Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Kekantor suami


__ADS_3

Kiran terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam digital yang ada di atas nakas nya. Ia kaget melihat jarum jam sudah berada di angka sebelas. Ia teringat tadi sempat muntah-muntah, kemudian tertidur lagi.


" Sehat-sehat selalu anak-anak mommy" kata Kiran sambil mengelus perutnya.


Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Siang ini ia akan mengantarkan makan siang untuk suaminya. Karena pagi tadi ia tidak sempat menemani suaminya untuk sarapan.


Setelah 15 menit, Kiran sudah selesai mandi. Ia berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya. Ia mengambil dress berwarna navy.


Selesai berpakaian dan juga sedikit berdandan, barulah Kiran keluar dari kamarnya. Ia akan menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya nanti.


" Nona udah bangun?" tanya salah satu pelayan.


" Iya Bik. menu makan siangnya apa Bik?"


" Ini non cumi asam manis, ikan balado sama capcay"


" Tolong siapkan bekal untuk makan siang suami saya ya Bik"


" Nona mau ke kantor tuan muda?"


" Iya Bik, soalnya bosan di rumah"


" Siap non, bibik siapkan dulu bekalnya"


" Makasih Bik"


Saat bibik menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Kiran menghubungi Nadia untuk menanyakan bagaimana acara interview karyawan baru tadi apa berjalan lancar atau tidak.


" Hallo bos"


" Bagaimana hasil interview karyawan barunya?"


" Baik, semua berjalan dengan lancar. Para karyawan baru juga sudah ditempatkan pada bakat mereka masing-masing"


" Syukurlah. Apa Serly sudah ada di sana?"


" Sudah, dia lagi patroli"


" Patroli?"


" Ya dia lagi keliling ke semua ruang divisi"


" Rajin amat tu anak"


" Aku yang suruh, daripada dia menggoda Nando terus"


" Nando? kamu ngajak Nando ke sana?"


" Iya, daripada dia diam aja di rumah nggak ada kegiatan"


" Emang dia nggak sekolah?"


" Nggak, kan habis ujian. Jadi dia libur selama satu Minggu"


" Wah bagus dong. Weekend besok kita ke pulau yuk"


" Pulau mahar?"


" Hhmm"


" Boleh. Lagian aku juga penasaran sama pulau mahar yang diberikan suami kamu itu"


" Pulau maharnya sangat indah"


" Tambah penasaran. Oh iya ntar sore kita mau ke mansion kamu"


" Boleh. Pintu mansion aku selalu terbuka untuk kalian. Ya udah aku tutup telponnya dulu ya. Sampai ketemu ntar sore"


" Oke "


Sambungan telepon pun berakhir. Kiran menyimpan kembali ponselnya kedalam tasnya.


" Udah siap Bik"


" Udah nona"


" Makasih Bik"


" Sama-sama nona"


Kiran membawa bekalnya keluar dari dapur. Karena bekal sudah ada, ia siap berangkat ke kantor suaminya.

__ADS_1


" Nona muda mau kemana?" tanya Doni bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Kiran.


" Mau ke kantor suami saya Don"


" Apa tuan muda sudah memberi izin nona?"


" Ini tu surprise, jadi mana ada minta izin. Yuk antarkan saya ke kantor "


" Apa tuan muda nggak akan marah nona?"


" Nggak akan"


" Ta-tapi nona?"


" Mau nganterin atau saya bawa mobil sendiri"


" Saya antar nona"


Bisa gawat nanti kalau ia biarkan nona mudanya bawa mobil sendiri. Bisa-bisa dia dibunuh oleh tuan mudanya. Karena membiarkan istrinya membawa mobil.


" Ya udah tunggu apalagi, cepat masuk dan jalankan mobilnya"


" Baik nona"


Di turuti, ku mati Emak..


*Tak dituruti, ku mati Bapak...


Begitulah nasib diriku. Bagaikan buah, simalakama*.


Doni bernyanyi di dalam hatinya. Ia segera melajukan mobilnya menuju perusahaan tuan mudanya. Ia siap menerima hukuman nanti dari, karena sudah membiarkan dan membawa nona mudanya ke perusahaan.


" Jangan takut Don, santai aja" kata Kiran yang sambil melirik bodyguard suaminya itu.


Gimana mau santai nona. Ini nyawa taruhannya. batin Doni dalam hati.


" I-iya nona"


Kiran melihat keluar jendela. Ia melihat penjual es dipinggir jalan. Di gerobak itu tertulis es dawet mang Udin. Kiran sudah bisa membayangkan betapa segarnya es itu. Di tambah sekarang cuaca sangat panas. Jadi sangat cocok minum yang segar-segar.


