Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Persalinan


__ADS_3

Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang lelaki tampan sedang berdiri dengan tersenyum tanpa dosa. Ia tau kalau sahabatnya itu lagi kesal karena acara ngadon nya terganggu. Tapi mau gimana lagi, ada hal urgent.


" Ngapain lo malam-malam begini berkeliaran di sini?"


" Kita harus segera ke rumah sakit?"


" Kita? Lo aja kali, gue mah enggak!"


" Gue nggak lagi becanda Romy!" hardik Darren.


Ya pengganggu itu adalah bos sekaligus sahabat Romy.


" Siapa juga yang bercanda?"


" Ya udah ayo ke rumah sakit"


" Ngapain?"


" Istri gue mau melahirkan"


" Apa..!"


" Nanti aja kagetnya, sekarang kita ke rumah sakit dulu"


" Bentar gue pamitan dulu sama bini gue"


" Ya udah buruan"


Romy masuk kembali ke dalam kamar. Ia berpamitan pada istrinya.


" Yank, aku mau ke rumah sakit dulu. Mainnya kita tunda nanti aja ya"


" Emang siapa yang sakit Bee?"


" Kiran mau melahirkan"


" Aku ikut Bee"


" Kamu nyusul aja nanti ya, soalnya Darren lagi khawatir banget" kata Romy sambil mengecup kening sang istri.


" Baiklah, hati-hati di jalan. Nanti jangan lupa kasih kabar ya "


" Siap. Aku jalan dulu "


" Hhmm"


" Bee"


" Ya"


" Apa kamu akan pergi dengan memakai celana kolor kek gitu?"


" Oh, astaga" kata Romy sambil menepuk jidatnya.


Ia segera memakai celana jeans selutut. Setelah selesai, ia segera keluar dari kamar dan menemui Darren.


" Lama amat sih lo?!"


" Gue ganti celana dulu tadi"


" Ya udah buruan jalan!"


Darren mempercepat langkahnya, karena istrinya sedang kesakitan. Romy pun mengikuti langkah kaki sahabatnya itu.


" Sayang" panggil Darren setelah sampai di dalam kamarnya.


" Hhmm"


Romy menatap tajam sahabatnya itu. Tadi dia bilang istri kesakitan karena mau melahirkan, tapi apa yang dilihatnya. Kiran sedang asik menonton Drakor.


" Lo bohongin gue ya?!"


" Kagak, tadi istri gue beneran kesakitan"


" Tuh buktinya istri lo baik-baik aja. Malahan dia lagi nonton sambil ngemil"

__ADS_1


" Sayang, perut kamu udah nggak sakit lagi?"


" Nggak By. Terus Romy ngapain ada di sini? bukankah kalian lagi itu?"


" Gagal gara-gara suami kamu "


" Apa benar By, apa yang dibilang sama Romy?"


" Iya sayang, habisnya aku panik"


Ya Kiran tidak tau kalau suaminya pergi ke kamar Romy. Karena saat dia kesakitan suaminya itu panik dan langsung keluar untuk mencari bantuan. Tapi ia tidak menyangka kalau suaminya akan meminta bantuan dari Romy.


" Panik boleh. Tapi jangan ngerusak momen gue juga dong?"


" Oh, jadi lo marah sama gue"


" Ya jelas lha. Gue lagi on on nya, Lo malah main pencet-pencet aja tu bel"


" Untung nggak gue dobrak pintunya"


" Sahabat nggak ada akhlak lo"


" Maaf ya Rom udah mengganggu waktu istirahatnya. Silakan lanjutkan kembali istirahatnya" kata Kiran.


" Berhubung gue orang baik, maka gue maafin. Tapi jangan ganggu lagi, dah di ujung tanduk nih "


Darren tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya saat lagi on terus ada yang ganggu, rasanya itu ngenes banget.


" Ya udah balik sono ke tempat bini Lo" usir Darren.


" Ck,, tadi lo yang butuh, habis itu lo ngusir gue. Benar-benar sahabat nggak ada akhlak lo" kata Romy sambil membanting pintu kamar itu.


Brak...


" Astagfirullah, Romy!" teriak Darren.


" Udah malam, jangan teriak-teriak By"


" Habis Romy bikin kaget "


" Kan karena panik sayang. Tapi beneran perut kamu nggak sakit lagi?"


" Bener By"


" Syukurlah. Sekarang kita tidur lagi ya, udah malam"


" Oke"


Darren mematikan televisi nya. Setelah itu ia dan sang istri langsung menuju pembaringan. Baru saja ia akan tidur tiba-tiba perut istrinya sakit kembali.


Aawwww..


" Kenapa?" bertanya dengan nada khawatir.


