
Keesokan harinya.
Selesai sarapan Daffin bersiap berangkat ke puncak bersama Abang dan juga kakak iparnya. Dia akan menenangkan pikiran sejenak.
" Kami berangkat dulu ya Ma, Pa" pamit Gian.
" Iya, hati-hati dijalan. Jangan lupa kasih kabar setelah sampai di sana" pesan sang mama.
" Iya Ma "
Gian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya. Sinta dan Aldi berharap putra bungsu mereka bisa melewati semua cobaan ini dengan ikhlas dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Daffin memandang rumah Kiran saat mobil Abangnya keluar dari gerbang rumah orang tuanya. Ia berharap wanita yang tumbuh besar bersamanya keluar dari pintu gerbang besar itu.
" Apa kamu mau berpamitan dulu sama princess?" tanya Aldi.
" Nggak, aku takut menyakitinya lagi"
" Kamu yakin?"
" Hhmm"
Walaupun dalam hatinya dia sangat ingin menemui wanita cantik itu. Tapi dia tidak punya cukup keberanian untuk menemuinya. Ia takut akan menyakitinya lagi.
Aldi kasihan sama adiknya itu. Walau bagaimanapun Daffin tetap adiknya. Dia tau adiknya ingin menemui adik dari sahabatnya itu. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi nomor gadis cantik yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.
" Hallo, assalamualaikum" terdengar suara khas bangun tidur.
" Princess baru bangun?"
terdengar kekehan dari seberang sana.
" Tumben telat bangun? apa semalam nggak bisa tidur?"
" Nggak, semalam aku kerja sampai larut malam?"
Gian tau kalau Kiran sedang berbohong. Ia tau kalau semalam gadis cantik itu tidak bisa tidur. Dia tau itu dari sahabatnya, Abang Kiran.
" Maafkan Daffin ya, Abang tau kata-katanya sudah menyakiti hati kamu terlalu dalam"
" Aku sudah memaafkannya kok Bang. Oh iya tumben Abang telpon?"
" Emang nggak boleh kalau Abang telpon?"
" Tentu saja boleh, tapi heran aja Abang yang super duper sibuk ini telpon"
" Abang mau pergi ke puncak"
" Puncak?"
" Hhmm"
" Kepuncak kok nggak ngajak-ngajak sih?"
" Bukan nggak mau ngajak, tapi Abang mau bulan madu kedua"
" Emang ada bulan madu kedua?"
" Ada dong, tanya aja sama Abang Ken"
" Apa Abang Ken juga ikut?"
" Nggak, Abang berdua sama Kak Key aja"
__ADS_1
" Ya udah, selamat berbulan madu Bang. Semoga cepat dapat momongan"
" Makasih Inces sayang. Oh iya, bisa temui Abang di pintu gerbang "
" Tentu saja bisa, tunggu ya"
" Iya, nggak usah dandan"
" Ck,, emang kapan Abang liat aku pernah dandan"
" Walaupun tanpa make up, princess Abang tetap cantik"
" Tentu saja "
" Ya udah, buruan cuci mukanya"
" Siap Bos"
Panggilan pun berakhir. Gian menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
" Makasih" ucap Daffin tiba-tiba.
" Sama-sama"
Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk adiknya iyu. Karena dia tau adiknya itu ingin melihat gadis cantik itu. Gian melajukan mobilnya menuju pintu gerbang rumah orang tua Kiran.
" Kamu sudah melakukan yang benar Bee" kata sang istri.
" Hhmm"
Mobil mewah itu sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Vandy. Gian memarkirkan mobilnya agak jauh dari pintu gerbang itu. Karena dia tidak ingin Kiran melihat Daffin.
Tak berselang lama pintu gerbang itu terbuka, Gian segera turun dari mobilnya. Seorang gadis cantik keluar dari sana, dengan memakai pakaian tidur.
" Ternyata benar baru bangun tidur"
" Kan udah di bilang tadi baru bangun tidur"
" Udah mau menikah, jadi bangun tidurnya nggak boleh telat"
" Iya, lagian ini baru pertama kalinya aku telat bangun"
Dari dalam mobil Daffin tersenyum melihat interaksi antara abangnya dengan princess. Ya wanita cantik itu memang dekat dengan abangnya. Bahkan bukan cuma dengan abangnya saja, dengan Abang Tristan dia juga dekat.
Sesekali terdengar tawa di sana. Ingin rasanya dia menghampiri wanita cantik itu. Tapi apalah daya, dia takut kehadirannya akan membuat wanita itu mengingat kejadian kemarin.
