
Plak!
Tamparan keras dari papa Bella membuat kepala Fabian miring ke arah sisi lainnya.
Terlihat jelas memar merah pada salah satu sisi pipi Fabian. Bahkan sudut bibir bekas tamparan itu sedikit mengeluarkan cairan merah segar.
Masih pada posisinya, Farbian tercenung dengan tangan kanannya yang meraba bekas tamparan yang menimbulkan rasa teramat ngilu. Dia tak tahu akan kesalahan yang diperbuatnya hingga mendapatkan tamparan itu.
"Sudah saya bilang jangan dekati anak saya. Kenapa kamu malah membuat anak saya hamil Hah..." Papa Bella dengan gertakan yang memenuhi koridor rumah sakit tempat Fabian membawa Bella untuk melakukan perawatan setelah pingsan di depannya beberapa saat lalu.
Seketika kedua mata Fabian melebar, tubuhnya membeku. Otak dan pikirannya seakan tak percaya akan rungunya karena Fabian yakin Bella gadis lugu yang tak mungkin melakukan tindakan memalukan seperti itu.
"Bella hamil?!" Suara Fabian terdengar lirih.
Entah itu adalah ungkapan tanya Fabian pada papa Bella atau ungkapan terkejut dari dirinya yang tidak yakin akan kondisi sahabat yang pernah memenuhi ruang di hatinya tersebut.
Yang pasti Fabian tampak linglung saat ini.
Niat Fabian membawa Bella ke rumah sakit adalah untuk memberikan pertolongan pada gadis itu. Namun naas bagi Fabian, dia malah mendapatkan tamparan keras pada wajahnya dari papa Bella.
Meski Fabian tidak mengenal papa Fabian dengan baik namun dia tidak pernah melupakan raut wajah lelaki paruh baya yang dulu pernah melarangnya untuk bergaul dengan Bella.
Bahkan kata kata ejekan yang papa Bella lontarkan kala itu masih teringat jelas pada memori otak Fabian.
"Orang miskin seperti kamu tidak akan pernah pantas untuk bersama putriku. Bahkan sekedar untuk berteman pun kamu tidak sebanding dengan anakku. Levelmu terlalu di bawah dan tak pantas untuk sejajar dengan keluargaku." ucap papa Bella pada Fabian kala itu.
Padahal waktu itu Fabian hanya memenuhi permintaan Bella untuk memgantarnya ke toko buku. Kebetulan toko buku yang mereka tuju ada di dalam salah satu mall terbesar di kota mereka.
Entah nasib sial apa yang membersamai Fabian kala itu hingga dirinya dan Bella bertemu dengan papa Bella yang baru saja selesai melakukan meeting di salah satu restoran jepang yang juga terdapat di dalam mall tersebut.
Fabian dan Bella yang telah keluar dari outlet buku, berjalan beriringan untuk sekedar menikmati suasana mall. Mereka berdua saling bercerita dengan diselingi guyonan khas gaya anak abg. Interaksi Fabian dan Bella sesungguhnya hanya biasa saja namun karena saat berjalan Fabian menceritakan hal hal lucu akhirnya membuat Bella tak berhenti tertawa renyah. Sesekali memukul pelan bahu Fabian.
Tanpa Fabian dan Bella sadari kebersamaan mereka tertangkap mata papa Bella. Mereka terlihat seperti anak abg yang sedang berpacaran.
Merasa tidak menyukai penampilan Fabian yang masih mengenakan seragam sekolah menengah pertamanya dengan asal. Yaitu baju atas yang telah keluar dari celana seragam sekolah serta kancing baju atas yang setengah terbuka papa Bella langsung menjudge Fabian adalah anak bad boy.
__ADS_1
Dengan tanpa sepengetahuan kedua anak abg itu, papa Bella mengikuti gerak langkah keduanya dari belakang.
Hingga saat keduanya sampai di parkiran dalam mall dan mendapati Fabian menstater sebuah motor butut yang tak layak disebut sebagai motor. Papa Bella langsung menarik tangan putrinya menjauh dari Fabian.
Fabian yang kala itu tidak mengetahui siapa laki-laki paruh baya yang telah menyeret Bella langsung menuruni motornya. Dan menghentikan aksi papa Bella dengan menahan tangan Bella yang terbebas dari cengkeraman papanya.
"Lepaskan!" hardik Fabian kala itu tanpa mengenal rasa takut sedikitpun. Karena Fabian mengira papa Bella adalah orang jahat yang akan melukai Bella.
