
Darren merasa sakit melihat calon istrinya menangis. Ini kali pertamanya dia melihat calon istrinya menangis. Ia lebih suka melihat wanitanya itu ngomel-ngomel daripada menangis seperti sekarang ini.
Dia masih setia mendengarkan uneg-uneg wanitanya. Setelah wanitanya itu sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi, barulah dia melepaskan pelukannya.
" Kamu tau berapa harga jas aku ini?" tanya Darren.
" Maaf"
" Karena aku cinta sama kamu, jadi aku tidak akan meminta ganti rugi sama kamu. Aku rela jas aku kamu jadikan tissue"
" Ck,, aku juga mampu gantiin jas kamu itu. Apa kamu lupa siapa aku?"
" Tentu saja tidak. Kamu adalah calon istriku, ratu dalam hatiku"
" Ternyata tuan muda Narendra sudah pintar menggombal"
" Itu bukan gombalan, tapi itu kata hatiku"
Darren membelai rambut wanitanya. Ia menatap kedalam manik hitam mata sang pujaan hati.
" Jangan bersedih lagi hanya karena lelaki bodoh itu. Ada aku disini "
" Hhmm"
" Apa perlu aku hancurkan perusahaannya?" tanya Darren.
" Jangan! "
" Kenapa?"
" Kasihan para karyawan yang bekerja di sana. Lagipula aku tidak suka mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan"
" Baiklah, apapun kata kamu akan aku turuti"
" Makasih"
" Sama-sama honey. Sekarang istirahatlah, dua hari lagi kita akan fitting baju pengantin dan melihat dekorasi pernikahan kita"
" Hhmm"
" Aku pamit dulu ya" kata Darren sambil mengecup kening sang pujaan hati.
" Hati-hati di jalan"
Darren menganggukkan kepalanya. Ia berpamitan sama kedua orang tua Kiran. Setelah itu barulah dia pergi meninggalkan rumah orang tua Kiran. Mobil mewah milik Darren melaju meninggalkan kediaman orang tua wanitanya.
Sepeninggal Darren, Nadia baru menghampiri sahabatnya itu. Ia tau bagaimana sedihnya Kiran karena lelaki masa lalunya itu.
" Princess"
" Hhmm"
" Apa Darren sudah pulang?" tanya Nadia basa basi.
" Udah, barusan"
" Aku tau bagaimana perasaan kamu, tapi sekarang kamu harus fokus pada pernikahan kamu. Tidak usah menangisi lelaki bodoh seperti Daffin itu"
" Iya Nad, aku nggak akan sedih lagi"
" Harus, sekarang udah masanya untuk kamu bahagia"
" Makasih, karena selalu mensupport aku" kata Kiran sambil memeluk sahabatnya.
__ADS_1
" Sama-sama, itulah gunanya teman"
Hari ini terakhir kalinya Kiran menangisi lelaki bodoh seperti Daffin. Ia akan fokus pada hubungannya dengan Darren. Ia akan berusaha mencintai lelaki tampan itu dengan sepenuh hatinya.
Di tempat lain.
Daffin menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya. Ia hanya menyisakan foto dia dan Kiran saat SMA. Foto itu terakhir kali di ambil saat dia memberikan hadiah saat Kiran memenangkan lomba cerdas cermat.
" Kenapa kamu lebih memilih lelaki itu. Aku lebih mencintai kamu daripada dia!" teriak Daffin.
Sinta segera menaiki tangga menuju kamar putranya karena mendengar bunyi barang-barang pecah.
Tok.
Tok.
Tok.
" Affin sayang buka pintunya"
" Pergi! mama, papa sama Abang sudah tidak sayang aku lagi. Kalian tidak mau melihat aku bersatu sama princess!"
" Mama, papa sama Abang sangat sayang sama kamu. Lupakan Kiran, dia sudah mau menikah"
" Nggak! aku mau Kiran menikah sama aku" kata Daffin sambil melemparkan Guci yang ada di kamarnya"
Aaaaa..
" Affin sayang, mama mohon jangan seperti ini Nak"
" Pergi! mama nggak usah sok peduli sama aku!"
Aldi bergegas menaiki tangga menuju kamar putra bungsunya, karena dia mendengar teriakkan sang istri.
" Pa, Daffin "
" Kenapa dengan Daffin?"
" Dia mengamuk"
Tok.
Tok.
Tok.
" Daffin, buka pintunya!"
" Pergi! pergi kalian semuanya!"
" Buka atau papa dobrak pintunya!" teriak Aldi.
" Aku benci sama papa, Abang dan juga Mama. Aku benci kalian semua!"
" Kamu boleh membenci papa, tapi buka pintunya" kata Aldi.
