
"Pesenin gue juga, gue laper." Khey dengan ketus tetiba berdiri tepat di hadapan Fabian.
Fabian yang semula menunduk hendak menyantap siomay pun mendongakkan kepala.
"Ara... bikin kaget aja sih." Fabian cukup kaget dengan kehadiran isterinya yang semula menolak ajakannya dengan dalih masih kenyang.
"Pesenin gue." Khey tanpa rasa bersalah, masih menunjukkan wajah kesalnya
"Katanya nggak laper." Fabian mengingatkan ucapan Khey beberapa saat lalu.
"Sekarang laper." Khey masih dengan posisi tetap berdiri, namun wajahnya berpaling ke arah lain. Dalam hati merutuki ucapannya saat Fabian mengajaknya turun. Sungguh malu rasanya mengingat ucapannya itu, namun Khey sebisa mungkin menutupinya dengan menunjukan wajah kesal. Menjaga Fabian dari wajah memuja di belakangnya lebih penting saat ini.
"Duduk dulu, sini." Fabian dengan menepuk bangku kayu di sisinya.
"Ogah. Gue maunya di sini." Khey mendaratkan bokongnya dengan kasar.
Khey sengaja memilih duduk berhadapan dengan Fabian agar dapat menghalangi wajah tampan Fabian dari gadis remaja di hadapan Fabian.
"Pelan aja, bangkunya keras." peringat Fabian dengan bertanya tanya dalam hati tentang sikap Khey yang makin aneh menurutnya.
"Udah tauk." Khey tetap saja ketus.
Fabian menghela nafas pelan. Meletakkan kembali sendok yang berisi potongan siomay ke atas piring, urung memakannya.
"Duduk sini deket gue." Fabian dengan lembut, pandangannya mengunci wajah Khey yang sepertinya enggan menatap Fabian.
"Nggak, di sini aja." nada bicara Khey terdengar menurun, namun tetap membuang pandangannya. Khey tetap saja merajuk.
Fabian kembali menghela nafas, sungguh dia harus memperbanyak stok sabarnya saat ini.
"Elo lagi PMS yang?" Fabian mencoba menebak suasana hati Khey yang sepertinya merujuk pada tanda tanda tersebut.
Kening Khey mengerut mendengar ucapan Fabian.
"Enggak."
"Terus kenapa dari tadi lo kek mau nyantap gue?!"
Khey menoleh ke arah Fabian.
Deg.
Wajah tampan itu menatapnya tersenyum, entah terbuat dari apa hati suami tengilnya itu. Hingga detik ini tidak ada kemarahan ditunjukkan oleh paras tampan suaminya.
"Elo orang bukan makanan, nggak mungkin gue makan." Khey sekenanya dengan memutus pandangan dari Fabian. Tak tahan rasanya berlama lama menatap Fabian tengil.
Fabian terkekeh kecil.
"Habisnya cara ngomong lo kek mau nerkam gue hidup hidup."
__ADS_1
Khey tak mampu berucap kata, dalam hati membenarkan pernyataan Fabian. Dirinya memang ketus bahkan terkesan nyolot pada suaminya hari ini.
Tapi mau bagaimana lagi, malu rasanya untuk mengakui jika dirinya cemburu saat ini.
Khey hanya bisa mengungkapkan cemburunya dengan cara merajuk seperti ini.
"Woy... minggir dikit kenapa sih, ganggu pemandangan aja." terdengar seruan dari balik punggung Khey.
"Iya ih... jadi nggak puas liatnya..."
Banyak lagi seruan serta ocehan dari gerombolan gadis remaja di belakang punggung Khey.
Seruan itu membuat telinga Khey kembali memanas. Sungguh ingin rasanya Khey berjalan ke deretan uler keket itu, menyemprotkan racun serangga agar mereka tidak sembarangan mengincar suami orang.
"Ra... duduk sini gih." tawar Fabian pada sang isteri kembali karena tidak ingin membuat gadis gadis di depannya itu berceloteh aneh.
"Elo mau tebar pesona kan sama mereka... makanya lo nyuruh gue pindah duduk." Khey menatap Fabian dengan wajah marah.
Diluar dugaan ucapan Khey membuat Fabian terhenyak. Sungguh bukan itu maksudnya.
Bahkan bukannya membaik, wajah Khey malah terlihat semakin marah.
