
Darren sudah sampai di perusahaan sang istri. Setelah memarkirkan mobilnya Ia dan sahabatnya masuk ke dalam kantor.
Para karyawan terpesona melihat ketampanan Darren. Pasalnya mereka belum pernah melihat lelaki tampan itu datang ke kantor itu. Sedangkan sama Romy mereka tau. Karena lelaki itu sering mengantarkan istrinya ke kantor saat sang istri belum hamil.
Darren tidak ingin memakai kekuasaannya. Jadi ia mengikuti prosedur yang ada di perusahaan sang istri. Ia menghampiri meja resepsionis.
" Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?"
" Saya ingin bertemu dengan nona Kiran"
" Apa anda sudah membuat janji tuan?"
" Belum. Coba katakan pada Presdir anda, tuan Darren ingin bertemu"
" Baik Pak, kami hubungi sekretaris Buk Kiran dulu"
Darren menunggu karyawan itu menghubungi sekretaris istrinya.
" Silakan Pak. Buk Kiran sudah menunggu di ruangannya"
" Terima kasih"
Darren dan Romy berjalan menuju lift karyawan. Karena kalau mereka naik lift khusus Presdir, nanti karyawan mikir mereka tidak sopan. Lift pun membawa kedua lelaki tampan itu ke lantai 5.
Ting.
Pintu lift terbuka. Kedua lelaki tampan itu langsung berjalan menuju ruangan istri mereka masing-masing. Karena di sana hanya ada tiga ruangan dan tidak sulit untuk Darren mencari ruangan istrinya.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk!"
Darren masuk kedalam ruangan sang istri. Ia tersenyum melihat istrinya yang sedang fokus menatap layar monitor yang ada di depannya. Dan aura kepemimpinannya sangat kuat.
" Hubby"
Kiran segera menghampiri suaminya yang masih berdiri didepan pintu masuk. Ia langsung memeluk suaminya itu. Menghirup aroma wangi tubuh suaminya. Ia menggesek-gesekan hidungnya ke dada bidang sang suami.
" Sayang jangan kek gitu?"
" Kenapa?"
" Kamu bisa membangunkannya"
Kiran segera menjauhkan tubuhnya dari suaminya. Kalau tidak, sesuatu yang membuat suaminya senang akan terjadi. Dan ia tidak ingin itu terjadi, karena ini di kantor.
" Apa baby twins rewel?" tanya Darren sambil mengecup bibir istrinya.
" Tidak. Twins sangat anteng. Mungkin mereka tau, kalau mommy-nya sedang bekerja"
Darren menghampiri box bayi yang ada di samping meja kerja istrinya. Ia tersenyum melihat kedua anaknya tertidur dengan pulas nya.
" Mereka tidur?"
" Iya. Habis nyusu mereka tertidur"
" Apa kamu kewalahan menjaga twins?"
" Tidak. Lagipula mereka tidak rewel. Hanya saja Alexa yang agak bawel"
" Benarkah?"
" Iya. Daritadi dia ngoceh terus"
" Sayang daddy tidak bisa mendengar celotehannya"
" Oh iya, Daddy kenapa kesini?"
__ADS_1
" Tentu saja menjemput kamu sayang. Ini sudah siang"
" Astaga, aku lupa"
" Ini yang aku takutkan kalau kamu bekerja, lupa waktu"
" Maaf By. Kita pulang sekarang?"
" Hhmm"
" Sebentar. Aku mau menyimpan dokumen sama file penting dulu. Setelah itu baru kita pulang"
Sembari istrinya menyelesaikan pekerjaannya. Darren memindahkan baby Alexa dan juga baby Axel ke dalam kereta dorongnya. Tak lupa ia memberikan kecupan singkat untuk kedua buah hatinya.
Akhirnya semua pekerjaan Kiran hari ini selesai. Dan baby twins juga sudah berada di kereta dorong. Kiran mengajak suaminya untuk pulang, karena mereka akan pulang dan makan siang di rumah.
Darren mendorong kereta bayinya keluar ruangan sang istri. Mereka akan naik lift. Saat akan masuk lift mereka berpapasan dengan Nadia dan Romy.
" Kalian mau pulang juga?" tanya Nadia.
" Iya Nad. Aku dikasih izin kerja kan cuma sampai jam istirahat"
" Sama. Aku juga dikasih izin kerja sampai jam istirahat"
Mereka pun masuk kedalam lift. Untung lift khusus Presdir besar. Jadi mereka bisa masuk semuanya ke dalam lift. Benda berbentuk kotak itu segera membawa mereka ke lantai dasar.
Lagi-lagi para karyawan terpesona melihat ketampanan hot Daddy itu. Apalagi sekarang mereka melihat Darren mendorong kereta bayi.
