
"Pagi Ma, Pa ..." sapa Fabian ramah saat dirinya berada di ruang makan keluarga Khayyara.
"Pagi Bian." jawab kedua orang tua Khey hampir bersamaan.
Kedua mertua Fabian yang telah duduk di kursi makan memberikan senyum yang ramah lalu mempersilahkan menantu remajanya untuk duduk. Mereka terlihat sudah melakukan sarapan paginya terlebih dahulu.
Fabian mengangguk dan mengambil duduk di kursi makan. "Maaf Bian terlambat."
"Gak papa. Ara mana?" Papa Khey bertanya.
"Masih mandi pah. Ara mandinya lama banget." jawab Fabian jujur.
Setelah perdebatan kecil antara dirinya dengan Ara setelah bangun tidur tadi, Fabian akhirnya memutuskan untuk segera mandi lebih dulu meski dirinya masih mengantuk. Suara cempreng Ara yang berisik membuat rasa kantuknya menguap begitu saja.
"Anak itu selalu saja lelet kalau mandi." mama Maira terdengar menggerutu.
"Biar saja Ma, mungkin Ara masih capek. Lagian kami berdua masih ada izin libur sampai hari ini kan?!" Fabian.
Kedua mertua Fabian saling pandang sesaat, kemudian tersenyum tipis.
"Kamu memang tepat untuk menjadi pendamping putri papa." ucap papa Khey dengan tersenyum tulus.
"Ah papa bisa aja, Bian masih harus banyak belajar dari papa." Fabian tersenyum kikuk.
"Kamu bisa aja, papa gak sebaik yang kamu pikir kok." papa Khey merendah.
Tak berapa lama kemudian papa Khey meletakkan sendok makannya, lalu mengelap mulut dengan tisu makan.
"Makan yang banyak, gak usah sungkan. Nikmati sarapanmu seperti dirumah sendiri. Papa berangkat ke kantor dulu." Papa mertua Fabian beranjak dari tempat duduknya lalu mengusap bahu Fabian perlahan.
Fabian tersenyum mengangguk.
Setelahnya papa mertuanya melangkahkan kaki menuju mama Maira, dan beranjak meninggalkan ruang makan setelah mencium kening isterinya tersebut.
Terlihat seperti keluarga yang harmonis, mungkin kelak gue sama Ara juga seperti itu. Gumam Bian dalam hati dengan senyum tipis membingkai wajah baby facenya.
Sepeninggal papa Khey.
"Bian."
"Iya Ma." sahut Fabian dengan meletakkan nasi pada piring makannya.
"Apa tidak sebaiknya kamu jujur sama Ara, ceritakan siapa kamu sebenarnya."
"Enggak Ma, Bian enggak mau membuat Ara terjebak dengan masa kecil kami."
"Bukankah dengan kamu cerita siapa kamu sebenarnya, akan membuat Ara menerima pernikahan kalian serta membuatnya kembali mencintai kamu."
Fabian menggeleng.
"Biarlah semuanya berjalan perlahan Ma, Allah telah membuat kami berjodoh. Bian juga yakin kalau Allah akan membuat kami berdua juga saling mencintai tanpa harus membawa kenangan masa kecil kami."
__ADS_1
Mama Maira terlihat membuang nafas sedikit kasar.
"Terserah kamu lah, mama gak memaksa. Mama juga gak ikut campur. Mama yakin kamu sudah dewasa untuk menjalani pernikahan kalian."
"Terima kasih Ma."
POV Fabian.
Gue sebenernya masih kaget banget dengan perubahan status gue yang tiba - tiba menjadi seorang suami.
Khayyara Nala Ashanum.
Begitu nama lengkap gadis itu. Gadis yang beberapa saat lalu gue sebutkan namanya dalam ijab qobul yang gue ikrarkan di depan penghulu dan para saksi serta kedua orang tua gue maupun orang tua Khey.
Sedikitpun gue gak pernah menyangka jika gadis yang selalu gue ganggu di sekolah itu bakal jadi jodoh gue. Bahkan di usia gue yang baru belasan tahun gue gak pernah berfikir status gue berubah menjadi seorang suami.
Sebenernya Khey adalah Ara teman kecil gue, meskipun dia tidak menyadari siapa gue. Itulah mengapa gue dengan mudah menerima dan mengiyakan saat gue harus mempertanggungjawabkan aksi mesum yang dituduhkan ke gue sama Khey.
Dulu sekali waktu ayah bunda masih tinggal di rumah lama, kami bertetangga. Setelah usaha ayah semakin sukses ayah memutuskan untuk pindah rumah. Akhirnya kami pun berpisah, mungkin karena saat perpisahan itu usia kami masih kecil, gue dan Khey masih di usia pra sekolah makanya Khey tidak mengingat gue.
Bagaimana gue masih ingat?
