Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA104


__ADS_3

"Iya deh iya... gue salah ngomong. Maaf...." Fabian dengan senyum tulus.


Lalu menarik tubuh Khey untuk menghadapnya kemudian melingkarkan kedua lengan kokohnya pada tubuh ramping Khey.


"Sekarang jujur deh sama gue, apa yang bikin lo kesal hari ini..." Fabian dengan memandang lurus manik hitam sang isteri.


Membuat Khey harus menelan ludahnya kelat.


Posisi keduanya yang kini saling berhadapan membuat Khey tidak dapat menghindar dari tatapan mata Fabian. Khey pun salah tingkah dibuatnya.


Degub jantungnya kembali bertabuh, detaknya semakin cepat seiring manik hitam Fabian yang tidak berhenti menatapnya bak laser yang siap menghunus, membelah dadanya.


"Elo nggak mau ngomong Ra..." Fabian dengan tanpa memutus tatapan matanya. Membuat Khey gelagapan.


"Ra..."


"Ah iya... itu... itu... em..." Khey seperti tak sanggup mengungkapkannya.


Sedangkan Fabian terlihat semakin tidak sabar mendengarnya.


Khey pun memilih menundukkan kepala, memilin ujung bajunya.


"Ggue nggak suka elo deketan sama Nina..." akhirnya kalimat tersebut keluar dari bibir Khey, meskipun dia mengucapkannya dengan tersendat.


Fabian mengernyit.


"Nina!! Gue sama Nina...?!" ulang Fabian sembari mengingat.


Khey menganggukkan kepala berulang dengan pelan. Sungguh malu rasanya saat mengungkapkan kalimat itu di saat dirinya selalu menampik rasanya pada Fabian.


Entah apa yang bakal Fabian lakukan setelah ini, mengejek, atau bahkan bakal menertawainya. Hanya kemungkinan itu yang bakal diterima olehnya nanti.


Senyum kecil terbit pada bibir Fabian saat menyadari arti kalimat sang isteri yang mengandung rasa cemburu.


Kedua lengan kekarnya semakin mengerat pada tubuh ramping di hadapannya tersebut.


"Makasih udah cemburu sama gue..." ucap Fabian dengan sedikit menundukkan kepalanya, karena posisi keduanya yang sedikit berbeda tinggi.


Heh... Khey sontak mendongak.


Keningnya mengerut saat mendengar ucapan Fabian suami tengilnya.


Reaksi Fabian sungguh di luar ekspektasi Khayyara. Bukannya mengejek ataupun tertawa, melainkan senyum manis menghiasi wajah tampan yang selalu disebutnya tengil tersebut.


"Kok makasih sih...?!" Khey dengan wajah cengonya.


Fabian semakin melebarkan kedua sudut bibirnya saat mendengar pernyataan bingung sang isteri.

__ADS_1


"Iyalah... kalau lo cemburu waktu gue sama Nina di sekolah tadi itu berarti tandanya elo udah ada rasa ke gue, iya kan..." Fabian dengan menggoda.


Sesaat Khey terdiam mencerna ucapan Fabian tengil. Lalu setelahnya....


"Enggakk... gue enggak..." Khey dengan teriakan masih saja menepis anggapan Fabian jika dirinya mulai memiliki rasa pada suami tengilnya. Kedua tangan rampingnya hendak memukul pelan dada bidang Fabian. Namun dengan cekatan Fabian menahannya.


"Nggak perlu lo teriak kek gitu, bahasa tubuh lo udah kasih tau ke gue."


Ucapan Fabian sontak membuat Khey tertunduk malu, sepertinya percuma mengelak sekarang.


"Gue sama Nina cuma temenan Ra. Nggak ada hubungan spesial di antara kami, gue sama dia cuma temenan doang." Fabian tanpa diminta langsung menjelaskan pada Khey. Fabian tidak ingin membuat kesalahpahaman diantara keduanya.


"Gue nggak nanya." Khey pura pura ketus dengan masih menunduk. Berusaha keras menahan degub jantung yang mulai berdegub kencang.


Fabian terkekeh kecil.


"Gue ngasih tau. Biar isteri gue nggak uring uringan gak jelas."


"Gue nggak pengen tau." Khey masih saja menutupi rasa kesalnya karena gengsi.


Fabian meraih dagu Khey, membuatnya mendongak.


"Nggak usah gengsi. Kalau cemburu bilang aja cemburu."


"Gue enggak cemb...."


Cup...


Sontak membuat Khey membola.