" Nggak mau, kalian semuanya jahat sama aku. Kalian tidak memberikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku pada princess"
" Kamu nggak cinta sama princess! kalau kamu cinta, kamu nggak akan pernah menyakiti dia"
" Aku cinta sama dia Pa, cinta banget?"
" Kalau kamu cinta, maka kamu akan bahagia melihat dia juga bahagia. Walaupun dia tidak bersama dengan kamu, itulah definisi cinta yang sebenarnya. Bukan memaksakan kemauan kita pada orang yang kita sayangi" tutur Aldi.
__ADS_1
" Kiran hanya akan bahagia bersama aku, bukan dengan lelaki lain"
" Apa kamu pernah membuat Kiran tersenyum?"
Deg.
Daffin memikirkan ucapan papanya tadi. Selama ini dia belum pernah membuat Kiran tersenyum. Ia malah terus-terusan memberikan luka pada wanita cantik itu.
" Kenapa kamu diam? apa kamu sudah membahagiakan Kiran sampai hari ini?" tanya papanya lagi.
Terdengar suara tangis dari dalam kamar putranya. Aldi tau bagaimana perasaan putranya, tapi dia juga tidak suka melihat putranya yang selalu merendahkan putri sahabatnya itu. Karena dia tau bagaimana Vandy dan Anggun terpuruk saat berjauhan dengan putri kesayangan mereka, dan itu semua karena ulah putranya.
" Ikhlas kan princess. Dia sudah menemukan lelaki yang tepat untuknya. Lelaki yang bisa menjaga, melindungi dan juga membahagiakannya " kata Aldi lagi.
" Tapi aku mencintainya pa"
" Bukankah papa sudah bilang, kalau kamu mencintai princess maka biarkan dia bahagia. Karena cinta itu membahagiakan orang yang kita cintai, walaupun itu bukan bersama kita"
" Tapi aku nggak bisa melihat dia bersanding dengan lelaki lain"
" Berarti itu bukan cinta, tapi obsesi"
" Itu bukan obsesi papa"
" Lantas apa namanya kalau bukan obsesi? apa kamu pernah merasakan detak jantung kamu berdegup dengan kencang saat menatap princess?"
Lagi-lagi Daffin bungkam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan papanya. Dia memang tidak pernah merasakan jantungnya berdegup kencang saat menatap Kiran. Apa dia hanya terobsesi?.
" Kalau kamu merasakan jantung kamu berdegup kencang saat menatap Kiran, maka itu bisa di artikan dengan cinta. Tapi jika jantung kamu normal, berarti kamu tidak cinta dengan dia. Jadi berhentilah membodohi diri sendiri" kata Aldi lagi.
" Papa sama pergilah, aku mau sendiri dulu"
" Jangan melakukan hal yang aneh-aneh Daffin" kata sang mama.
" Mama tenang saja, aku nggak akan pernah melakukan hal aneh-aneh"
" Kalau kamu mau melakukan hal bodoh juga nggak apa-apa. Karena yang rugi kamu sendiri " kata sang Abang yang muncul entah dari mana.
" Gian!" teriak sang mama.
" Dia sudah besar, jadi dia sudah bisa berpikir mana yang baik untuk dirinya sendiri. Biarkan dia meratapi kebodohannya. Salah sendiri dulu memilih batu kerikil dari pada berlian" kata Gian.
" Jangan bicara seperti itu lagi, adek kamu sedang terpuruk. Dia butuh dukungan kita"
" Mama nggak tau apa yang dia lakukan anak kesayangan mama itu"
" Emang dia melakukan apa?"
" Lagi-lagi dia menghina Kiran di depan umum" jawab Gian.
Sinta kaget sambil menutup mulutnya. Ia tidak menyangka kalau putra bungsunya itu akan melakukan hal yang sama lagi.
" Apa, Anggun sama Vandy tau tentang masalah ini?"
" Nggak" kata Gian sambil menggelengkan kepalanya.
" Jadi biarkan dia menyadari kesalahannya Ma, Pa, dia benar-benar sudah kelewatan. Aku tidak bisa mengenali adik ku lagi Ma, Pa. Dia bukan Daffin yang dulu lagi. Adikku yang dulu tidak seperti ini" kata Gian.
Daffin menangis, apa yang dikatakan Abangnya memang benar. Dia sudah terlalu menyakiti Kiran, jadi wajar kalau Abangnya membenci dirinya. Mata Daffin menatap pecahan kaca yang ada di depannya. Ia meraih pecahan kaca itu.
Maafkan aku Ma, Pa, Abang.
To be continue.
__ADS_1
Happy Reading ππ