
" Daffin, kok kamu malah mengkhawatirkan cewek manja itu. Yang kesakitan itu aku?!" kata Monica.
Daffin tidak mendengarkan Monica. Dia menarik tangan Kiran membawa pergi dari sana. Monica tidak tinggal diam, dia mengikuti Daffin dan juga Kiran.
Darren melihat tangan wanitanya di pegang oleh Daffin pun merasa panas. Ia bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Daffin.
" Lepaskan tangan lo dari wanita gue?" kata Darren.
" Siapa wanita lo?" tanya Daffin.
" Emang lo lagi megang tangan siapa?" tanya balik Darren.
" Gue megang tangan tangan princess" jawab Daffin.
Darren melepaskan genggaman tangan Daffin. Kemudian dia menarik Kiran kedalam pelukannya.
Daffin tidak terima Kiran di peluk oleh Darren, dia berusaha menarik tangan Kiran. Tapi dengan sigap Darren menangkis tangga Daffin.
" Gue udah bilang, jangan pernah sentuh wanita gue" kata Darren sambil menghempaskan tangan Daffin.
Kiran pusing mendengarkan perdebatan dua lelaki itu. Dia pun mencoba melarikan diri, tapi pelukan Darren sangat kuat.
" Darren" panggil Kiran.
" Iya honey"
" A-aku sesak nafas"
" Ah,, sorry sayang" kata Darren sedikit melonggarkan pelukannya.
Daffin mengepalkan tangannya mendengarkan sebutan Darren untuk Kiran. Dia tidak suka ada lelaki lain yang memanggil sayang pada Kiran.
Egois.
Ya Daffin ingin egois untuk kali ini saja. Dia tidak ingin berbagi dengan yang lain. Padahal dulu dia lha yang menyakiti Kiran dengan berpacaran sama Monica. Dia menarik paksa Kiran dari Darren.
" Awww " rintih Kiran.
Bug.
Satu bogem mentah mendarat di pipi Daffin. Seketika darah segar mengalir di sudut bibirnya. Dia mengusap sudut bibirnya itu.
" Gue udah peringatkan lo berkali-kali, jangan sentuh wanita gue. Tapi lo malah ngeyel"
Daffin tidak terima di pukul sama Darren. Dia pun balas memukul Darren. Tapi sayang pukulannya itu hanya mengenai angin, karena Darren berhasil menghindar.
" Cih..memukul gue aja lo nggak mampu, dasar banci!"
Lagi-lagi kata-kata Darren mampu memprovokasi Daffin. Dia kembali menghajar Darren. Namun serangan itu tidak ada yang mengenai Darren.
Suasana pesta yang tadinya tenang, sekarang berubah jadi riuh. Karena perkelahian antara kedua lelaki tampan itu menarik perhatian para tamu yang datang.
Darren dan Daffin masih menyerang satu sama lain. Meja dan kursi jadi sasaran tubuh mereka berdua. Tidak ada yang bisa memisahkan dua orang yang lagi baku hantam itu.
" Ini semua karena lo! puaskan lo melihat mereka berdua berantem kek gitu?!" kata Monica.
Kiran tidak mau berdebat dengan ulat keket seperti Monica. Dia pun menghampiri kedua lelaki tampan yang baku hantam itu.
__ADS_1
" Mau kemana lo!" teriak Monica.
Kiran tidak mendengarkan ucapan Monica. Dia terus berjalan menuju tempat Daffin dan Darren yang sudah pindah tempat karena baku hantam dari tadi.
" Stop!" teriak Kiran.
Kedua lelaki tampan itu tidak mendengarkan ucapan Kiran. Mereka berdua sama-sama emosi. Jadi mereka tidak menghiraukan suara apapun sekarang.
Kiran tidak kehabisan akal. Dia mengambil kursi, kemudian melemparkan kearah kedua cowok tampan itu. Sontak Darren dan Daffin menghindar.
Kedua cowok itu langsung menatap kearah orang yang sudah melemparkan kursi ke arah mereka. Saat tau siapa orang yang melemparkan kursi itu, seketika mereka menundukkan kepala seperti anak kecil di marahi ibunya.
Gleg.
Kedua lelaki tampan itu susah payah menelan ludahnya melihat tatapan mematikan dari Kiran. Daffin tidak menyangka princess dia kenal dulu memiliki aura seperti ini.
" Honey" panggil Darren.
