
Kiran membawa Nando duduk di sofa. Ia tau kalau Nando sekarang sedang emosi. Dan itu bisa dilihat dengan tindakannya yang ingin menghabisi nyawa bos penjahat itu.
" Tenang, semuanya sudah berakhir" kata Kiran sambil menenangkan adiknya itu.
" Maafkan aku Kak" ucap Nando tiba-tiba.
" Maaf untuk apa?"
" Karena sudah menyeret kakak ke dalam masalah ku"
Kiran tersenyum mendengar ucapan Nando. Ia membelai rambut Nando. " Ini bukan salah kamu. Lagian ini keinginan kakak sendiri untuk membantu kamu. Jadi jangan pernah salahkan diri kamu lagi"
" Sekarang kita apakan laki-laki ini?" tanya Nadia.
" Serahkan pada polisi" kata Kiran.
" Kenapa nggak dibunuh aja?" kata Darren.
" Jangan! mengambil nyawa seseorang itu bukan tugas kita" kata Kiran.
" Benar mengambil nyawa seseorang bukan tugas kita sebagai manusia. Tapi untuk manusia seperti dia itu pengecualian"
" Apa hubby mau membunuh dia?"
" Tentu saja ingin. Tapi kalau lagi hamil, jadi lelaki itu beruntung saat ini"
" Jadi kalau aku tidak hamil, hubby akan membunuh lelaki itu?"
" Iya, karena dia dan ibunya sama-sama serakah. Kamu tau kemana uang hasil dari penjualan sembako untuk anak-anak panti itu?"
" Tidak"
" Lelaki inilah yang menikmatinya bersama keluarga kecilnya. Tidak mau bekerja, tapi mau hidup itu enak"
Kiran yang mendengar itu menjadi emosi. Ia ingat betul bagaimana keadaan Nando saat bertemu dengannya. Dan juga keadaan adik-adik yang tinggal di panti. Bahkan ada bayi yang minum air tajin untuk mengisi perutnya.
" Kau memang pantas mati" kata Kiran sambil menginjak perut lelaki itu beberapa kali.
Darren dan yang lain kaget karena Kiran menyerang lelaki itu secara tiba-tiba.
" Sayang hentikan" kata Darren sambil memeluk tubuh istrinya.
" lepas By!"
" Jangan di injak lagi. Dia sudah sekarat"
" Emosi aku By"
" Iya aku tau. Tapi sekarang kamu lagi hamil jangan lakukan hal seperti tadi lagi. Aku nggak mau melihat kamu melahirkan di sini sayang"
Huffttt..
Kiran menghela nafasnya. Hampir saja ia hilang kendali dan membunuh penjahat itu. Bisa-bisa lelaki berbadan kekar itu memakan uang anak yatim piatu.
" Nad lemparkan saja tubuh laki-laki ini ke kandang singa. Biar tubuhnya di cabik-cabik sama singa itu"
" Mati hukuman yang paling ringan untuk lelaki itu sayang. Mending kita masukkan ke penjara sama seperti ibunya. Habis itu kita bayar tahanan yang ada di sana untuk menyiksa dia. Setelah itu dia akan dengan perlahan"
__ADS_1
" Baiklah, cepat bawa dia dan antek-anteknya pergi dari sini" titah Kiran pada para bodyguard yang ada di sana.
" Baik nona muda"
Para bodyguard itu langsung membawa pergi anak Titin dan juga anak buahnya. Sebelum menyerahkan mereka ke polisi, Darren memerintahkan untuk mengurung anak Titin di gudang.
Anak Titin tidak akan diberi makan selama satu hari. Ia ingin lelaki itu merasakan apa yang di rasakan Nando dan kawan-kawannya saat mereka tinggal di panti asuhan.
Setelah bodyguard itu pergi. Darren membawa istri dan sahabatnya untuk duduk di ruang keluarga. Sedangkan Kiran masih menenangkan Nando.
" Semua sudah berakhir" kata Kiran.
" Hhmm"
" Sekarang kamu fokus sama sekolah dan juga masa depan kamu"
" Iya Kak"
Karena sudah malam. Kiran menawarkan pada sahabatnya untuk tidur di mansion-nya. Ia tau sahabat itu sudah lelah karena bertarung melawan penjahat tadi.
" Baiklah, kita permisi istirahat dulu ya" kata Darren.
" Iya, kami juga mau istirahat. Soalnya capek banget" kata Romy.
