
" Hubby tunggu"
Darren terus saja berjalan. Ia tidak menghiraukan istrinya yang terus saja memanggil namanya. Ia benar-benar kecewa sama sang istri.
Para bodyguard yang berjaga di mansion heran melihat nona dan tuan mudanya main kejar-kejaran.
" Apa tuan dan nona muda sedang latihan?"
" Bukan, sepertinya terjadi sesuatu. Apa kamu tidak lihat raut wajah tuan muda?"
" Sudah-sudah kembali patroli, jangan ikut campur masalah dapur tuan muda"
Para bodyguard itu kembali melakukan tugas mereka. Sedangkan sang nona muda masih mengejar bayi besarnya yang sedang merajuk karena dikerjain.
" Hubby "
Darren masuk kedalam lift. Kiran mempercepat larinya sebelum pintu lift tertutup. Ia tidak ingin kehilangan jejak suaminya itu.
" Kamu tuh tega banget sih bikin aku ngos-ngosan kek gini?"
Darren hanya diam. Ia masih betah mogok bicara dengan istri cantiknya itu. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat istrinya lari-lari seperti tadi. Tapi mau gimana lagi, salah sendiri ngerjainnya keterlaluan kek tadi.
Pintu lift terbuka. Lelaki tampan yang lagi mogok bicara itu, langsung keluar dari lift. Kiran pun dengan setia mengikuti suaminya dari belakang.
Sesampainya di kamar, Darren segera membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Kiran pun ikut berbaring di samping suami tampannya itu.
" By"
Sang singa masih setia dalam mode silent. Ia tidak boleh tergoda oleh istrinya itu. Ia harus bisa bertahan.
Kiran tidak kehabisan akal. Ia harus bisa menjinakkan singa yang sedang marah itu. Ia segera naik keatas suaminya. Sekarang Darren sudah berada dibawah sang istri.
Saat dirinya hendak mencium sang suami. Darren segera memalingkan wajahnya. Dan itu sontak membuat Kiran kecewa. Karena ini kali pertamanya ia ditolak oleh suaminya.
Darren dapat melihat raut kecewaan dari wajah istrinya. Sebenarnya ia tak tega, tapi mau gimana lagi. Istrinya itu juga tega mengerjainya seperti tadi.
Karena sudah ditolak oleh suaminya. Kiran pun turun dari atas tubuh suaminya. Tapi belum sempat turun, Darren lebih dulu menahan tubuh istrinya.
" Mau kemana, hhmm?"
" Mau cari suami baru"
" Yakin mau cari suami yang baru?"
" Yakin, kan kamu udah nggak mau lagi sama aku"
" Siapa bilang nggak mau?"
" Itu tadi kamu nolak aku"
" Kamu kecewa?"
" Ti-tidak!"
Darren tersenyum mendengar jawaban dari sang istri. Ia tau kalau istrinya itu sedang berbohong.
Cup.
" Ngapain kamu cium-cium aku"
" Pengen aja"
" Ck, tadi sok nolak. Sekarang malah nyosor"
" Nyosor istri sendiri nggak dosa kan?"
" Dosa sih nggak? tapi kan hubby lagi marah?"
__ADS_1
" Kata siapa aku marah?"
" Itu tadi diamkan aku"
" Bukan marah, tapi kesal karena kamu bercandanya nggak lucu?"
" Iya kan tadi aku udah minta maaf"
" Kamu nggak tau seberapa paniknya aku tadi?"
" Aku tau. Makanya aku cepat bangun"
" Bukannya takut karena diperiksa dokter. Terus kebohongannya terbongkar?"
" Itu salah satunya" jawab Kiran sambil tersenyum.
" Dasar nakal" kata Darren sambil mencubit hidung sang istri.
" Jadi hubby nggak marah lagi nih?"
" Aku mana bisa marah sama kamu "
" Bohong! tadi aja marah, terus ninggalin aku gitu aja"
" Kan udah dibilang, bukan marah. Tapi kesal"
" Terus sekarang masih kesal?"
" Nggak. Aku mana bisa kesal lama-lama sama kamu"
" Kenapa?"
" Karena aku sayang dan cinta banget sama kamu"
" Cie ada yang bu--"
Tok..
