Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA9


__ADS_3

Meskipun masih tersisa sedikit keraguan Khey akhirnya mengikuti langkah kaki Doni yang membawanya menuju bangku taman yang terletak di pinggir danau.


Hawa dingin mulai menusuk kulit luar Khey meskipun dirinya sudah membalut tubuhnya dengan sweater maroon berbahan rajut lumayan tebal.


Perlahan Khey mengusap sisi kedua lengannya yang terasa dingin oleh angin malam ataupun oleh suasana gelap tepi danau mungkin.


Karena bagaimanapun Khey tetap merasa takut akan adanya makhluk - makhluk astral yang menghuni seputaran danau yang gelap dan sedikit rimbun.


Melihat sang kekasih yang terus saja mengusap kedua sisi lengannya, Doni merentangkan salah satu tangannya untuk meraih pinggang ramping kekasihnya.


"Sini duduknya deketan sama gue biar anget." Doni menarik pinggang Khey yang duduk berjarak dengannya.


Khey pun merapatkan tubuhnya pada tubuh Doni. Memang hawa di sekitar danau mulai dingin hingga menusuk tulang. Bahkan saat berbicara kepulan uap dingin keluar dari mulut keduanya.


"Gini kan lumayan hangat." Doni memeluk erat tubuh Khey sembari menautkan jemarinya kekarnya pada jemari lentik sang kekasih.


"Don jangan nempel - nempel banget, entar ada setan." Khey sedikit menggeser tubuhnya yang sempat menempel erat pada tubuh Doni sang kekasih.


Doni menghela nafas pelan, dan mengabaikan ucapan Khey. Tubuhnya pun sedikit menggeser, membuat jarak dari sang kekasih dengan menahan kesal dalam hati. Doni sudah hafal dengan sikap jaga jarak sang kekasih.


Meski mereka pacaran sudah hampir setahun namun Doni belum pernah sekalipun merasakan benda kenyal yang selalu saja tersenyum malu saat mendapat gombalan darinya.


"Tau tempat ini dari mana?" Khey bertanya pada sang kekasih.


"Temen." sahut Doni singkat, moodnya terlanjur turun.


"Cewek atau cowok?" tanya khey penasaran.


"Cowok ... rame - rame ke sini sehabis tanding basket." jelas Doni dan membuat sang kekasih menganggukkan kepala berulang.


"Ada cewek yang pernah elo ajakin ke sini?" Khey bertanya penasaran.


"Ada." sahut Doni pendek.


Khey menelan ludahnya kelat, tidak menyangka jika dirinya bukanlah yang pertama. Padahal sejak awal mereka sah menjadi seorang kekasih Doni mengatakan jika dirinya adalah pacar pertama bagi Doni begitupun sebaliknya, Doni adalah pacar pertama seorang Khayyara.


"Siapa?" tanya Khey sedikit sesak.


"Elo!" Doni menjawab santai, tatapannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah sang kekasih


"Ck ... selain gue Don ...." Khey berdecak karena merasa dipermainkan oleh kekasihnya.

__ADS_1


"Enggak ada Khey ... cuma elo doang ...." jawab Doni penuh penekanan sembari mengusap punggung jemari Khey dengan ibu jarinya lalu memberikan senyum tipis seolah memberikan gadis itu ketenangan.


"Gombal." Khey tidak percaya.


"Beneran ... baru elo cewek yang gue kasih tunjuk tempat ini, percaya sama gue ...." Doni berusaha membuat kekasihnya itu percaya.


Khey sebenarnya ingin menatap manik mata Doni, menelisik kebenaran dari sana namun sayang suasana yang cukup gelap membuatnya tidak bisa melakukannya.


"Iya deh percaya." putus Khey dengan tersenyum.


"Besok weekend gue ajakin ke sini pas siang hari, biar elo gak takut. Terus kita bisa mengelilingi danau naik perahu kecil itu." Doni berkata sembari menunjuk sampan kecil yang berada di tepu danau.


Danau kecil di depannya banyak ditumbuhi oleh bunga teratai, terdapat semacam panggung dari kayu yang menjorok ke tengah danau. Di atas danau ada beberapa buah sampan kecil yang biasa digunakan pengunjung untuk mengelilingi danau.


