
Keesokan harinya. Kiran dan keluarganya bersiap pergi ke panti asuhan. Hari ini mereka akan menyerahkan mainan yang di beli kemarin.
Seperti biasa setiap pagi mereka akan sarapan bersama. Darren, Nando, Axel dan juga Alexa sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
" Mommy" panggil Alexa.
" Ya sayang"
" Leher mommy kenapa?"
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Kiran. Darren tersenyum melihat maha karyanya semalam masih terpampang jelas di sana.
" Ini karena nyamuk nakal sayang"
" Kenapa mommy nggak pukul aja nyamuknya" kata Alexa.
" Saat mommy mau pukul, nyamuknya udah keburu kabur sayang " kata Kiran sambil melotot kearah suaminya.
" Kalau nanti nyamuknya datang lagi. Mommy bilang sama Eca, biar Eca yang pukul nyamuknya sampe pingsan"
" Kalau di pukul nyamuknya mati, bukan pingsan" kata Axel.
" Pingsan "
" Mati"
" Pingsan"
" Mati"
" Stop! kita lagi di meja makan. Jadi Alexa sama Axel, tidak boleh berisik. Mengerti?"
" Mengerti mommy" jawab Twins.
" Pintar " kata Kiran sambil mengusap kepala Axel dan Alexa secara bergantian.
Nando tersenyum melihat kedua ponakannya yang langsung diam, setelah di tegur mommy-nya. Mereka berdua terlihat sangat menggemaskan.
Mereka pun mulai menyantap sarapan yang sudah ada di depan mereka masing-masing. Ya begitulah setiap pagi di mansion itu. Perdebatan antara Twins menjadi hiburan tersendiri diri bagi penghuni mansion mewah itu.
Selesai sarapan. mereka pun pergi ke panti asuhan. Axel dan Alexa sangat bersemangat pergi ke sana. Karena mereka akan bertemu dengan banyak teman.
" Kalian sudah di sini?" tanya Kiran saat melihat kedua sahabatnya sudah berada di depan mansion-nya.
" Sudah. Sampai jamuran kita nunggu Lo" kata Serly.
" Sorry. Tadi gue harus tertibkan Twins dulu. Lo kan tau gimana hebohnya kedua anak gue"
Nadia dan Serly tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Mereka tau bagaimana Axel dan Alexa selalu berdebat si setiap kesempatan.
" Mommy, Eca naik mobil paman, boleh?"
" Boleh sayang "
Satu persatu mobil mewah itu melaju meninggalkan mansion mewah itu.
...***...
Mereka pun sampai di panti asuhan permata hati. Kedatangan Kiran dan para sahabatnya langsung di sambut sama ibuk dan juga anak-anak panti.
Alexa segera turun dari mobil. Balita itu sangat antusias bertemu dengan teman-temannya yang ada di sana. Bukan cuma hanya dia, Axel, Adele dan juga Farel senang bertemu dengan teman-teman di sana.
" Selamat datang semuanya"
" Makasih Buk"
" Mari masuk"
Para orang tua masuk kedalam panti. Sedangkan anak-anak mereka bermain bersama adik-adik panti.
Darren minta tolong sama Nando untuk membagikan semua mainan yang ada di bagasi mobil pada semua adik-adik panti.
Adik-adik itu langsung berbaris dengan rapi. Tak terkecuali Alexa, Axel, Adele dan Farel juga ikut mengantre untuk mendapatkan mainan. Nando pun mulai membagikan mainan pada adik-adik itu.
Semua adik-adik di sana sangat senang mendapatkan mainan baru. Mainan itupun disesuaikan dengan usia mereka masing-masing.
Nando bahagia melihat senyum adik-adik yang ada di sana. Mereka sekarang bisa mendapatkan mainan bagus. Dulu sewaktu dia tinggal di panti, dan belum mengenal Kiran. Ia tidak punya mainan satu pun.
" Kan Nando, ikut main sama kita yuk?" ajak seorang anak laki-laki.
" Mau main apa?"