" Sakit By"


" Beneran sakit lagi? "


" Hhmm"


" Aku harus bagaimana. Apa aku harus manggil Romy lagi?"


" Jangan, panggil mommy saja"


" Sebentar aku hubungi mommy dulu"


Darren segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor mertuanya. Tidak butuh waktu lama sambungan telepon pun tersambung.


" Assalamualaikum Mom"


" Wa'alaikum salam"


" Maaf mengganggu mommy malam-malam begini. Istri aku mau melahirkan Mom"


" Melahirkan? mommy akan segera ke sana"

__ADS_1


Panggilan telepon pun berakhir. Darren menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Ia mengurut pinggang sang istri, supaya rasa sakitnya sedikit berkurang.


" By sakit" kata Kiran sambil mencengkram erat tangan suaminya.


" Sabar ya sayang ntar lagi mommy datang"


" Aku udah nggak kuat By"


Darren tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Andai saja rasa sakitnya bisa di pindahkan, ia ingin dia saja yang merasakan rasa sakit itu. Tak berselang lama orang tua dan mertua Darren pun datang.


" Kenapa kamu masih di sini, cepat bawa mantu mommy ke rumah sakit" kata Clarissa.


" Iya Mom"


Vandy segera menghubungi nomor kang Tito untuk segera menyiapkan mobil. Jadi setelah mereka sampai di lobi hotel, mereka bisa langsung berangkat.


Darren segera menggendong tubuh istrinya. Walaupun tubuh istrinya sekarang sudah berat dari biasanya, tapi ia tidak tega melihat sang istri berjalan menuju lift.


Mereka semua masuk kedalam lift. Setelah semuanya masuk, benda berbentuk kotak itu langsung bergerak turun kebawah.


Anggun mengusap keringat yang ada di wajah putrinya. Ia tau sakit yang di rasakan oleh istrinya. Karena ia pernah berada di posisi seperti itu.


Ting.


Pintu lift terbuka Darren segera keluar dari dalam lift. Diikuti sama yang lainnya. Kiran berusaha menahan rasa sakitnya.


Di depan hotel kang Tito sudah menunggu kedatangan tuannya. Ia segera membuka pintu mobil saat melihat Darren keluar dengan menggendong nona kecilnya.


Darren duduk di kursi penumpang, karena ia akan menemani istrinya. Sedangkan yang lain duduk di kursi belakang Darren dan Kiran.


Setelah semuanya masuk kedalam mobil. Kang Tito segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik keluarga nona mudanya. Atau lebih tepatnya rumah sakit milik keluarga besar Wiguna.


Kiran masih mencengkeram lengan suaminya. Terkadang ia juga menggigit lengan sang suami. Darren hanya bisa pasrah menerima setiap gigitan yang diberikan istrinya. Karena rasa sakit yang dirasakannya, tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya.


" Bisa ngebut nggak Om" kata Darren.


" Ini juga udah ngebut Den"


" Ngebut apaan, jalan kek siput kek gini"


" Darren kamu itu berisik banget" kata sang mommy.


" Habisnya Om Tito bawa mobilnya lambat Mom"


" Lambat gundul mu. Ini itu udah ngebut"


Darren pun kemudian diam. Ia meratapi nasibnya yang malang. Mungkin setelah ini tangannya tidak berbentuk lagi. Mau nangis pun malu. Ntar dibilang cengeng.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Kedatangan mereka langsung di sambut sama dokter Linda. Dokter kandungan keluarga besar Wiguna.


Kiran langsung di bawah ke ruang persalinan. Darren dengan setia mendampingi istrinya. Yang lain juga ikut menemani sampai di depan ruang persalinan. Karena yang boleh masuk selain dokter hanya suaminya.


Linda melihat jalan lahir. Ia agak ragu Kiran bisa melahirkan normal. Mengingat bayi yang akan dilahirkan ada dua. Jadi resikonya sangat tinggi untuk melahirkan normal.


" Apa nona yakin mau melahirkan normal?"


" Iya Dok"


" Tapi resiko melahirkan normal saat ini sangat tinggi nona"


" Sayang, mending operasi aja ya. Aku takut kamu kenapa-napa?"


" Insya Allah nggak By. Aku ingin melahirkan normal, sama seperti mommy ku"


" Tapi dokter bilang resikonya sangat tinggi sayang?"


" Aku tau By. Tapi aku mau mencoba melahirkan normal. Nanti kalau aku nggak kuat, baru kita pilih jalan operasi"


" Baiklah"


Walaupun masih khawatir, ia juga tidak bisa menahan keinginan istrinya untuk melahirkan normal. Tapi ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anak-anaknya. Ia berdoa semoga kekhawatirannya tidak terjadi.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2