
Keesokan harinya sepulang sekolah Nando langsung pergi ke panti asuhan. Ia tidak mengganti seragam sekolah terlebih dahulu. Karena akan memakan waktu kalau ia pulang dulu.
" Mobil box sudah menunggu di simpang jalan Den"
" Iya Om"
Bimo melajukan mobilnya meninggalkan sekolah tempat Nando menuntut ilmu. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.
Di persimpangan jalan, Bimo membunyikan klakson mobilnya. Sopir mobil bix pun melajukan mobilnya mengikuti mobil bosnya yang sudah berada di depannya.
Mereka pun sampai di panti asuhan tempat Nando tinggal dulu. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Ibuk panti dan juga anak-anak.
Nando bersalaman dan mencium punggung tangan ibuk panti. Kemudian giliran adik-adik panti yang bersalaman dengan Nando. Mereka sangat senang bertemu dengan Nando.
" Masuk dulu Nak"
" Baik Buk"
Mereka semua masuk kedalam panti. Ibuk panti meminta tolong sama Hasna untuk membuatkan minuman untuk Nando dan juga Bimo.
" Sudah lama kamu nggak main ke sini?"
" Maaf Buk. Nando lagi banyak tugas dari sekolah. Dan sebentar lagi Nando juga mau ujian. Gimana kabar ibuk?"
" Alhamdulillah ibuk sehat"
" Kok ibuk tau kalau Nando mau ke sini?"
" Tadi pagi tuan Darren telpon. Katanya nggak bisa datang, tapi dia meminta kamu yang mengantarkan ke sini"
" Rino mana Buk?"
" Dia masih sekolah. Pulangnya nanti sore"
" Kamu semakin tinggi "
" Masa sih Buk?"
" Iya. Dulu kamu nggak setinggi ini"
" Mungkin karena sering latihan Buk" kata Bimo.
" Oh iya. sekarang anak ibuk ini sudah jago beladiri"
" Ibuk bisa aja mujinya"
" Den, pakaian sama alat tulisnya kita turunkan sekarang aja"
" Ah iya Om, hampir saja lupa"
Bimo meminta anak buahnya untuk menurunkan semua barang-barang yang ada di dalam mobil box itu.
Satu persatu barang yang ada di dalam box diturunkan. Nando ikut membantu para bodyguard untuk menurunkan pakaian dan juga alat-alat tulis untuk adik-adik panti.
Saat Nando sedang membantu menurunkan pakaian-pakaian untuk adik panti. Ada sebuah mobil mewah berhenti di depan panti.
Dari dalam mobil turun seorang gadis yang memakai seragam sekolah. Ia berjalan menghampiri ibuk panti.
" Permisi"
" Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"
" Saya mau bertemu dengan ibuk panti. Apa ibuk nya ada?"
" Ibuk pantinya saya sendiri nona"
" Ah maaf Buk, saya tidak tau"
" Tidak apa-apa. Ada apa anda mencari saya nona?"
__ADS_1
" Saya mau menyumbang uang untuk adik-adik di sini?"
" Mari masuk"
Gadis itu masuk kedalam panti bersama dengan Ibuk panti. Nando belum menyadari kalau ada orang yang datang. Karena ia masih sibuk membantu menurunkan barang-barang yang ada di dalam mobil box.
" Kalau boleh tau nama nona siapa?"
" Nama saya Jihan. Nama ibuk?"
" Saya Sasmita"
" Ibuk sudah tau maksud kedatangan saya ke sini"
" Sudah"
Jihan mengambil amplop yang sudah ia persiapkan dua hari yang lalu. Kemudian ia memberikannya pada Buk panti.
" Ini uangnya saya serahkan pada ibuk, dan gunakanlah untuk membeli keperluan adik-adik yang ada di sini"
" Terima kasih nona. Semoga Tuhan membalas kebaikan nona"
" Aamiin. Karena uangnya sudah saya serahkan, saya pamit dulu"
" Baik, mari saya antar"
" Sebelum pergi bolehkah saya melihat-lihat panti ini Buk"
" Tentu saja, silakan nona"
Ibuk panti menemani Jihan untuk berkeliling panti. Ia sangat suka dengan suana panti asuhan itu.
