
Setelah selesai melihat dan berkeliling rumah itu. Rumah yang nyaman dan juga udara di sana sangat sejuk. Kiran memutuskan untuk membeli rumah itu untuk dia tempati nanti. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang di yakini itu surat kepemilikan tanah dan juga rumah itu.
" Semoga anda suka dan nyaman tinggal di sini nona, tuan"
" Terima kasih Pak"
" Kalau begitu saya permisi dulu nona, tuan"
Kiran hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Bapak itu meninggal sepasang anak manusia itu.
" Kapan rencana kamu mau pindah kesini?"
" Besok"
" Kalau perlu bantuan, jangan sungkan meminta bantuan ku"
" Hhhmm"
" Udah mau pulang atau masih mau lihat-lihat lagi?" tanya Darren.
" Pulang, lagian nggak enak sama Nadia di tinggal lama"
" Ada Romy yang nemenin dia"
" Ya sih"
" Oh iya, bagaimana kalau kita wujudkan keinginan Bapak tadi?"
Kiran mengeyitkan alisnya mendengar perkataan Darren tadi. " Keinginan apa?"
" Keinginan menjadi suami istri"
" Ck..itu kan keinginan kamu"
" Emang kamu nggak?!"
" Nggak"
Ada rasa kecewa dalam hati Darren mendengar jawaban dari Kiran tadi. " boleh kah aku bertanya sesuatu padamu?"
" Apa?"
" Kenapa kamu benci dengan yang namanya cinta?"
" Aku tidak membencinya"
" Kalau kamu tidak membencinya, kenapa kamu marah setiap aku menyatakan cinta sama kamu. Dan kenapa kamu selalu menolak aku?"
" Aku hanya belum siap untuk kecewa lagi"
" Kecewa?"
" Hhmm"
" Kau tau bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Playboy seperti kamu tidak akan tau rasanya"
Darren melirik Kiran. Dia melihat kembali kesedihan dan juga kebencian di mata gadisnya. " Aku tau gimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Karena aku merasakannya jauh sebelum kamu"
Sekarang giliran Kiran yang melirik Darren. Mata mereka pun bertemu, mengunci satu sama lain. Namun beberapa detik kemudian Kiran memalingkan wajahnya.
" Kamu tau, aku menyukai seseorang sedari dia kecil. Tapi dia tidak tau aku menyukainya dan yang paling parahnya aku mengambil fotonya secara diam-diam. Aku juga mengoleksi boneka kesukaannya sampai satu ruangan sudah penuh oleh boneka kesukaannya "
Kiran kaget mendengar ucapan Darren. Sebegitu besarnya kah cinta Darren untuk wanita itu. Dia jadi penasaran siapa wanita itu.
" Apa sekarang gadis itu tau kalau kamu mencintainya"
" Hhmm"
" Terus?" tanya Kiran antusias.
" Kenapa kamu yang sangat antusias mendengar kisah ku"
__ADS_1
" Ck.. kalau kamu tidak mau cerita ya sudah"
" Idih.. ngambek!"
" Kagak!"
" Aku sedang memperjuangkan cintanya" kata Darren.
Deg.
Apa dia bilang barusan, sedang memperjuangkan cintanya. Lalu ucapannya pada ku tempo hari itu apa? Ck.. dasar Playboy cap kadal.
" Semoga kamu berhasil mendapatkan cinta mu itu"
" Terima kasih" ucap Darren sambil tersenyum.
Dengan doa mu itu, aku semakin semangat untuk mendapatkan cintamu gadisku.
" Sekarang kita pulang, udah siang juga" kata Kiran.
" Hhmm"
Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah itu. Sekarang Darren yang akan mengemudi mobil milik gadisnya itu. Mobil itu melaju meninggalkan rumah baru itu.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Tidak ada diantara mereka yang ingin membuka percakapan. Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tua Kiran.
" Apa nggak ada niat buka cabang perusahaan di sini?" tanya Darren memulai pembicaraannya.
" Rencananya sih ada, tapi belum ada tempat yang cocok"
" Mau aku bantu cariin lokasinya"
" Makasih, tapi aku bisa cari sendiri"
Darren tersenyum, dia tau wanita yang ada di sebelahnya itu wanita yang luar biasa. Apalagi dia sudah melihat bagaimana dia berkelahi dengan para preman.