" Princess"
Setelah memberi tatapan membunuh pada kedua lelaki tampan itu, dia pun pergi dari sana. Darren tersadar, dia menyadari kesalahannya. Dia bergegas menyusul gadis kecilnya itu.
Daffin tidak akan membiarkan Darren mencuri start lagi dari dirinya. Dia pun segera menyusul Kiran. Tapi baru satu langkah, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menahannya.
" Kamu mau kemana?!" tanya Monica.
" Lepaskan tangan kamu Monica!"
" Nggak!"
Daffin menghempaskan tangan Monica dengan kuat. Setelah tangan Monica terlepas darinya, dia menyusul Kiran dan Darren.
Kiran sampai di taman hotel itu. Dia duduk di kursi panjang yang ada di sana. Ia menghela nafasnya, berharap beban yang ada di pikirannya berkurang.
" Honey"
" Berhenti memanggilku dengan sebutan itu "
" Tapi aku suka memanggil kamu dengan sebutan itu"
Kiran melirik Darren, dia melihat wajah Darren sedikit memar, mungkin karena adu jotos sama Daffin tadi.
" Nggak usah khawatir, ini nggak sakit kok"
" Ge'er banget kamu. Lagian siapa yang mengkhawatirkan kamu"
" Udahlah ngaku aja, kalau kamu khawatir"
" Ck.. mimpi!"
" Kalau itu emang mimpi, aku rela tidak bangun lagi. Asalkan selalu bersama kamu Kiran"
" Kenapa kamu tidak menyerah saja "
" Aku sudah berapa kali bilang sama kamu, kalau aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cinta kamu"
" Dasar keras kepala"
__ADS_1
" Honey"
" Hhmm"
Darren tersenyum karena Kiran menyahut sapaannya. Entah sadar atau tidak, yang jelas itu pertanda baik bukan.
" Apa aku boleh bertanya?"
" Kalau pun aku jawab tidak, kamu pasti akan tetap mengajukan pertanyaan itu kan"
" Kamu sudah hafal sama sifat ku "
" Iya, sifat selalu memaksa"
" Apa lelaki tadi yang sudah menyakiti kamu?"
Deg.
Kiran menatap Darren. " Darimana kamu tau"
" Aku tidak butuh pertanyaan, yang aku butuhkan hanya jawaban. Jawabannya hanya ada dua yaitu, iya atau tidak!"
" Dan aku tidak harus menjawab pertanyaan kamu itu"
" Kamu benar-benar harus di paksa ya" kata Darren sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kiran.
" Ka-kamu mau apa?" tanya Kiran sambil bergeser duduknya.
" Menurut kamu?" kata Darren sambil mendekatkan lagi wajahnya. Hingga jarak mereka hanya beberapa Senti.
Kiran bisa mencium aroma mint yang menyegarkan keluar dari mulut Darren. Begitu juga dengan Darren. Ia bisa mencium wangi nafas dan juga tubuh Kiran.
Darren susah payah menahan hasratnya untuk tidak tergoda oleh bibir merah merona milik Kiran. Dia tidak ingin melakukan itu tanpa status yang tidak jelas, karena kalau dia melakukan itu, pasti itu akan melukai perasaan dan harga diri wanita yang dia cintai.
Kiran bisa melihat wajah tampan Darren dari dekat. Wajah yang putih dan juga mulus tanpa celah. Benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna.
" Aku tau kalau aku ini sangat tampan"
" Ck.. pede sekali kamu" kata Kiran sambil memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Darren melihat wajahnya yang memerah karena ketahuan mengagumi ketampanannya.
Darren membelai rambut Kiran dengan lembut. Dan di detik kemudian, dia mengecup kening Kiran. Sontak Kiran membulatkan matanya karena mendapatkan kecupan mendadak dari Darren.
Di detik kemudian dia pun tersadar. " Darren!"
" Iya sayang. Aku masih di sini, jadi jangan teriak-teriak kek di hutan gitu"
" Berani sekali kamu cium aku!"
" Berani lha, tu buktinya udah aku cium"
" Dasar sinting!" kata Kiran beranjak dari duduknya.
Darren tertawa mendengar umpatan Kiran. Entah kenapa melihat wajah cantik Kiran yang sedang kesal itu sangat mengasyikkan bagi dirinya.
To be continue.
Cie... yang habis di ciumπ€
__ADS_1
Happy Reading ππ