
Kiran mendorong trolinya menuju kasir. Dia sudah tidak mood lagi berbelanja. Anak kecil yang di bantu Kiran tadi masih setia mengikuti Kiran di belakang.
sesampainya di tempat kasir, Kiran menyerahkan trolinya ke petugas kasir untuk di hitung total semua belanjaannya. Setelah selesai di total, Kiran memberikan black card nya pada petugas kasir itu.
Kiran menenteng dua kantong plastik yang berisi barang belanjaannya. Sesampainya di luar, Bapak sopir taksi itu membantu Kiran membawa belanjaan ke mobilnya.
" Anak kecil ini siapa Neng?" tanya sopir taxi itu.
" Saya juga tidak tau Pak, tadi kebetulan bertemu di dalam. Adek kesini sama siapa?" tanya Kiran pada anak kecil yang dia tolong tadi.
" Sendiri Kak"
" Rumah adek dimana? nanti biar kakak antara pulang"
" Aku nggak punya rumah Kak. Boleh aku ikut ke rumah kakak " kata bocah yang kira-kira berumur 11 tahun itu.
" Nama kamu siapa?" tanya Kiran.
" Nando"
" Baiklah Nando, bukannya kakak nggak mau ngajak kamu ke rumah kakak, tapi nanti orang tua kamu cariin gimana?"
" Aku sudah tidak punya orang tua Kak. Selama ini aku tinggal di panti asuhan yang ada di jalan gang sana"
" Nando pergi dari panti asuhan itu?"
" Iya Kak"
" Kenapa Nando pergi dari sana?"
" Ibu pengurus panti selalu menyiksa aku dan anak-anak yang ada di sana"
Kiran kaget mendengar ucapan bocah laki-laki yang ada di hadapannya itu. Ia tidak menyangka anak kecil seperti itu sudah mengalami kekerasan fisik.
" Kita duduk di sana dulu. Pak tunggu sebentar ya"
" Iya Neng"
Kiran membawa Nando duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon tak jauh dari supermarket itu.
" Nah sekarang Nando cerita sama kakak"
Nando mulai menceritakan tentang kehidupannya dan juga teman-temannya yang ada di panti asuhan.
Kiran mendengarkan cerita Nando dengan sangat hikmat. Raut wajah Kiran berubah ubah saat mendengar cerita bocah kecil itu. Tapi yang lebih mendominasi raut wajah emosi. Ia tidak menyangka kalau ada wanita sekejam itu di dunia ini.
Tiba-tiba Kiran ingat kejadian di dalam supermarket tadi. " Apa tadi kamu berniat mencuri makanan yang ada di supermarket itu?"
" I-iya Kak. Aku terpaksa melakukan itu, karena dari kemarin aku belum makan"
" Lain kali jangan pernah lakukan hal buruk seperti itu lagi. Kamu tau kan mencuri itu perbuatan yang tidak baik"
" Aku tau Kak, tapi daripada mati kelaparan"
Deg.
Hati Kiran sakit mendengarkan jawaban anak kecil itu. Daripada mati lebih baik mencuri, tidak pernah terpikirkan olehnya hal seperti itu.
" Apa tidak ada donatur yang memberikan sembako atau makanan untuk kalian?"
" Ada, tapi semua sembako dan makanan itu di simpan dan kadang di jual sama ibuk panti"
" Dijual?"
__ADS_1
" Iya Kak, makanya aku dan teman-teman yang ada di sana sering kelaparan"
Wajah Kiran mengepalkan tangannya menahan emosi, sampai-sampai kuku tangannya memutih.
" Baiklah sekarang kamu ikut kakak, besok kita datangin wanita tua tidak tau diri itu"
Nando menganggukkan kepalanya. Ia bersyukur karena di pertemukan sama kakak yang cantik dan juga baik.
Di tempat lain.
Darren sedang meeting dengan kliennya di salah satu restoran terkenal di kota itu. Mereka tengah membahas kerja sama pembangunan hotel yang akan di bangun di kota C.
" Saya sangat menyukai konsep yang anda berikan tuan Darren. Saya akan menanamkan modal di perusahaan anda"
" Terima kasih tuan James"
" Sama-sama tuan Darren. Oh iya, bisakah nanti malam anda hadir ke acara anniversary pernikahan saya"
" Tentu tuan, saya pasti akan datang"
" Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu"
" Silakan tuan James"
Sekarang tinggallah Darren dan asistennya di ruangan itu. Darren melihat pesan yang di kirimkan sama bawahannya tadi. Matanya membulat sempurna saat melihat nama orang yang pernah menyakiti hati gadis kecilnya.
Daffin Putra Hermansyah.
" Lo kenapa?" tanya Romy.
" Ternyata dia orang yang sudah nyakitin gadis kecil gue"
" Dia siapa?"
