
Diana menata masakan yang sudah dia masak tadi di atas meja makan. Sedangkan bibik membantu menata piring dan juga sendok.
" Nona kecil semakin cantik aja ya Nyah"
" Iya Bik. Ia mirip seperti mommy-nya"
" Coba kalau Aden Abimanyu masih di sini, pasti tambah rame"
" Yeah. Cicit saya yang satu itu sangat bawel. Padahal Daddy-nya tidak seperti itu"
" Iya ya Nyah. Nggak sabar ingin lihat baby twins sudah besar. Den Axel pasti tampan seperti Ayahnya"
" Tentu saja dia akan mirip Daddy-nya Bik"
Setelah semua masakannya terhidang di atas meja makan. Diana memanggil suami, cucu-cucunya untuk makan. Termasuk Nando. Ia juga sudah menganggap Nando sebagai cucunya.
Tok..
Tok..
Tok..
Darren yang mendengar suara pintu diketuk pun segera membukakan pintu.
Ceklek.
Saat pintu terbuka tampaklah nenek yang tersenyum padanya.
" Nenek"
" Yuk turun, kita makan malam "
" Iya Nek, sebentar lagi kami akan turun"
" Kiran mana?"
" Lagi menidurkan baby twins Nek"
" Baiklah, nenek tunggu di ruang makan"
" Siap Nek "
Setelah nenek turun kebawah Darren kembali menutup pintunya. Ia menghampiri sang istri yang sedang menidurkan baby twins.
" Nenek ya yang datang tadi"
" Hhmm"
" Yuk turun, nenek sama kakek udah nunggu kita "
" Iya By "
Pasutri itu pun turun kebawah untuk makan malam bersama kakek dan juga neneknya.
" Maaf ya Kek, Nek, kita telat " ucap Kiran.
" Nggak apa-apa. Apa cicit kakek sudah tidur?"
" Sudah Kek. Karena itulah kami udah bisa turun"
" Apa mereka rewel?"
" Tidak, mereka anteng seperti biasa"
" Kakek takut mereka rewel karena belum terbiasa tinggal di sini"
" Iya Kek, tapi mereka sepertinya tau ini rumah kakek dan nenek mereka. Jadi mereka tidak rewel"
" Syukurlah, kakek ikut senang karena mereka baik-baik saja"
__ADS_1
" Sudah ngobrolnya, sekarang kita makan dulu. Kasian Nando udah lapar " kata Diana.
" Maaf ya Dek "
" Nggak apa-apa Kak " kata Nando.
Makan malam kali ini Kiran lha yang melayani semuanya. Pertama ia mengambil nasi dan lauk untuk kepala keluarga dulu. Yaitu untuk kakeknya. Setelah itu untuk nenek, suami, Nando dan terakhir barulah untuk dirinya.
Mereka mulai menyantap makanan yang ada di piring mereka masing-masing. Mereka menikmati masakan yang dibuat oleh Diana.
" Ini nenek yang masak ya?" tanya Kiran.
" Iya sayang"
" Masakan nenek dari dulu nggak pernah berubah. Selalu enak"
Diana tersenyum mendengar pujian dari cucunya itu. " Nando sama Darren suka nggak?"
" Suka Nek" jawab mereka berdua bersamaan.
" Kalau aku tinggal di sini, pasti akan gemuk" kata Nando.
" Karena makan terus ya Dek" kata Kiran.
" Iya Kak. Soalnya di masakin masakan enak terus sama nenek"
" Syukurlah kalau Nando suka masakan buatan nenek" kata Diana.
" Sudah pasti enak Nek, dari aroma wangi masakan nenek aja udah ketahuan kalau masakan nenek pasti enak"
" Cucu nenek ini emang pintar memuji"
" Beneran Nek. Coba liat Abang Darren sampai nambah gitu makannya"
Semua orang menoleh ke arah Darren. Sedangkan yang jadi pusat perhatian, terlihat cuek. Ia masih asik mengisi piringnya dengan nasi.
" Iya sayang" kata Darren sambil tersenyum kikuk.
Kiran dan yang lainnya tersenyum melihat Darren. Lelaki tampan yang biasa bersikap dingin itu, sekarang terlihat malu-malu karena ketahuan nambah.
Diana dan Dwipangga sangat senang karena suasana di ruang makan yang tadinya sepi karena hanya ada mereka berdua. Tapi sekarang menjadi rame karena kedatangan cucu mereka.