" Don, pinggirkan mobilnya sebentar"


" Udah pinggirkan aja "


" Baik nona"


Doni meminggirkan mobilnya ke tepi jalan. Setelah mobil mewah itu menepi. Kiran segera turun dari mobil. Sebelum Doni bertanya lagi dia mau ngapain.


Kiran berjalan menghampiri penjual es dawet yang di ketahui bernama Udin itu. Karena di sana tertulis es dawet mang Udin. So nama penjualnya pasti Udin dong.


" Mang es nya dua"


" Baik Neng"


Doni kaget melihat nona mudanya sedang membeli es. Ia segera menyusul nona mudanya ke sana. Kali ini ia benar-benar akan di bunuh sama tuan mudanya.


" Nona"


Kiran hanya tersenyum sambil memamerkan sederetan giginya yang putih dan juga rapi. Ia tersenyum tanpa dosa. Sedangkan Doni sedang menangisi nasibnya setelah ini.


" Ini Neng esnya "


" Berapa Mang?"


" Sepuluh ribu aja Neng"


" Don bayarin ya" kata Kiran sambil berlalu dari sana.


Doni melongo menatap kepergian nona mudanya. Tapi setelah tersadar dia segera membayar es dawet itu, dan pergi menyusul nona mudanya.


" Nih untuk kamu satu" kata Kiran sambil menyerahkan satu bungkus es dawet ke Doni.


" Makasih nona"


" Seharusnya saya yang bilang makasih. Kan kamu yang bayar esnya"


" Iya nona"


" Yuk lanjut lagi, ntar keburu waktu makan siang"


" Baik nona"

__ADS_1


Doni melajukan kembali mobilnya menuju perusahaan tuan mudanya. Kiran menikmati es dawet yang ia beli tadi. Es dawetnya benar-benar segar.


Mereka pun sampai di gedung pencakar langit yang sangat megah. Kiran memandang gedung tinggi itu. Ini kali pertamanya ia ke kantor suaminya itu.


" Silakan nona"


" Makasih Don"


" Sama-sama nona. Apa nona mau di tunggu?"


" Tidak, saya nanti pulang sama suami saya"


" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu nona"


" Hhmm"


Doni melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan tuan mudanya. Setelah Doni pergi, barulah Kiran memasuki kantor suaminya.


Security yang berjaga di depan pintu masuk, membungkukkan badannya memberi hormat pada istri sang empunya perusahaan.


" Siang Pak"


Security itu kaget karena nona muda nan cantik itu menyapanya. " Siang nona"


" Saya masuk dulu ya"


" I-iya nona" kata Security itu sambil membukakan pintu untuk Kiran.


Karyawan yang bertugas di lobi kantor, terpesona melihat kecantikan Kiran. Ternyata istri bos mereka sangat cantik.


Kiran tersenyum pada karyawan suaminya itu. Ia berjalan melewati para karyawan yang masih setia menatapnya.


" Permisi, apa Presdirnya ada?" tanya Kiran pada petugas resepsionis.


" Ada nona"


" Terima kasih" ucap Kiran sambil berlalu pergi meninggalkan meja resepsionis.


" Tunggu!"


Kiran pun menghentikan langkahnya. " Ada apa?"


" Anda tidak boleh masuk ke kantor sembarangan nona. Apa anda sudah membuat janji?"


" Belum. Saya kesini mau--"


Belum sempat Kiran menyelesaikan ucapannya. Karyawan resepsionis itu sudah menyela pembicaraannya.


" Kalau begitu anda tidak boleh masuk ke dalam nona"


Salah satu karyawan yang mengenal siapa Kiran pun langsung menghampiri karyawan resepsionis itu.


" Maaf nona, dia karyawan baru di sini. Jadi dia tidak tau siapa nona"


Kiran tersenyum. " Tidak apa-apa, dia hanya menjalankan tugasnya. Saya suka orang yang seperti itu. Tapi alangkah baiknya sebelum saya menyelesaikan pembicaraan saya, jangan menyela. Itu tidak sopan"


" Emang nona ini siapa?" tanya karyawan resepsionis itu.


" Dia istri Presdir" jawab karyawan satu lagi.


Deg.


Matilah aku.


" Maaf nona, saya tidak tau kalau nona istri Presdir. Saya mohon jangan pecat saya nona"


Kiran tersenyum. " Tidak apa-apa. Saya tidak akan memecat kamu"


" Terima kasih nona"


" Sama-sama, apa sekarang saya sudah boleh menemui Presdir"


" Sudah nona, silakan"


Kiran berjalan menuju lift khusus untuk Presdir. Setelah Kiran menghilang kedalam lift, karyawan resepsionis itu baru bisa bernafas lega. Hampir saja dia di pecat akibat kebodohannya.


To be continue.


Udah hari Senin nih reader. Jadi jangan lupa kasih votenya ya..πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2