
Doni dan sang istri baru bangun dari tidurnya. Mereka sekarang sedang sarapan di kamar hotel. Ralat, bukan sarapan tapi makan siang. Karena jam sudah menunjukkan pukul 12.
" Makannya yang banyak istriku, supaya nanti kamu kuat untuk olahraga sama aku"
" Dasar mesum"
" Makanya jangan suka mancing-mancing. Akhirnya kewalahan kan"
" Ternyata kamu itu cuma pura-pura polos "
" Aku nggak pernah bilang kalau aku polos. Bukannya kamu yang menganggap aku polos, hhmm?"
" Au ah gelap"
" Habis ini kita main lagi yuk?"
" Aku masih capek. Lagian punya aku masih sakit"
Doni menatap istrinya. " Maaf ya sayang, aku udah menyakiti kamu"
" E-enggak apa-apa kok. Lagian itu udah kewajiban aku sebagai istri kamu"
" Ya tetap aja aku yang menyebabkan sakitnya"
" Sakit di awalnya kok. Diakhirnya enak"
" Berarti sakit mengenakan dong?"
" Ya begitulah"
" Habis ini mau balik ke apartemen, atau mau tinggal di rumah aku yang ada di belakang mansion tuan muda"
" Ke rumah kamu aja. Soalnya aku belum pernah liat rumah kamu"
" Tapi ntar jangan kaget ya liat rumahnya"
" Kenapa?"
" Rumah aku nggak semewah apartemen kamu"
" Ya nggak apa-apa. Lagian aku mencintai kamu apa adanya. Bukan ada apanya"
" Cie udah pinter menggombal nih sekarang?"
" Ya kan kamu yang ngajarin"
" Aku nggak pernah gombalin kamu. Semua yang aku bilang itu tulus dari hati aku"
" Ya, ya, cepat makan. Ntar keburu dingin makanannya"
Mereka pun melanjutkan kembali makan siangnya. Makan Serly cukup banyak, karena ia benar-benar harus mengisi tenaga yang terkuras tadi malam dan juga tadi pas sedang mandi.
πππ
Romy sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Karena dari tadi sang istri bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
" Apa nggak sebaiknya kita ke dokter aja Yank?"
" Nggak usah Bee. Aku cuma masuk angin"
" Tapi wajah kamu pucat banget"
" Aku baik-baik aja, istirahat sebentar nanti juga baikan lagi"
" Ya udah, sekarang kamu istirahat"
Romy membaringkan tubuh istrinya di atas kasur empuk itu. Setelah itu ia juga ikut berbaring di samping sang istri.
" Bee peluk"
__ADS_1
" Sini"
Tidak butuh waktu lama, Romy sudah mendengar nafas teratur sang istri. Itu tandanya istrinya sudah berada di alam mimpi. Ia membetulkan posisi tidur sang istri. Tak lupa ia menyelimuti tubuh istrinya.
Romy turun dari ranjangnya. Ia akan menanyakan pada mama mertuanya obat mual untuk istrinya. Karena ia tidak tega melihat istrinya bolak-balik terus ke kamar mandi.
" Ma"
" Iya Rom"
" Mama tau obat ngilangin rasa mual nggak?"
" Emang siapa yang mual Rom?"
" Istri aku Ma. Dari tadi dia bolak-balik ke kamar mandi"
Sandra tersenyum mendengar jawaban menantunya. " Sepertinya istri kamu hamil"
" Ha-hamil?"
" Iya, hamil"
" Alhamdulillah. Beneran Ma"
" Mendengar ucapan kamu tadi mama yakin kalau sekarang Nadia sedang hamil"
" Yes, Romy junior sudah jadi"
" Tapi untuk lebih memastikan lagi kamu bawa Nadia ke rumah sakit, atau minta dokter yang ke sini aja"
" Siap Ma. Aku telpon Darren aja"
" Kok Darren?"
" Iya, aku nggak punya nomor dokter kandungan Ma. Kalau Darren punya, kan istrinya habis bongkar mesin"
" Ada-ada saja kamu ini. Ya sudah cepat telpon Darren "
Romy kembali ke kamarnya. Karena ponselnya berada di kamar. Dengan semangat 45 ia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia tidak sabar memberikan kabar bahagia ini pada istrinya.
Sesampainya di kamar, ia langsung mencari ponselnya. Tapi sayangnya, ponselnya tidak ada di atas nakas. Ia pun menghubungi ponselnya dengan ponsel sang istri.
