
"Ra...!" seru Fabian sembari berlari kecil menyusul Khey saat dirinya melihat Khey berjalan sendirian di lorong sekolah.
Khey yang sebenarnya mendengar suara Fabian memanggil namanya berpura - pura tidak mendengar, bahkan dia memilih mempercepat langkahnya untuk segera meninggalkan lorong sekolah yang terdapat beberapa anak yang lalu lalang di sekitarnya.
Khey memilih mengabaikan Fabian meskipun dia sadar sepenuhnya bahwa Fabian adalah suami sahnya.
Hanya saja Khey belum siap jika dia harus berinteraksi dengan Fabian di sekolah. Sosok Fabian yang tengil dan tidak peka menurutnya, pasti akan berinteraksi sok dekat dengannya. Apalagi jika mengingat Fabian adalah suaminya sekarang. Oleh karena itu Khey memilih menghindar daripada dirinya bersikap kasar pada Fabian seperti biasa saat belum menjadi suaminya.
Grepp...
Pergelangan tangan Khey dicekal oleh Fabian dari belakang hingga membuat tubuh Khey berbalik ke belakang.
Fabian memandang Khey dengan tatapan kesal dengan masih berusaha meredakan nafasnya yang naik turun akibat berlari mengejar Khey.
Khey melebarkan kelopak matanya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memindai sekitar. Takut kalau posisinya saat ini terlihat oleh Doni ataupun murid sekolah yang lain.
"Elo apaan sih Bi, main pegang tangan gue seenak jidat lo aja. Lepas..." Kesal Khey dengan berusaha melepaskan cekalan tangan Fabian.
Fabian yang masih dalam keadaan menetralkan nafasnya tanpa peduli malah menarik tangan Khey dan membawa gadis yang telah berstatus istrinya tersebut ke ujung koridor yang sepi .
"Bi lepasin..." Khey masih berusaha melepaskan diri meskipun mau tak mau kakinya mengikuti langkah kaki Fabian yang menuju tempat sepi.
"Bi... jangan macem macem, lo mau bawa gue kemana?" Khey masih berusaha melepaskan tangan Fabian sembari melirik ke kanan dan ke kiri karena dirinya belum pernah berada di area lorong sepi menuju gudang sekolah tersebut.
Tempatnya yang jarang dilalui, membuat kondisinya membuat bulu kuduk Khey merinding. Sedikit muncul rasa takut dalam hati Khey.
"Bi lepasin tangan gue!" sentak Khey berusaha melepaskan cekalan tangan Fabian, namun tetap saja gagal.
Seet... brukk...
Fabian manarik tangan Khey kuat dan sedikit menghempaskan tubuh gadis itu pada dinding gudang sekolah.
"Jangan bikin kesabaran gue habis Ra!" Fabian menatap gadis di depannya nanar dengan tanpa melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan.
Khey mengerutkan dahinya.
"Siapa yang menghabiskan kesabaran lo?"
"Elolah siapa lagi." Fabian menatap manik mata Khey tajam, tidak lembut ataupun tengil seperti biasanya. Entah apa yang membuat Fabian berubah sedemikian rupa.
__ADS_1
Hek...
Khey menelan ludahnya kelat saat mendapati tatapan tajam Fabian untuknya. Ada sedikit rasa takut menyelinap dalam lubuk hatinya.
"Ell... llo.. Kenn nap ppa sih Bi?" tanya Khey tergagap. Bagaimanapun wajah Fabian terlihat sangar dan tidak biasa saat ini, dan itu membuat tubuh Khey sedikit bergetar.
"Gue tau elo pura pura gak denger panggilan gue, iya kan?!" nada bicara Fabian naik satu oktaf lebih tinggi saat ini.
"Ggue... gue emang gak denger kok." Khey berbohong.
Fabian menghirup oksigen dalam berusaha menetralkan emosinya. Lalu menghembuskannya perlahan.
"Gak usah bohongin gue!" seru Fabian terdengar ketus, masih dengan nada yang satu oktaf lebih tinggi.