Jika siang hari pemandangan sangat menyejukkan mata, di sana pengunjung dapat meraup oksigen sepuasnya. Dan lagi tempat itu sangat cocok jika digunakan untuk merefresh otak yang lelah.


Apalagi kalau saat siang hari, sangat asyik duduk di bawah pohon besar yang meniupkan angin sepoi - sepoi di pinggir danau.


"Gak usah janji kalau elo gak bisa nepatin." Khey berucap lembut namun terdengar mengintimidasi.


"Beneran ... gue usahain weekend ini gue kosongkan jadwal, sebelum gue banyak acara buat perpisahan kakak kelas." Doni meyakinkan Khey.


"Moga aja elo gak bohong yang ...." Khey menyahut tidak yakin.


Khey tersenyum tipis, karena pada kenyataannya tidak hanya sekali Doni membatalkan sepihak acara kencan mereka secara tiba - tiba dengan alasan ada kegiatan sekolah yang tidak bisa ditinggalkan.


"Sorry yang ada panggilan tugas negara ...." kata - kata itu sudah Khey hafal di luar kepala saat Doni tetiba membatalkan acara yang sudah mereka siapkan secara sepihak.


Doni mulai mengendus rambut hitam milik Khey dengan salah satu tangan yang menarik pinggang khey untuk merapat sedangkan tangan yang satunya mengusap intens jemari Khey yang berada pada gengaman tangannya.


"Khey ... gue kangen banget sama lo ...." suara serak Doni terdengar di belakang daun telinga Khey, hingga membuat tubuh gadis itu meremang.


"Gue juga." sahut Khey lirih dengan wajah menunduk.


Kedua pasangan ini memang cukup lama tidak saling bertemu untuk berduaan. Hanya sesekali bertemu di sekolah, bahkan pertemuan mereka yang terakhir membuat mood Khey berantakan hingga gadis berambut panjang itu bertengkar dengan sahabatnya.


Doni membawa jemari lentik itu ke depan wajahnya.


Cup.


Bibir tebal itu mendaratkan kecupan pada punggung jemari lentik milik Khey. Beberapa saat menyesapi kerinduannya pada gadis yang telah bergelar sebagi kekasihnya selama setahun ini.

__ADS_1


Doni menelan salivanya kelat, ada hasrat yang menuntunnya untuk meminta lebih dari sekedar mencium punggung jemari lentik sang kekasih.


Tangan kekarnya melepas jemari lentik sang kekasih, pandangan matanya menatap intens pada gadis di sebelahnya yang sedang menunduk. Pastinya pipi cabi itu sudah meninggalkan jejak semburat merah layaknya apel Malang.


Perlahan tangan kekar itu meraih dagu sang kekasih menaikkannya untuk mendongak, sedangkan wajah pemilik tangan kekar tersebut bergerak perlahan untuk mengikis jarak keduanya.


Tatapan mata Doni mulai berkabut, namun tak lepas dari bibir pink yang merekah karena terdapat polesan liptin yang membuat warnanya terlihat terang dan basah.


Sedangkan Khey yang mengetahui maksud tatapan dari sang kekasih mulai meremas tepian sweaternya sembari menggigit bibir bawahnya.


Doni semakin terpancing untuk lebih mendekat dan meraih bibir pink merekah itu ke dalam tangkupan bibirnya.


Cup.


Benda kenyal itu mendarat sempurna, akan tetapi bukan pada bibir sang kekasih melainkan pada pipi cabi Khayyara.


Doni mendengus kesal.


"Ck ... elo tu jadi cewek jadul banget sih, jaga jarak mulu perasaan. Susah banget dicium yang ...." Doni menggerutu kesal sembari menjauhkan wajahnya dari sang kekasih.


"Kita baru pacaran Don, bukan pasangan udah nikah yang boleh iya iya." Khey mengingatkan.


Pada dasarnya Khey pun mengharapkan untuk berciuman dengan sang ketos tampan bin ganteng yang bergelar sebagai kekasihnya tersebut, namun dirinya masih menjaga batasannya, mengingat larangan kedua orang tuanya.


Bahkan tak jarang dari dalam dirinya merasa ketakutan saat sedang kencan berdua dengan sang kekasih. Takut jika kedua orang tuanya mengetahui bila ia telah melanggar pesan keduanya untuk tidak berpacaran hingga saatnya tiba nanti.


😍😍😍😍


Bonus up buat kaum rebahan yakkπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2