
Perkebunan sayur milik Daffin semakin berkembang pesat. Terkadang ia tidak bisa memenuhi semua permintaan costumer nya. Jadi untuk bisa memenuhi permintaan para costumer, ia memperluas lagi kebunnya.
Tapi kesuksesannya itu, tidak berlaku untuk kehidupan asmaranya. Pasalnya hari ini dia masih juga menjomblo. Ya dia belum menemukan pengganti sosok Kiran di hatinya.
" Tuan, supermarket di kota ingin bertemu dengan anda. Katanya ingin memperpanjang kontrak"
Daffin menghela nafasnya. Itu artinya ia harus ke kota tempat ia dilahirkan. Apakah dia akan bertemu dengan wanita yang masih mengisi hatinya.
" Baiklah lha Pak, saya akan ke sana"
" Mau saya temani tuan"
" Makasih Pak, saya berangkat sendiri aja. Tolong jaga perkebunan selama saya pergi"
" Siap tuan"
Daffin melajukan mobilnya meninggalkan villanya. Ia tidak menyangka akan kembali secepat ini ke kota kelahirannya. Padahal ia berharap sebelum memiliki kekasih ia tidak akan kembali, tapi semuanya tidak sesuai dengan keinginannya.
Perjalanan dari villanya ke kota tidaklah terlalu jauh. Hanya dua jam perjalanan ia sudah sampai. Daffin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sebelum menemui manager supermarket. Daffin terlebih dahulu akan pulang mengunjungi kedua orang tuanya. Ia sudah kangen sama kedua orang tuanya.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang dua jam. Daffin sampai di kediaman orang tuanya. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di sana.
Ting nong.
" Sebentar"
Terdengar suara dari dalam sana. Dan Daffin sangat mengenal siapa pemilik suara itu. Ia sangat merindukan sosok pemilik suara itu.
Ceklek.
" Daffin"
" Ma"
"Ini beneran kamu sayang?"
" Hhmm"
Sinta memeluk si bungsunya itu. Sudah dia bulan lebih dia tidak bertemu dengan putranya itu. Hari ini entah angin darimana yang membawa putranya itu pulang.
" Masuk sayang" kata Sinta sambil menarik tangan putranya.
Daffin tersenyum melihat mamanya yang sangat bersemangat bertemu dengannya. Sudah lama ia tidak melihat senyuman mamanya.
" Pa, Ian, coba liat siapa yang datang?"
Aldi yang mendengar teriakan istrinya langsung keluar dari kamar. Begitu juga dengan Gian. Ia langsung turun ke bawah untuk menemui mamanya.
" Daffin" kata Aldi.
" Pa"
Aldi memeluk putranya dengan erat. Walaupun dulu sempat kecewa dengan putranya, tapi sekarang rasa kecewa itu sudah hilang seiring berjalannya waktu.
" Papa apa kabar?"
" Alhamdulillah, papa sehat. Kamu?"
" Alhamdulillah berkat doa papa, aku bisa datang ke sini"
" Apa kamu melupakan abang mu yang tampan ini?" kata Gian.
Daffin segera memeluk Abang satu-satunya itu. Gian membalas pelukan sang adik. Setelah saling melepas rindu. Mereka sekarang duduk di ruang keluarga.
" Kakak ipar mana Bang?" tanya Daffin karena ia tidak melihat kakak iparnya yang cantik dan juga bawel itu.
" Rumah sakit"
" Rumah sakit? emang siapa yang sakit Bang?"
" Melodi habis melahirkan"
" Benarkah? anaknya cowok apa cewek?"
" Cowok, mirip banget sama Kenzo"
" Abang bentar lagi juga mau punya baby kan?"
" Hhmm"
__ADS_1
" Lalu kamu kapan bawa menantu untuk mama?" tanya Sinta.
" Sabar ya, ini juga lagi proses mencari"
" Nggak usah terlalu pilih-pilih, yang penting akhlaknya baik. Nggak kayak mantan kamu yang kemarin itu" kata Gian.
" Iya Bang"
" Apa kamu belum bisa melupakan princess?" tanya Gian.
" Melupakan sepenuhnya belum Bang. Tapi aku udah berusaha kok"
" Bagus. Jangan terpaku terus dengan masa lalu "
" Hhmm"
" Oh iya gimana bisnis kamu?" tanya Gian.
" Alhamdulillah omsetnya terus naik Bang. Bahkan aku nggak bisa memenuhi semua permintaan customer"
" Wah,, ternyata kamu cocok juga jadi juragan sayur"
" Ya begitulah"
" Kamu akan nginap disini kan malam ini?" tanya sang mama.
" Maaf Ma, malam ini nggak bisa. Soalnya besok pagi aku harus melihat bibit sayuran yang akan di kirim ke beberapa kota"
" Padahal mama berharap banget kamu bisa nginap di sini"
" Lain waktu deh Ma. Aku kesini cuma sebentar. Mau menemui salah satu manager supermarket yang ada di sini. Aku janji, kalau ada waktu yang luang, aku akan nginap di sini"
" Janji ya"
" Iya Ma"
" Ok mama pegang janji kamu"
" Baiklah, sekarang aku harus pergi " kata Daffin sambil melihat jam tangannya.
