
Beberapa bulan kemudian.
Usia kandungan sang istri sudah sembilan bulan. Itu tandanya mereka akan segera bertemu dengan buah hati mereka yang sudah lama mereka tunggu.
Sekarang ia lagi di rumah sakit menemani sang istri. Karena tadi istrinya sudah menunjukkan tanda-tanda kontraksi ringan. Dan sekarang sang istri lagi menunggu pembukaan jalan lahir sang calon bayi.
" Bee sakitnya datang lagi"
Romy memeluk istrinya, kemudian menggenggam tangan sang istri. Ia tidak tega melihat sang istri kesakitan seperti itu. Andai saja rasa sakit itu bisa di gantikan, maka ia bersedia menggantikan. Sesekali ia mengecup puncak kepala sang istri.
" Dok, apa nggak ada obat untuk mengurangi rasa sakit yang dialami istri saya"
" Nggak ada tuan. Lagipula rasa sakitnya nanti akan hilang dengan sendirinya. Jadi tuan jangan khawatir. Tuan harus tetap dampingi nona, karena itu juga bisa mengurangi rasa sakit sang ibu"
" Baik Dok"
Romy terus memeluk sang istri. Sesekali dia juga mengelus perut istrinya dan mengajak sang bayi berbicara. Dan itu mampu membuat rasa sakit yang dirasakan Nadia berkurang"
Linda ikut tersenyum melihat bagaimana cara Romy menenangkan istrinya. Saat sekarang ini memang itulah yang dibutuhkan oleh calon ibu. Karena dengan begitu sang ibu merasa nyaman dan aman.
" Sekarang kita lihat lagi ya nona, apakah dedek bayinya sudah siap untuk bertemu dengan mama dan papanya"
Linda membuka kaki Nadia dan melihat, apakah calon bayi sudah siap untuk melihat dunia luar.
" Sudah pembukaan sepuluh. Dan kepala baby nya juga sudah kelihatan. Jadi kita bersiap-siap ya nona?"
" Baik Dok"
Linda di bantu sama suster menyiapkan keperluan untuk melahirkan. Sementara Romy masih setia di samping sang istri, ia akan mendampingi istrinya.
Semua peralatan yang di perlukan sudah ada di samping dokter cantik itu. Proses melahirkan pun segera di mulai.
" Baik nona, mari kita mulai. Tarik nafas, dorong!"
Nadia melakukan instruksi yang diberikan dokter Linda. Tapi entah kenapa rasanya begitu sakit. Seperti tulang-tulang yang ada di tubuhnya di tarik keluar.
Romy tidak henti-hentinya memberikan semangat dan juga membisikkan kata-kata cinta pada sang istri. Itu ia lakukan sebagai penyemangat untuk istrinya.
" Sayang ayo bantu mama, sebentar lagi kita akan bertemu" kata Romy tanpa melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.
Nadia menggenggam tangan suaminya lebih erat lagi. Setelah itu ia mengejan sekuat tenaganya. Dan tidak berapa lama terdengar suara tangisan bayi.
" Selamat nona bayi anda sudah lahir dengan selamat. Dan dia sangat tampan seperti papanya"
" Alhamdulillah"
Linda memberikan bayi mungil itu kepada Romy. Dengan senang hati Romy menggendong bayi mungil nan masih merah itu.
" Sayang lihat. Ini baby kita"
" Hhmm"
" Terima kasih sudah mau berjuang melahirkan baby kita"
__ADS_1
Rona bahagia terpancar jelas dari wajah pasutri itu. Rasa sakit yang dirasakan Nadia tadi hilang seketika kala melihat bayi tampannya itu.
" Silakan adzan kan tuan. Karena setelah itu, suster akan membersihkan bayinya"
Romy segera mengumandangkan adzan di telinga bayi kecilnya itu. Setelah selesai ia memberikan bayinya pada suster untuk dibersihkan.
Saat bayinya sudah di bawa keluar oleh suster. Nadia pun tertidur karena kelelahan saat melahirkan bayinya tadi.
" Dokter, istri saya?"
" Tenang tuan, istri anda hanya ketiduran"
" Tidur?"
