
Satu Minggu kemudian.
Kiran sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Ya hari ini dia akan berlibur ke pulau Bali bersama dengan Darren. Ini kali pertama juga dia pergi tanpa sahabatnya itu.
" Apa kamu nggak apa-apa aku tinggal sendirian?" tanya Kiran pada sahabatnya itu.
" Kamu lupa, di sini kan ada Nando. Jadi aku tidak sendiri"
" Ah iya aku lupa. Tapi tetap saja aku khawatir meninggalkan kalian berdua"
" Udah fokus aja sama liburannya. Karena setelah itu kita akan memberikan pelajaran pada ibuk panti itu"
" Kamu benar. Kita akan memberikan hukuman yang pantas untuk dia dapatkan" kata Kiran sambil tersenyum devil.
" Jangan tunjukkan senyuman seperti itu" kata Nadia.
Tawa Kiran pun pecah. Dia tau sahabatnya akan bergidik ngeri melihat senyumannya yang seperti tadi.
" Ya udah yuk ke bawah, ntar takut pangeran kamu udah nungguin" goda Nadia.
" Berhenti meledek ku, Nadia "
Sekarang giliran Nadia yang tertawa lepas. Dia tau sahabatnya itu sudah mulai menerima keberadaan Darren di sampingnya. Terbukti beberapa hari yang lalu saat lelaki itu sedang sibuk bekerja dan tidak ada waktu untuk menemui sahabatnya itu. Entah sadar atau tidak, kata kangen meluncur dari mulut sahabatnya itu.
Dia berharap Darren segera dapat meluluhkan hati sahabatnya itu. Mudah-mudahan setelah liburan ini bisa membuat hubungan mereka lebih dekat lagi. Itulah keinginan terbesar Nadia saat ini.
" Kakak udah mau berangkat?" tanya Nando saat Kiran sudah sampai di bawah.
" Iya. Nando mau di bawakan oleh-oleh apa?"
" Nando tidak ingin oleh-oleh apapun. Kakak kembali lagi kesini dengan selamat, itu sudah cukup"
Kiran tersenyum mendengar ucapan anak kecil berusia 9 tahun itu. " Uh,, manis banget sih kamu"
" Kalau aku manis juga nggak?" tanya Darren yang datang entah darimana.
" Astagfirullah. Kamu ngagetin aja sih"
Darren hanya tersenyum sambil memamerkan sederetan giginya yang putih itu. " Yuk berangkat"
" Hhmm"
Darren membawa koper milik Kiran ke mobilnya. Diikuti sama Kiran dan Nadia di belakang.
" Berangkat ya Nad"
" Iya. Semoga liburannya menyenangkan"
" Makasih"
" Nanti aku minta Romy untuk menemani kalian berdua jalan-jalan" kata Darren.
" Nggak usah tuan Darren" kata Nadia.
" Panggil Darren saja. Lagian saya bukan majikan kamu" kata Darren.
" Baiklah Darren"
" Ya udah, kita jalan dulu ya" kata Darren.
" Ok, hati-hati di jalan"
" Makasih"
Darren melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kiran. Perlahan mobil itu mulai menjauh dari rumah itu. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
" Beberapa hari kemarin ada kangen sama aku nggak?" tanya Darren.
__ADS_1
" Nggak"
" Beneran?"
" Hhmm"
" Padahal aku berharap banget lho, kamu kangen sama aku. Berarti aku harus lebih lama lagi menghilangkannya"
" Jangan!"
" Why?"
" Ng-nggak apa-apa"
Darren tersenyum melihat kegugupan Kiran. Dia tau sedikit-sedikit namanya sudah ada di dalam hati wanita cantik itu. Dia akan berusaha lebih keras lagi untuk mengisi namanya di hati Kiran, sehingga tidak ada peluang lagi untuk lelaki lain masuk kedalam sana.
" Apa kamu masih bertemu dengan lelaki banci itu?"
" Banci?"
" Iya, lelaki yang berani menyakiti wanita itu namanya banci"
Kiran menahan tawanya mendengar ucapan Darren barusan. Dia tidak menyangka Darren akan berkata seperti itu.
" Sejak kejadian di tempat pesta itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Bukankah kalian ada kerja sama"
" Iya, aku menyuruh Nadia untuk mewakili ku bertemu dengan dia"
" Kenapa kamu tidak batalkan saja kerjasamanya?!"
