
Warning 21+
Yang di bawah umur tolong di skip aja ya sayang. Apalagi para jomlo di haruskan banget untuk di skip. Tapi kalau kalian masih nekad dan penasaran mau baca juga, tanggung sendiri π€
Haredaaaaaang..!!
Sore hari.
Salah satu karyawan Daffin sudah sampai di kediaman Kiran untuk mengantarkan sayuran dari tuannya.
Ting nong.
Bibik yang mendengar suara bel berbunyi pun segera membukakan pintu.
Ceklek.
" Maaf cari siapa?"
" Apa benar ini rumah nona Kiran"
" Benar"
" Saya mau mengantarkan sayuran ini untuk nona Kiran " kata lelaki itu sambil memberikan kantong plastik yang berisi berbagai macam sayuran.
" Terima kasih "
Setelah sayuran itu di berikan, karyawan Daffin itupun pergi meninggalkan rumah itu. Saat pemuda itu sudah masuk kedalam mobil. Bibik baru ingat menanyakan siapa nama orang yang memberi sayuran itu.
" Aduh kenapa bisa lupa sih?"
" Kenapa Bik?" tanya Kiran yang baru kembali dari dari supermarket.
" Ini nona, tadi ada yang mengantarkan sayuran"
" Sayuran?"
" Iya, mana sayurannya banyak dan segar-segar lagi"
" Mommy kali honey yang antar" kata Darren.
" Mommy Clarissa" kata Kiran.
" Bukan, mommy Anggun"
" Ya udah, tolong bawa masuk ya Bik"
" Baik nona"
Darren dan Kiran masuk kedalam rumah, diikuti sama bibik dibelakang. Pasutri itu langsung berjalan menuju kamar mereka. Sedangkan bibik ke dapur untuk menyimpan sayuran-sayuran tadi ke dalam kulkas.
Sesampainya di kamar, Darren langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Kiran menghubungi mommy-nya untuk menanyakan soal sayuran tadi.
" Hallo assalamualaikum, Dek" terdengar suara lembut dari sana.
" Wa'alaikum salam Mom"
" Tumben adek telpon mommy"
" Hehe maaf Mom, soalnya beberapa hari ini adek sibuk"
" Emang sibuk apa sih putri mommy ini"
" Kerja Mom"
" Kerja bikin cucu untuk mommy ya"
" Mommy"
__ADS_1
Terdengar tawa dari seberang sana.
" Ada apa adek telpon mommy?"
" Oh iya hampir saja lupa. Apa mommy ada kirim sayuran ke rumah adek?"
" Nggak sayang, kenapa? "
" Lantas sayuran itu dari siapa ya Mom?"
" Dari Mommy mertua kamu mungkin?"
" Mungkin. Daddy kemana Mom?"
" Lagi di bawah sama Abang"
" Abang ada di sana?"
" Iya soalnya sebentar lagi kakak ipar kamu mau melahirkan, jadi mommy suruh mereka untuk tinggal di sini sampai anak mereka lahir"
" Kalau kakak udah mau lahiran kasih kabar adek ya Mom"
" Iya sayang. Kapan-kapan adek ajak Darren untuk mengunjungi Oma sama Opa ya"
" Pasti Mom, rencananya besok kita mau sana"
" Gimana? udah ada tanda-tanda cucu mommy akan hadir belum?"
" Belum Mom, lagian kan adek sama Darren baru menikah satu Minggu lebih"
" Ya siapa tau suami adek tokcer, jadi langsung hamidun deh"
" Ya udah Mom, adek tutup dulu telponnya. Salam aja untuk Daddy sama Abang dan juga kakak ipar"
" Iya sayang, nanti mommy sampaikan"
" Assalamualaikum"
Panggilan telepon pun berakhir. Kiran meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
" Mommy udah nggak sabar pengin punya cucu ya"
" Astagfirullah. Hubby ngagetin aja "
" Siapa yang ngagetin kamu honey. Aku udah daritadi lho berdiri di sini. Kamu aja yang nggak nyadar"
" Masa?"
" Hhmm"
" Bentar aku ambilkan pakaian hubby dulu"
" Dapat" kata Darren sambil memeluk istrinya.
" Hubby lepas, aku mau ambil pakaian hubby dulu"
" Ntar aja honey, aku pengin kek gini dulu"
Kiran akhirnya pasrah, ia membiarkan suaminya itu memeluknya. Ia dapat mencium aroma mint yang keluar dari hembusan nafas suaminya.