" Sekarang?"
" Iya Ma, pamit dulu ya semuanya. Assalamualaikum"
Sinta dan suaminya mengantarkan putranya sampai ke teras. Ia tidak rela melepas kepergian putranya. Tapi mau bagaimana lagi, putranya itu sekarang lagi sibuk.
" Jalan dulu ya Ma, Pa"
" Iya sayang, hati-hati "
Daffin menganggukkan kepalanya. Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya.
Sepanjang jalan senyuman Daffin tidak pernah hilang. Ia sangat bahagia karena hari ini bisa bertemu dengan keluarganya dan melepaskan rindu dengan kedua orang tua dan juga abangnya.
Tanpa terasa mobil Daffin sudah sampai di salah satu supermarket terbesar di kota itu. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Setelah itu dia masuk kedalam supermarket itu.
Sampai di sana Daffin di sambut langsung oleh manager supermarket itu. Ya tadi dia sudah memberi kabar kalau dirinya sudah sampai di sana.
" Selamat datang tuan Daffin"
" Terima kasih"
" Saya tidak menyangka, ternyata anda masih muda dan juga tampan"
" Ibuk terlalu memuji saya"
" Mari, kita langsung ke ruangan saya "
Daffin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia mengikuti langkah kaki manager supermarket itu.
Sesampainya di ruang manager itu. Mereka langsung membicarakan soal kerja sama yang akan mereka lakukan.
Manager itu menyebutkan apa saja keuntungan yang akan di terima Daffin setelah bekerja sama dengan supermarket miliknya.
Daffin membaca isi dokumen kerjasama itu. Ia membaca setiap poin yang tertulis di sana. Walau bagaimanapun, ia juga pernah bekerja di perusahaan. Bahkan ia juga mempunyai perusahaan sendiri. Walaupun perusahaannya bukan perusahaan yang besar.
Setelah selesai membaca dan juga memahami isi dokumen itu. Barulah Daffin membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.
" Semoga kerja sama kita berjalan sampai seterusnya tuan"
" Iya Buk"
__ADS_1
" Apa tuan mau melihat supermarket kami ini"
" Boleh"
" Mari, saya temani untuk melihat supermarket ini"
" Terima kasih"
Daffin mengikuti langkah kaki manager itu. Mereka mulai mengelilingi supermarket. Daffin hanya menjadi pendengar yang baik ketika manager itu menjelaskan produk yang mereka lewati.
Saat melewati tempat peralatan mandi. Mata Daffin menangkap sosok wanita yang dia kenal. Tanpa menunggu lama ia langsung menemui sosok wanita cantik itu.
" Princess"
Namun belum sempat Daffin mendekat kearah Kiran. Para bodyguard Darren sudah menghalanginya.
" Nggak apa-apa Pak, dia teman saya"
Para bodyguard itu pun mundur ke belakang.
" Apa kabar?" yang Daffin basa-basi.
" Alhamdulillah baik, kamu?"
" Alhamdulillah baik juga. Wajah kamu kok pucat gitu? kamu sakit?"
" Nggak kok"
" Lagi belanja bulanan?"
" Hhhmm"
" Kenapa nggak suruh bibik aja?"
" Lagi pengin aja. Lagian aku bosen di mansion"
" Mansion?"
" Hhhmm"
" Terus yang tinggal di rumah kamu siapa?"
" Nadia sama Nando? kenapa?"
" Nggak apa-apa"
Jadi princess nggak tinggal di sana lagi. Berarti sayur yang aku kirimkan Nadia yang terima.
" Hei, kenapa bengong"
" Ah maaf"
" Lagi mikirin apa?"
" Sayur"
" Sayur? kenapa dengan sayur" tanya Kiran.
" Berarti bukan kamu lagi yang menerima sayur yang aku kirim"
" Jadi sayuran itu kamu yang kirim?"
" Hhmm"
" Sekarang kamu udah beralih profesi jadi juragan sayur?" canda Kiran.
" Ya begitulah" kata Daffin sambil tersenyum pada wanita cantik itu.
Tiba-tiba Kiran merasa kepalanya pusing dan juga berputar-putar. Ia pun kehilangan keseimbangan. Daffin segera menangkap tubuh Kiran.
" Princess" kata Daffin sambil menepuk pipi Kiran dengan lembut.
Daffin langsung menggendong tubuh Kiran. Para bodyguard yang menemani Kiran, juga menghampiri nona muda mereka yang pingsan.
" Tuan biar kami saja yang bawa nona muda"
" Tidak! biar saya saja, kalian cepat siapkan mobil. Kita harus segera bawa Kiran ke rumah sakit"
" Baik"
Para bodyguard itu mengikuti titah Daffin. Mereka ingin protes, tapi sekarang bukan saatnya. Nona muda mereka harus segera di bawa ke rumah sakit. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan nona muda, maka mereka semua bisa di bunuh sama tuan mudanya.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading ππ