Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 185


__ADS_3

"Ini gadis itu kan Bi. Dan ini elo. Iya kan?"


Khey menunjukkan beberapa gambar Fabian yang tengah bersama dengan Bella yang ada di galeri ponsel pintarnya. Dari salah satu foto yang tersimpan dalam galeri ponsel Khey tersebut ada yang memperlihatkan kepala Bella menumpu bahu Fabian.


"Dari mana lo dapetin ini Ra?" Fabian dengan memandangi galeri ponsel Khey. Bahkan jemarinya bergerak menggeser gambar yang tersimpan dalam ponsel Khayyara.


Tidak hanya satu, melainkan ada puluhan foto Bella bersama Fabian. Entah duduk berdua, tertawa bersama bahkan ada beberapa foto mereka berdua yang diambil secara candid.


Meski foto foto tersebut nampak biasa dan tidak ada adegan ciumannya, tetap saja Fabian bingung bagaimana cara Khey mendapatkannya.


Bahkan selama Fabian dan Khey menikah, gadis yang telah bergelar sebagai isteri sah Fabian itu tidak pernah sekalipun menyinggung atau menunjukkan foto foto tersebut pada Fabian.


"Nggak usah tanya gue dapat dari mana. Yang penting lo jawab dulu pertanyaan gue Bi."


"Iya ini gue, ini juga bener Bella. Tapi..."


"Lo selingkuh di belakang gue Bi?"


"Enggak Ra!" Fabian dengan tegas membantah tuduhan yang Khey layangkan kepadanya.


"Terus itu apa?" seru Khey dengan kedua mata yang memanas. Bayangan mamanya saat berjalan mesra dengan papa Doni berkelebatan silih berganti memenuhi benak Khey.


Tiba tiba saja Khey takut karma sang mama akan menimpa kepadanya.


"Itu foto lama Ra." Fabian dengan sedikit berteriak karena tersulut emosi pada seruan Khey beberapa saat lalu.


Bukannya mengerti dan memahami pengakuan Fabian namun Khey malah menunjukkan wajah kecewa pada Fabian.


"Berarti lo nggak cinta kan sama gue Bi?" Khey dengan kedua mata yang tengah mengembun.


"Ra... nggak gitu..." Fabian dengan nada melembut saat menyadari raut wajah Khey yang telah berubah kecewa. Tubuh Khey pun terlihat sedikit bergetar sekarang. Buru buru Fabian mengulurkan tangan kanannya, berusaha meraih tangan Khey untuk membuat Khey tenang. Fabian sangat tahu sebentar lagi Khey pasti bakal menangis meraung.

__ADS_1


Namun Khey menepisnya dengan kasar. Tiba tiba Khey merasa kesal pada Fabian yang telah berteriak kepadanya. Isakan kecil mulai terdengar lirih memenuhi ruang lift.


"Ra... sorry. Gue bisa jelasin." Fabian merangkul tubuh Khey dari belakang namun lagi lagi Khey tak mau. Gadis itu menjauhkan tubuhnya menghindar dari Fabian.


Posisi berdiri Khey yang tak jauh dari tombol lift, membuat tangannya terjulur untuk memencet tombol lift agar bisa segera pergi dari dalam lift.


Namun Fabian yang mengetahui niat isterinya, segera menghalangi dengan menangkap tangan Khey dan menguncinya.


"Bi... gue mau keluar." Khey dengan wajah yang telah berderai air mata.


"Nggak. Ntar aja bareng sama gue kalau udah sampai di lantai atas."


Khey melayangkan tatapan tak suka pada Fabian.


"Jangan biasakan menunda menyelesaikan masalah." Fabian dengan menatap kedua manik hitam Khey yang telah tertutup genangan air mata.


Kedua tangannya masih dalam posisi mengunci tangan Khey. Hingga gadis itu tak bisa memberontak pada Fabian.


"Biarkan gue sendiri Bi." Khey terdengar mengiba namun sepertinya Fabian kekeh menolak keinginan Khey.


Khey memalingkan wajah. Entah mengapa Khey merasa sangat marah pada Fabian saat ini. Anggap saja dirinya sedang cemburu saat ini.


Ting


Bunyi tanda pintu terbuka membuat Fabian segera menarik tangan Khey untuk keluar dari lift.


Fabian berjalan keluar dari lift dengan sesekali mengangguk tersenyum saat bertemu dengan beberapa karyawan restoran. Sedangkan Khey mengekori Fabian dengan wajah menunduk untuk menyembunyikan wajah sembabnya.


Saat sampai di depan sebuah pintu besar berbahan kayu Fabian segera membuka dan memasukinya bersama Khey.


"Tumben elo dateng siang siang gini?" Farrel dengan mendongakkan kepala dari balik layar laptopnya saat mendapat Fabian yang memasuki ruangan.

__ADS_1


Khey pun mendongak saat mendengar suara Farrel barusan.


"Tolong lo keluar bentar Rell, gue butuh ruangan ini."


Farrel hendak bertanya namun segera diurungkannya saat matanya menangkap sosok Khey di balik punggung Fabian. Apalagi sikap dan tatapan mata Fabian terlihat tidak seperti biasanya.


"Gue matiin laptop bentar." Farrel segera menshut down laptopnya lalu menjinjingnya untuk dibawa serta keluar. Farrel akan melanjutkan pekerjaan di tempat lain saja.


"Jaga pala lo tetap dingin Bi." pelan Farrel saat melewati sahabatnya. Farrel tahu jika ada sesuatu di antara Fabian dan Khey saat ini. Apapun itu yang pasti Farrel merasa raut wajah Fabian sedang tidak bersahabat saat ini.


"Duduk!" Perintah Fabian pada Khey dengan nada dingin.


Khey yang tak terbiasa akan nada bicara Fabian enggan bergerak, kedua matanya menatap Fabian aneh.


"Lo marah sama gue Bi?" Khey dengan bibir bergetar.


"Enggak." tentu saja Fabian berbohong karena saat ini dalam dadanya tengah bergejolak menahan emosi.


"Lo nggak biasa ngomong tinggi kek gini sama gue Bi."


Fabian menarik nafas dalam dalam untuk meredakan emosi yang mulai menguasai tubuhnya.


"Gue marah ato enggak itu nggak penting. Sekarang kasih tau gue lo dapet foto foto itu darimana."


"Gue nggak tau." Khey dengan ketus.


"Ra jangan pancing emosi gue. Dari tadi gue berusaha ngomong baik baik sama lo. Tapi lo malah bikin gue makin emosi." Fabian dengan menahan emosi seraya mengepalkan kedua tangan kuat pada kedua sisi tubuhnya. Fabian tidak ingin kelepasan hingga melayangkan pukulan fatal pada Khayyara. Bagaimana pun dia adalah seorang remaja labil yang bisa saja melakukan kesalahan.


"Gue nggak mancing emosi lo. Lagian seharusnya yang berhak emosi dan marah itu gue bukan lo Bi."


Brakk.

__ADS_1


Dengan telapak tangan terkepal Fabian mendaratkan tinjunya pada meja kayu yang beberapa saat lalu digunakan Farrel untuk bekerja. Fabian sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.


😍😍😍😍


__ADS_2