" Bukankah itu kereta bayi Buk Presdir?"
" Iya"
" Kenapa lelaki tampan itu mendorong kereta bayi Buk Presdir"
" Omo.. jangan-jangan lelaki tampan itu suaminya Buk Presdir"
" Sepertinya begitu"
" Sungguh pasangan yang serasi"
" Kalau bayinya laki-laki sudah pasti tampan seperti papanya. Dan kalau perempuan, pasti secantik mamanya"
" Kamu benar. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna"
Banyak lagi ucapan para karyawan itu. Mereka juga berdoa semoga mereka mendapatkan jodoh seorang lelaki tampan, seperti kedua lelaki tampan itu.
Kiran tersenyum melihat tatapan para karyawan wanita pada suaminya. Ia tidak bisa melarang karyawannya supaya tidak mengagumi suaminya, karena itu hak mereka. Lagipula suaminya tidak akan tergoda sama wanita lain.
" Kenapa kamu senyum-senyum gitu?"
" Liat karyawan aku"
Darren menoleh kearah karyawan yang bekerja sebagai resepsionis. Ia mengerutkan keningnya, tidak ada yang lucu dari mereka. Tapi kenapa istrinya senyum-senyum.
" Emang ada yang lucu dengan mereka?"
" Hhmm"
" Apa?"
" Cara mereka menatap hubby"
" Biarkan saja, toh aku cuma maunya di tatap ama kamu. Apalagi kalau ditatap dengan tatapan menggoda"
" Itu maunya kamu"
David tersenyum melihat ekspresi wajah kesal sang istri. Andai saja ini tidak di lobi kantor, mungkin dia sudah mencium istrinya.
" Kalian mau langsung pulang atau gimana?"
" Langsung pulang Nad. Kalian?"
__ADS_1
" Kita mau mampir ke rumah sakit sebentar"
" Udah waktunya cek kandungan ya?"
" Iya. Rencananya kan kemarin perginya. Tapi karena Romy banyak kerjaan jadi nggak bisa"
" Sehat-sehat terus calon dedeknya" kata Kiran sambil mengusap perut sahabatnya.
" Makasih aunty"
Kedua wanita cantik itu pun berpisah di parkiran. Karena Nadia mau pergi ke rumah sakit dulu. Sedangkan Kiran langsung pulang ke mansion.
πππ
Doni baru selesai patroli di mansion tuan mudanya. Ia pulang ke rumah untuk makan siang bareng sang istri. Ya akhir-akhir ini istrinya memang senang masak. Mungkin karena hormon kehamilannya.
" Kamu sudah pulang Yank?"
" Hhmm"
" Kebetulan, aku baru saja selesai masak. Yuk langsung makan aja"
" Semua masakan ini kamu yang masak?"
" Emang siapa lagi"
" Banyak amat, ntar nggak habis"
" Kita kasihkan separuh sama anak-anak bodyguard"
" Boleh, ntar aku suruh Danar untuk mengambilnya"
Serly mengambilkan nasi dan juga lauk untuk suaminya.
" Makasih sayang"
" Sama-sama Yank"
Mereka pun mulai menyantap makan siangnya. Doni sangat menyukai masakan sang istri. Menurutnya masakan istrinya sangat lezat.
" Kalau makanannya enak kek gini terus, bisa-bisa aku jadi gendut lho Yank"
" Nggak apa-apa, aku suka kalau badan kamu gendut"
" Biar kek perut badut gitu ya"
" Bukan perutnya tapi badan kamu. Kalau perut mah aku nggak suka, apalagi kalau sampai kek perut badut gitu"
" Nggak kok Yank, lagian aku kan suka olahraga, jadi nggak mungkin gendut lha"
" Iya, apalagi olahraga di ranjang. Iya kan?"
" Kalau itu, aku paling suka. Di ajak tiap malam aku nggak akan nolak"
" Dasar mesum"
" Kok mesum. Lagian yang mancing duluan ngomong kek gitu kan kamu. Berarti kamu yang mesum"
" Iya, kalau aku emang mesum dari dulu. Sedangkan kamu"
" Kan kamu juga yang ngajarin aku mesum"
" Oh iya ya. Berarti kita sama-sama?"
" Mesum"
Kedua pasutri itupun tertawa. Karena dengan bangganya mereka bilang kalau mereka itu mesum. Ya cinta memang bisa merubah segalanya. Bahkan cinta juga bisa membuat kita lebih indah. Itu tergantung bagaimana cara kita menghargai cinta dan juga pasangan kita.
To be continue.
Hot Daddy
__ADS_1
Happy reading ππ