kok."
"Lah terus kemana dia?! Coba cari ke kolong tempat tidur, siapa tau dia main petak umpet trus ketiduran."
"Bunda jangan bercanda deh..." Khey terkekeh kecil.
"Habisnya nggak ada di mana mana. Coba telfon aja, siapa tau dia keluar sama temennya."
"Iya ya... kenapa Ara nggak kepikiran sih." Khey menepuk kening seperti diingatkan. Bunda pun tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Makasih bun..." Khey dengan berlari menaiki tangga seolah tak sabar untuk menemukan sang suami.
"Ara!!" seru Bunda.
Khey yang baru menaiki benerapa anak tangga, terpaksa menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh ke belakang, di mana mertuanya masih tetap pada posisinya.
"Coba cek ruang belajarnya."
"Ruang belajar??" Khey mengulang kata kata sang mertua dengan kening mengerut.
"Iya. Mungkin Abi ada di sana."
"Ruangan yang pojok itu ya bun?" tanya Khey dengan menunjuk pintu kamar atas yang sedikit berada di bagian pojok.
__ADS_1
Bunda mertuanya mengangguk. "Iya."
"Ya udah kalau gitu, Ara cari Abi dulu ya Bun..." pamit Khey, kembali menaiki anak tangga setelah mendapat anggukan dari bunda mertuanya.
"Ara!!" Bunda berseru kembali saat Khey menaiki anak tangga dengan berlari.
"Iya bun..." Khey dengan menoleh.
"Jangan lari, jalan saja. Bunda takut kamu jatoh." Bunda dengan nada sedikit mengancam.
Khey meringis. "Iya bun."bkhey seraya menaiki tangga kembali, kali ini hanya dengan berjalan.
Tok... tok...
Khey mengetuk pintu yang dimaksud oleh sang mertua. Kemudian menunggu beberapa saat, sepertinya tidak ada sahutan dari dalam sana.
Khey merapatkan telinga ke pintu untuk meyakinkan diri jika memang tidak mendengar jawaban dari balik pintu tersebut.
Kembali Khey mengetuk pintu. Tetap saja tidak ada jawaban.
Lalu dengan sedikit ragu Khey mengayun tuas pintu.
Ceklek, pintu terbuka. Ternyata tidak terkunci.
Khey melongokkan kepala ke dalam ruangan kemudian perlahan kakinya menyusul memasuki ruangan.
Jujur saja meski Khey sudah tinggal hampir satu bulan di rumah sang mertua, dirinya belum sepenuhnya memasuki seluruh ruangan di rumah besar keluarga Fabian yang lebih pantas disebut sebagai mansion tersebut.
Jangankan seluruhnya, ruangan lantai dua yang menjadi wilayah suami tengilnya saja Khey belum memasuki semuanya. Termasuk ruangan yang disebut Bunda Fabian sebagai ruang belajar sang suami ini.
Khey menutup pintu kembali dengan pelan.
Udara sejuk pendingin ruangan menyusup tubuhnya, membuat bulu bulu halus di tubuhnya seakan berdiri. Tubuh Khey memang cukup sensitif dengan udara dingin.
Dengan langkah pelan Khey memasuki ruangan yang cukup besar dengan warna maskulin yang dapat menggambarkan bahwa pemiliknya adalah seorang lelaki.
Dalam hati Khey berdecak kagum dengan adanya rak tinggi yang menempel hingga atap ruangan. Dimana aneka buku berjejer rapi di dalamnya.
Kemudian pandangannya beralih pada meja yang cukup besar berada di ruangan tersebut. Di mana di atasnya terdapat seperangkat komputer dengan monitor yang dangat besar.
Sesaat Khey ragu untuk mendekat. Khey memaku langkahnya seraya memindai sekeliling. Apakah dirinya salah memasuki ruangan?
Larena penasaran Khey memutuskan berjalan mendekat pada sebuah meja yang lebih pantas disebut sebagai meja kerja ketimbang meja belajar tersebut.
Hingga manik hitamnya tanpa sengaja menangkap sebuah pigura kecil di atas meja yang di dalamnya terdapat gambar yang tak asing baginya.
Segera meraih bingkai foto, dimana terdapat gambar seorang anak lelaki kecil serta anak perempuan sebaya yang tersenyum ke arah kamera sembari bergandengan tangan.
Deg...
Jantung Khey berdetak dengan kencang.
"Ab_bbi..." desis Khey lirih saat telah memastikan wajah di dalam bingkai foto tersebut.
ππππ
__ADS_1