Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Juragan sayur


__ADS_3

" Pertunjukannya udah selesai?" tanya Nadia yang baru saja sampai di pabrik tua itu.


" Sudah"


" Telat dong akunya"


" Emang. Lagian nggak seru"


" Kenapa?"


" Baru di gores dikit aja dia udah ngompol" kata Kiran.


" Ngompol?"


" Hhhmm"


Tawa Nadia pun pecah. Ia tidak menyangka kalau wanita yang terlihat sombong itu ternyata penakut juga. Tapi wajar sih, karena dia tau seperti apa sahabatnya itu.


" Terus sekarang kalian berdua mau kemana?" tanya Nadia.


" Pulang lha, mau mandi" kata Kiran.


" Kita pulang ke mansion atau ke rumah honey?" tanya Darren.


" Ke rumah dulu aja deh"


" Baiklah, sesuai keinginan ratuku"


" Pasangan bucin mulai lagi" kata Nadia.


" Si jomlo iri aja sama kemesraan kita ya hubby"


" Iya honey"


" Aku bukan iri, tapi setidaknya kalian menghargai aku yang jomlo ini"


" Hubby, gimana kalau Nadia kita jodohkan sama Romy"


" Bagus, mereka kan sama-sama jones"


" Bagaimana Nad?"


" Aku menolak"


" Kenapa?"


" Kalau di jodohkan, kesannya aku tu nggak laku"


" Idih,, kata siapa begitu"


" Aku. Lagian belum tentu juga Romy mau sama aku"


" Kalau dia juga mau gimana?"


" Ya nggak tau juga sih"


" Aku cuma butuh jawaban iya atau tidak, bukan jawaban yang lain" kata Kiran.


" Ya Mau lha " jawab Nadia malu-malu.

__ADS_1


" Ckck,, pake acara malu-malu pula dia" kata Kiran.


" Malu-malu tapi mau dia itu honey " kata Darren.


" Sepertinya begitu"


" Kalian kompak banget sih ngebully aku"


" Harus dong, ntar kalau nggak kompak ada pelakor lagi"


" Ya udah, yuk pulang" ajak Darren.


" Ok hubby. Nad, kamu bawa mobil kan?"


" Bawa, gue nggak mau jadi obat nyamuk kalian" kata Nadia sambil masuk ke dalam mobil.


" Syukurlah kalau kamu nyadar" kata Kiran sambil terkekeh melihat ekspresi kesal Nadia.


" Dasar pasangan nggak ada akhlak kalian berdua"


Darren dan Kiran tertawa. Nadia tidak habis pikir, sahabatnya itu sangat senang menjahilinya. Begitulah nasib dirinya yang jomlo, selalu jadi sasaran bully pasangan bucin itu.


Mobil mewah itu melaju meninggalkan pabrik tua itu. Kiran berharap setelah ini tidak ada lagi yang akan mengusik kehidupannya dan juga keluarganya. Karena kalau masih ada, mungkin dia tidak akan bisa berbaik hati lagi.


Di kota lain.


Terlihat lelaki tampan sedang menikmati pemandangan yang ada di sekitar villa yang baru satu Minggu dia beli. Jauh dari keramaian ingar-bingar kota tidak lha terlalu buruk.


Hari ini lelaki tampan itu akan pergi ke kebun sayur untuk panen pertama. Kebun yang di beli sudah lama. Tapi baru kali ini dia ikut turut andil untuk memanennya.


" Apa kita berangkat sekarang Den?" tanya Kardi salah satu karyawannya


Ya lelaki tampan itu adalah Daffin. Setelah menghadiri pesta pernikahan Kiran. Ia memilih tinggal di villa. Perusahaannya ia serahkan pada orang kepercayaannya.


Di Villa itu ia tinggal dengan beberapa pelayan dan juga karyawan yang bekerja di kebun sayurnya. Orang yang tinggal dengannya adalah orang-orang kepercayaannya.


" Yuk Pak, kita berangkat" kata Daffin setelah menyesap kopinya.


" Iya Den"


Daffin dan Pak Kardi berjalan menuju perkebunan sayur. Mereka pergi dengan jalan kaki. Karena letak perkebunan sayur Daffin tidak terlalu jauh dari villanya.


Sepanjang jalan para warga yang tinggal di sekitar villa selalu menyapa Daffin. Daffin kadang membalas sapaan mereka dengan senyuman dan kadang juga dengan anggukan kepala.


