
Prang...
Kiran kaget melihat foto pernikahannya terjatuh. Padahal angin tidak ada, tapi kenapa foto yang tergantung dengan baik bisa jatuh. Ia segera mengambil foto pernikahannya itu. Kiran berjalan dengan hati-hati. Karena pecahan kaca ada di mana-mana.
" Kenapa fotonya bisa jatuh, padahal nggak ada angin"
Kiran membawa foto pernikahannya. Ia menekankan tombol yang ada di sisi ranjangnya. Tak berselang lama pelayan pun datang.
" Ada yang bisa saya bantu nona?"
" Tolong bersihkan pecahan kaca itu ya Bik"
Pelayan itu melihat ke lantai. Benar saja banyak pecahan kaca di sana. Dan mereka tau itu pecahan kaca dari foto pernikahan nona dan tuannya. Karena di sana ada terlihat bingkai foto.
" Apa fotonya jatuh nona?"
" Iya Bik "
" Kata orang-orang tua saya dulu kalau foto pernikahan atau foto keluarga jatuh tanpa ada sebab, itu tandanya ada sesuatu yang buruk akan terjadi"
" Hal buruk?"
" Iya nona, tapi mudah-mudahan tidak ada sesuatu hal buruk yang terjadi"
" Aamiin, mudah-mudahan ya Bik"
Kiran memang bukan tipikal orang yang percaya dengan hal seperti itu. Tapi ia berharap suami dan keluarganya baik-baik saja. Dan selalu berada dalam lindungan yang maha kuasa.
πππ
Romy memasang wajah kesalnya kala melihat sahabatnya berjalan menghampirinya. Darren memang selalu lupa segalanya hal kalau sudah ngobrol dengan istrinya.
" Lama amat sih lo?"
" Biasa bro, efek kangen"
" Ck,, selalu saja begitu "
Darren melihat Jesica masih setia duduk di sana. Padahal ia sengaja berlama-lama tadi menelpon istrinya, supaya wanita itu segera pergi dari sana.
" Balik yuk Rom"
" Gue belum makan bro"
" Makan diluar aja"
" Nanggung, lagian nggak enak sama yang punya acara"
" Ya udah buruan ambil makanannya, habis itu kita pulang"
" Lo mau makan nggak, gue ambilin "
" Nggak, Lo aja"
" Ok"
Romy segera pergi mengambil makanan. Darren yang kebetulan haus, segera menyambar gelas minumannya. Jesica tersenyum melihat Darren akan meminum minumannya.
Tiba-tiba raut wajah Jesica berubah, karena Darren tidak jadi meminum minumannya. Ya lelaki itu meletakkan kembali gelas minumannya.
Darren melirik Jesica. Ia tersenyum melihat raut wajah Jesica yang berubah. Ia tau kalau minumannya itu sudah di campur obat perangsang.
Lo pikir gue akan terkena jebakan murahan ini. Mimpi!
" Nona, sepertinya Papa anda memanggil anda?"
" Benarkah?"
__ADS_1
" Hhmm"
" Sebentar, saya tinggal dulu"
Darren hanya mengangguk.
Saat Jesica pergi, Darren segera menukar gelas minumannya dengan punya Jesica. Ia tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
" Kenapa Lo senyum-senyum gitu?" tanya Romy yang kembali dengan membawa piring berisi makanan.
" Gue punya pertunjukan yang menarik "
" Wah, pertunjukan apa tu"
" Nanti lo juga tau"
" Belatung nangka kemana?"
" Belatung nangka?"
" Itu, si Jesica"
" Tempat Bapaknya"
" Syukurlah. Eh tu cewek roman-romannya mau deketin elo"
" Biarkan saja "
Saat Romy mau bicara, Jesica sudah datang dan duduk kembali di kursi yang tadi.
" Sorry ya lama"
" Nggak apa-apa"
" Nggak balik juga nggak apa-apa" gumam Romy.
" Nggak, ini makanannya enak" kata Romy.
" Oh. Tuan Darren, mari bersulang" ajak Jesica sambil mengangkat minumannya.
" Tentu " kata Darren.
" Cheers!"
Jesica sangat senang karena Darren meminum minuman yang sudah ia beri obat perangsang tadi. Akhirnya rencananya berhasil. Ia pun meminum minumannya sampai habis tak bersisa.
Senjata makan tuan. Panas,, panas deh tu badan.
Saat obat itu bereaksi, ia akan membawa Darren ke salah satu kamar yang ada di hotel ini. Ia tidak bisa membayangkan akan tidur dengan lelaki tampan itu. Jesica tersenyum membayangkan perut sixpack milik lelaki tampan itu.
Sudah beberapa menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda obat itu bereaksi. Ia bingung kenapa obat itu belum juga beraksi. Padahal ia sudah memberikan cukup banyak tadi.
