
Semua orang yang ada mansion itu sedang menikmati martabak telor yang dibeli Darren tadi. Para pelayan dan juga bodyguard sangat senang mendapatkan martabak telor itu.
" Bodyguard bos bening-bening semua ya. Bagi satu dong?" kata Serly.
" Pilih aja mana yang lo suka" kata Kiran.
" Tuh kan bener, kek berasa di acara take me out gue"
" Anggap saja begitu"
" Gue bingung harus pilih yang mana. Gue cinta dia, tapi gue nyaman dengannya" kata Serly sambil bersenandung.
" Jangan bilang lo mau semuanya?" kata Nadia.
" Ya nggak lha. Tapi kalau mereka mau apa salahnya"
" Dasar rakus"
" Hei, itu bukan rakus namanya" kata Serly.
" Terus apa?"
" Memanfaatkan kecantikan"
" Idih,, emang lo cantik?" tanya Nadia.
" Banget" jawab Serly.
" Ngaku cantik, tapi jomlo" ledek Nadia.
" Ya, lo jangan bawa-bawa status gue dong" protes Serly.
" Kenapa emangnya?"
" Ntar di dengar sama bodyguard tampan itu. Kan malu "
Kiran tersenyum mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu. Ya hal seperti inilah yang ia kangen saat berkumpul bersama dengan kedua sahabatnya itu.
" Sayang"
" Hhmm"
" Teman kamu itu tadi lupa minum obat ya?"
" Iya mungkin By" jawab Kiran sambil terkekeh.
" Pantas dia kek gitu"
" Maklumi aja ya By"
Pasutri itu pun tertawa. Dan itu membuat Nadia dan yang lain menoleh kearah pasutri itu.
" Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Nadia.
" Jangan-jangan mereka berdua ke sambet penunggu mansion ini" kata Serly.
" Enak aja, di mansion ini mana ada penunggunya" kata Kiran.
" Terus kenapa kalian berdua tertawa begitu?" tanya Serly.
" Suami gue heran liat tingkah absurd lo" kata Kiran.
" Suami lo demen ama gue?"
" Idih,, kagak lha ya. Suami gue takut liat lo"
__ADS_1
" Takut?"
" Hhmm"
" Masa takut liat wajah cantik kek boneka Barbie gini" kata Serly dengan pedenya.
" Barbie, boneka chucky yang ada" kata Nadia.
" Sadis amat sih lo Nad"
Mereka semua pun tertawa bersama. Para pelayan dan bodyguard pun ikut tertawa, padahal mereka tidak tau apa yang ditertawakan sama tuan, dan nona mudanya.
" Oh iya, BTW bodyguard lo yang itu udah punya pacar atau istri belum?" tanya Serly sambil menunjuk pada Doni.
" Udah punya bini dia" jawab Nadia bohong.
" Masa sih? tapi nggak apalah karena pacaran sama suami orang itu lebih menantang" kata Serly.
" Lo mau jadi pelakor?" tanya Nadia.
" Bukannya pelakor itu lagi trend yang sekarang"
" Nggak baik itu"
" Serius amat sih lo, gue cuma bercanda. Tapi beneran tu cowok udah punya istri?" tanya Serly lagi.
" Nggak, masih single dia. Sama kek Lo" kata Kiran.
" Wah pucuk dicinta ulampun tiba" kata Serly.
" Mau kemana Lo?" tanya Nadia.
" Pepet tu bodyguard lha" jawab Serly sambil berjalan menghampiri Doni.
Doni menautkan alisnya melihat sahabat nona mudanya sudah duduk di sampingnya. Serly tersenyum pada Doni.
Uhuk...uhuk..
Doni tersedak sama martabak telor yang ada di dalam mulutnya. Dengan sigap Serly memberikan segelas air putih pada Doni.
" Makanya hati-hati tampan. Apa sebegitu terpesonanya kamu melihat kecantikan saya" kata Serly dengan pedenya.
Kiran dan Nadia yang mendengar ucapan Serly barusan hanya menggelengkan kepala mereka. Ternyata rasa percaya diri sahabatnya itu sangat tinggi. Sedangkan Darren dan Romy melongo mendengar ucapan Serly tadi.
" Jangan sampe anak-anakku kelakuannya kek begitu " kata Darren sambil mengelus perut sang istri.