Menurut gue ada dua cara bagi kita untuk mengingat seseorang, yaitu dengan mencintai dan membenci.
Dengan mencintai kita akan selalu teringat bahkan hal sekecil apapun tidak mungkin lepas dari ingatan. Pun demikian dengan membenci, dengan membenci kita akan mengingat setiap hal kecil yang membuat kita selalu terbayang akan apa yang membuat kita benci pada orang tersebut.
Dan gue mengingat Khey dengan jalan gue membencinya.
Mengapa?
Ara, begitu panggilan itu tersemat pada seorang Khayyara Nala Ashanum dari keluarganya.
Dulu, gue pun memanggilnya Ara seperti keluarganya menyebut namanya di rumah.
Ara selalu saja mengekori kemanapun gue pergi bermain, bahkan tidak peduli jika gue bermain dengan sekumpulan anak lelaki bermain kelereng ataupun permainan anak lelaki lainnya.
Gue masih inget saat itu.
"Papa ... nanti kalau Aya udah becal, Aya mau Abi ..." begitu Ara menyebut nama gue "Jadi cumi Aya." dengan suara cadelnya Ara gadis itu menarik tangan gue dan bergelayut manja. Gadis kecil itu tidak pernah sungkan mengenalkan gue sebagai suaminya kelak saat bertemu anggota keluarganya.
Bahkan tak segan pula menggandeng paksa tangan gue saat gue bermain dengan teman komplek maupun saat sedang berada di sekolah preschool.
Pernah juga ada kejadian gadis kecil yang sok posesif ke gue itu berkelahi dengan anak perempuan kecil yang seusia dengan kami saat anak perempuan kecil itu bermain bersama gue.
Gue masih mengingat dengan jelas perkelahian mereka yang terlihat seperti perkelahian antara istri sah dengan pelakor pada sinetron suara hati isteri yang lagi ngehits pada salah satu stasiun televisi yang digemari oleh emak - emak kompleks.
Gue bahkan tidak pernah menyangka jika di usianya yang masih cukup kecil, Ara gadis barbar itu terlihat berani meskipun dia harus menghadapi satu atau lebih anak perempuan yang tidak terima saat tidak diperbolehkan oleh Ara mendekati gue.
Pernah terjadi Ara menantang berkelahi pada anak perempuan yang lebih dewasa darinya, hanya karena anak perempuan itu menyapa gue saat bermain di taman sekitar tempat tinggal kami.
Dan perkelahian itu terjadi dengan dimenangkan olehnya, karena Ara tidak segan menjambak rambut serta mengigit tangan anak perempuan tersebut. Gue bahkan melihat dengan ngeri pada tingkah barbar Ara.
__ADS_1
Gue tidak sanggup berkata - kata jika melihat perkelahian Ara di depan gue, dengan siapa pun itu. Gue memilih pergi untuk memanggil siapa saja orang yang lebih tua untuk memisahkannya.
Tidak cukup dengan anak perempuan saja, pun demikian dengan anak laki - laki yang menganggu dia maupun mengganggu gue. Dia selalu siap pasang badan. Gue merasa seperti dilindungi oleh malaikat kecil yang barbar.
Dan kini,
Giliran gue pasang badan buat dia, gadis kecil barbar yang paling gue benci.
Gue kan benci, terus kenapa?
Itu dulu!
Dulu gue benci banget dengan kelakuannya yang seolah mengekang kebebasan gue, bahkan melebihi orang tua gue.
Sebagai anak laki - laki, pastinya sangat kesel banget di saat lo mau bermain bebas dengan teman sebaya lo entah lelaki ataupun perempuan tapi Ara si gadis kecil barbar itu selalu membatasi gerak gue.
Mau tak mau pastilah ingatan menyebalkan itu mengendap dalam diri gue hingga membuat gue membencinya sangat.
Akan tetapi dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue gak bisa mengabaikan rasa peduli gue padanya.
Satu lagi peristiwa memalukan yang palung gue ingat.
Saat itu keluarga gue dan keluarga Ara sedang menghadiri pesta pernikahan tetangga.
"Ara juga mau nikah sama Abi." ucap gadis kecil barbar itu dengan menggenggam erat telapak tangan gue di depan bapak penghulu yang baru saja menyelesaikan ijab qobul pada pengantin tetangga kami.
Semua orang terlihat kaget kemudian tertawa kecil melihat tingkah kami.
Dan gue ... gue yang gak menyangka akan mengalami kejadian memalukan tersebut berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Namun gadis barbar itu semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan gue, seraya berkata.
"Pak cepet, cumi Aya mau kabul ini." ucapnya lantang tanpa malu.
Kini ...
Gue yang berganti memaksa gadis barbar itu untuk menikah sama gue.
End POV
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
__ADS_1
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»