Sudah cantik, pintar, bisa beladiri. Kamu benar-benar paket komplit gadisku.
Darren melajukan mobilnya menuju rumah utama. Ia memarkirkan mobil milik gadisnya itu di depan pintu utama.
" Kok parkirnya di sini?" tanya Kiran.
" Nggak apa-apa, yuk turun"
Kedua sejoli itu masuk ke dalam rumah utama.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam, kalian sudah kembali?" kata Anggun.
" Sudah Mom"
Kiran dan Darren duduk bergabung dengan sang mommy dan juga yang lain.
" Gimana rumahnya?" tanya Vandy.
" Bagus Daddy, suasana di sana sangat sejuk. Adek suka"
" Syukurlah kalau adek suka"
Darren melirik jam tangan yang melingkar sempurna di tangannya itu. " Om, Tante. Aku pamit pulang dulu ya"
" Eh, Darren udah mau pulang?"
" Iya Tan, soalnya ada urusan penting"
" Baiklah"
Darren dan Romy bangkit dari tempat duduknya. Anggun mengantarkan Darren dan Romy ke depan pintu.
" Jalan dulu Tante, Assalamualaikum"
__ADS_1
" Wa'alaikum salam"
Romy melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Vandy. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Emang ada urusan penting apa sih bro?" tanya Romy.
" Mommy suruh aku ngajak wanita jal*ng itu belanja"
" Cuma mau ngatar dia doang. Ck.. gue pikir hal penting apa"
" Gue rasa dia mau beli gaun untuk acara dia ntar malam"
" Acara apa?"
" Kencan sama kekasihnya"
" Apa! mau kencan?"
" Iya, tadi bodyguard gue telpon kalau wanita itu akan pergi makan malam. Saat itulah gue akan bongkar kebusukan dia di depan mama dan juga kekasihnya itu"
Romy tersenyum, sahabatnya itu memang sangat pintar. " Wah.. ternyata sahabat gue emang pintar" puji Romy.
" Tentu saja. Sudah saatnya gue menyingkirkan benalu itu"
" Sayang gue nggak bisa melihat pertunjukan lo yang spektakuler itu bro"
" Siapa bilang lo nggak bisa. Kita akan makan malam bertiga di restoran yang sama. Gue sudah pesan tempat yang tidak jauh dari tempat duduk mereka"
" Jadi nggak sabar nunggu wanita ular itu hancur " kata Romy.
" Sudah cukup dia memakai fasilitas yang aku beri, saatnya untuk mencabut satu persatu fasilitas itu"
" Ternyata lo kejam juga bro"
" Ck.. lo seperti baru kenal gue aja. Lo kan tau gue bisa melakukan hal yang lebih kejam dari itu"
" Ya..ya siapa yang nggak kenal dengan dewa kematian"
Jika Kiran terkenal dengan sebutan Dewi kematian oleh rekan bisnisnya. Maka Darren dikenal dengan dewa kematian. Ya rekan bisnis mereka sangat tau bagaimana kejamnya kedua orang itu menyingkirkan lawannya jika mereka berani mengusik kedua orang itu.
" Lo cariin gue rumah di daerah D" titah Darren pada Romy.
" Rumah?"
" Hhmm"
" Lo kan udah punya mansion. Kenapa harus beli rumah, mana di kompleks itu rumah mahal-mahal lagi"
" Terus kalau mahal kenapa? lo pikir gue nggak mampu membeli"
" Ya gue tau duit lo banyak nggak akan habis 11 turunan, tapi lo kan udah punya mansion"
" Itu mansion bukan rumah. Gue sekarang kan pengennya rumah. Biar nanti gue bisa dekat terus sama calon istri gue"
" Ck... jadi pacar aja di tolak!"
" Untuk jadi pacar mungkin dia menolak, tapi untuk menjadi istri gue, dia pasti tidak akan menolak"
Romy hanya menggelengkan kepalanya. Jika menyangkut soal Kiran, sahabatnya itu pasti akan terlihat seperti orang bodoh.
Dasar bucin akut.
To be continue.
Rumah Inces ππ
Wah bakal rame nih nantiπ€
Happy Reading ππ
__ADS_1