Ponsel milik Romy pun berbunyi. Ia mengambil ponselnya yang ternyata berada di bawah bantal. Tanpa menunggu lama, ia segera menghubungi nomor sahabatnya itu.
Panggilan pertama tidak ada jawaban. Romy mencoba lagi. Sampai yang ketiga kali baru ada jawaban dari seberang sana.
" Darimana aja sih lo? daritadi gue telpon baru di jawab"
" Santai bro, baru nungil langsung ngegas "
" Gimana nggak ngegas, lo bikin gue kesal. Daritadi di telpon, eh baru dijawab"
" Gue lagi sibuk. Kenapa lo telpon gue"
" Bagi nomor dokter kandungan istri lo dong?"
" Kenapa Lo pengin nomor dokter Linda. Lo mau selingkuh sama tu dokter?"
" Kagak lha. Lo kalau ngomong suka ngaco"
" Terus untuk apa?"
" Gue lagi hamil. Eh maksud gue, istri gue lagi hamil"
" Wah selamat ya bro, akhirnya kecebong lho jadi juga"
" Makasih, tapi belum pasti. Makanya gue minta nomor dokter kandungan sama lo"
" Ntar gue send ke Lo"
__ADS_1
" Cepat ya, soalnya gue nggak sabar ingin tau benar apa enggaknya istri gue hamil"
" Ok bro "
Panggilan pun berakhir.
" Kurang asem tu si Darren. Gue yang telpon, dia yang matiin"
Ting.
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Romy. Ia yakin itu pesan dari sahabatnya. Ia segera membuka pesan itu. Benar saja, di sana tertulis kontak dokter Linda. Romy segera menghubungi nomor dokter itu.
Setelah menghubungi dokter Linda, Romy meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya refleks mengelus perut sang istri. Ia tidak menyangka kalau Romy junior sudah hadir di rahim sang istri.
Nadia membuka matanya, saat merasakan ada yang mengelus perutnya. " Bee"
" Sayang"
" Kamu ngapain mengelus perut aku?"
" Nggak apa-apa, lagi pengin elus aja. Apa kamu masih mual?"
" Udah enggak sih. Tapi aku pengin makan jeruk Bee"
" Bentar ya aku ambilkan dulu"
" Hhhmm"
Romy mengecup kening sang istri. Setelah itu dia keluar dari kamarnya. Ia akan ke dapur mengambil jeruk untuk sang istri.
Nadia menatap perutnya. Ia masih bingung kenapa suaminya itu mengelus perutnya. Tapi saat suaminya mengelus perutnya, ada desiran aneh yang ia rasakan.
Tak berselang lama suaminya kembali dengan membawa satu kantong buah jeruk.
" Kok di bawa semuanya Bee"
" Nggak apa-apa"
Romy mengupas kulit jeruk itu. Kemudian ia menyuapi jeruk itu kedalam mulut sang istri. Nadia dengan senang hati menerima jeruk itu.
Saat sedang asik menyuapi istrinya, tiba-tiba mertuanya datang.
" Rom, Dokternya sudah datang"
" Dokter? emang siapa yang sakit?" tanya Nadia.
" Nggak ada yang sakit sayang. Aku cuma memastikan sesuatu. Bawa masuk aja Ma"
Sandra mempersilakan dokter cantik itu masuk kedalam kamar.
" Dokter Linda?"
" Hallo nona Nadia"
" Bee kenapa dokter Linda bisa ada di sini?"
" Kan aku yang menghubungi, makanya dokter itu kesini"
Nadia tau siapa dokter Linda. Karena dialah yang membantu persalinan sahabatnya. Tapi kenapa suaminya memanggil dokter itu ke rumah mereka. Ia teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Suaminya mengelus perutnya. Apa jangan-jangan dia hamil.
" Bee"
Romy tersenyum pada istrinya. Ia tau sekarang istrinya sudah tau kenapa dokter Linda ada di rumah mereka.
" Ya sayang. Aku ingin memastikan, apakah Romy junior sudah hadir di sini" kata Romy sambil mengelus perut istrinya.
Romy mempersilakan dokter Linda untuk memeriksa istrinya. Dan ia berharap apa yang dikatakan mama mertuanya tadi benar. Kalau istrinya sedang mengandung Romy junior.
To be continue.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen dan juga vote nya yaπ€π€
Happy reading ππ