
"Menurut lo...?!" Fabian dengan senyum yang sulit diartikan.
Sesaat tubuh Septi membeku.
Septi tidak menyangka jika Fabian akan mengembalikan pertanyaan itu kepadanya.
Maksud hati ingin bertingkah sok kenal sok deket alias sksd pada kakak iparnya, ternyata itu malah membuat bumerang bagi dirinya.
"Septi nggak tahu." Septi dengan memalingkan wajah lurus ke depan, dia merasa sedikit tidak nyaman saat ini.
"Gue emang udah jatuh cinta sama lo Sep..."
Sontak pengakuan Fabian tersebut membuat Septi melotot, bahkan rasa cemas menyelimuti hatinya saat ini.
"Kalo lo gimana? Jatuh cinta nggak sama gue... atau elo jatuh cinta sama mobil bokap gue mungkin..." Fabian terdengar melucu.
Bingung, gugup, cemas, berbagai rasa bercampur aduk menyelimuti hati Septi saat ini. Ingin rasanya Septi turun saat ini juga dari mobil Fabian. Sungguh Septi amat sangat menyesali keputusannya mengiyakan saat papanya memberitahu jika dirinya akan diantar oleh kakak iparnya untuk pergi berbelanja kebutuhan sekolahnya.
"Sep... perasaan elo gimana, gue kan udah ngomong sama lo tentang perasaan gue..." Fabian terdengar menuntut, dengan menyembunyikan senyum smirk pada sudut bibirnya.
"Kak Bian punya kak Ara." Septi masih dengan menatap lurus ke depan, enggan rasanya menoleh pada Fabian.
Memang sih kakak iparnya itu memiliki wajah yang sangat tampan, siapapun remaja cewek yang melihatnya pasti akan rela menyerahkan hatinya pada Fabian. Walaupun untuk menjadi yang kesekian pun pasti semua rela mengantri.
Berbeda dengan Septi, dia adalah adik dari cewek yang dinikahi oleh Fabian.
Dalam hati Septi mengutuk, mengumpat pada Fabian yang ternyata bukanlah cowok baik. Jika dia adalah cowok yang baik pasti dia tidak akan menyukai adik ipar yang baru saja ditemui sekali olehnya bukan...
"Memangnya gue gak boleh ya jatuh cinta sama lo..." Fabian masih saja santai, padahal Septi sudah terlihat tidak sabar untuk mencaci maki bahkan mungkin mencakar wajah tampan yang baru saja menikahi kakak perempuannya tersebut.
"Kakak sadar nggak sih ngomong kek gitu..." Septi geram dengan memandang Fabian sengit.
"Sadarlah... kalau gak sadar gak mungkin gue nyetir mobil kek gini Sept..."
"Terus ngapain ngomong jatuh cinta segala sama Septi. Cewek yang kakak nikahi itu kakak Septi kak, enggak mungkinlah kalau..." Septi menjeda ucapannya, lidah Septi tidak mampu meneruskan kata katanya.
"Memangnya kakak enggak cinta sama kak Ara, kalau nggak cinta ngapain maksa nikahin kakak Septi... " cerocos Septi dengan emosi.
"Ya kan cinta gue ke Ara sama lo beda Sep..." Fabian masih saja tenang dan santai saat berucap kata.
"Beda gimana maksud kakak? Septi kasih tau ya kak, walaupun kakak maksain diri buat jatuh cinta sama Septi, Septi nggak bakalan mengkhianati kak Ara. Septi nggak mau jadi pelakor apalagi sama suami kakak sendiri." Septi dengan nada tinggi dan ketus.
Fabian tergelak, melihat mimik Septi yang marah ternyata sangat lucu menurut Fabian.
"Nggak usah ketawa, nggak ada yang lucu!" Septi masih saja ketus.
"Cinta gue ke Ara itu cinta layaknya suami ke isterinya, sedangkan cinta gue ke elo itu kek kakak ke adeknya Sep...." Akhirnya Fabian pun mengakhiri mengerjai adik iparnya. Ternyata mengerjai Septi sangat menyenangkan menurut Fabian.
__ADS_1
Septi mengerutkan keningnya, berusaha mencerna ucapan Fabian.
Beberapa saat setalahnya.
"Jadi..." Septi menoleh ke arah Fabian yang terlihat menahan tawanya.
"Kakak jahaaattt..." Septi dengan memukul bahu Fabian karena telah dikerjai olehnya.
πππ
"Sini gue gandeng, biar enggak ilang." Fabian menangkup pergelangan tangan adek iparnya saat hendak menaiki eskalator.
Sesaat Septi menatap tangannya yang digandeng oleh kakak iparnya.
"Enggak usah baper, jangan salah sangka juga. Ini bentuk kasih sayang kakak sama adiknya, anggep aja gue belajar buat jagain anak perempuan gue kelak."
Septi mencebik.
"Orang kak Ara aja masih punya pacar, gimana caranya kalian bisa punya anak... Lagian Septi tau kok Kak Ara belum cinta sama kakak. Wlek... " Septi mengejek Fabian dengan memeletkan lidahnya.