Selesai makan malam. Kiran membantu neneknya mencuci piring kotor, dan juga peralatan makan lainnya yang kotor untuk di cuci bersih. Sedangkan para laki-laki bersantai di ruang keluarga.
" Bagaimana kerjaan kamu Ren?"
" Alhamdulillah lancar Kek. Dan mungkin beberapa bulan lagi hotel terbaru akan segera rampung"
" Hotelnya di kota mana?"
" Kota B, Kek "
" Di sana memang bagus membangun hotel. Selain tempatnya yang strategis dan juga di sana banyak pelancong dari luar dan dalam negeri"
" Iya Kek, ini proyek aku berdua sama Abang Ken"
" Benarkah?"
" Iya Kek. Kalau proyek hotel ini berhasil, rencananya kami sama Abang mau buka tambang batu bara"
" Itu juga bisnis yang sangat bagus dan juga menguntungkan"
" Iya Kek. Doakan saja semoga proyeknya berhasil"
" Kakek akan selalu mendoakan kalian semua. Anak dan juga cucu-cucu kakek. Nando bagaimana dengan sekolahnya?"
" Lancar Kek. Bulan depan mau ujian"
" Belajar yang rajin, supaya nanti bisa jadi orang yang sukses seperti Abang Darren"
__ADS_1
" Pasti Kek"
" Setelah lulus nanti kamu mau kuliah dimana? dan jurusan apa?"
" Aku mau kuliah universitas xx jurusannya manajemen bisnis"
" Kenapa kamu mengambil jurusan itu?"
" Karena aku ingin jadi pengusaha sukses seperti Abang. Dan jika sudah punya perusahaan sendiri, aku akan mengajak teman-teman di panti untuk kerja bersamaku"
Darren tersenyum mendengar jawaban Nando. " Kalau kamu ingin menjadi pengusaha sukses, maka kamu harus belajar dengan rajin"
" Pasti Bang"
" Kakek senang kalau Nando mau membantu teman-teman Nando yang ada di panti. Dengan begitu kalian akan sukses bersama-sama"
" Nando tidak akan pernah melupakan teman-teman yang ada di panti Kek. Karena Nando pernah berjuang bersama mereka"
" Itu baru anak pintar"
" Lagi pada ngobrolin apa sih?" tanya Kiran yang baru kembali dari dapur.
" Lagi ngobrol soal cita-cita Nando, yank" kata Darren.
" Emang cita-cita Nando apa?"
" Ingin jadi pengusaha sukses Kak"
" Wah bagus tu. Kapan-kapan ikut sama Abang keperusahaannya. Di sana kamu bisa belajar cara berbisnis. Ya kan By?"
" Iya sayang"
" Jadi sekarang Nando harus rajin belajar, supaya bisa mewujudkan cita-citanya"
" Iya Kak, Nando akan belajar dengan rajin"
" Tapi ingat, jika sudah sukses jangan pernah sombong. Tetap rendah hati. Karena semua yang kita miliki hanya titipan" pesan Kiran pada Nando.
" Nando aku selalu ingat pesan kakak"
" Harus selalu diingat. Karena itu salah satu kunci kesuksesan. Apabila kita sudah memiliki sifat jujur dan juga rendah hati, insya Allah kesuksesan akan mudah di raih"
" Iya Kak"
Diana bangga pada cucu perempuannya itu. Menantu perempuannya itu sudah berhasil mendidik kedua anaknya dengan baik.
" Ngobrolnya kita lanjutkan besok lagi. Sekarang saatnya kita untuk istirahat" kata Diana.
" Siap Nek"
Kiran dan suaminya berpamitan pada kakek dan neneknya. Begitu juga dengan Nando. Setelah itu mereka pergi menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar. Darren langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Kiran pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
" By jangan tidur dulu. Cuci muka sama gosok gigi dulu, setelah itu baru tidur"
" Iya sayang"
Darren bangkit dari tidurnya. Ia menyusul istrinya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan juga menggosok giginya.
Selesai mencuci muka dan menggosok gigi. Darren segera membaringkan tubuhnya di atas kasur dan berguling ke kanan dan ke kiri, persis seperti anak kecil.
Kiran menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu. Kiran mengganti lampu kamarnya dengan lampu tidur. Setelah itu barulah ia berbaring di samping suaminya.
Darren membawa istrinya dalam pelukannya. Karena sang istri tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk. Begitu juga dengan dirinya. Pasutri itu pun tidur sambil berpelukan.
To be continue.
Happy reading ππ
__ADS_1