Ibu-ibu yang ada di sana tak jarang menawarkan putri mereka untuk di nikahi oleh Daffin. Tapi tawaran itu di tolak mentah-mentah oleh Daffin. Ya sekarang Daffin masih ingin sendiri, lebih tepatnya ia belum bisa melupakan Kiran.


" Apa yang lain sudah datang Pak?" tanya Daffin pada Pak Kardi.


" Sudah Den "


Tak terasa mereka sudah sampai di kebun sayuran. Kedatangan Daffin di sambut oleh para pekerja yang notabenenya penduduk yang tinggal di sana.


Lahan yang sangat luas itu di tanami dengan berbagai macam sayuran, seperti. Sawi, kol, kembang kol, brokoli, wortel dan banyak lagi.


" Bagaimana Pak hasilnya?" tanya Daffin pada salah satu karyawannya.


" Alhamdulillah, sepertinya hasil panennya bagus Den"


" Alhamdulillah"

__ADS_1


" Apa Aden mau ikut memanen juga?"


" Boleh Pak"


Ini kali pertamanya Daffin panen sayuran. Dan itu dari kebun sayurannya sendiri. Yang mana nanti sayuran itu akan di kirim ke supermarket-supermarket yang tersebar di seluruh kota.


Para buruh yang bekerja di sana tidak hanya laki-laki. Tapi perempuan pun ada. Mulai dari yang muda hingga yang paruh baya pun ada. Tak ayal juga para gadis-gadis itu curi-curi pandang pada lelaki tampan itu.


Pak Kardi mengajak Daffin panen kembang kol. Benar kata para karyawannya, sayuran yang akan mereka panen sangat bagus-bagus dan juga kembang kol nya sangat besar-besar.


Saat akan memetik kembang kol itu, Daffin lagi-lagi teringat sama wanita semasa kecilnya itu. Ia tau kalau wanita cantik itu sangat menyukai sayuran yang satu ini. Dia pun berinisiatif untuk mengirimkan kembang kol itu ke rumah Kiran.


" Pak, tolong pisahkan kembang kol yang besar-besar ini agak tiga. Saya mau kirim ke rumah sahabat saya"


" Baik Den"


Daffin bisa membayangkan bagaimana wajah wanita cantik itu saat menerima kembang kol itu. Ingin rasanya ia melihat wajah cantik itu lagi, tapi apalah daya dia bukan siapa-siapa gadis itu lagi.


Tiba-tiba rasa sesak kembali datang. Daffin memegang dadanya yang terasa nyeri. Entah dengan cara apalagi dia bisa melupakan Kiran. Padahal dia sudah berusaha pergi jauh dari kota kelahirannya, tapi wajah cantik Kiran selalu saja menghantuinya.


" Aden kenapa? apa Aden sakit?" tanya Kardi yang melihat tuannya memegang dadanya.


" Saya baik-baik saja Pak"


" Kalau Aden kurang sehat, kita ke pondok yang ada di sana"


" Saya nggak apa-apa Pak"


" Baiklah, saya mau pisahkan kembang kol ini dulu"


" Iya Pak"


Pak Kardi memisahkan kembang kol yang besar sesuai keinginan tuannya. Setelah itu dia melanjutkan memantau para pekerja yang akan ikut panen sayuran hari ini.


Para buruh terutama yang wanita sangat bersemangat untuk panen. Karena mereka di temani sama lelaki tampan pemilik kebun sayuran itu.


" Ternyata pemilik kebun ini masih muda dan juga tampan ya" kata salah satu buruh wanita.


" Iya, denger-denger dia belum punya kekasih"


" Kekasih belum, tapi kalau istri sudah sama aja nggak ada harapan"


" Belum. Dia itu masih single, alias masih lajang"


" Wah,, berarti kita masih punya kesempatan dong" kata gadis-gadis yang ada di sana.


" Iya, itupun kalau dia mau melirik kalian" lanjut ibu-ibu.


" Ck,, bilang saja kalian para ibu-ibu iri sama kami yang gadis-gadis ini. Karena tidak bisa dekat sama juragan tampan"


" Siapa yang iri. Kami cuma tidak ingin kalian bermimpi terlalu tinggi. Karena kalau jatuh ntar sakit"


" Sudah-sudah, sekarang waktunya bekerja. Nanti kalian bisa kena marah sama Pak Kardi" kata salah satu bapak-bapak.


Para gadis dan juga ibu-ibu itu menghentikan perdebatan mereka. Karena mereka tidak ingin dimarahi sama Pak Kardi. Ya Pak Kardi memang sangat tegas dan juga sangar.


To be continue.


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini πŸ€— πŸ€—

__ADS_1


Happy Reading 😚😚


__ADS_2