" Daffin Maksud lo"
" Hhmm"
" Bukankah dia pacar wanita ular itu?"
" Iya dia lebih memilih wanita ular itu di banding gadis kecil gue. Tapi itu bagus, dengan begitu tidak ada lagi kesempatan untuk di masuk ke hati Kiran lagi"
" Sekarang apa yang akan lo lakukan?"
" Tentu saja membalas semua perbuatannya" jawab Darren.
Romy bergidik ngeri melihat sahabatnya. Dia tidak tau seperti apa sahabatnya itu akan membalas sepasang kekasih itu. Tapi yang pasti balasan dari seorang Darren tentulah sangat menyeramkan.
πππ
Daffin sedang termenung, dia sedang memikirkan gimana cara mendekati Kiran kembali. Ia tau betul gimana sifat wanita cantik itu. Sesekali Daffin menghela nafasnya untuk menyingkirkan beban yang dia pikirkan. Suara ketukan pintu menyadarkan Daffin dari lamunannya.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
" Permisi Pak, saya mau mengantarkan undangan untuk Bapak?" kata sekretaris Daffin.
" Undangan?"
__ADS_1
" Iya Pak" jawab sekretaris itu sambil memberikan undangan itu.
Daffin membaca undangan itu. Di acara itu pasti banyak pengusaha-pengusaha terkenal. Dia akan memanfaatkan momen ini untuk berkenalan dengan pengusaha-pengusaha terkenal itu.
Satu ide muncul dalam pikirannya. Dia akan mengajak princess datang ke acara itu. Akhirnya dia ada cara juga untuk bisa dekat dengan princess.
" Kamu boleh keluar" titah Daffin.
Sekertaris itu keluar dari ruangan bosnya. Baru akan membuka pintu, sekretaris itu dikagetkan dengan kedatangan kekasih bosnya itu. Daffin juga kaget melihat kekasihnya, ralat melihat mantan kekasihnya masuk ke dalam ruangannya.
" Ngapain kamu ke sini?!" tanya Daffin ketus.
" Aku merindukan kamu sayang"
" Ck.. simpan saja rasa rindu kamu itu, aku nggak butuh"
Monica berjalan menghampiri kekasihnya itu. Ya dia tidak terima diputuskan oleh Daffin, So dia masih menganggap Daffin kekasihnya.
" Wah ada undangan nih, kita pergi bareng ya?" kata Monica sambil duduk di pangkuan Daffin.
" Turun Monica!"
Bukannya turun, Monica malah mengalungkan tangannya ke leher Daffin. Dia menatap wajah Daffin dengan sangat intens. Ia mulai mengelus pipi sang kekasih.
Dulu saat Monica bermanja-manja seperti itu dengannya dia akan senang. Tapi hari ini dia merasa jijik. Ia merasa sikap Monica yang ber-manja seperti itu mirip seorang jal*ng.
Saat Monica akan mencium bibirnya, Daffin segera bangkit dari duduknya. Alhasil Monica terjatuh dan pantatnya mencium lantai.
" Aaaww,, sakit sayang?"
" Aku sudah bilang turun dari pangkuanku, tapi kau tidak mendengarkannya"
" Kenapa kamu menolak ciumanku?"
" Karena aku jijik"
" Jiji?! bukankah dulu kamu selalu menikmati ciumanku!" kata Monica emosi.
" Itu dulu sebelum aku tau perselingkuhan mu!" kata Daffin tak kalah emosi.
" Ayolah Daffin. Aku tau kamu juga merindukanku dan aku pun juga merindukan mu"
" Jangan mimpi terlalu tinggi Monica. Sekarang ini kau sudah tidak ada lagi dalam hatiku"
" Bohong! aku yakin kau masih mencintaiku? "
" Untuk apa aku berbohong, aku memang tidak mencintaimu lagi"
" Tapi aku masih mencintaimu Daffin"
" Sudahlah Monica, aku tidak akan tertipu lagi dengan semua ucapan mu itu. Sekarang kamu keluar dari ruangan ku. Kalau tidak jangan salahkan aku jika berbuat kasar pada mu"
Monica kaget mendengar ucapan dari kekasihnya itu. Dulu Daffin tidak pernah berbicara kasar padanya. Tapi sekarang Daffin sudah berubah, bahkan sikap sang kekasih sangat dingin padanya.
" Aku akan membuat kamu cinta lagi sama aku" kata Monica sambil berlalu pergi dari ruangan Daffin.
Daffin mengusap wajahnya kasar. Dia tidak habis pikir dengan Monica. Wanita itu masih saja mengganggu ketenangannya.
To be continue.
Segini dulu ya, ntar siang baru up lagi π€π€
Happy Reading ππ
__ADS_1