
Malam hari.
Para sahabat Dinda sedang menunggu kedatangan Dinda di persimpangan jalan. Malam ini mereka akan pergi ke pasar malam, sesuai janji mereka tadi siang.
" Lama amat sih dandannya?" tanya Lani saat Dinda sudah sampai.
" Tau nih, udah sampe jamuran kita nunggu kamu"
" Maaf, tadi aku harus bantu ibu dulu"
" Ya udah yuk, ntar keburu malam"
Keempat sekawan itu langsung berjalan menuju pasar malam. Di sepanjang jalan mereka banyak menemukan sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di semak-semak.
Dinda dan ketiga sahabat yang tidak ingin mata mereka terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak baik bergegas melewati jalan itu.
" Parah, hampir saja mataku yang polos dan suci tercemar sama adegan live tadi" kata Lani.
" Bener, mereka itu merusak moodku"
" Kira-kira siapa ya yang tadi itu"
" Nggak tau, lagian kan gelap nggak keliatan" kata Dinda.
Suasana pasar malam sudah ramai lautan manusia. Mulai dari anak kecil hingga orang tua pun ada di sana. Permainan yang ada di sana juga beragam.
" Wah rame juga nih yang datang"
" Ya pastilah, inikan malam pembukaan pasar malam" kata Lani.
" Kita mau coba permainan apa dulu nih?" tanya Santi sahabat Dinda.
" Bianglala " jawab Dinda dan Lani.
" Wih,,, kompak banget nih jawabnya" kata Indri.
" Buruan kita ke sana, ntar penuh" kata Lani.
" Yuk "
Empat sekawan itu langsung menuju bianglala. Seperti dugaan mereka, di sana sudah mulai panjang antreannya. Mulai dari anak-anak dan juga orang tua mengantre.
" Panjang amat antreannya" kata Lani.
" Iya, ngalahin panjangnya gerbong kereta api" kata Dinda.
Satu persatu orang sudah naik ke atas bianglala. Tapi empat sekawan itu belum juga mendapatkan giliran untuk naik. Maklum di depan mereka masih banyak orang.
Ada sebagian dari orang-orang itu langsung balik kanan, karena petugas yang ada di depan pintu masuk memberikan syarat untuk naik bianglala. Jadi orang yang sudah lanjut usia seperti ibu-ibu yang ada di depan mereka tidak di perbolehkan naik.
Akhirnya antrean yang panjangnya ngalahin gerbong kereta api tadi sudah mulai berkurang. Tidak lama lagi sampailah giliran empat sekawan itu.
Keempat sekawan itu menunggu dengan sangat sabar. Karena mereka sudah lama tidak naik permainan bianglala ini. Terakhir mereka naik permainan ini waktu kelas enam SD.
" San, buruan maju. Udah kosong noh" kata Indri.
Tanpa menunggu lama Santi maju, diikuti ketiga temannya dibelakang. Keempat sekawan itu sekarang sudah berada di dalam benda yang berbentuk bulat, tapi bukan bola.
Mereka sudah tidak sabar melihat kampung mereka dari ketinggian. Kalau orang kota-kota melihat dari atas gedung. Tapi kalau mereka naik bianglala biar bisa melihat keindahan kampung mereka di malam hari.
Bianglala mulai bergerak. Keempat sekawan itu langsung menoleh kearah luar. Andai mereka punya ponsel yang sedikit canggih, yang kameranya bagus. Maka mereka akan mengabadikan momen saat ini.
" Lan, kamera ponsel kamu bagus nggak?" tanya Santi.
" Burem, yang ada ntar foto kita kek foto jaman dulu. Hitam putih" kata Lani.
" Mulai besok gue harus menabung biar bisa beli ponsel yang agak bagus dikit" kata Santi.
__ADS_1
" Aku juga, apalagi kalau kameranya bisa membuat kita jadi tampak cantik" kata Indri.
" Emang ada hp yang kayak begitu?" tanya Dinda.
" Ada. Orang yang tadinya hitam bisa jadi putih" jawab Indri.
" Bagus juga ya" kata Santi.
" Iya dong"
" Bukankah itu penipuan namanya?" tanya Dinda.
" Iya, tapi anak muda zaman sekarang banyak yang pake ponsel kayak begitu" kata Lani.
" Betul. Waktu dilihat fotonya terlihat cantik. Terus yang wajahnya banyak jerawat, bisa mulus dan juga glowing. Tapi pas ketemu Astagfirullah bentuknya" kata Indri.
Dinda tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Begitu juga dengan Lani dan Santi. Mereka bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang seperti itu kalau sudah ketemu.
" Benar apa kata kamu Ndri" kata Santi.
" Nggak kebayang liat ekspresi cowoknya kek apa" kata Lani.
" Iya. Pas diliat dari foto yang di kirim kek princess dari negeri kayangan. Eh pas ketemu bukan mirip prince and princess lagi" kata Santi.
" Kayak apa?" tanya Dinda dan yang lain.
" Kayak itulah pokoknya" jawab Santi.
