
Semua persiapan untuk pernikahan putra nomor satu di Eropa sudah mulai rampung. Undangan pernikahan juga sudah di sebarkan tiga hari yang lalu. Ya pernikahan mereka akan dilaksanakan besok pagi.
Sekarang Darren sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor. Karena setelah itu dia akan cuti selama satu Minggu. Jadi dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya itu.
" Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Romy.
" Sudah sembilan puluh persen " jawab Darren.
" Gue nggak nyangka lo akan segera menikah dengan wanita yang sedari kecil lo cintai"
Darren tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia juga tidak menyangka kalau Tuhan mengabulkan doanya. Ia sangat bersyukur bisa bersama dengan wanita yang dia cintai.
" Lo kapan naik kelas?" tanya Darren pada sahabatnya.
" Maksud lo?"
" Ya dari jomlo menjadi pacaran " kata Darren.
" Entahlah, gue juga nggak tau. Soalnya hilalnya belum kelihatan bro"
" Bukan hilalnya yang nggak kelihatan, tapi lo nya yang nggak bergerak"
" Lo kata gue patung, nggak gerak"
Pletak.
Pulpen mahal milik Darren tepat mengenai kepala Romy.
Aaaaww.
" Lo kok suka banget sih KDRT sama gue"
" Karena lo emang pantes dapat KDRT"
" Wah,, benar-benar bos nggak ada akhlak lo"
" Lo asisten yang lebih nggak ada akhlak"
Kedua lelaki tampan itu masih saja berdebat tanpa ada yang mau mengalah satu sama lainnya. Padahal mereka berdua sama-sama nggak ada akhlak.
Di tempat lain.
Kiran sedang dalam masa pingitan, jadi dia tidak boleh kemana-mana. Ini hari terakhirnya dia menyandang status tunangan, karena besok status itu sudah berganti jadi istri.
Sekarang dia sedang malas-malasan bersama Nadia, dan juga kakak iparnya di gazebo yang ada di taman depan.
" Kakak dulu sebelum nikah dipingit juga?" tanya Kiran pada kakak iparnya.
" Iya, karena itu sudah tradisinya. Kenapa?"
" Bosan Kak, di rumah terus"
" Sabar, lagian tinggal satu hari lagi"
" Iya, tapi rasanya kek setahun"
Melodi tersenyum mendengar ucapan adik iparnya itu. " Kalau Nadia kapan nih? masa jomlo terus?" kata Melodi.
" Belum nemu lelaki yang cocok Kak"
" Romy kan ada, dan gue rasa kalian berdua cocok"
" Cocok darimana coba?"
" Cocok dari segala hal"
" Nggak, aku malah liat dia sama kek bosnya. Dingin"
" Ya, lo kasih kehangatan lha, biar meleleh dia"
" Ntar gue hangatin pake kompor"
Melodi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat perdebatan kedua wanita cantik itu.
" Kakak nggak nyangka adek akan menikah sama Darren bukan sama Daffin"
__ADS_1
" Emang kenapa kalau sama Darren Kak?" tanya Nadia.
" Nggak kenapa-napa, cuma dulu adek dekatnya sama Daffin. Jadi kami semua berpikir kalau kalian berdua akan menikah, melihat gimana dia posesif nya sama kamu saat kecil dulu"
Kiran tersenyum getir. Ya dia tentu ingat bagaimana Daffin berantem sama Gian dan juga Tristan. Karena Daffin tidak mau Kiran dekati lelaki lain, termasuk Abangnya sendiri.
" Kita tidak tau jodoh kita akan sama siapa Kak"
" Kamu benar. Tapi kakak nggak nyangka kalau Daffin akan berubah se drastis itu"
" Mungkin karena dulu dia suka dikelilingi oleh wanita-wanita cantik"
" Iya, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau kamu jauh lebih cantik dari wanita-wanita itu"
" Kakak juga cantik. BTW kapan nih ponakan aku akan launching?" tanya Kiran sambil mengelus perut kakak iparnya.
" Satu Minggu lagi"
" Nggak sabar pengin liat dia lahir"
" Kakak juga"
" Kira-kira baby nya cowok apa cewek ya Kak?"
" Kakak juga nggak tau Dek, soalnya kakak sama Abang kamu sengaja nggak mau liat jenis kelaminnya, biar nanti jadi kejutan. Tapi mau cowok ataupun cewek, kami berdua tetap akan menyayanginya"
Hening.