Papa Bella menghentikan langkah kakinya, menatap rendah pada Fabian.
Papa Bella yang telah berfikiran negatif terhadap Fabian, menjadi semakin tidak menyukai tindakan Fabian yang terlihat berandalan dan tidak sopan pada orang tua.
"Berani kamu dengan saya?" Papa Bella dengan sorot mata tajam, menghujam mata Fabian.
Namun hal itu tidak membuat nyali Fabian menciut, dia pun membalas tatapan itu tak kalah tajam. Seolah ingin mengintimidasi, meski jika dilihat dari tubuhnya kekuatan yang dimilikinya tak sebanding dengan tubuh tegap lelaki paruh baya yang masih mencengkeram pergelangan tangan Bella.
Bella terlihat menggerakkan tangan untuk melepaskan diri. "Pa dia temen Bella."
Seketika Fabian terkejut akan ungkapan Bella. Dia tidak menyangka jika lelaki paruh baya yang dia sangka sebagai orang jahat itu adalah papa Bella.
Itu adalah kali pertama Fabian bertemu dengan Papa Bella. Dan semenjak itu Fabian memupus rasa sukanya pada Bella, meski dirinya masih berteman baik.
Plak
Kembali satu tamparan keras mendarat di pipi Fabian yang lain. Menyadarkan Fabian akan ingatannya pada masa lalu yang membuatnya memilih mundur untuk berjuang mendapatkan Bella.
Tamparan kali ini terasa lebih kuat dari tamparan sebelumnya. Fabian merasakan denyut nyeri pada sudut bibirnya. Namun dia tetap berusaha sekuat tenaga menahan rasa marah yang merayapi tubuhnya. Bagaimanapun yang dihadapi Fabian saat ini adalah orang dewasa, tak mungkin ia membalas menampar ataupun menghajar layaknya dengan teman seusianya.
Meski dalam hati Fabian tidak terima akan tuduhan yang dilontarkan oleh papa Bella, namun dia hanya menunduk berusaha mengurai situasi yang tengah dia hadapi.
"Abi menghamili gadis itu..."
Desis lirih Khey dari kejauhan dengan kedua pipi yang telah basah oleh air mata.
Tanpa Fabian sadari Khey mengikutinnya. Dan kuni gadis yang bergelar isteri sahnya itu tengah salah paham akan situasi yang Fabian jalani.
__ADS_1
Kedua kaki Khey membalik tubuhnya dengan gontai, bergerak menjauh dari Fabian.
Dalam hatinya mencoba menerka siapa gadis itu, dengan dada yang menyesak.
"Mungkinkah gadis itu yang dimaksud Doni dan Farrel?"
Khey pun teringat akan pertemuannya dengan Doni beberapa saat lalu. Yang kemudian juga tanpa sengaja membuat Khey bertemu Farrel sahabat suaminya.
Saat itu,
"Elo!" Khey dengan kedua mata melebar karena terkejut.
"Lo selingkuhin temen gue?" Farrel dengan mencengkeram tangan Khey.
"Enggak. Bukan begitu." Elak Khey dengan menggelengkan kepala kuat.
"Terus maksud lo kencan di sini sama Doni apa? Bian nggak tau kan??" Sorot mata Farrel menandakan kemarahan. Dia memang tidak terima saat melihat Khey dan Doni terlihat bersama di restoran tersebut.
"Rell elo salah sangka sama gue."
"Jangan lo pikir gue sama kek Fabian yang percaya sama omongan lo Khey, gue nggak sepolos Bian. Lo pikir gue nggak liat waktu Doni menyentuh wajah lo?" Farrel merasa tidak terima Khey dan Doni melakukan adegan mesra di belakang Fabian.
Meski yang sebenarnya Doni yang bergerak menyentuh wajah Khey, namun menurut Farrel Khey harus menepisnya untuk menjaga perasaan Fabian sebagai suami sahnya. Bukan malah menikmati sentuhan itu.
"Rell gue nggak..."
Belum selesai Khey berbicara Farrel memotong ucapannya.
"Lo pikir Bian cinta mati sama lo, sampek lo tetep jalan sama Doni di belakang dia. Lo salah Khey, Bian juga nggak sepenuhnya cinta sama lo. Hatinya masih milik cewek lain." Farrel menggertak Khey karena tak terima Khey bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Maksud lo?" Khey dengan kening mengerut.
"Bella. Nama cewek itu."
Dan itu adalah nama yang sama dengan yang disebutkan oleh Doni.
__ADS_1
ππππ