" Bola"
" Ok, sekarang siapkan timnya"
Anak laki-laki berusia sembilan tahun itupun mengumpulkan teman-temannya. Ya mereka akan main bola, seperti acara yang pernah mereka tonton di tv.
" Senyum mereka tidak pernah hilang" kata ibuk panti sambil menoleh kearah anak-anak yang sedang asik bermain.
" Kami juga senang mereka bisa selalu tersenyum" kata Kiran.
" Semua berkat kalian. Seandainya kamu dulu tidak membantu Nando, mungkin mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini"
Kedua sahabat Kiran juga merasakan hal yang sama dengan Ibuk panti. Mereka bisa seperti sekarang juga karena kebaikan Kiran. Kalau tidak ada wanita cantik itu, mungkin mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.
" Lo emang Dewi penolong " kata Serly.
" Sekaligus Dewi kematian" lanjut Nadia.
Kiran tersenyum pada kedua sahabatnya. Mungkin bagi musuhnya Kiran memang di kenal sebagai Dewi kematian. Tapi bagi para sahabatnya ia sebagai Dewi penolong.
" Nanti malam ibuk sama anak-anak datang ke mansion ya" kata Kiran.
" Ada acara apa?"
" Syukuran untuk kelulusan Nando"
" Nando sudah lulus SMA?"
" Iya Buk, kemarin"
" Bagaimana nilainya?"
" Alhamdulillah, dia lulus dengan nilai terbaik. Dan mendapatkan peringkat pertama diantara teman-temannya"
" Syukurlah. Ibuk turut senang mendengarnya"
" Iya Buk. Saya juga tidak menyangka dia akan mendapatkan nilai tertinggi"
" Anak itu sudah banyak kemajuan"
" Tapi dalam hal menggaet cewek dia tidak ada kemajuan" kata Serly.
" Bagus dong. Jadi dia lebih fokus pada sekolahnya" kata Nadia.
" Nggak asik Nad. Masa iya tampan-tampan jomlo"
" Nanti kalau dia udah sukses, cewek akan mendekat sendiri. Jadi tidak perlu repot-repot cari" kata Kiran.
" Betul itu. Lagian dia itu tampan, jadi nggak susah untuknya mencari kekasih"
" Iya juga sih. Sampai sekarang pun pesonanya sudah bisa terlihat"
" Itu Lo tau. Jadi dia cukup nikmati aja masa mudanya. Dan raih semua impiannya. Setelah itu baru deh pikirkan soal pacar" kata Nadia.
Ketiga lelaki tampan yang ada di ruangan itu hanya jadi pendengar yang baik. Tapi kuping mereka juga agak panas mendengar istri mereka memuji lelaki lain tampan.
" Oh iya, kemarin ibuk sama anak-anak panen di kebun belakang. Nanti kalau mau pulang, kalian bawa ya"
" Emang banyak Buk hasil panennya"
" Banyak. Coba aja kalian lihat"
Ibuk panti membawa Kiran dan kedua sahabatnya melihat mangga yang di panen kemarin.
" Wow banyak banget Buk" kata Serly.
" Ini belum semuanya"
" Belum semuanya?" tanya Kiran.
" Iya, di pohon masih banyak yang belum di panen"
" Kalian nanti bawa masing-masing satu peti"
" Itu nggak kebanyakan Buk?" kata Kiran.
" Nggak, lagian buahnya masih banyak. Kalian nanti juga bisa bagi-bagikan ke keluarga kalian"
" Baiklah"
Kiran dan kedua sahabatnya tidak bisa menolak lagi. Jadi nanti mereka akan membawa satu peti buah mangga. Dan sebagian mangga itu akan mereka bagikan pada keluarga yang lain.
...***...
__ADS_1
Sore hari, para bodyguard dan juga pelayan sedang sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk acara barbeque nona dan tuan mudanya nanti malam.
Karena orang yang akan datang lumayan banyak, jadi pemanggang daging yang akan dipakai cukup besar. Supaya nanti bisa memanggang daging lebih banyak.