" Kamu yakin nggak mau menemui princess?" tanya kakak ipar Daffin.
" Iya Kak, melihat dia tersenyum dan tertawa seperti itu sudah lebih dari cukup"
" Kalau gitu kakak turun sebentar ya"
" Hhmm"
Daffin memegang kaca jendela mobil itu. Seakan-akan dia lagi menyentuh wajah wanita cantik itu. Tanpa terasa air matanya menetes tanpa seizin dirinya. Dia benar-benar ingin memeluk Kiran.
Setelah dirasa cukup, Gian dan istrinya berpamitan pada gadis cantik itu.
" Abang sama Kak Key datangkan di acara pernikahan aku kan?"
" Tentu saja datang, nggak mungkin kita nggak datang" kata Keyra.
" Ya udah, Abang sama kakak jalan dulu ya"
__ADS_1
" Hhmm, hati-hati di jalan"
Gian hanya membalas dengan anggukan kepala. Pasutri itu masuk kembali kedalam mobil. Keyra membuka sedikit kaca mobil itu, kemudian dia melambaikan tangannya. Kiran pun membalas dengan melambaikan tangannya.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan gerbang rumah besar itu. Kiran masih memandang kepergian mobil itu. Setelah mobil itu jauh dari pandangannya, dia pun masuk kembali kedalam rumah.
Perasaan Daffin sudah mulai tenang, karena sudah melihat Kiran. Bahkan dia juga bisa melihat senyum dan tawa gadis yang dibilang manja itu. Senyum yang selalu ingin dia lihat dari wajah cantik Kiran.
" Apa sudah tenang?" tanya sang Abang.
" Hhmm, makasih"
" Kalau kamu ingin selalu melihat senyum dan tawanya, maka berubah lha"
" Iya Bang, aku akan mencoba"
" Bukan mencoba, tetapi harus"
" Hhmm"
" Abang akan tunggu perubahan kamu itu. Cinta tak harus selalu memiliki, anggap saja princess bukan jodoh kamu"
" Apa aku benar-benar nggak punya kesempatan lagi?"
" Kesempatan itu sudah di berikan princess tiga tahun lalu. Tapi kamu tidak menyadarinya"
" Apa maksud Abang?"
" Kamu ingat bagaimana kamu mengabaikannya ketika di sekolah dulu. Kamu asik dengan teman-teman wanita mu?"
" Ya aku ingat"
" Princess masih mau bertahan disisi mu di saat kamu mengacuhkannya. Karena dia yakin suatu saat kamu akan berubah. Tapi ternyata pikirannya itu salah, kau malah semakin menjadi-jadi. Bahkan kau tega menghina dan merendahkannya tepat di hari ulang tahunnya"
" Aku tau Bang"
Ya Daffin masih ingat dengan jelas bagaimana dia telah melukai perasaan wanita cantik itu. Bahkan dia juga menghina keluarga besar gadis itu. Dia dapat merasakan bagaimana sakitnya Kiran dulu.
" Kalau kamu tau dan menyadarinya, maka kamu tidak akan pernah bertanya tentang kesempatan lagi. Karena kesempatan itu diberikan hanya kepada orang yang mau berubah" tutur Gian.
Apa yang dikatakan Abangnya memang benar. Dia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk bersama dengan Kiran. Sepertinya
Huft..
Daffin menghela, kemudian membuang nafas untuk mengurangi sesak yang ada di dalam dadanya. Jujur dia belum bisa melupakan Kiran. Tapi dia juga tidak ingin menjadi orang yang egois.
" Bersyukur Kenzo tidak membunuh kamu. Kamu tau kenapa?"
Daffin menggelengkan kepalanya.
" Karena dia masih memandang persahabatan kami. Dan juga dia masih menganggap mu sebagai adiknya"
Lagi-lagi hati Daffin seperti dicubit. Dia benar-benar menyesal telah menyakiti hati gadis selembut dan sebaik Kiran. Dia akan mencoba untuk mengikhlaskan Kiran bersama dengan Darren.
To be continue.
Maaf Reader terzayang kemarin nggak bisa up, karena Feby sibuk banget di real life. Feby harap kalian bisa mengerti. Feby juga berharap kalian memberikan komentar yang positif dan tidak berkomentar yang membuat Feby down. Karena Feby juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit.
Gomawo untuk kalian yang masih mau bersabar menunggu kelanjutan cerita Kiran dan Darren.
Sayang kalian banyak-banyak π€π€
Happy Reading ππ
__ADS_1