Kenapa obatnya belum bereaksi.
Tiba-tiba Jesica merasa kepanasan, padahal di ballroom itu full AC. Tapi kenapa ia merasa kepanasan. Dan itu sangat membuat dirinya tidak nyaman.
" Anda baik-baik saja nona?" tanya Darren.
" Sa-saya baik-baik saja "
" Tapi anda berkeringat?"
" Oh itu karena saya kepanasan"
" Padahal ini dingin lho, masa anda bilang panas?"
" Mungkin nona Jesica sakit kali. Masa ruangan udah dingin gini di bilang panas" kata Romy.
__ADS_1
" Masa kalian berdua nggak kepanasan? terutama anda tuan Darren?"
" Tidak! saya justru sedang dingin. Apa nona Jesica berharap saya akan kepanasan seperti nona?"
" Ti-tidak"
Aneh! kenapa obat itu belum bereaksi. Padahal ini udah lebih dari waktu yang dikatakan orang itu. Apa orang itu berbohong?.
Tubuh Jesica semakin panas. Ia sudah tidak bisa menahan lagi. Ia menatap Darren yang tersenyum padanya. Senyuman itu bukan senyuman manis, tapi senyuman yang meremehkan.
" Bagaimana rasanya meminum obat yang anda masukkan sendiri ke dalam minuman saya?"
Deg.
Ia menatap lelaki tampan itu. Bagaimana lelaki itu tau kalau dia sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Tunggu! bukankah seharusnya Darren yang merasakan kepanasan? tapi kenapa dia.
" Anda bingung, kenapa anda yang merasa panas, dan bukan saya?"
Lagi-lagi Jesica kaget Darren juga bisa mengetahui apa yang ada dalam pikirannya.
" Itu gampang, karena saya sudah menukar minuman anda dengan minuman saya. So, anda terkena jebakan anda sendiri. Ibarat kata pepatah senjata makan tuan"
" Ke-kenapa kamu bisa tau kalau di minuman mu ada sesuatu?"
" Pertanyaan yang bagus. Karena saya bisa mencium aroma obat laknat yang anda masukkan itu. Dan trik bodoh seperti itu tidak akan pernah berhasil pada saya. Anda salah mencari mangsa nona"
" Anda lelaki jahat!"
" Wow terima kasih atas pujian anda nona. Anda bilang saya jahat? anda lha yang tidak tau diri! saya sudah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka saya pada anda, tapi anda malah melakukan trik kotor untuk menjebak saya"
" Kenapa anda menolak saya?"
" Karena saya tidak menyukai anda. Saya hanya mencintai istri saya"
" Apa kurangnya saya dari pada dia"
"Banyak! salah satunya, saya tidak suka wanita yang ganjen, gatal dan suka menggoda lawan jenisnya. Dimata saya wanita itu sudah terlihat seperti j*l*ng "
" Bukankah istri anda sama dengan saya?"
" Jangan samakan istri saya yang seperti berlian mulia itu dengan anda yang hanya seperti batu kali di mata saya. Kenapa istri saya itu saya sebut seperti berlian? karena dia sangat mahal, dan sangat susah di dapatkan. Tidak seperti anda yang gampangan"
Romy menutup mulutnya supaya tawanya tidak lepas. Sahabatnya itu memang selalu jujur dalam berkata.
" Baiklah karena saya kasihan melihat anda, maka saya akan mengobati efek obat itu"
Jesica tersenyum mendengar ucapan Darren. Dia memang sudah tidak bisa menahan pengaruh obat itu lagi. Ia perlu menyalurkan hasratnya itu.
Kenapa dia tersenyum? apa dia pikir gue yang akan mengobatinya? oh no!.
" Rom, lo cari pria hidung belang, kapan perlu perutnya yang buncit, biar dia langsing dengan berolahraga dengan wanita liar ini"
Duarr...
Jesica seperti tersambar petir di siang bolong. Dia pikir lelaki itu akan tidur dengannya, tapi ternyata dia ingin mencarikan lelaki lain. Dan lagi dia mau mencarikan lelaki perut buncit.
" Anda berharap saya yang akan tidur dengan anda? mimpi! tubuh saya ini terlalu mahal untuk wanita murah seperti anda. Rom buruan cari, kita harus menyelamatkan wanita j*l*ng ini. Kalau tidak dia akan mati karena pengaruh obat itu"
" Biarkan saja dia mati" kata Romy.
" Jangan! mati itu lebih baik untuk dia, mending kita siksa dia dulu. Setelah itu dia akan meminta sendiri untuk mati"
Jesica tidak menyangka kalau lelaki dihadapannya ini, lelaki yang sangat kejam. Dan dia tidak punya belas kasih pada wanita. Ia menyesal karena tidak mendengarkan ucapan papanya.
To be continue.
Happy reading ππ
__ADS_1