
Keesokan harinya.
Kiran sudah siap untuk menemui ibu panti asuhan tempat Nando tinggal dulu. Ya hari ini dia akan membalas semua perbuatan jahat yang sudah di lakukan oleh ibu panti itu.
" Apa semua hadiah untuk adik-adik di panti itu sudah siap?" tanya Kiran pada sahabatnya.
" Sudah, semuanya sudah di masukkan ke dalam mobil box"
" Baiklah sekarang kita berangkat"
Kedua cewek cantik itu berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan halaman rumahnya. Di sana juga ada mobil box yang siap untuk berangkat bersama Kiran.
" Selamat pagi nona?" sapa bapak-bapak yang berumur kira-kira 50 tahun.
" Pagi Pak. Apa bapak yang akan membawa mobil box ini?"
" Iya nona"
" Baiklah, Bapak ikuti mobil kami dari belakang ya"
" Siap nona"
Kiran masuk kedalam mobil. Tapi saat mau menghidupkan mesin mobil, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil. Dia pun menurunkan kaca mobilnya.
" Maaf nona muda, kami di minta tuan muda untuk menemani nona" kata orang yang di ketahui bodyguard Darren.
" Emang Darren kemana?"
" Tuan muda sedang menemui salah satu investor nona"
" Oh ya udah, kalau gitu kalian iringi mobil box itu ya" kata Kiran.
" Baik nona muda"
Bodyguard itu kembali ke mobilnya. Kiran melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya. Diikuti sama mobil box dan juga mobil bodyguard Darren.
" Siapa laki-laki tadi?" tanya Nadia.
" Bodyguardnya Darren"
" Mau apa mereka menemui kamu?"
" Dia bilang di suruh Darren untuk menemani kita ke panti asuhan"
" Wah,, so sweet banget sih cowok dingin itu. Pasti dia tidak ingin melihat kamu terluka, makanya dia kirim beberapa bodyguardnya. Aku kapan dapat cowok seperti Darren"
" Kan Romy ada"
Wajah Nadia memerah mendengar sahabatnya menyebutkan nama Romy.
" Ck,, coba liat wajah kamu, udah kek kepiting rebus" ledek Kiran.
" Ma-mana ada" kata Nadia sambil memegang pipinya yang memang terasa panas.
" Kalau kamu suka sama dia, tunggu apalagi cepat ungkapin perasaan kamu ke dia"
" Aku kan cewek, masa iya aku yang harus nembak dia"
" Sekarang itu udah zaman emansipasi, mau cewek atau cowok yang duluan sama aja"
" No, aku ingin dia yang mengungkapkan perasaannya duluan sama aku"
" Emang hubungan kalian sudah sejauh apa?" tanya Kiran.
" Maksud kamu?" tanya balik Nadia.
" Maksud aku, sejauh mana kalian sudah mengenal satu sama lain"
" Ya masih tahap perkenalan sih, lagian akhir-akhir ini kita jarang ketemu"
" Sabar, kalau jodoh nggak akan lari kemana"
__ADS_1
" Hhmm"
Tanpa terasa mereka sampai di panti asuhan tempat Nando tinggal dulu. Kiran memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia di sana.
Kiran dan Nadia turun dari mobil. Kiran melihat sekeliling bangunan panti itu. Dia melihat beberapa lelaki bertubuh besar berdiri di bawah pohon yang tidak jauh dari panti asuhan itu.
" Gue curiga sama lima orang lelaki yang ada di bawah pohon sana" bisik Kiran.
Nadia melirik dengan ekor matanya. Benar apa yang di bilang sahabatnya itu. " Apa mereka kaki tangan ibu panti ini?"
" Aku juga nggak tau, kita harus tetep waspada"
" Hhmm"
Kiran dan Nadia berjalan memasuki halaman panti asuhan itu. Ada seorang ibu-ibu yang kira-kira berumur 50 tahun lebih. Kiran yakin itu adalah ibu panti.
Adik-adik di sana tersenyum menyambut kedatangan Kiran dan Nadia. Tapi Kiran merasa ada yang janggal pada adik-adik itu. Senyuman mereka itu seperti di paksakan.
" Selamat datang nona. Perkenalkan saya Titin, ibu panti"
Ternyata benar tebakan ku. Wanita tua ini adalah ibu panti yang serakah itu.
Kiran memberikan kode pada Nadia lewat lirikan matanya. Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Begini Buk Titin, bos saya mau menyumbangkan sembako, tas, sepatu untuk anak-anak yang ada di sini" kata Nadia.