Sekujur tubuh Khey semakin bergetar. Sungguh rasanya cukup menakutkan melihat reaksi Fabian saat ini.
Raut wajah cowok yang biasa tersenyum tengil dan selalu menggoda Khey itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Saat ini wajah putih itu terlihat memerah karena marah. Wajah baby facenya terlihat garang karena rahangnya yang mengeras dengan tatapan matanya yang tajam menghunus, layaknya elang yang hendak menyergap mangsanya.
"Setidaknya hargai gue sebagai suami lo meski lo belum menerima keberadaan gue saat ini." Fabian mulai merendahkan suaranya saat melihat tubuh yang berada di hadapannya gemetar.
"Gimana gue bisa bersikap biasa kalau tiap kali lihat lo gue selalu ingat status gue sebagai isteri elo." Khey berucap dengan bibir yang sedikit bergetar. Khey tidak bisa menutupi jika saat ini memang dirinya sedikit ketakutan dengan perubahan sikap Fabian.
Lagi Fabian menghirup nafas dalam, tidak ingin emosinya kembali muncul.
"Elo harus terima itu karena memang kenyataannya elo adalah isteri gue sekarang!" ucap Fabian terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.
Khey memejamkan kedua matanya sesaat, berusaha mengabaikan ucapan Fabian. Sungguh dirinya juga berusaha menerima status itu meski sebenarnya sangat berat untuknya.
Khey ingin mencobanya perlahan tanpa desakan dan intimidasi dari Fabian, dirinya ingin semua berjalan perlahan.
"Gue gak bermaksud menekan lo, tapi apa salahnya elo berhenti atau menoleh saat gue panggil. Gue rasa itu cukup, karena gue juga tau elo butuh waktu buat menerima semua ini." Fabian seakan mengetahui isi dalam pikiran gadis yang telah bergelar isterinya tersebut.
"Sorry... gue salah." lirih Khey dengan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Fabian yang berubah teduh.
Fabian menghembuskan nafas dalam.
"Gue panggil elo tadi cuma mau ngasih ini." ucap Fabian sembari menyodorkan tiga lembar uang kertas berwarna merah ke hadapan Khey.
__ADS_1
Khey yang semula menghindari wajah Fabian akhirnya menoleh.
Keningnya mengerut saat mendapati tangan Fabian mengambang di depan dadanya dengan tiga lembar uang kertas seratus ribuan.
"Itu apaan?" Khey masih bingung dengan menatap Fabian dan lembaran uang di telapak tangan Fabian silih berganti.
"Ini uang saku dari gue buat lo, segini cukup kan buat seminggu?" Fabian kembali menyodorkan lembaran uang itu lebih dekat.
Khey masih terdiam, terlihat belum mengambil uang pemberian Fabian.
Fabian pun meraih salah satu tangan Khey dan memaksanya menaruh lembaran uang kertas berwarna merah tersebut ke tangan Khey.
"Ini nafkah dari gue buat lo." Fabian memperjelas uang pemberiannya.
Mau tak mau Khey menerima pemberian Fabian tersebut, meski sebenarnya dirinya enggan karena dia tidak mau bergantung pada cowok tengil di depannya. Dirinya merasa jika masih memiliki orang tua yang akan bertanggung jawab padanya.
"Gue terima ini bukan karena gue ingin tapi karena elo yang memaksa gue buat menerimanya. Dan lag... elo gak usah sok bertanggung jawab sama hidup gue, orang tua gue masih mampu membiayai gue." ucap Khey tanpa sadar membuat emosi Fabian kembali memanas.
Fabian menahan nafas seraya memejamkan matanya sesaat. Sungguh sedari pagi tadi Khey membuat emosinya naik turun dengan cepat.
"Ra... bisa enggak lo gak bikin gue makin emosi?" Fabian kembali menatap tajam Khey dengan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarahnya yang sudah diubun - ubun.
"Gue gak butuh tanggung jawab nafkah dari lo. Lagian uang segini cuma cukup buat sehari." Khey terkesan menyepelekan pemberian Fabian.
Kali ini Fabian harus benar benar menyediakan ektra sabar untuk menghadapi Khayyara.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»