Darren mengecup leher jenjang milik sang istri. Ia tidak hanya mencium, tapi ia juga menyesap lembut kulit leher itu. Hingga meninggalkan bekas yang sangat Darren sukai.
" Hubby jangan bikin stempelnya di sana?"
" Kalau di tempat lain boleh?" tanya Darren.
Wajah Kiran langsung memerah saat mendengar ucapan suaminya itu. Darren langsung tersenyum penuh arti. Tangannya mulai aktif mencari tempat favoritnya.
__ADS_1
Saat tangan Darren sudah menemukan tempat favoritnya. Sekarang gunung itu sudah agak besar daripada yang dulu. Ia mer*masnya memainkan puncak kecil itu dengan sangat lembut. Suara des*h*n lolos dari bibir sang istri.
Darren tersenyum mendengar suara yang terdengar indah di telinganya itu. Kalau sudah mendengar suara nan indah itu, sesuatu di bawah sana juga mulai terbangun dari tidurnya.
Tangannya masih aktif bermain di sana.
" Hu-hubby"
Lagi-lagi Darren tersenyum, ia tau istrinya sudah tidak tahan dan menginginkan yang lebih. Tapi dia pura-pura tidak tau, ia ingin istrinya meminta padanya.
Tangan Darren semakin aktif di sana, bahkan sekarang tangan itu sudah mulai mengelus perut sang istri. Kemudian tangan itu terus turun kebawah dan sekarang berhenti di gawang milik sang istri. Gawang itu sudah basah.
Darren melancarkan aksinya lagi, kali ini dia akan merobohkan benteng pertahanan sang istri. Ia ingin tau seberapa kuat istrinya itu menahan hasratnya.
Tubuh Kiran merasakan sensasi yang luar biasa. Saat jari suaminya bermain-main di bawah sana. Jari itu seperti mengobrak-abrik sesuatu di dalam sana.
Suara des*h*n sang istri semakin menambah tempo gerakan permainannya. Bahkan istrinya sudah mencengkeram kuat tangannya. Darren menghentikan aksinya.
" Hubby?"
" Hhmm"
" Aku pengin "
" Pengin apa honey"
" Masa hubby nggak tau"
" Gimana mau tau kalau kamu nggak bilang"
" A-aku mau main" kata Kiran malu-malu.
Darren tersenyum penuh kemenangan. Inilah saat yang dia tunggu-tunggu. " Ini kamu yang minta lho ya honey, jadi jangan salahkan aku jika aku tidak bisa menahan diri"
" Padahal hubby juga mau"
" Siapa yang bisa nolak kalau di ajak main enak-enak"
Darren mendorong lembut istrinya. Hingga tubuh istrinya terjatuh di atas kasur empuk itu. Ia mulai membuka satu persatu pakaian sang istri. Sekarang tubuh istrinya sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Ia kembali memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada istrinya. Darren m*l*m*t bibir yang se merah cherry itu. Kiran pun membalas ciuman suaminya.
Ciuman Darren perlahan mulai turun ke leher dan meninggalkan stempel kepemilikannya lagi di sana. Setelah itu ciuman itu turun kebawah, tepatnya di kedua gunung kembar milik sang istri yang terlihat semakin menantang. Ia mengecup kemudian menyesap puncak kecil itu secara bergantian.
Kiran merasakan tubuhnya seperti di sengat aliran listrik ribuan volt. Rasanya sungguh luar biasa. Suaminya itu memang benar-benar pintar membuatnya melayang.
Darren melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Sesuatu yang besar dan keras itu sudah berdiri tegak dan siap untuk bertempur. Mengarungi indahnya surga dunia bersama gawang milik sang istri.
Tanpa menunggu lama Darren mengarahkan juniornya pada milik sang istri. Gawang milik istrinya itu sungguh sangat nikmat dan juniornya sangat menyukai itu.
Suara d*s*h*n dan juga lenguhan memenuhi kamar itu. Untungnya kamar itu kedap suara. Kalau tidak bagaimana nasib jomlo yang tinggal di rumah itu. Pasti mereka akan menangis dipojokkan karena mendengar suara nan indah itu.
" Hubby mau keluar"
" Kita keluarkan sama-sama ya honey"
Darren mempercepat tempo permainannya. Kiran menarik rambut suaminya ketika dia merasakan sesuatu di dalam sana sudah mau meledak. Begitu juga dengan Darren. Akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak nirwana.
To be continue.
Pasangan yang lagi hot-hot nya.
Darren.
Kiran.
__ADS_1
Happy Reading ππ.