
Semakin malam, acara perpisahan sekolah semakin meriah. Semua siswa kelas XII menikmati pesta itu. Terkecuali Nando. Lelaki tampan itu daritadi ingin pulang, tapi Jihan selalu menahannya.
" Kamu mau ngapain pulang cepat?" tanya Jihan.
" Tidur"
" Ini hari terakhir kita bisa ngumpul-ngumpul sama teman-teman kita. Dan entah kapan lagi bisa ketemu seperti ini"
" Benar apa kata Jihan. Lagian Lo juga jarang ngumpul-ngumpul bareng kita-kita" kata Ikbal.
" Baiklah gue nggak akan pulang"
Jihan sangat senang mendengar ucapan Nando barusan. Jadi ia bisa berlama-lama dengan lelaki tampan itu.
" Guys kita dansa yuk" ajak teman Nando yang dari kelas lain.
" Yuk. Mumpung guru-guru udah nggak ada" kata teman yang lain.
" Ide bagus tuh. Bagi yang punya pasangan yuk kita dansa"
Musik pun berganti dengan musik yang slow. Bagi yang punya pasangan langsung mengambil tempat dansa. Sedangkan Nando hanya duduk sambil memainkan ponselnya.
" Jihan dansa yuk" ajak Ikbal.
" Nggak ah kamu aja"
" Baiklah, gue turun ya"
" Hhmm"
Ikbal pun meninggalkan Jihan dan Nando. Ia akan mencari pasangan untuk berdansa. Sekarang tinggallah Jihan dan Nando di sana.
Hening.
Jihan menoleh kearah Nando. Lelaki itu tidak asik dengan ponselnya. Bahkan pandangan lelaki itu tidak lepas dari benda pipih itu. Ingin rasanya ia melempar ponsel itu jauh-jauh, supaya Nando memperhatikannya.
" Nan"
" Hhmm"
" Dansa yuk?"
" Tadi Ikbal ngajak kamu dansa, kenapa kamu tolak. Sekarang kamu malah ngajak aku"
" Aku maunya sama kamu, bukan sama dia"
" Sama aja. Lagian aku juga nggak minat dansa. Kalau kamu mau dansa ya pergi aja"
Jihan sangat kesal mendengar ucapan Nando. Kenapa lelaki itu selalu cuek padanya. Bukankah mereka sudah menjadi teman?. Baru kali ini ada lelaki yang tidak tertarik dengan kecantikannya.
" Ya udah, aku temani kamu aja"
" Terserah"
Nando memainkan kembali permainan yang ada di ponselnya. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, karena ia sudah masuk kedalam dunia gamenya.
Sesekali Jihan melirik Nando. Ia berpikir bagaimana cara menaklukkan lelaki seperti Nando. Karena lelaki itu sangat sulit di jangkau. Bahkan dia asik dengan dunianya sendiri.
" Hai Ji" sapa seorang lelaki pada Jihan.
" Hai"
" Boleh duduk sini nggak?"
__ADS_1
Jihan melirik Nando, berharap lelaki tampan itu menoleh kearahnya. Dan melarang lelaki lain duduk di sampingnya. Tapi harapannya sia-sia, lelaki itu masih asik dengan ponselnya.
" Boleh kok "
Lelaki itu langsung duduk di kursi yang ada di samping Jihan. Lelaki itu terlihat senang karena bisa duduk di sebelah wanita cantik.
" Kamu makin cantik aja sih Ji"
" Makasih"
Lelaki lain saja memuji dia cantik. Tapi laki-laki yang asik main ponsel itu, tidak sedikitpun menoleh kepadanya. Kecantikannya kalah sama ponsel yang ada di tangan lelaki tampan itu.
" Gabung ke bawah sama anak-anak lain yuk" ajak lelaki yang bernama Andra.
" Malas"
" Ayolah, lagian ini hari terakhir kita di sekolah dan juga kumpul sama teman-teman yang lain"
" Nan, aku kebawah dulu ya"
Lagi-lagi Jihan berharap Nando menoleh kearahnya. Dan menahan ia untuk pergi dengan lelaki lain. Tapi lagi-lagi ia juga harus menelan pil pahit, karena Nando tidak sedikitpun menoleh kearahnya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk turun kebawah. Lagipula Nando juga tidak peduli dengannya.
"Ya udah, yuk"
Andra mengulurkan tangannya pada Jihan. Jihan pun menyambut uluran tangan Andra. Mereka berdua turun kelantai dansa, berkumpul dengan teman-temannya yang ada di sana.