" Oh iya, kalau begitu mari silakan masuk dulu nona. Kita bicara di dalam"
Tenang adik-adik, kakak akan membebaskan kalian dari siluman wanita tua ini.
Kiran dan Nadia masuk ke dalam rumah panti itu. Kiran melihat ada sekitar sepuluh orang lelaki berbadan kekar yang sedang menjaga satu bangunan.
Apa di sana semua sembako untuk adik-adik di simpan. Ck,, dasar wanita tua tamak.
" Silakan duduk nona"
" Terima kasih Buk"
" Kira-kira bos nona mau menyumbangkan berapa banyak sembako?" tanya ibu panti itu.
" Bos saya akan menyumbangkan 1 ton beras dan juga peralatan sekolah untuk semua adik-adik di sini"
" Peralatan sekolah?" tanya ibu panti lagi.
" Iya. Adik-adik yang ada di panti ini sudah pasti bersekolah kan?" tanya Kiran.
" Te-tentu saja nona, mereka semua bersekolah. Ya bersekolah"
" Bagus, karena bagaimanapun pendidikan itu sangat penting"
" Be-betul nona"
" Apa adik-adik di sini makan dengan baik?" tanya Kiran.
" Maksud nona?"
" Saya melihat tubuh adik-adik di sini sangat kurus. Apa mereka makan dengan teratur?"
" Mereka semua makan dengan teratur nona. Bahkan makanan mereka empat sehat lima sempurna"
Ck... dasar pembohong! kalau mereka semua makan makanan empat sehat lima sempurna, pasti tubuh mereka tidak akan kurus seperti itu.
" Syukurlah kalau mereka makan dengan baik. Bisa pinjam toiletnya sebentar?" tanya Kiran.
" Oh silakan nona, biar asisten saya yang mengantarkan"
" Mari nona saya antarkan"
Kiran mengikuti langkah kaki asisten ibu panti itu. Tapi sebelum itu, dia memberi kode pada Nadia untuk menjalankan rencana mereka.
" Ini toiletnya nona"
__ADS_1
Bukannya masuk kedalam toilet, Kiran malah mendorong tubuh asisten ibu panti itu hingga terbentur ke dinding, dengan lengannya berada di leher asisten itu.
" Apa-apaan ini?!"
" Diam!, kalau kau ingin keluar dengan selamat dari toilet ini katakan semua yang kau tau tentang ibu panti "
" Si-siapa anda sebenarnya?"
" Dewi kematian"
Gleg.
Asisten itu susah payah menelan ludahnya. Dia begitu takut dengan tatapan mata Kiran.
" Sa-saya tidak tau apapun"
" Jangan coba-coba berbohong" kata Kiran sambil menekan lengannya ke leher asisten itu.
" Ba-baiklah saya akan beri tau"
" Pilihan yang bagus" kata Kiran sambil menyingkirkan lengannya dari leher asisten itu.
Uhuk..uhuk..
" Sebenarnya anak-anak di sini hanya di kasih makan satu kali sehari, itupun dengan porsi yang tidak layak"
" Apa maksud anda porsi yang tidak layak"
" Mereka di kasih makan hanya satu piring bersama"
" Apa! terus kenapa anda tidak membantu anak-anak itu?!"
" Saya juga tidak berdaya nona, karena ibu panti punya banyak preman yang selalu melindunginya"
" Apa anda tidak pernah melapor ke polisi, RT atau RW gitu"
" Tidak nona"
" Kenapa?!"
" Karena kalau saya mencoba melaporkan pada polisi, ibu panti pasti akan menyuruh para preman berbadan kekar itu membunuh saya"
" Lalu kemana perginya sembako yang di berikan para donatur dan juga pengusaha lain"
" Di jual pada penadah nona?"
" Penadah?"
" Iya nona"
" Bisa saya minta bantuan anda?"
" Bantuan apa nona?"
" Tolong bawa semua adik-adik yang ada di sini ke tempat yang aman. Bisakah anda melakukannya untuk saya"
" Saya takut sama preman-preman itu nona, kalau tertangkap bisa-bisa saya di bunuh sama mereka"
" Tenang saja, kalau masalah itu biar saya yang atasi. Anda cuma perlu bawa adik-adik itu ke tempat yang aman"
" Baik nona, saya akan bawa mereka"
" Terima kasih, sekarang kita kembali ke ruang tamu, kalau tidak ibu panti itu akan curiga"
" Baik nona"
Kiran dan asisten itu kembali ke ruang tamu tempat ibu panti dan sahabatnya menunggunya.
To be continue.
Happy Reading ππ
__ADS_1