Sesaat Fabian terdiam, berusaha mencerna arti kata kata sang isteri.
Dengan ekor matanya, Fabian melirik para gadis di depannya. Mereka tampak tersenyum senang ke arahnya. Ada yang memberi tanda hati padanya melalui jari mereka, bahkan ada yang tak tau malu membentuk hati besar di atas kepalanya.
Andai saja Khey tau tingkah para gadis di belakang punggungnya, sudah pasti isteri barbarnya itu bakal mencakar wajah mereka satu persatu.
Otak cerdas Fabian pun berfikir ulang, akhirnya dirinya bisa sedikit menebak alasan Khey marah - marah kepadanya.
Segera Fabian beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Khey lalu duduk di samping sang isteri sembari merangkul bahunya.
Membuat gerombolan gadis di belakangnya histeris.
"Elo nggak suka ya wajah tampan gue dinikmati cewek lain..." Fabian dengan tersenyum menggoda Khey, mengabaikan teriakan tidak suka dari belakang punggungnya.
Khey yang mendengar ucapan Fabian melebarkan kedua bola matanya, terkejut.
"Gimana dia bisa tau..." Khey menatap Fabian.
"Betul kan tebakan gue?!" Fabian dengan mengacak pucuk kepala sang isteri.
Khey menelan ludahnya kelat, tak mampu menjawab.
"Harusnya elo bilang kalau lo cemburu, jangan marah marah nggak jelas kek gini." Fabian menjeda ucapannya sesaat untuk menghirup oksigen dalam. "Gue udah bilang kan kalau gue bukan cenayang..." Fabian mengunci pandangannya pada Khey.
Khey termangu, selalu saja ucapan Fabian mampu membuatnya terdiam.
"Maaf..." akhirnya hanya kata maaf yang mampu Khey ucapkan setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
"Gue suka kok kalau lo bisa cemburu kek gini." Fabian dengan tersenyum bahagia.
"Nggak usah diulang ulang." Khey menunduk malu, meremas jari jemari tangannya yang saling bertautan.
Fabian pun terkekeh, makin gemas rasanya melihat tingkah malu isteri barbarnya.
Fabian merendahkan kepala, menunduk lalu menggigit lengan atas sang isteri. "Udah cinta banget ya sekarang?"
"Bi!" Khey mengeram dengan mata melotot sembari memukul bahu Fabian.
Fabian melepaskan gigitannya sambil terkekeh kecil. Dia menjawil hidung mancung Khey yang mendengus.
Dengan pura pura kesal, Khey mengangkat ujung lengan seragamnya untuk memastikan jika gigitan Fabian tidak berbekas.
Dengan iseng Fabian kembali menggigitnya, padahal Khey masih mengangkat ujung lengan seragam sekolahnya.
"Bian!!" kali ini Khey dengan berseru, tapi dengan cepat kembali menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
Sudah dapat dipastikan jika bekas gigitan barusan meninggalkan jejak merah.
Fabian beralih mencubit kedua pipi Khey.
"Udah Bi... udah..." Khey memukul kedua tangan Fabian agar melepaskan cubitannya.
"Udah nggak marah lagi kan ya..."
Khey mengangguk. "Sakit Bi..."
Fabian pun akhirnya melepaskan kedua tangannya karena kasihan pada Khey. Dia melihat kedua pipi sang isteri memerah.
"Sorry..." Fabian dengan mengelus kedua pipi Khey dengan minta maaf.
Hm... Khey mendengus dengan mulut komat kamit seolah mencaci Fabian.
Tangan Fabian kembali merangkul bahu sang isteri, mendaratkan kecupan singkat pada pipi Khey.
Khey tersentak kaget akibat ciuman pipi dari Fabian.
Gadis gadis di belakang mereka pun tak kalah heboh melihat aksi Fabian.
"Nggak usah peduliin mereka, sekarang makan ya gue laper." Fabian dengan menggeser piring siomaynya.
"Pesenin gue dulu." Khey meminta pada Fabian.
"Makan barengan aja, biar mereka semua tahu kalau cowok tampan inceran mereka ini udah ada yang punya." Fabian dengan pede, menyuapkan siomay ke dalam mulutnya.
Khey berdecih, suaminya itu tetap saja tengil.
ππππ
__ADS_1