" Yang punya masalah dengan aku itu CEO nya, bukan perusahaannya. Lagian aku juga tidak mau mencampur adukkan urusan pribadi dengan kerjaan. Karena kalau aku campur adukkan, orang yang tidak bersalah akan kena imbasnya juga"
" Ya, jika aku batalkan kerja samanya kasihan para karyawan yang bekerja di perusahaan itu"
" Benar. Ternyata wanitaku memiliki sifat seperti malaikat" puji Darren.
" Kamu terlalu memujiku "
Tanpa terasa mobil mewah milik Darren tiba di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Mereka masuk kedalam bandara. Sebelum check-in Darren menelpon bodyguardnya untuk menjemput mobilnya di bandara.
Para penumpang yang ada di sana terhipnotis oleh kecantikan dan ketampanan sejoli itu. Tapi Darren tidak menghiraukan tatapan itu, mereka terus berjalan menuju ruang tunggu pemberangkatan.
" Mending kita berangkat pake jet milik aku" kata Darren.
" Kalau kita pergi dengan jet kamu, terus apa gunanya tiket yang di berikan tuan James"
" Oh iya ya. Tapi menunggu itu sangat membosankan"
" Sabar dong"
" Oh iya, gimana rencana kamu?" tanya Darren.
" Rencana apa?"
" Buka perusahaan di Indonesia"
" Belum aku pikirkan"
" Buka aja, sekaligus memperluas perusahaan kamu"
" Nanti aku pikirkan lagi. Oh ya, apa kamu pernah dengar panti asuhan yang ada di blok C"
__ADS_1
" Pernah, aku salah satu donatur tetap di sana" kata Darren.
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Apa kamu pernah meninjau panti itu?"
" Tidak, setiap bulan aku menyuruh bodyguard ku untuk mengirim sembako ke sana. Kenapa?"
" Anak-anak di sana tidak pernah memakan sembako yang pernah kamu kirim itu"
" Nggak mungkin! bodyguard aku memberikan langsung bantuan itu ke ibu pantinya"
" Tapi itulah kenyataannya, mereka tidak mendapatkan semua itu"
" Darimana kamu tau, kalau anak-anak itu tidak makan"
" Nando" jawab Kiran.
" Maksud kamu anak kecil yang tinggal sama kamu itu?"
" Hhmm. Nando salah satu anak yang tinggal di panti itu"
" Kalau benar anak-anak itu tidak makan, lalu kemana pergi sembako tiap bulan yang aku kirim itu"
" Tentu saja di gelapkan sama ibu pemilik panti itu"
" Apa! berani sekali wanita tua itu memakan yang bukan haknya"
" Kita harus beri pelajaran pada wanita tua itu" kata Kiran.
" Apa kamu punya rencana?" tanya Darren.
" Punya"
" Bolehkah aku ikut dalam rencana mu itu"
" Silakan kalau kamu mau"
" Ok, pulang dari liburan kita beri hadiah untuk wanita tua itu" kata Darren.
Informasi pemberangkatan sudah terdengar oleh Kiran dan Darren. Dua sejoli itu langsung berjalan menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.
Darren mencari tempat duduk mereka. Dia mempersilakan Kiran untuk duduk di dekat jendela, supaya Kiran bisa melihat pemandangan dari atas nanti.
" Silakan duduk" kata Darren.
" Terima kasih"
Setelah mereka duduk, Pramugari memberi tau kalau pesawat sebentar lagi akan take off. Darren dan Kiran segera memasang sabuk pengaman mereka.
" Kalau kamu ngantuk tidur aja" kata Darren.
" Hhmm"
Kiran menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia mulai memejamkan matanya pas di saat pesawat take off. Tak berselang lama Kiran pun terlelap.
" Cepat banget tidurnya" kata Darren sambil tersenyum menatap wajah cantik Kiran.
Darren membuka jaketnya, kemudian menyelimuti tubuh Kiran dengan jaket yang dia pakai tadi. Dia mengecup kening Kiran dengan lembut. Kemudian diapun ikut memejamkan matanya menyusul Kiran ke dunia mimpi.
To be continue.
Mudah-mudahan sore atau malam bisa up lagi ya π€π€
Beri hadiah dan vote untuk Abang Tampan dong.
__ADS_1
Happy Reading ππ