
Satu Minggu kemudian.
Seperti janji Darren pada istrinya. Hari ini mereka akan pergi ke rumah nenek buyutnya baby twins. Yaitu ke rumah Dwipangga.
" By, tolong ambilkan sepatu Axel dong?"
" Dimana sayang?"
" Di atas nakas "
Darren mengambil sepatu rajut nan imut milik Axel. Kemudian memberikan pada sang istri.
" Nih sayang"
" Makasih By"
" Sama-sama sayang"
Sepatu itu khusus dibuat oleh Diana untuk kedua cicitnya. Bukan hanya sepatu, Diana juga membuatkan jaket untuk Axel dan Alexa.
" Selesai. Sekarang Axel siap untuk pergi ke rumah eyang"
" Nenek pintar ya yank merajutnya"
" Iya, sepatunya juga lucu-lucu lagi"
" Sekarang kita berangkat ke rumah eyang"
Seperti biasa, para pelayan membawa tas yang berisi perlengkapan baby twins selama satu hari. Karena mereka akan menginap di rumah Dwipangga.
Para bodyguard memasukkan tas dan juga kereta dorong milik baby twins. Karena di rumah Dwipangga tidak ada kereta dorong untuk dua bayi. Jadi Kiran harus membawa sendiri dari rumah.
" Nando mana ya?" tanya Kiran.
" Hadir Kak"
" Buruan masuk, ntar kamu ketinggalan lho"
" Siap Bos" kata Nando sambil masuk kedalam mobil.
Kiran dan suaminya masuk ke dalam mobil. Pelayan masuk kedalam mobil yang kedua. Setelah semuanya masuk kedalam mobil. Mobil itu pun melaju meninggalkan mansion.
Ini kali pertamanya Nando pergi ke rumah eyang dari baby twins. Tapi ia sudah pernah bertemu dengan eyangnya baby twins. Mereka menerima dirinya dengan baik.
Jarak rumah kakek lumayan jauh dari mansion. Jadi mereka harus menempuh perjalanan selama 30 menit. Tapi mereka tidak merasa ngantuk, terutama baby twins.
" Ini perjalanan terlama baby twins ya yank"
" Iya By"
Mereka pun sampai di depan pintu gerbang yang sangat tinggi. Bodyguard pun membunyikan klakson mobil. Pintu gerbang pun terbuka. Mobil pun melaju masuk menuju rumah utama.
Nando takjub melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka kalau rumah kakek baby twins juga jauh dari gerbang.
Mereka sampai di depan rumah bergaya Eropa. Darren dan istrinya turun dari mobil. Diikuti oleh Nando dan yang lainnya. Sedangkan para bodyguard pergi memarkirkan mobil.
__ADS_1
" Nona kecil datang" sapa salah satu pelayan.
Iya kaget sekaligus senang. Karena nona kecilnya sangat jarang datang ke rumah ini. Berbeda dengan tuan kecilnya yang cukup sering datang berkunjung ke sini.
" Iya Bik. Nenek sama kakek ada di rumah nggak?"
" Ada, tuan sama nyonya ada di taman. Saya panggilkan dulu"
" Nggak usah Bik, biar kita aja yang ke sana"
" Baiklah"
" Hubby, Nando sama yang lainnya masuk duluan ya, aku mau panggil nenek sama kakek dulu"
" Ok sayang"
Darren, Nando dan yang lainnya masuk kedalam rumah. Sedangkan Kiran pergi ke taman untuk memanggil kakek dan neneknya.
Bentuk taman dan juga bunga-bunga yang ada di taman itu tidak berubah. Semuanya masih sama saat ia terakhir kali datang ke sini.
Kiran tersenyum kala melihat dua orang yang paling dia sayangi. Walaupun mereka sudah tidak muda lagi. Tapi masih terlihat tampan dan juga cantik.
" Kakek, nenek"
Diana dan suaminya yang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, langsung saja menoleh ke arah suara.
