
Hari sudah mulai malam, tamu yang datang semakin banyak. Para rekan bisnis Kiran yang dari Eropa baru datang untuk mengucapkan selamat padanya.
" Saya cukup terkejut dan juga shock waktu mendapatkan undangan dari si cantik ini. Saya pikir dia hanya bercanda supaya saya tidak mengejar dia lagi " kata rekan bisnis Kiran yang berjenis laki-laki itu.
" Anda bisa saja tuan Zidan. Lagipula anda tau saya bukan tipikal orang yang suka bercanda, apalagi dalam hal perasaan "
" Pantas saja kamu menolak saya, ternyata saingan saya raja bisnis. Selamat ya atas pernikahan kalian"
" Terima kasih"
" Apa kalian ada rencana ingin menyatukan kedua perusahaan?"
" Kalau untuk sekarang belum, tapi tidak tau nanti" jawab Kiran.
" Baiklah, semoga langgeng sampai tua nanti. Saya permisi dulu"
" Sekali lagi terima kasih"
Setelah tuan Zidan turun, Darren menatap istrinya dengan penuh selidik. Kiran hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya itu.
" Kenapa nggak pernah cerita kalau Zidan suka sama kamu?"
" Karena itu nggak penting untuk diceritakan. Lebih baik kita membahas hal-hal yang penting "
" Seperti malam pertama kita nanti" goda Darren.
" Apaan sih Ren"
" Kan kamu bilang tadi bahas yang penting-penting aja. Malam pertama itu kan penting honey"
" Masa bahas di sini"
" Lalu dimana? apa kita langsung praktek aja nanti usai pesta " goda lelaki tampan itu lagi.
Wajah Kiran memerah mendengar ucapan suaminya itu. Bagaimana dia bisa memikirkan malam pertama dalam pesta kek gini.
Darren benar-benar gemas melihat ekspresi wanitanya yang malu-malu seperti itu. Ingin rasanya dia membawa kabur dari pesta, kemudian membawanya ke kamar.
Saat pasutri itu sedang asik mengobrol dan sesekali tertawa. Di sudut pesta ada seorang lelaki tampan yang sedang menguatkan hatinya untuk masuk ke sana.
Daffin menarik nafasnya, kemudian membuangnya secara perlahan. Ya lelaki tampan itu adalah Daffin, lelaki yang pernah ada di hati Kiran. Setelah dirasa cukup, dia pun melangkah kakinya masuk ke tempat pesta.
Sesampainya di tempat pesta. Daffin melihat wanita yang sempat dia sia-siakan dulu sedang tersenyum bahagia.
Andai saja dia tidak tidak pernah menyia-nyiakan wanita cantik itu, pasti yang berdiri di sampingnya sekarang adalah dia, bukan Darren.
Daffin melangkahkan kakinya menuju pelaminan. Walaupun dia sudah mengatakan pada hatinya untuk kuat, tapi rasanya dia tidak sanggup.
Mata Kiran menatap sosok lelaki yang pernah hadir di hidupnya. Lelaki itu tersenyum padanya, walaupun dia tau kalau lelaki itu tidak baik-baik saja.
__ADS_1
" Affin "
Deg.
Jantung Daffin berdetak lebih kencang. Panggilan itu sudah lama tidak pernah dia dengar lagi dari mulut wanita cantik yang ada di hadapannya ini. Tapi sekarang panggilan itu dia dengar lagi.
Ia mencoba menguatkan kembali hatinya. Wanita cantik itu sudah bukan miliknya lagi. Sudah ada lelaki baik yang akan menjaganya seumur hidup.
" Selamat ya princess. Kamu terlihat cantik dengan memakai gaun pengantin" kata Daffin sambil tersenyum pada wanita cantik itu.
" Terima kasih "
" Bolehkah aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?"
Kiran menoleh kearah lelaki tampan yang ada di sampingnya itu. Darren yang mengerti arti tatapan sang istri pun menganggukkan kepalanya.
Karena sudah dapat izin dari wanita cantik itu, dia langsung membawa Kiran kedalam pelukannya. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga.
Kiran hanya diam, dia tak membalas pelukan Daffin. Karena suaminya cuma memberikan izin untuk Daffin memeluknya, tapi tidak memberikan izin dia untuk membalas pelukan lelaki itu.
" Ma-maaf. Maaf karena sudah pernah menyakiti kamu" ucap Daffin dengan suara yang sudah bergetar.
