Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Malam yang panas


__ADS_3

Para tamu undangan sudah mulai meninggalkan hotel. Begitu juga dengan Kiran dan suaminya. Karena mereka tidak bisa meninggalkan baby twins terlalu lama.


" Sekali lagi selamat ya untuk kalian berdua. Semoga cepat di berikan momongan" ucap Nadia.


" Aamiin. Makasih Nad"


" Gue cabut dulu ya Sel "


" Lo nggak nginap di sini juga?" tanya Serly.


" Nggak, suami gue lagi pengen cobain suasana di kasur sendiri. Karena kalau di kamar hotel udah pernah"


" Enak mana Nad, kasur sendiri atau kasur di hotel"


" Gue juga nggak tau Sel. Soalnya belum pernah coba main di kasur sendiri"


" Ya udah cepat pulang sana! gue juga mau coba enaknya kasur hotel"


" Dasar nggak sabaran"


Setelah obrolan yang tidak berfaedah itu selesai. Nadia dan suaminya pun pamit undur diri. Karena mereka juga tidak mau menganggu acara manten baru itu.


" Suamiku yuk ke kamar " ajak Serly.


" Yuk istriku"


Manten baru itu segera pergi menuju kamar mereka yang sudah di siapkan oleh Clarissa khusus untuk manten baru itu.


Serly terperangah melihat dekorasi kamar pengantin yang di persiapkan untuk dirinya dan sang suami. Ia tidak menyangka orang tua Kiran dan orang tua Darren menyiapkan kamar sebagus ini.


Rasanya kakinya sangat sayang menginjak kelopak-kelopak bunga mawar merah itu. Dengan perlahan dan hati-hati ia mulai menginjak kelopak-kelopak bunga mawar.


Doni tersenyum melihat tingkah lucu istrinya itu. Padahal itu cuma kelopak bunga, tapi istrinya itu seperti takut menginjaknya. Ia pun mengikuti langkah kaki sang istri.


" Aku mandi dulu ya"


" Iya, aku mau bersihin make up dulu"


Doni menyambar handuk yang bertuliskan label hotel mewah yang mereka tepati sekarang itu. Ini kali pertamanya ia memakai handuk berlabel hotel.


Setelah suaminya menghilang ke dalam kamar mandi. Serly segera mengambil sesuatu di dalam paper bag yang di berikan sama Nadia tadi. Ya sebelum ke acara tadi, ia meminta sahabatnya itu untuk membawakan lingerie.


Serly tersenyum kala melihat baju tipis nan transparan itu. Otaknya sudah bertraveling ria. Ia senyum-senyum sendiri kala membayangkan sesuatu yang wow nanti.


Ia segera memakai lingerie itu, sebelum suaminya keluar dari kamar mandi. Selesai memakai lingerie, ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah di rasa cukup, ia kembali membersihkan make up yang menempel di wajahnya.


Jantung Serly deg-degan kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ia membayangkan suaminya keluar dengan hanya memakai handuk di pinggangnya.


" Sayang"


Deg.


Dia bilang apa tadi? sayang? oh so sweet nya bodyguard tampanku itu.


" Sayang" panggil Doni lagi.


" I-iya"


" Kamu mau mandi atau langsung tidur?"

__ADS_1


" Kok tidur?"


" Terus mau ngapain?"


Serly langsung bangkit dari duduknya. Tanpa ia sadari kalau sekarang lagi memakai lingerie yang transparan dan tipis.


Gleg.


Doni menelan saliva-nya saat melihat tubuh istrinya hanya terbalut dengan baju yang sangat tipis dan transparan. Lekuk tubuh sang istri sangat jelas terlihat. sungguh pemandangan yang menggoda iman.


" Bukankah kita akan melakukan sesuatu malam ini?"


" A-apa?"


" Jangan pura-pura polos" kata Serly yang terus melangkah menghampiri suaminya.


" A-apa yang akan kamu lakukan?"


Doni merutuki dirinya yang bodoh. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan keluar dari mulutnya itu. Ia tentu saja tau apa yang akan dilakukan pasangan setelah menikah. Tapi otaknya tidak bisa berpikir saat ini. Di tambah dengan godaan yang ada di depan mata.


" Aku ingin melakukan yang akan dilakukan pasangan setelah menikah"


" Apa kamu nggak capek?"