" Cucu kesayangan nenek ada di sini?"
Kiran segera menghampiri kakek dan neneknya. Iya mencium tangan kakek dan neneknya dengan takzim.
" Benarkah?"
" Iya. Sekarang kita masuk ke dalam ya" ajak Kiran.
Diana dan Dwipangga segera bangkit dari duduknya. Mereka bertiga segera pergi ke dalam rumah. Karena pasutri itu tidak sabar ingin bertemu dengan kedua cicit mereka. Apalagi cicit yang dua ini jarang main ke rumahnya.
Darren menatap sekeliling ruang tamu. Dekorasinya masih sama. Yang beda hanya foto yang tergantung di sana. Dulu hanya foto dirinya dan juga Abang iparnya yang ada di sana. Tapi sekarang sudah bertambah dengan foto Abimanyu dan juga baby twins.
" Ini bukannya Abimanyu ya Bang?" tanya Nando.
" Iya. Si bawel "
" Daripada Abang dingin kek gunung fuji" gumam Nando, tapi masih bisa didengar oleh Darren.
" Apa kamu bilang?!"
" Nggak ada. Abang salah dengar kali"
" Ck,, bocah"
" Aku sudah gede, bukan bocah lagi"
" Sekali bocah tetap bocah"
" Dasar es balok"
__ADS_1
Pletak.
Aawww...
Nando mengusap kepalanya yang dipukul sama Darren.
" Abang"
" Makanya jangan bilang Abang es balok"
" Emang kenyataannya begitu"
" Mau di bukul lagi?"
" Coba aja, ntar aku bilang sama kak Kiran"
" Dasar tukang ngadu"
" Biarin, wlek"
Darren segera bangkit dari duduknya kala melihat nenek sama kakek istrinya datang. Ia menyalami nenek dan kakek dari istrinya secara bergantian. Diikuti sama Nando.
" Nenek sama kakek apa kabar?" tanya Darren.
" Alhamdulillah kami sehat"
" Maaf ya Nek, Kek, kita baru sempat mengunjungi kakek sama nenek"
" Tidak apa-apa. Kami mengerti kesibukan kamu. Dulu Daddy-nya Kiran juga sama seperti kamu, jarang datang karena sibuk kerja"
" Iya Kek, kalau ada waktu luang kami akan sering-sering main ke sini"
" Apa kalian akan menginap di sini?" tanya Diana.
" Iya Nek, kita akan nginap di sini" jawab Kiran.
" Syukurlah, jadi rumah ini tidak terasa sepi lagi"
Diana meminta salah satu pelayannya untuk membersihkan kamar tamu dan juga kamar yang pernah dipakai Kiran dulu saat dirinya masih remaja dulu.
" Sekarang kalian istirahat dulu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya"
" Baiklah Nek"
Diana tau jarak dari mansion cucunya ke rumahnya sangat jauh. Jadi ia tau cucu dan cucu mantunya sekarang sangat lelah. Begitu juga dengan cicit mereka.
Kiran dan suaminya pamit ke kamar mereka. Begitu juga dengan Nando. Mereka memang lumayan capek karena kelamaan duduk di mobil. Nando diantarkan salah satu pelayan ke kamar tamu yang ada di rumah itu.
Diana dan Dwipangga sangat senang karena weekend ini mereka tidak kesepian. Karena cucu dan cicit mereka akan menginap di sini. Walaupun mereka menginapnya cuma satu malam, itu sudah lebih dari cukup.
Hari ini Diana akan memasak masakan yang enak untuk semua keluarganya. Ia juga akan membuat makanan kesukaan cucunya. Apalagi Kiran sudah jarang mencicipi masakan buatan dirinya.
To be continue.
Udah up 4 bab ya. Jadi jangan lupa kasih vote dan juga hadiahnya..π€π€
__ADS_1
Happy reading.