Hanya beberapa detik, Fabian segera menarik bibirnya.


"Enggak usah ngeles mulu. Gue seneng kok elo udah move on. Hati gue siap setiap saat buat tempat berlabuh..." Fabian mengerling menggoda Khey.


Semburat merah mewarnai pipi putih Khayyara.


Tangan kanan Fabian mengusap lembut pucuk kepala Khey, kemudian menyisipkan anak rambut yang berurai ke sela daun telinga sang isteri.


"Apapun yang elo rasa, baik itu marah, kesel, seneng ungkapin ke gue. Enggak usah malu karena gue suami lo, gue harus jadi tempat pertama lo buat berbagi."


"Gue bukan cenayang yang bisa setiap menebak isi hati lo, ngerti sama perasaan lo. Gue cuma manusia biasa. Seorang cowok yang sering kali tidak peka sama keadaan." Fabian dengan tidak menyurutkan senyum pada bibirnya.


Hati Khey menghangat. Sungguh baru kali ini dirinya mendapatkan perhatian tulus dari orang lain. Kedua manik hitamnya pun seolah enggan berkedip menatap lekat manik hitam Fabian yang teduh.


"Elo mau kan memulai semuanya dari awal sama gue?!" Fabian dengan melebarkan kedua matanya saat bertanya.


Pelan Khey mengangguk, Fabian pun tersenyum senang. Menarik tubuh ramping Khey ke dalam pelukannya. Menumpukan dagu ke atas pucuk kepala sang isteri.

__ADS_1


"Mulai sekarang kita belajar menjalani rumah tangga yang sesungguhnya. Tegur gue kalau gue ada salah..."


Khey mengangguk perlahan tepat di dada bidang Fabian yang kancing baju seragamnya sudah terbuka. Membuat hidung mancungnya dapat mencium bau tubuh Fabian yang tetap harum meskipun sudah bercampur keringat.


Fabian yang merasakan gesekan hidung Khey pada dada telanjangnya pun tersenyum geli. Refleks memundurkan tubuhnya.


Tanpa Fabian duga Khey melakukan gerakan mengikuti tubuhnya seolah enggan memutus menghirup aroma tubuh Fabian.


"Belum puas cium tubuh gue ya..." Fabian menggoda. Khey pun tersentak, membuatnya menegakkan tubuhnya.


"Maaf... gue nggak..."


"Iya juga nggak papa kok, udah sah juga." Fabian dengan senyum tengilnya.


"Kita lanjut nanti ya, sekarang gue mau mandi dulu, biar nggak bau apek..." Fabian sembari merenggangkan tubuh keduanya.


Khey pun dengan gegas menjauhkan tubuhnya dan menepis kedua tangan Fabian yang masih bertengger di tubuhnya. "Sorry..."


Fabian tersenyum lalu membalik tubuhnya menuju kamar mandi.


Baru saja beberapa detik Fabian menghilang di balik pintu kamar mandi, pintu itu terdengar dibuka kembali. Khey pun menoleh ke arah pintu kamar mandi.


"Apalagi?" Khey dengan heran saat melihat kepala Fabian melongok dari balik pintu.


"Mau mandi bareng??" ucap sosok tengil itu dengan santai.


"Biiiiiii....." teriak Khey dengan mata lebar.


πŸ“πŸ“πŸ“


Fabian menggelengkan kepala dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya saat mendapati Khey tertidur lelap di atas ranjang dengan posisi memeluk guling dengan erat.


"Rasanya mandi gue nggak lama." gumam Fabian sembari duduk di tepi ranjang.


"Ra..." Fabian mengusap lembut pipi mulus sang isteri, namun tak sedikitpun ada pergerakan dari Khayyara. Sepertinya dia sudah tertidur pulas.


Fabian pun beranjak untuk mengganti balutan handuk setengah tubuhnya dengan baju.


Setelah selesai mengenakan pakaian pada tubunnya, Fabian duduk di kursi belajar milik sang isteri.


Huh....


Terdengar hembusa nafas berat dari mulut Fabian, kedua manik hitamnya memandangi lembaran kertas di tangannya dengan lekat.


Salah satu tangannya membuka lembar demi lembar kertas itu dengan bimbang. Membaca ulang kata per kata yang tertulis di sana.


Rasa gundah menyelimuti hatinya saat ini.

__ADS_1


Menerima atau menolak, pilihan itu silih berganti memutari tempurung kepalanya.


😍😍😍😍


__ADS_2