" Aku sudah memaafkan kamu "
" Setelah ini mungkin aku akan pergi jauh. Karena aku nggak kuat bila harus melihat kamu dengan lelaki lain. Berbahagialah cintaku, doaku selalu menyertai kamu" ucap Daffin sambil mengecup kening Kiran.
Darren mengepalkan tangannya menahan emosi. Berani sekali Daffin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Daffin menatap lelaki yang ada di samping Kiran. Atau lebih tepatnya suami Kiran.
" Tolong jaga dan bahagiakan princess. Aku titip dia padamu"
" Tidak perlu kau minta, aku akan selalu menjaga dan membahagiakan istriku " kata Darren sambil menekankan kata istriku.
Daffin tersenyum getir. Akhirnya dia benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk bersama dengan Kiran. Karena dia yakin Darren bisa membahagiakan Kiran lebih daripada dia.
" Dan aku tidak akan memberikan sedikitpun celah untuk pebinor" lanjut Darren.
Kiran menggenggam tangan suaminya. Dia tau suaminya itu lagi menahan emosi. Itu terlihat dari tangannya dan juga wajahnya yang sudah mulai memerah.
" Aku permisi dulu. Semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan kalian"
" Aamiin, terima kasih"
Daffin pun turun dari pelaminan. Dia tidak mencicipi makanan yang ada di sana. Dia langsung pergi meninggalkan pesta. Karena dia tidak akan kuat berlama-lama di sana.
" Daritadi kek perginya " kata Darren.
Kiran susah payah menahan tawanya. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan bertingkah seperti anak kecil.
__ADS_1
" Senang banget yang udah di peluk sama mantan"
" Idih, ada yang jealous"
" Jelas jealous lha, enak aja dia main peluk sembarangan"
" Dia meluk aku cuma ingin mengucapkan salam perpisahan"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Emang dia mau kemana?"
" Mana aku tau, lagian aku nggak nanya "
Darren tersenyum, itu artinya Daffin tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya dan juga sang istri. Tapi kemana lelaki itu akan pergi? apa keluar negeri?.
Setelah kepergian Daffin. Sosok wanita yang pernah dekat sama Darren datang. Dengan gaya sombong dan angkuhnya dia berjalan menuju pelaminan.
" Hai sayang" sapa wanita itu.
" Najis!" kata Darren.
Kiran cepat menutup mulutnya supaya tawanya tidak lepas.
" Jangan galak-galak gitu dong sama aku" kata Monica dengan nada manja.
Kiran berasa mau muntah melihat gaya wanita yang ada di hadapannya itu. Tidak hanya Kiran, Darren pun juga sama. Ingin muntah melihat wanita ular itu.
Monica ingin menyentuh tangan Darren, tapi langsung di tepis oleh Darren. " Jangan sentuh gue, karena tubuh gue bisa gatal bila di sentuh sama ulet bulu ke Lo"
Kiran kaget mendengar ucapan suaminya itu. Tapi yang bikin kaget lagi, suaminya mengelap tangannya dengan kasar dengan tissue basah. Dia tau tangan itu dia gunakan untuk menepis tangan Monica tadi.
" Jangan di lap lagi, ntar tangan kamu lecet" kata Kiran sambil menahan tangan suaminya, kemudian di genggamnya.
Tanpa Darren duga istrinya itu mengecup tangannya. Dan kecupan itu berhasil menghilangkan rasa gatal yang ada di tangannya.
Monica sangat kesal melihat adegan yang baru saja terjadi. Niatnya ingin memanas-manasi Kiran, tapi malah sebaliknya. Dia yang merasakan panas.
" Jika tidak ada kepentingan lagi, anda boleh pergi" kata Kiran.
" Ck,, tidak lama kau akan di campakkan oleh Darren"
" Bukankah kamu yang sudah di campakkan oleh kekasihmu. Bahkan bisa dibilang, dia itu sudah jijik melihat wanita seperti kamu"
Monica menghentakkan kakinya karena kesal. Dia memilih pergi dari sana. Saat Monica akan turun, Darren menginjak ujung gaun yang dia pakai Monica.
Brug.
__ADS_1
Wajah Monica langsung mencium tanah. Ya Monica nyungsep dengan cara yang tidak elegan. Alhasil dia menjadi bahan tertawa semua tamu yang ada di sana.
Dia menatap tajam kearah Darren. Ia tau lelaki itu yang melakukannya. Ia mencoba berdiri, kemudian dia pergi meninggalkan pesta itu dengan rasa malu yang teramat. Ia bersumpah akan membalas penghinaan yang sudah di lakukan Darren padanya.