Septi sekarang tau kalau cowok yang menikahi kakaknya tersebut adalah orang yang suka bercanda dan bukan orang yang gampang emosi. Bahkan sepertinya Septi merasa nyaman dengannya, nyaman karena merasa memiliki seorang kakak lelaki yang menyenangkan. Karena selama ini Septi belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki kakak lelaki, karena kakak lelakinya memilih hidup terpisah dengan mereka dengan alasan meneruskan studynya ke luar negeri.
"Itu teman, bukan pacar Sept... Bentar lagi Ara juga bakalan cinta sama gue, gue yakin itu. " Fabian menyentil pelan kening Septi, hingga membuat gadis itu kesal.
"Kak Bian belum pernah dengar kan seorang suami dibunuh adek iparnya karena sakit hati sering disentil keningnya." Septi dengan menggerutu serta mengusap keningnya.
"Besok lihat tayangan berita di televisi, nama kak Bian bakal muncul di sana."
"Sebelum itu terjadi nama lo bakal muncul duluan. Seorang adik ipar memilih bunuh diri karena menolak jatuh cinta dengan kakak ipar." balas Fabian mengejek.
"Habis itu hantu gue gentayangan buat mencekik elo kak. Besoknya tagline arwah hantu penasaran mencekik kakak ipar yang tengil." Septi pun tak kalah mengejek kakak iparnya.
Mereka berdua pun tak berhenti mendebat dan saling mengejek satu sama lain hingga akhirnya mereka pun sampai kepada tempat yang dituju yaitu counter yang menyediakan segala kebutuhan peralatan sekolah.
Fabian melepaskan tangan Septi, membiarkan gadis itu memilih kebutuhan sekolahnya biar puas.
Fabian sangat tau jika perempuan itu membutuhkan waktu yang lama untuk sekedar memilih satu barang saja.
"Gue tunggu di situ, ntar kalau butuh gue elo panggil gue ya." Fabian menunjuk kursi tunggu yang disediakan di bagian depan counter tersebut.
Septi mengangguk lalu berjalan meninggalkan Fabian setelah menoleh sesaat pada tempat tunggu yang ditunjuk oleh sang kakak ipar.
Septi berjalan semakin ke dalam untuk mencari kebutuhannya sedangkan Fabian melangkahkan kaki menuju kursi tunggu.
Sembari menunggu adik iparnya berbelanja Fabian mengeluarkan ponsel pintarnya guna mengecek laporan usahanya.
Beberapa saat berlalu, Septi terlihat mendekati Fabian dengan menenteng beberapa kantong belanjaan ditangannya.
__ADS_1
"Kak Bian ayok, Septi udah selesai." ucap Septi di hadapan Fabian.
Fabian yang semula menunduk fokus pada ponselnya mendongak. "Loh udah selesai...?"
"Udah "
"Udah dibayar?"
"Ya udahlah kak, orang udah Septi bawa gini... gimana sih kak kek ga pernah belanja aja...."
"Bukan gitu, kenapa lo ga ngomong tadi biar gue bayarin."
"Septi udah dikasih uang sama papa. Ayok." Septi terlihat mengajak Fabian agar segera beranjak dari sana.
"Ya udah ayok." Fabian dengan beranjak berdiri.
"Sini biar gue bawain." Fabian meraih kantong belanjaan Septi.
"Jadi berasa bawa kacung gue..." Septi mengejek.
"Enak aja kacung, ini kan usaha gue buat bikin elo jatuh cinta sama gue." Fabian kembali menuntun Septi.
"Sorry Septi udah punya cowok inceran sendiri, gak minat sama om om... bekas lagi."
"Ck... umur 17 taon kek gini lo bilang om om... tega lo..."
"Salah sendiri masih sekolah udah nikah. Pasti bentar lagi kakak juga bakalan berperut buncit kek om om"
"Sorry ya kagak bakalan gue kek gitu, yang ada kakak lo yang bakalan gue bikin perutnya buncit kek badut."
"Heleh... kek bisa aja naklukin singa betina yang galak itu." Septi terus saja mengejek Fabian.
"Gue pasti bisa... kan ada lo, elo harus bantuin gue buat bikin Ara takluk sama gue."
"Septi tak nak bantu." Septi berucap layaknya kartun upin ipin.
"Harus mau." Fabian dengan merengkuh bahu Septi memaksanya mendekat.
"Kalau lo ga mau bantuin gue, gue bilangin sama nenek kalau lo udah punya pacar biar lo dipingit sama nenek." Fabian tersenyum mengancam, membuat Septi melirik Fabian sinis.
"Fabian!"
Tetiba terdengar seruan menyebut nama Fabian tengil dari arah belakang.
Membuat Fabian dan Septi sontak menoleh ke belakang.
βπ»βπ»βπ»βπ»
__ADS_1
Mau bikin Fabian jatuh cinta beneran sama adek iparnya.... nggak tegaπππ