Darren membantu istrinya untuk berdiri. Setelah berpamitan, pasutri itu masuk kedalam lift menuju kamar mereka di lantai tiga.
" Silakan pilih kamar tamu yang akan kalian tempati" kata Darren sebelum menghilang ke dalam lift.
Setelah pasutri itu naik, sekarang tinggallah dua pasang kekasih dan juga Nando yang ada di ruang keluarga itu.
" Aku juga mau tidur. Kalau di sini aku pasti jadi obat nyamuk" kata Nando sambil berlalu pergi ke kamar.
" Nggak! lagian aku masih kecil, jadi belum minat untuk pacaran"
" Good boy" puji Nadia.
" Sekarang banyak kok kecil-kecil udah pacaran" kata Serly.
" Udah cepat tidur sana. Omongan kak Serly jangan di dengar. Mending kamu tidur aja " kata Nadia
" Siap Kak" Nando segera masuk kedalam kamar.
Sekarang tinggallah dua pasang kekasih itu.
" Lebih baik kita juga istirahat" kata Nadia.
" Kok tidur?" kata Romy.
" Terus mau ngapain lagi? lagian aku juga capek " kata Nadia.
" Mojok bentar ya " kata Romy.
" Tuh Nad, disuruh mojok dulu" kata Serly.
" Mojok nya besok-besok aja ya Bee. Sekarang kita istirahat" kata Nadia.
" Ya udah kalau gitu tidur bareng aja"
__ADS_1
" No" jawab Nadia sambil menyilangkan tangannya.
" Ya elah yank, cuma tidur doang"
" Awalnya emang tidur doang. Tapi setelah itu pasti peluk-pelukkan " kata Serly.
" Benar itu Bee?" tanya Nadia.
" Nggak Yank, itu nggak bener. Lagian Serly kamu dengerin" kata Romy.
Doni menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis bar-bar nya. Serly seperti sengaja memanas-manasi Romy dan Nadia.
" Yuk bodyguard tampanku kita tidur" ajak Serly.
" Kalian tidur berdua?" tanya Nadia dan Romy berbarengan.
" Iya, lagian apa salahnya cuma tidur doang" jawab Serly.
" Emang kamu nggak takut diapa-apain sama Doni?" tanya Nadia lagi.
" Bukan gue yang takut, tapi Doni lha yang taku gue perkosa nanti" kata Serly.
Nadia dan Romy melongo mendengar ucapan Serly barusan. Bagaimana bisa cewek memperkosa cowok. Tapi itulah kenyataannya, karena Serly lebih agresif daripada Doni.
" Mingkem bro. Ntar lalat masuk ke mulut Lo" kata Doni sambil merangkul pinggang Serly pergi meninggalkan sepasang kekasih yang masih mematung itu.
" Yank, sahabat kamu kayaknya salah minum obat" kata Romy.
" Sepertinya begitu"
" Yuk yank ke kamar"
" Hhmm"
Akhirnya Nadia pasrah saat Romy ingin tidur sekamar dengannya. Lagian mereka hanya tidur bersama bukan ngadon bersama.
Sesampainya di dalam kamar. Nadia membuat pembatas dengan batal guling. Ia melakukan itu untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi nanti.
" Kenapa harus di kasih pembatas sih Yank?"
" Biar aku aman tidurnya"
" Ya elah, nggak pake pembatasan pun kamu juga bakal aman tidurnya"
" Ya nggak apa-apa. Aku cuma mengantisipasi saja. Mana tau kamu kemasukan roh setan cabul" kata Nadia.
" Ngaco kamu"
" Siapa tau kan?"
" Ya udah terserah kamu aja" kata Romy yang langsung memejamkan matanya.
Nadia tersenyum. Ia tau tunangannya itu pasti sedang merajuk. Ia pun mulai memejamkan matanya. Tak berselang lama ia pun sampai ke dunia mimpi.
Romy membuka sedikit matanya. Ia memastikan apa kesayangannya itu sudah terlelap. Setelah memastikan tidak ada pergerakan yang berlebihan lagi, ia segera menyingkirkan guling penghalang itu. Ia meletakkan guling itu di samping kiri Nadia. Jadi saat Nadia bangun, ia tidak akan jadi tersangka.
Romy membawa Nadia kedalam pelukannya. Ia mengecup kening tunangannya itu. Dan terakhir ia mencuri kecupan dibibir manis Nadia. Setelah itu ia pun mulai memejamkan matanya sambil memeluk tunangannya itu. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di dunia mimpi.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading ππ