Acara barbeque sekarang dilakukan untuk merayakan kelulusan Nando. Karena dia sudah berhasil lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya.
Darren juga ikut membantu para bodyguardnya. Walaupun dia bos, bukan berarti dia bisa melihat dan memberi perintah saja.
Setelah memasang tenda dan juga lampu untuk penerangan di sana nanti. Sekarang mereka menggelar tikar. Dan di atas tikar itu nanti akan di gelar karpet supaya mereka nanti duduk dengan nyaman. Ya mereka akan duduk lesehan di atas karpet.
" By"
" Iya sayang"
" Daging untuk steak kayaknya kurang "
" Beli ke supermarket aja sayang untuk tambahannya"
" Siapa yang mau beli, aku sama yang lain sibuk menyiapkan bahan-bahan yang lain?"
" Aku aja Kak yang beli" kata Nando.
" Kamu memang yang terbaik. Kamu beli semua yang ada di catatan ini " kata Kiran sambil menyerahkan black card dan juga daftar belanja yang akan di beli Nando.
" Siap Kak"
" Kunci mobil di tempat biasa ya"
" Ok"
Nando pun segera berangkat ke supermarket untuk membeli semua yang ada di daftar yang ada di tangannya sekarang.
...***...
Nando pun sampai di supermarket terdekat. Ia langsung mengambil troli, dan siap berburu bahan-bahan yang ada di daftar belanjaannya.
Pertama ia akan mencari jagung. Ia mendorong trolinya ke tempat jagung dan kawan-kawannya berada.
Nando memasukkan cukup banyak jagung dan juga kentang ke dalam trolinya. Setelah itu ia pergi ke tempat daging.
Sedang asik memilih daging khusus untuk steak. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
" Nando"
Mendengar namanya dipanggil, ia pun menoleh kearah suara. Tampaklah seorang wanita sedang tersenyum padanya.
" Ternyata beneran kamu"
" Hhmm"
" Belanjaan kamu banyak juga"
" Iya, soalnya nanti malam ada acara"
" Acara apa?" tanya Jihan.
Ya cewek cantik itu adalah Jihan. Teman satu sekolah sama Nando.
" Barbeque"
" Wah seru tuh. Aku boleh ikut nggak?"
Nando tidak bisa menjawab pertanyaan Jihan. Karena ia tidak boleh membawa sembarangan orang ke mansion.
" Aku cuma bercanda kok" lanjut Jihan.
" Sorry ya. Bukan aku nggak mau ngajak kamu ke sana. Tapi aku nggak boleh bawa sembarangan orang ke mansion"
" Iya nggak apa-apa kok"
" Aku tanya sama kakak aku dulu. Bentar ya"
Nando mengambil ponselnya. Dan menghubungi nomor kakaknya. Tak butuh waktu lama, telpon pun tersambung.
" Hallo assalamualaikum Kak"
" Wa'alaikum salam. Ada apa Nan? apa terjadi sesuatu?"
" Nggak kok Kak. Tadi itu aku bertemu sama temen"
" Terus?"
" Dia tanya belanjaan aku banyak banget. Ya aku bilang aja, nanti ada acara"
" Ng-nggak kok Kak"
" Ajak aja dia "
" Eh"
" Kakak tau kamu mau minta izin sama kakak untuk membawa teman kamu itu kan?"
" I-iya Kak"
" Mansion ini juga rumah kamu. Jadi kamu nggak perlu minta izin sama kakak untuk membawa teman-teman kamu"
" Makasih Kak"
" Sama-sama"
Panggilan telepon pun berakhir. Nando menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
" Gimana?"
" Kakak aku bolehin kamu datang"
" Beneran?"
" Hhmm"
" Makasih"
" Sama-sama, aku balik dulu ya"
" Tunggu!"
" Ya"
" Boleh aku minta nomor ponsel kamu?"