Mereka bertiga larut dalam pikiran mereka masing-masing. Tapi sesaat kemudian, mereka di kagetkan sama dering ponsel.
" Princess ponselnya bunyi" kata Nadia sambil memberikan ponsel milik Kiran.
Kiran mengambil ponselnya yang di berikan oleh sahabatnya itu. Dia mengeyitkan alisnya, melihat nomor baru yang masuk ke ponselnya. Karena yang tau nomor dia hanya keluarga dan sahabat terdekat. Tanpa menunggu lama Kiran langsung menggeser tombol hijau itu.
" Hallo honey"
" Darren?"
" Iya sayang, ini aku. Kenapa kamu kaget gitu, hm?"
" Darimana kamu dapat nomor ponsel aku?"
" Dari mommy, honey"
" Mommy kamu?"
" Nggak, mommy kamu honey"
" Kapan mommy aku kasih ke kamu"
" Beberapa hari yang lalu. Bukan mommy yang kasih sih, tapi aku yang minta"
" Kenapa?"
" Karena sebentar lagi kita menikah, masa iya aku belum tau nomor calon istri aku. Kan nggak lucu"
Kiran tersenyum mendengar jawaban Darren. Benar apa yang di bilang sama lelaki tampan itu. Sudah satu bulan lebih mereka dekat, tapi baru sekarang mereka tau nomor satu sama lain.
" Kok malah diam. Honey, kamu masih di sana kan?"
" Masih"
" Jangan lupa save nomor calon suami kamu yang tampannya kebangetan ini ya"
" Ck,, pede banget sih kamu "
" Harus dong. Karena kalau aku nggak tampan, kamu mana mau sama aku"
" Ada apa kamu telpon aku?"
" Kangen tau "
" Kamu nggak salah minum obat kan?"
" Aku kan nggak sakit, jadi kenapa harus minum obat"
__ADS_1
" Habisnya pagi-pagi udah ngelantur"
" Emang salah ya kalau aku kangen sama calon istri sendiri?"
" Nggak, cuma aneh aja "
" Kenapa aneh? aku hari-hari emang selalu kangen sama kamu, bahkan setiap aku bernafas malah"
" Lebay deh"
" Serius honey, aku nggak tau kenapa bisa kek gitu"
" Emang dulu sama Monica nggak kek gitu?"
" Ogah banget kangen sama ulet keket kek dia"
" Idih,, sekarang aja sok jijik. Kemarin malah pacaran "
" Aku pacaran sama dia juga karena terpaksa, bukan karena cinta"
" Yakin?"
" Yakin seribu persen"
" Kamu bukannya lagi kerja ya, kok masih sempat telpon?"
" Demi mendengar suara kamu aku rela menghentikan semua kegiatan ku"
" Gombal"
" Beneran honey. Kalau saja kamu tidak dalam masa pingitan, aku udah ke sana sekarang "
" Ya,, ya,, Kamu memang nekad "
" Tu tau. Demi menemui bidadari surga kek kamu aku rela menerjang hujan badai"
" Sudah-sudah, kerja sana! daripada kamu menggombal terus"
" Baiklah nafasku, calon suami mu ini kerja dulu"
" Ralat, masih calon ya"
" Ya elah, tinggal satu hari lagi pun"
" Ya tetap aja masih calon kan?"
" Aku nyerah, kamu memang maha benar "
" Idih belum perang udah nyerah duluan"
" Nggak apa-apa, asal perang di atas ranjang nanti aku nggak nyerah. Karena aku akan bikin kamu nggak bisa jalan"
" Darren!"
Terdengar tawa lepas dari seberang sana.
" Kamu makin gemesin kalau lagi marah dan kesal kek gitu"
" Dasar lelaki aneh!"
Tut.
Kiran mematikan sambungan teleponnya. Dia meletakkan ponselnya dengan sedikit di banting ke atas meja. Lelaki tampan itu benar-benar bikin esmosi tingkat Dewi.
" Kamu kenapa?" tanya Nadia.
" Lelaki aneh itu bikin aku esmosi "
" Jangan bilang gitu, bentar lagi lelaki aneh itu akan jadi calon suami kamu"
" Iya juga ya"
Kiran tidak bisa membayangkan bagaimana dia menghabiskan waktu dengan lelaki aneh itu. Karena akhir-akhir ini Darren memang sering menggodanya seperti tadi.
To be continue.
__ADS_1
Udah pada siapin baju untuk kondangan belum๐คญ
Happy Reading ๐๐