Sedang berdansa, pandangan Jihan terus tertuju pada Nando. Lelaki itu entah kenapa susah sekali didekati. Tidak seperti lelaki lain. Bahkan lelaki lain terang-terangan mendekatinya.
Nando melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Ia harus pulang, karena ia sudah tidak minat lagi mengikuti acara perpisahan ini.
Lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh aula mencari Ikbal. Tapi ia tidak melihat batang hidung temannya itu. Karena tidak menemukan Ikbal, ia pun memutuskan untuk pulang.
Jihan hanya bisa menatap punggung Nando yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia tidak menyangka kalau lelaki itu tidak peduli padanya.
Darren sedang ber-manja-manja dengan istrinya. Ya beberapa hari ini iya kurang belaian dari istrinya itu. Karena istrinya sibuk dengan kerjaan dan juga twins.
" Sayang"
" Hhmm"
" Main yuk"
" Nanti twins ganggu By"
" Kan pintunya di kunci sayang"
" Kalau mereka bangun pasti gedor-gedor pintu kamar kita"
" Ayolah sayang, udah lama nih junior puasa"
" Mana ada lama, baru dua Minggu "
" Dua Minggu itu waktu yang sangat lama sayang. Kamu nggak tau betapa tersiksanya aku karena menahannya"
Kiran nggak tega melihat suaminya seperti itu. Tapi ia takut saat main nanti, anak-anaknya bangun dan menggedor pintu kamar mereka.
" Baiklah"
Karena sudah mendapatkan lampu hijau dari istrinya. Darren pun melancarkan aksinya.
" Kita mainnya di sofa?"
" Iya, lagian kita jarang main di sini "
__ADS_1
Kiran pun menurut. Ia juga sudah lama menginginkan suaminya. Tapi karena sibuk kerja dan sampai di rumah ia sudah kecapean. Jadi nggak ada waktu untuk main.
Darren mencium bibir nan merah bak Cherry itu. Ciuman itu turun ke leher jenjang sang istri. Tak lupa ia meninggalkan stempel kepemilikan di sana.
Ia melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuh sang istri. Sekarang tinggal penutup bagian sentral milik istrinya. Darren pun melepaskan pakaian penutup itu.
Darren memberikan sentuhan lembut di seluruh tubuh istrinya. Sentuhan itu sukses membuat Kiran mengeluarkan suara merdunya. Dan suara itu sangat ia sukai.
Setelah istrinya rileks. Barulah ia menanggalkan pakaian yang menempel di tubuhnya. Sekarang ia dan sang istri sudah sama-sama polos.
Darren mulai menyatukan miliknya dengan sang istri. Pasutri itu pun siap mengarungi lautan cinta yang sudah lama mereka pendam. Dan sekaranglah saatnya untuk melepaskan semuanya.
Udara didalam kamar itu semakin panas. Suara d*s*h*n tak henti-hentinya keluar dari mulut Kiran. Suaminya itu mampu mengaduk-aduk pertahanannya.
Sesuatu didalam tubuh Kiran sudah mendesak untuk keluar. Begitu juga dengan Darren, mereka pun mendapatkan pelepasan yang selama ini mereka tahan.
" Terima kasih sayang"
" Sama-sama By"
Setelah sekian lama, akhirnya mereka berdua bisa menuntaskan keinginan yang selama ini mereka pendam. Ya akibat sibuk, mereka memang jarang punya waktu untuk melakukan olahraga seperti ini.
" Sekarang tidur ya"
" Aku belum ngantuk By"
" Mau main lagi?"
" Nggak! aku udah capek"
" Kalau kamu masih mau, aku siap melayani"
" Makasih By. Tapi sekarang ini aku nggak pengen nambah"
" Ya udah, sekarang kita tidur ya"
" Kan udah dibilang juga tadi, aku belum ngantuk"
" Terus sekarang mau ngapain?"
" Aku pengen peluk-pelukkan kek gini aja"
" Kalau kek gini, aku yang susah sayang"
" Susah kenapa?"
Darren mengerahkan tangan sang istri ke juniornya.
Aaaaa...
" On"
" Makanya jangan sembarangan gerak. Jadi sekarang kamu harus tanggung jawab"
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Darren melanjutkan kembali permainannya. Dan Kiran hanya bisa pasrah mendapatkan serangan kedua dari suaminya.
To be continue.
Hot Daddy
Happy reading ππ
__ADS_1