" Sini ponsel kamu"
Jihan dengan senang hati menyerahkan ponselnya pada lelaki tampan itu. Nando mengetik nomor ponselnya di ponsel milik Jihan.
" Nih"
" Makasih"
" Hhmm"
Setelah memberikan nomornya, Nando pun pergi dari sana. Ia pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.
...***...
Malam hari. Keluarga besar dan juga para sahabat sudah berkumpul di taman mansion. Para ibu-ibu muda pun mulai membakar daging sosis dan juga jagung.
" Sayang, ibuk panti sama adik-adik sudah datang tuh" kata Darren.
" Baiklah, aku tinggal sebentar ya guys"
" Ok bos"
Kiran dan suaminya pun segera pergi menjemput ibuk panti dan juga adik-adik.
" Selamat datang Ibuk, adik-adik"
" Terima kasih"
" Yuk Buk, kita langsung ke taman"
Kiran langsung membawa ibuk panti dan juga adik-adik panti ke taman. Keluarga besar Kiran turut menyambut kedatangan ibuk panti.
" Adik-adik duduk sebelah sini " kata Nando.
Semua anak-anak itu mengikuti Nando. Mereka duduk bersama keluarga besar Kiran. Semua orang di sana menerima kehadiran mereka dengan sangat baik.
" Kakak bilang teman kamu ada yang mau datang?" tanya Darren pada Nando.
" Hhmm"
" Cowok atau cewek temannya yang mau datang?" Tanya Romy.
" Dua-duanya " jawab Nando.
" Apa!"
__ADS_1
" Kenapa Abang kaget gitu?"
" Teman kamu itu antara cowok dan cewek gitu?"
" Maksud Abang?"
" Cowok kemayu"
" Teman aku nggak ada yang kemayu"
" Tadi kamu bilang dua-duanya itu apa?"
" Maksud aku, teman yang mau datang itu, cowok sama cewek"
" Oh, dua orang toh. Bilang dong daritadi"
" Daritadi juga udah bilang gitu"
" Yang cewek itu pasti pacar kamu?" kata Doni.
" Nggak. Teman"
" Awalnya emang temanan, tapi nantinya pacaran" kata Romy.
" Nggak lha"
" Idih bohong banget"
" Ngapain juga bohong"
" Benar pun nggak apa-apa Nan. Lagian kamu itu sudah harus punya pacar " kata Romy.
" Romy, kamu jangan ngajarin Nando untuk pacaran " kata Kiran yang datang tiba-tiba.
" Eh ada nona muda. Aku bercanda nona"
" Awas kalau kamu suruh Nando pacaran lagi. Aku suruh Nadia cari suami baru"
" Jangan dong"
" Takut juga kamu, kalau Nadia cari suami baru" ledek Doni.
" Ya takut lha. Karena nggak ada yang seperti istri gue"
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar bunyi alarm. Itu pertanda ada mobil asing mendekati mansion. Tak berselang lama, datang seorang bodyguard.
" Tuan muda di depan gerbang ada mobil yang tidak dikenal"
" Buka saja pintu gerbangnya. Itu teman Nando"
" Beneran teman Nando?" tanya Romy.
" Iya, Nando ngundang beberapa temannya" jawab Darren.
" Lo yakin mobil teman Nando? kalau mobil musuh gimana?"
" Nggak, gue yakin itu mobil teman Nando. Cepat buka gerbangnya" titah Darren pada bodyguardnya.
" Baik tuan muda"
Setelah dapat persetujuan dari tuan mudanya, bodyguard itu pun memberi taukan pada temannya untuk membuka pintu gerbang.
Di depan pintu gerbang mansion.
Mobil milik Jihan segera masuk kedalam mansion mewah itu. Ia tidak menyangka kalau pintu gerbang itu dibuka secara otomatis.
" Gila! canggih banget pintu gerbangnya pake sensor" kata Ikbal.
" Norak banget sih Lo" kata Jihan.