" Di sini kamarnya banyak juga ya Buk?"
" Iya nona. Ini semua berkat orang-orang yang berhati mulia seperti anda"
" Apa panti ini punya donatur tetap Buk?"
" Wah mulia sekali hati orang itu"
" Iya nona "
Jihan melihat mobil box yang sedang membongkar muatan. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya melainkan anak lelaki yang memakai seragam sekolah. Seragam itu sama persis dengan seragam yang ia pakai. Dan itu berarti ia satu sekolah dengan cowok itu.
" Buk, laki-laki itu siapa?"
" Laki-laki yang mana nona?"
" Itu yang memakai seragam sekolah"
" Dia, kakak kesayangan adik-adik di sini"
" Oh"
Sepertinya aku pernah ketemu tu cowok. Tapi dimana ya?.
" Mari nona, saya perlihatkan ruang bermain anak-anak"
" Ah I-iya"
Jihan mengikuti langkah kaki ibuk panti itu. Tapi sepanjang jalan ia tidak fokus dengan apa yang dibicarakan ibuk panti itu. Karena pikirannya tertuju pada laki-laki tadi.
" Nona, apa anda baik-baik saja?"
" Ah maaf Buk. Ibuk bicara apa tadi?"
Ibuk panti itu tersenyum. " Sepertinya nona sudah lelah"
" Sepertinya begitu Buk"
__ADS_1
" Ya sudah istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah enakan, baru lanjutkan perjalanan"
" Baik Buk. Terima kasih"
" Sama-sama nona, saya tinggal dulu"
" Iya Buk"
Sepeninggal ibuk panti, Jihan pergi ke tempat mobil box tadi. Ia penasaran, siapa cowok yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
Sesampainya di sana, ia tidak melihat laki-laki tadi. Ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu.
" Anda sedang mencari siapa nona?"
Jihan kaget melihat lelaki yang ia cari sudah berada di sampingnya. Dan ia merasa malu karena sudah tertangkap basah oleh laki-laki tampan itu.
" Nona, anda baik-baik saja?"
" Sa-saya baik-baik saja"
" Anda mencari siapa?"
" Kamu?"
" Maksud nona?"
" Ah ti-tidak! maksud saya, saya sedang mencari kunci mobil saya"
" Kunci mobil?"
" Iya, apa anda melihatnya?"
" Tidak, saya tidak melihat ada kunci jatuh di sini"
" Kenapa anda yakin sekali kalau kunci mobil saya tidak terjatuh di sini?"
" Karena saya sudah dari tadi di sini "
" Begitu ya?"
" Hhmm"
" Tapi saya yakin kunci mobil saya jatuh di sini?"
" Anda yakin kuncinya jatuh di sini?"
" Yakin. Oh iya, apa anda tidak ingat sama saya?" tanya Jihan.
" Apa kita pernah bertemu?" tanya balik Nando.
" Kalau orang bertanya itu di jawab, bukan malah balik nanya"
" Saya rasa kita baru bertemu, dan kenapa nona bertanya seolah-olah kita pernah bertemu"
What! dia tidak ingat sama gue. Padahal baru kemarin kita bertemu. Wah, sungguh lelaki kejam.
" Anda benar, mungkin saya salah orang"
" Silakan lanjutkan cari kunci mobilnya, saya permisi dulu" kata Nando sambil berlalu meninggalkan Jihan.
" Ckck,, sungguh lelaki tidak berperasaan"
Jihan menatap punggung Nando yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia tidak menyangka lelaki itu mudah melupakan.
Apa gue emang salah ngenalin orang ya? tapi mata gue masih sehat. Gue yakin kalau pernah ketemu sama dia. Dan ini sudah pertemuan kami yang ketiga kali.
Tidak mau memikirkan lelaki aneh itu lagi, Jihan pun pergi meninggalkan panti asuhan itu. Lagipula besok-besok ia bisa mencari tau lelaki itu. Karena mereka satu sekolah.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading ππ