Tok..
Tok..
" Nona, baby twins nangis"
Kiran segera bangkit dari atas suaminya. Ia melupakan kedua anaknya, gara-gara ingin membujuk bayi besarnya. Ia segera berjalan menuju pintu, dan membukakan pintu untuk si mbak.
Benar saja baby twins sedang menangis bersama kedua mbaknya. " By, tolong gendong baby Axel"
" Siap sayang"
Darren segera mengambil ahli putranya dari gendongan si mbak. Tangis baby Axel pun berhenti saat berada dalam gendongan Daddy-nya.
" Langsung diam. Axel pengen di gendong sama Daddy ya?"
Axel hanya mengedipkan matanya.
" Kasihan tampannya Daddy di tinggal tadi "
Karena baby twins sudah bersama mommy dan Daddy-nya. Kedua pelayan itu pun pamit undur diri. Darren dan Kiran juga masuk kembali kedalam kamar.
ππππ
Romy bingung melihat istrinya yang daritadi bolak-balik ganti baju. Entah sudah ke berapa kali sang istri mengganti pakaiannya. Bahkan baju yang selesai di pakai, sudah berserakan di atas kasur.
Ya hari ini mereka akan pergi ke dokter untuk melihat calon buah hati mereka. Karena kandungan sang istri harus diperiksa sebulan sekali.
" Sayang, sebenarnya kamu mau pake baju yang mana?"
__ADS_1
" Nggak tau Bee. Soalnya bajunya udah pada nggak muat"
" Nggak muat gimana? bukankah itu baju yang baru di beli semua?"
" Hhmm"
" Pasti muat dong Yank"
" Nggak Bee, coba aja liat nih"
Romy hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi bumil yang satu itu. Untung cinta, kalau nggak? udah dia karungin dan dibuang ke laut.
" Oh iya, oleh-oleh aku kemarin mana?"
" Ada, bentar aku ambilkan dulu"
Romy mengambil kotak beludru bewarna silver yang berisi satu set perhiasan berlian. Ia harap istrinya itu suka sama modelnya. Kalau di suruh ganti lagi ke tokonya kan nggak lucu.
" Nih sayang untuk kamu"
" Makasih Bee"
Nadia segera membuka kotak beludru itu. Matanya berbinar melihat kalung berlian yang sangat indah. Bukan hanya kalung, anting pun juga ada. Dan modelnya juga bagus lagi.
" Suka nggak?"
" Suka, banget malah. Makasih ya Bee"
" Cuma makasih aja nih?"
" Terus apa?"
" Kasih ciuman atau apa kek"
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Romy. Tapi tidak puas dengan hanya kecupan. Ia pun m*l*m*t bibir nan merah bak Cherry itu. Nadia pun membalas ciuman suaminya itu.
Romy melepas ciumannya saat pasokan oksigen sang istri sudah berkurang.
" Bernafas honey"
" Kamu ciumnya kek mau bunuh aku tau nggak?"
Romy terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Entah kenapa ia tidak bisa menahan setiap berciuman dengan istrinya itu.
" Istri aku yang cantik ini, jadinya mau pake baju yang mana?"
" Dress yang warna peach ini aja deh Bee"
Romy hanya menggelengkan kepalanya. Bumil itu memang unik. Padahal dress itu yang pertama kali dicoba oleh istrinya itu. Dan setelah mengobrak-abrik isi lemari, akhirnya pilihannya jatuh pada dress yang pertama tadi.
" Yuk, ntar dapat antrean dibelakang lagi"
" Ini masih berantakan Bee"
" Nanti minta tolong sama bibik untuk membereskannya"
" Aku simpan perhiasan ini ke dalam brangkas dulu"
Nadia memasukkan perhiasan yang dibelikan suaminya kemarin ke dalam brangkas. Setelah itu barulah mereka turun ke bawah untuk berpamitan sama sang mama.
" Ma, kita jalan dulu ya"
" Hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya ya Rom"
" Iya Ma"
__ADS_1
Romy melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya. Seperti pesan sang mama, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena ia tidak ingin membahayakan keselamatan istri dan calon anaknya.