" Biarin. Lagian di rumah gue aja pintu gerbangnya nggak pake sensor"
" Ya beda lha"
" Nggak nyangka gue Nando tinggal di mansion se mewah ini. Di sini juga banyak bodyguard lagi"
Mobil milik Jihan berhenti di depan mansion milik Kiran. Kedua remaja itu dibuat takjub sama desain mansion itu. Sungguh mansion termewah yang pernah mereka lihat.
" Apa kalian berdua temannya Nando?" tanya salah satu bodyguard.
" Be-benar Om" jawab Ikbal.
" Mari ikut saya"
" Kita mau dibawa kemana?" tanya Jihan.
" Ke tempat Den Nando berada"
Ikbal pun merasa lega. Ia pikir akan di bawa ke tempat yang menyeramkan. Taunya di bawa ketempat sahabatnya.
" Kalian datang" kata Nando.
" Iya dong. Masa nggak datang " kata Ikbal.
" Yuk gabung sama yang lain"
Nando pun memperkenalkan Ikbal dan juga Jihan pada keluarganya.
" Jihan pacarnya Nando ya?" tanya Romy.
Wajah Jihan bersemu merah mendengar pertanyaan Abang dari temannya itu.
" Bukan" jawab Nando cepat. Ia tidak ingin Jihan salah paham nantinya.
" Abang nggak nanya sama kamu" kata Romy.
" Aku mewakili Jihan untuk menjawab pertanyaan Abang "
" Mana bisa begitu?"
" Tentu saja bisa"
" Sudah-sudah, Lo lupa apa yang dibilang sama istri gue tadi" kata Darren pada Romy.
Romy pun mengunci mulutnya. Ia tidak ingin istrinya mencari suami baru. Walaupun ia tau istrinya tidak akan meninggalkannya. Tapi tetap aja dia takut kalau beneran di tinggal.
Jihan menatap sekeliling. Ia melihat ada anak-anak panti asuhan yang sering ia datangi. Ia mengenal karena melihat Ibuk panti ada di sana.
" Mereka bukannya anak-anak panti?" tanya Jihan pada Nando.
" Hhmm"
" Kenapa mereka bisa ada di sini?"
" Karena kakak aku yang undang. Kenapa?"
" Nggak apa-apa"
" Bro, gue nggak nyangka Lo tinggal di mansion mewah"
" Gue juga nggak nyangka" kata Nando.
Ya, dia memang tidak pernah menyangka akan tinggal di mansion mewah itu. Bermimpi pun dia tidak pernah.
" Ayo semuanya kita makan " kata Kiran.
Para pelayan menghidangkan steak ke depan para anak-anak dan juga tamu nona dan tuannya.
Mereka semua mulai mencicipi steak yang ada dihadapan mereka masing-masing. Semua orang menikmati steak itu dengan penuh kebahagiaan.
Kiran sangat senang dan juga bahagia melihat semua adik-adik panti menikmati steak yang ia dan teman-temannya buat. Makan mereka sangat lahap.
" Kamu bahagia sayang?"
" Sangat. Dan kedepannya aku berharap kebahagiaan akan selalu menyertai keluarga kita"
" Aamiin. Semoga ya sayang"
" Mommy, Daddy" panggil Axel dan juga Alexa.
" Kesayangan mommy"
Kiran memeluk kedua buah hatinya. Buah cintanya dengan sang suami. Lelaki yang yang sudah berhasil menyembuhkan lukanya. Sekarang luka itu sudah benar-benar sembuh. Yang ada sekarang hanya kebagian.
Darren memeluk istri dan kedua anaknya. Nona muda yang susah payah ia kerja cintanya. Setelah sekian lama mengejar cinta noan muda itu, akhirnya ia berhasil mendapat cinta sang nona muda.
End.
Feby mengucapkan gomawo pada reader semuanya. Akhirnya novel mengejar cinta nona muda sudah tamat.
Gomawo untuk buat kalian yang sudah memberikan like, komen dan juga hadiahnya untuk novel receh ini.
Sampai jumpa di novel Story' twins A.
Sayang kalian banyak-banyakπππ
__ADS_1