" Iya kayak apa?"
" Kayak wajah kena tepung"
Lagi-lagi tawa mereka pecah di atas sana. Saat mereka sedang berada di atas puncak. Keempat cewek itu menikmati suasana di atas sana sebelum mereka turun.
Saat keempat sekawan itu sedang menikmati indahnya kampung mereka dari atas ketinggian. Seorang lelaki tampan juga sedang asik memainkan salah satu permainan yang ada di pasar malam itu.
" Sudah aku bilang, kalau diluar jam kerja panggil Daffin saja"
Ya lelaki tampan itu adalah Daffin. Ia sedang memainkan permainan menembak ayam. Ia di ajak Yoga putranya Pak Kardi. Katanya daripada bengong di villa sendirian, mending pergi ke pasar malam.
" Maaf Fin, soalnya udah terbiasa panggil tuan"
" Mulai sekarang harus dibiasakan. Lagian kita kan seumuran"
" Baiklah, akan aku coba"
" Nah gitu dong"
Sudah banyak hadiah yang di dapat sama Daffin dari permainan menembaknya. Beberapa hadiah itu juga sudah diberikan pada anak-anak yang kebetulan melihatnya sedang bermain.
" Udahan yuk bro mainnya. Kita cari makan dulu" ajak Yoga.
" Makan?"
" Iya. Jangan bilang kamu nggak suka jajan di tempat kek gini?"
" Bukan! bukan begitu"
" Terus?"
" Cuma agak sedikit khawatir aja"
" Tenang, makanan yang di jual disini bersih dan juga enak kok"
" Baiklah "
Yoga dan Daffin pun pergi mencari makanan yang akan mereka makan. Cukup banyak juga makanan yang di jual di sana. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada bakso. Ya makan sejuta umat.
__ADS_1
Lagi-lagi Daffin jadi pusat perhatian para wanita. Para wanita yang tadi makannya nggak ada anggun-anggunnya, tapi setelah melihat Daffin mereka makan dengan sangat anggun.
" Kita duduk di sana" kata Yoga.
Daffin hanya mengikuti langkah kaki Yoga saja. Para wanita yang ada di sana bisa mencium aroma parfum mahal dari tubuh lelaki tampan itu. Ya wangi parfumnya nggak main-main. Namanya juga parfum mahal, dari jarak ribuan kilometer pun wanginya sudah tercium.
Yoga memesan bakso untuk dirinya dan juga Daffin. Suasana malam yang lumayan dingin memang cocok makan bakso yang pedas.
" Enak ya kalau jadi cowok tampan?" tanya Yoga.
" Maksudnya?" tanya balik Daffin.
" Selalu jadi pusat perhatian" jawab Yoga.
" Oh"
" Emang kamu nggak merasa kalau semua mata para wanita itu liatin kamu?"
" Nggak. Lagian aku nggak peduli mereka mau apa"
" Ck,, kamu itu"
" Apa?"
" Ganteng-ganteng, tapi jones" kata Yoga.
" Eleh, kek kamu nggak aja"
" Aku bukannya jomlo, tapi belum punya pacar aja"
" Sama aja Jamal"
" Oh sama ya"
" Hhmm"
Bakso pesanan mereka pun datang. Daffin dan Yoga mulai menyantap bakso yang baru datang itu. Tapi sebelum itu mereka meracik bakso itu dulu dengan cabe dan juga kecap.
Saat Daffin dan Yoga sedang menikmati bakso mereka. Dinda dan ketiga sahabatnya datang. Ia tidak menyadari kalau Daffin ada di sana juga.
" Kita duduk dimana nih?" tanya Santi.
" Iya, tempat duduknya penuh semua" kata Lani.
" Tunggu aja dulu, siapa tau ntar ada yang sudah selesai makan" kata Dinda.
Keempat sekawan itu menunggu para pembeli yang sudah selesai makan bakso. Tapi sudah beberapa menit menunggu, belum tampak tanda-tanda orang yang akan selesai makan.
" Kok mereka belum keluar juga sih, padahal bakso mereka sudah habis" kata Indri yang melihat salah satu wanita yang sudah selesai makan bakso, tapi dia masih betah duduk di sana.
" Mana?" tanya Lani.
" Noh, kursi agak pojok" jawab Indri.
Lani dan yang lainnya mengikuti arah mata sahabatnya. Benar saja, ada empat orang wanita yang sudah selesai makan bakso, tapi mereka masih betah duduk di sana.
" Eh, coba liat cowok tampan yang duduk sama Yoga" kata Santi.
" Omo..Omo.. Juragan tampanku" kata Lani.
Dinda yang mendengar nama juragan langsung mempertajam penglihatannya. Benar, juragan tampan sejagat raya itu sedang menikmati baksonya.
Gerakan Daffin yang sedang mengunyah bakso terlihat seperti SlowMo di mata Dinda. Apalagi melihat bibir nan merah dan terlihat sangat seksi itu sungguh menggoda imannya.
To be continue.
Happy reading ππ
__ADS_1