Kiran terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Tapi ia juga mengamini ucapan suaminya. Ia juga tidak ingin anak-anaknya kelakuannya sama kek sahabatnya itu.
Doni agak risih karena kehadiran Serly di sampingnya. Di tambah lagi dengan Serly yang udah menempel seperti cicak di dinding.
" Nona, bisakah anda sedikit menjauh dari saya" kata Doni.
" Kenapa?"
" Karena saya risih nona nempel udah kek cicak"
" What! cicak?"
" Iya, bedanya cicak nempel nya di dinding. Tapi nona nempel nya sama tubuh saya"
" Nggak apa-apa. Lagian kapan lagi kamu ngerasain di tempel ama cicak cantik kek saya" kata Serly sambil tersenyum.
Doni melongo mendengar ucapan wanita cantik di sampingnya itu. Ia pikir wanita itu akan marah, tapi nyatanya wanita itu malah senang di samakan dengan cicak.
" Kasian Doni ketempelan demit kek Serly " kata Nadia sambil tertawa.
__ADS_1
" Iya, coba liat wajahnya udah pucat kek gitu" kata Kiran.
" Nggak apa-apa, siapa tau mereka berjodoh " kata Romy.
" Benar itu yank, lagian mereka kan sama-sama jomlo" kata Nadia.
" Emang Doni jomlo By?" tanya Kiran pada suaminya.
" Mungkin sayang, soalnya aku nggak pernah liat dia gandengan sama cewek"
" Pas itu, kita jodohkan saja mereka berdua" kata Kiran.
" Setuju" kata Nadia dan Romy berbarengan.
" Tapi apa Doni mau sama teman kamu itu. Liat aja dia ketakutan kek gitu dekat teman kamu" kata Darren.
" Iya juga sih. Tapi nggak ada salahnya kita coba By"
" Nggak usah ikut campur, biarkan saja hubungan mereka itu mengalir sendiri. Lagian cinta itu tau kemana tempatnya berlabuh" kata Darren.
" Wah,, kata-kata lo puitis banget bro" kata Romy.
" Betul, hubby belajar darimana?" tanya Kiran.
" Rangkai sendirilah. Kenapa?"
" Nggak nyangka suamiku ternyata pintar juga dalam merangkai kata"
" Iya dong"
" Jadi kita nggak jadi comblang in mereka nih?" tanya Nadia.
" Nggak. Kita liat aja gimana Serly berjuang untuk mendapatkan cinta Doni" kata Romy.
" Kalau Serly doang yang berjuang nggak akan jadian mereka" kata Nadia.
" Doni itu ibarat batu dan Serly ibarat air. Batu yang terus menerus kena tetesan air, walaupun dia keras, tetap akan bolong atau bahkan hancur. Jadi sekuat apapun Doni menolak, pasti nanti bucin juga. Kek pasangan yang di depan kita ini" kata Romy sambil melirik Darren.
" Ngapain lo lirik-lirik gue kek gitu, naksir?"
" Ck,, gue masih normal kali. Lagian kalau pun gue cewek, juga nggak bakal suka sama cowok datar dan dingin kek Lo"
" Romy, sembarangan aja kamu kalau ngomong. Suami aku itu datar dan dinginnya cuma sama orang lain. Tapi kalau sama keluarganya dia mah gemesin banget" kata Kiran.
" Lo denger tu apa kata istri gue"
Romy memutar bola matanya jengah. " Dasar pasangan bucin"
" Apa bedanya ama Lo" kata Darren.
" Iya bener itu By. Lagian siapa yang tadi ingin ikut pulang bareng kita. Padahal kita nggak ngajak dia. Iya By"
" Iya betul honey"
Nando beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih untuk menonton daripada mendengarkan obrolan yang dia tidak mengerti.
" Mau kemana tu bocah?" tanya Romy.
" Malas dengerin lo ngomong kali " kata Darren.
" Biarkan saja, mungkin Nando tidak mengerti dengan tema obrolan kita" kata Nadia.
" Iya, kalau di sini ntar dia dengar omongan Serly yang nggak di filter itu lagi"
Mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga malam. Setelah makan malam, barulah para sahabat Kiran pamit pulang.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading ππ