" Capek? tentu saja tidak. Aku sudah lama menunggu saat seperti ini"


Doni benar-benar terpojok. Karena tubuhnya sudah membentur dinding kamar hotel itu. Ia baru tau kalau istrinya se buas ini.


" Kamu udah nggak bisa lari lagi" kata Serly.


" Aku bukannya mau lari"


" Aku cuma nggak ingin kamu kecapean?"


" Kamu meremehkan aku?"


" Ti-tidak"


" Lalu, kenapa kamu bilang aku takut kecapean?"


" Karena acara resepsi tadi"


" Itu nggak akan membuat aku lelah. Ayo kita mulai permainannya" kata Serly sambil menarik handuk sang suami.


Aaaaa..


" Kan belum di apa-apain, kok udah teriak aja" kata Serly.


" Oh belum ya"


" Harusnya aku yang teriak kek gitu. Ini malah kamu"


" Habisnya kamu main tarik aja"


" Ya elah, aku kan cuma narik handuk doang. Bukannya narik burung kamu"


" Huss ngomongnya nggak di sensor gitu"


" Nggak apa-apa, lagian cuma kita berdua di sini"

__ADS_1


(Masih ada gue woii..πŸ˜’πŸ˜’).


" Udah anggap aja yang ke tiga itu setan"


" Iya juga ya"


" Kamu kelamaan" kata Serly sambil mengecup bibir suaminya.


Doni dengan senang hati menerima serangan dari istrinya itu. Ia menarik pinggul sang istri agar jarak diantara mereka tidak ada jarak. Sedangkan Serly mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Ciuman itu sangat lama. Suara kecapan pun terdengar di kamar hotel yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin itu. Manten baru itu larut dalam ciuman yang baru pertama kali mereka rasakan.


Doni melepaskan ciumannya kala pasokan oksigen mereka sudah mulai berkurang. Ia menempelkan keningnya dengan kening sang istri.


" Jangan salahkan aku kalau kamu tidak bisa bangun besok pagi. Karena kamu sudah berani membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur" kata Doni.


Gleg.


Sekarang Serly yang merasa takut. Ia tidak menyangka suaminya itu benar-benar akan menyerangnya malam ini.


" Mainnya boleh di pending dulu nggak?"


" Nggak! salah sendiri tadi kenapa membangunkannya"


Doni kembali mengecup bibir istrinya. Ia memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan pada istrinya itu.


Serly hanya bisa pasrah menerima semua sentuhan lembut yang diberikan suaminya itu. Ternyata tubuhnya tidak sejalan dengan otaknya.


Ia membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan ke atas kasur empuk yang sudah di persiapkan untuk manten baru itu. Kasur itu sudah pasti tahan banting. Karena nggak mungkin kasur itu akan rubuh saat mereka sedang main.


Setelah istrinya rileks, Doni menyingkirkan semua penghalang yang menempel di tubuh istrinya. Tak tanggung-tanggung, ia merobek lingerie seksi itu.


" Kenapa di robek?"


" Biar cepet "


" Emang kamu mau kemana?"


Doni membungkam mulut istrinya dengan ciumannya. Karena istrinya itu bawel sekali. Padahal mereka akan segera berperang.


" Kamu sudah siap?"


" Hhmm"


" Mungkin ini akan terasa sakit"


Ia mulai mengarahkan miliknya ke gawang sang istri. Ia mencium istrinya untuk mengurangi rasa sakit sang istri.


Serly mencakar punggung suaminya saat sesuatu yang besar itu merobek miliknya. Air mata pun menetes di sudut matanya.


Doni mengecup kening sang istri. Ia membiarkan miliknya beradaptasi dengan sesuatu yang ada di bawah sana.


Setelah di rasa miliknya sudah beradaptasi dengan baik, barulah ia mulai bergerak. Rasa sakit yang di rasakan oleh Serly pun sudah mulai berkurang. Suara d*s*h*n dan erangan pun memenuhi kamar pengantin baru itu.


To be continue.


Kabuuuuuuur πŸƒπŸ»β€β™€οΈπŸƒπŸ»β€β™€οΈπŸƒπŸ»β€β™€οΈπŸƒπŸ»β€β™€οΈ


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2