Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Tom and Jerry


__ADS_3

Suasana di meja makan malam ini sangat ramai. Karena selain ada mertuanya, manten baru juga ikut hadir di sana.


" Masakan Tante enak banget" puji Serly.


" Makasih Ser"


" Aku bilang juga apa, makanan mommy emang enak" kata Kiran.


" Senang ya makan malam rame-rame kek gini? apalagi kalau semua anggota keluarga besar kumpul" kata Clarissa.


" Iya Mom. Pasti ramainya ngalahin pasar malam" kata Kiran.


" Jadi kalian akan tinggal di rumah yang ada di belakang mansion?" tanya Darren pada Doni.


" Iya tuan muda"


" Keputusan yang bagus. Jadi aku ada teman ngobrolnya " kata Kiran.


" Ngobrol boleh, asalkan aku sama twins jangan diupayakan" kata Darren.


" Nggak mungkin lha aku lupain kamu sama baby twins"


" Ya siapa tau, karena keasikan ngobrol sama sahabat kamu itu"


" Cie yang takut diabaikan" ledek Clarissa.


" Idih kek mommy nggak aja"


" Emang nggak. Lagian siapa yang bisa mengabaikan mommy?"


" Daddy lha siapa lagi. Ya kan Dad"


" Kenapa Daddy di bawa-bawa" kata Jhonatan.


" Udah jawab aja" kata Darren.


" Nggak usah di jawab Dad. Daddy kan nggak lagi ikut cerdas cermat" kata Clarissa.


" Bilang aja mommy takut"


" Takut apa coba?"


" Takut kalau Daddy akan mengabaikan mommy"


" Yang ada Daddy kamu yang takut mommy abaikan. Iya kan Dad?" tanya Clarissa sambil mengedipkan matanya pada suaminya.


" Matanya biasa aja kali Mom. Nggak usah di kedap kedip kek lampu taman"


" Bilang aja kamu iri. Karena nggak bisa kedipan mata dengan mantu mommy"


" Stop! nanti debatnya dilanjutkan lagi. Sekarang kita makan. Kasian Nando yang jadi korban kalian berdua" kata Jhonatan.


Semua orang menoleh ke arah Nando. Nando yang jadi pusat perhatian pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pasalnya ia tidak mengerti apa-apa, kenapa harus di bawa-bawa.


Mereka pun melanjutkan acara makan malamnya. Mereka menikmati makan malam dengan hikmat, tanpa ada satu orang pun yang bicara.


Selesai makan malam mereka ngumpul di ruang keluarga. Tapi tidak dengan Nando. Remaja itu memilih bermain bersama baby twins. Sedangkan Clarissa dan suaminya memilih untuk ke kamar.


" Apa kamu akan memindahkan semua barang-barang yang ada di apartemen, ke rumah kalian?" tanya Kiran.


" Tidak, Doni bilang biarkan saja barang-barang itu di sana. Karena kalau aku kangen suasana apartemen, kami akan menginap di sana"


" Doni benar. Dan sudah saatnya kamu menguras ATM nya Doni"

__ADS_1


" Kamu benar. Aku ingin tau ada berapa nol di belakang angka"


" Nol nya tidak banyak, hanya dua" kata Doni.


" Dua nol yang kelihatan, tapi dibelakangnya masih panjang kek kereta api " kata Darren.


" Tapi nggak sepanjang nol yang ada di black card tuan muda"


" Eleh, padahal kamu juga pu--" Doni segera membekap mulut tuan mudanya. Kalau tidak tuan mudanya akan membongkar rahasianya.


Darren segera melepaskan tangan Doni dari mulutnya. " Kamu mau bunuh saya ya?"


" E-enggak tuan muda"


" Itu buktinya, kamu bekap mulut aku. Lagian kalau aku mati, kamu nggak akan kebagian warisan"


" Sudah-sudah, cepat lanjutkan ucapan kamu tadi By?"


" Yang mana sayang?" tanya balik Darren.


" Ck,, belum tua udah pikun aja kamu. itu lho masalah ATM Doni "


" Oh itu" kata Darren sambil melirik Doni. Doni menggelengkan kepalanya, supaya tuan mudanya tidak mengatakannya.


" Ayo cepat bilang, jangan main kode-kode kalian berdua"


" Biar Doni aja deh sayang yang bilang"


" Bodyguard ku sekaligus suamiku yang tampan, coba katakan apa yang kamu rahasiakan dari aku. Kalau tidak mau, nanti nggak aku kasih jatah, alias puasa"


" Mana bisa begitu" protes Doni.


" Tentu saja bisa. Karena akulah yang berkuasa di istana kamu"


" Aku punya black card juga"


" What..!" kaget Serly sama Kiran.