" Iya. Mungkin nona kecapean "
Romy tersenyum melihat istrinya yang sedang tertidur. Ia keluar dari ruang persalinan, karena dokter akan membersihkan sisa melahirkan tadi. Dan Nadia akan di bawa ke ruang rawat.
" Selamat ya Rom, sekarang kamu sudah jadi seorang ayah"
" Terima kasih Ma"
" Bagaimana keadaan Nadia"
" Baik Ma, dia ketiduran"
" Syukurlah"
Tak berselang lama Dokter dan juga suster membawa Nadia dan juga bayinya ke ruang rawat VIP. Romy dan mertuanya mengikuti dari belakang.
" Kamu sudah punya nama untuk cucu tampan mama, Rom?"
" Sudah Ma"
" Siapa namanya?"
" Namanya Farel Putra Wijaya, dipanggilnya Farel, Ma"
" Nama yang bagus"
Sama seperti sahabatnya, Romy juga memberikan nama keluarganya di belakang nama putranya. Walaupun putranya nanti tidak akan pernah bisa bertemu dengan nenek dan kakek dari ayahnya. Setidaknya nanti anaknya itu tau kalau ia keturunan keluarga Wijaya.
" Aku telpon Darren dulu ya Ma"
" Nggak besok aja nelponnya, mungkin mereka sudah tidur. Soalnya ini kan sudah malam,"
" Nggak apa-apa kok Ma, lagipula Darren jam segini belum tidur"
Romy mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi sahabatnya itu. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Ia pun menghubungi kembali nomor sahabatnya itu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Tapi ia tidak menyerah, ia terus menghubungi nomor sahabatnya itu.
Setelah mencoba beberapa kali barulah telponnya ada jawaban dari nomor sahabatnya itu.
" Hallo " terdengar suara putus asa dari seberang sana.
" Lo kenapa? kok suaranya lemas kek gitu?"
__ADS_1
" Kesal! lo bisa nggak nelponnya saat gue lagi nyantai"
" Lha mana gue tau kalau lo lagi olahraga"
" Cepat katakan, kenapa lo telpon gue malam-malam kek gini?"
" Gue lagi di rumah sakit sekarang"
" Ngapain lo di rumah sakit malam-malam. Godain dokter"
" Ngaco Lo. Gue di rumah sakit nemenin istri gue lahiran"
" Udah bongkar aja istri lo? "
" Uda dong, sekarang gue sudah jadi seorang ayah"
" Selamat ya bro. Akhirnya kecambah yang di tunggu-tunggu nungil juga"
" Makasih bro"
" BTW anak lo cowok apa cewek?"
" Cowok bro"
" Wah Axel ada teman gelut nya nih nanti"
" Iya. Ya udah gue mau tidur dulu, lo lanjut lagi deh olahraganya"
" Lanjut gimana, udah tidur lagi nih punya gue gara-gara mendengar suara Lo"
" Ya elah, tinggal bangunkan lagi sama bini lo"
" Ya udah, awas kalau lo nelpon lagi. Gue kirim Lo ke kutub Utara"
Panggilan telepon pun berakhir. Romy tertawa membayangkan bagaimana wajah kesal sahabatnya tadi, saat permainannya terhenti di tengah jalan. Kapan lagi bisa ganggu kesenangan sahabat sekaligus bosnya itu.
" Mama istirahat aja. Biar Romy yang jaga Nadia sama Farel"
" Kamu saja yang tidur, lagian kamu juga capek karena nemenin istri kamu tadi"
" Romy nggak capek kok Ma. Lagipula mama kan harus banyak-banyak istirahat"
" Baiklah, mama tidur dulu"
" Ya Ma"
Sandra tidur di bed yang satu lagi. Ya menantunya tadi meminta petugas untuk memberi dua bed di ruangan itu. Karena menantunya itu bilang. Sebagus apapun sofa, tetap lebih nyaman tidur di atas kasur.
Ia benar-benar bersyukur dan juga bahagia memiliki menantu seperti menantunya itu. Karena sang menantu selalu memikirkan kesehatan dirinya. Ia serasa miliki putra kandung sendiri.
To be continue.
Farel Putra Wijaya
__ADS_1
Happy reading ππ