" Kamu serius punya black card?" tanya Serly lagi.


Doni menganggukkan kepalanya.


Serly menutup mulutnya karena kaget. Dia aja yang gajinya juga gede, belum punya black card. Tapi suaminya itu hanya seorang bodyguard, tapi punya black card.


Darren tersenyum melihat ekspresi keterkejutan istrinya dan juga Serly. Doni memang satu-satunya bodyguard yang di bawah perintahnya yang mempunyai black card. Kalau bodyguard mommy-nya hanya Jhon yang punya black card.


Serly menatap suami dari sahabatnya itu. Berapa Darren memberi gaji suaminya itu. Sehingga ia memiliki black card?. Apa Darren memang se royal itu pada bodyguardnya.


" Saya tidak pernah membanding-bandingkan bodyguard saya. Semuanya sama di mata saya, tidak ada yang di anak tiri kan. Karena Sama-sama berjasa dalam menjaga keamanan mansion ini. Tapi sama halnya dengan pegawai kantor, mereka mempunyai tingkat jabatan juga"


" Jabatan suami saya apa?" tanya Serly.


" Tentu saja bos para bodyguard yang ada di mansion ini"


" Berarti jabatan Doni sama kek Om Jhon ya By?" tanya Kiran.


" Iya sayang "


" Tapi gajinya nggak jauh beda dari aku kan?" tanya Serly lagi.


" Tentu saja beda. Karena tugas bodyguard itu sangat berat, taruhannya nyawa. Jadi gajinya tentu saja beda"


" Ja-jadi gaji bodyguard tampanku lebih gede dari pada aku?"

__ADS_1


" Hhmm"


Doni hanya tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya. Bukan maksudnya untuk mengejutkan istrinya. Apalagi nanti istrinya sempat minder kalau tau gaji dirinya lebih besar dari sang istri.


" Sini dompet kamu, aku mau periksa " kata Serly.


" Jangan yank, malu sama tuan dan nona muda"


" Cepetan sini dompetnya"


Doni mengambil dompetnya. Kemudian menyerahkan pada istrinya itu. Dengan senang hati Serly menerima dompet itu.


Serly tersenyum karena saat pertama kali membuka dompet suaminya, foto pernikahan merekalah yang dia lihat pertama kalinya.


Lagi-lagi Serly kaget melihat isi dompet suaminya. Bagaimana tidak di dalam dompet itu hanya ada uang tunai dua ribu rupiah.


" Kamu punya black card, tapi isi dompet kamu kok cuma dua ribu"


" Aku nggak biasa megang uang tunai " kata Doni.


Darren dan Kiran tersenyum mendengar ucapan Serly. Sedangkan Doni hanya mampu menundukkan kepalanya karena malu.


" Nggak penting isi dompetnya Ser. Yang penting isi black card nya"


" Princess benar juga. Apa dompet suami kamu juga kek gini isinya?"


" Nggak tau, soalnya aku nggak pernah melihat dompet hubby "


" Kalian udah menikah sekian lama, tapi kamu nggak pernah lihat isi dompet suami kamu? wah parah, kamu harus segera lihat. Siapa tau ada foto cewek lain di sana"


Kiran menatap tajam suaminya itu. Kalau benar suaminya itu menyimpan foto cewek lain. Ia akan menguliti suaminya itu.


Gleg.


Darren menelan saliva-nya. Ia benar-benar takut melihat tatapan mata istrinya.


" Sini dompetnya" titah Kiran.


" Nggak ada apa-apa Yank di dompet aku"


" Coba liat "


Darren pun mengambil dompet yang ada di saku celananya. " Ini nyonya dompetnya"


" Makasih By"


Kiran segera membuka dompet suaminya. Ia tersenyum melihat foto keluarga kecilnya yang ada di sana. Jadi terbukti sudah kalau dompet suaminya bersih dari foto cewek lain.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Doni dan Serly pun pamit pulang. Karena mereka ingin istirahat, begitu juga dengan Darren dan Kiran.


" Kenapa kalian nggak nginap di sini aja?"


" Kapan-kapan deh kita nginap di sini. Lagipula aku nggak mau merasakan gempa lokal"


" Ah iya, aku nggak ingin telinga baby twins terkontaminasi sama suara-suara aneh itu"


Padahal semua kamar yang ada di mansion itu kedap suara. Jadi sekuat apapun suara kita dari dalam, tidak akan pernah terdengar sampai ke luar.


Darren dan Kiran pun mengantarkan manten baru itu sampai ke depan pintu. Setelah itu mereka pun pergi ke kamar mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2