Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Sultan rendah hati


__ADS_3

Kiran sangat senang karena baby twins tidak rewel. Tapi bayi besarnya yang bawel. Bayangkan saja suaminya itu sudah dua puluh kali menghubunginya hanya ingin menanyakan baby twins rewel atau nggak. Seperti sekarang ini, bayi besarnya itu sedang menghubunginya.


" Kamu nggak ada kerjaan ya By?"


" Kerjaan aku banyak sayang"


" Terus kenapa kamu telpon aku terus, dan pertanyaan kamu itu-itu saja"


" Aku kan khawatir sama kamu dan baby twins"


" Ya kan udah udah aku bilang dari awal tadi. Aku sama twins baik-baik aja"


" Tetap aja aku masih khawatir"


" Makasih karena sudah mengkhawatirkan aku sama baby twins. Sekarang hubby kerja ya. Karena aku juga mau kerja"


" Baiklah, love you mommy twins "


" Love you more daddy twins "


Panggilan pun berakhir. Kiran meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya. Ia tidak habis pikir dengan suaminya itu.


" Kalian dengarkan sayang, daddy sangat mengkhawatirkan kita. Jadi kesayangan mommy jangan rewel ya"


Kiran melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda gegara suaminya itu. Ia mulai fokus kembali pada tumpukan dokumen yang ada di mejanya itu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Darren merasa lega karena baby twins tidak rewel. Ia takut kalau baby twins rewel, istrinya akan kewalahan. Soalnya kalau Alexa nangis, maka Axel juga akan nangis.


" Gimana? Kiran marah nggak sama lo?"


" Kenapa istri gue harus marah?"


" Karena lo telpon dia dari tadi"


" Dia nggak marah, tapi kesal iya" kata Darren sambil terkekeh.


" Wajarlah dia kesal. Gue aja yang denger Lo nelpon juga kesel"


" Gue yang telponan, kenapa lo yang kesel"


" Gimana nggak kesel Lo telponnya dua kali dalam lima menit. Dan yang Lo tanya itu mulu"


" Ntar kalau Lo udah punya anak, Lo akan ngerasain juga gimana rasanya kek gue. Dan mungkin lo akan lebih ngeselin daripada gue "


" Iya juga sih. Tapi gue takut bro"


" Takut kenapa?"


" Takut liat istri gue kesakitan saat melahirkan"


" Wajar sih kalau lo takut, karena gue udah pernah liat istri gue berjuang untuk melahirkan kedua anak gue. Tapi dibalik itu rasa khawatir dan takut gue hilang kala mendengar tangisan anak gue. Dan momen itu tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup gue"


" Lo bener. Mudah-mudahan gue bisa dampingi istri gue nanti saat melahirkan"


" Bisa, karena dengan begitu istri lo jadi bersemangat untuk melahirkan anak kalian nanti"


" Thank's bro. Sekarang gue mau balik ke ruangan gue dulu. Soalnya kerjaan gue sudah masih banyak"


Romy pun keluar dari ruangan bos sekaligus sahabatnya itu. Setelah mendengar cerita Darren tadi, ia tidak sabar ingin mendampingi istrinya melahirkan.

__ADS_1


Sepeninggal sahabatnya Darren pun juga kembali mengerjakan pekerjaannya. Karena ia ingin pekerjaan selesai sebelum waktu makan siang nanti, karena ia akan menjemput istrinya jam makan siang nanti.


Waktu begitu cepat berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Para karyawan perusahaan Narendra Group bersiap untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan dari tadi.


Sama dengan para karyawannya, sang pemilik perusahaan pun bersiap untuk menjemput sang istri. Mereka akan makan siang di rumah. Darren memberikan izin istrinya bekerja hanya sampai jam makan siang. Karena lingkungan kantor juga tidak baik untuk twins. Walaupun ruangan sang istri sudah di dekorasi ulang. Tapi tetap aja suasana di kantor tidak baik untuk twins.


Darren menyimpan semua dokumen penting yang sudah ia tanda tangani tadi. Setelah itu ia mengambil kunci mobilnya. Dan bersiap untuk menjemput sang istri.


Ia bisa pulang cepat hari ini, karena kerjaannya sudah selesai. Jadi ia bisa pulang bareng istri dan anaknya. Tapi tidak dengan besok, karena besok ia ada meeting dengan investor asing.


Darren keluar dari ruangannya. Saat ia akan membuka pintu. Pintu sudah dibuka dari luar, alhasil jidatnya mencium pintu.


Awww...


" Lo ngapain dibalik pintu? main petak umpet?"


" Main petak umpet udel mu! jelas-jelas gue mau keluar, eh Lo malah buka pintu. Benjol nih jidat gue"


" Ya elah, baru dicium dikit aja sama pintu udah benjol aja. Lemah banget sih Lo"


Pletak.


Aawww..


Sekarang giliran Romy yang mengadu kesakitan karena Darren memukul kepalanya cukup keras.


" Sakit kan?"


" Ya sakit lha"


" Sama kek gue. Sakit saat dicium tu pintu"


" Pendendam banget sih lo, Ren"


" Ngajak Lo balik lha"


" Balik?"


" Iya, gue mau jemput istri gue. Lo juga kan?"


" Hhmm"


" Ya udah kita bareng"


" Wait..wait, Lo juga mau pulang cepat hari ini?"


" Iya. Kenapa?"


" Enak banget lho ya mau pulang cepat. Terus kerjaan lo gimana?"


" Udah selesai bos. Lagian gue juga baru kali ini pulang cepat"


" Bohong! semenjak istri lo hamil, Lo pulangnya cepat terus"


" Ya maklum lha Ren, bini gue nggak bisa jauh-jauh dari gue"


" Alasan. Bilang aja lo yang nggak mau jauh-jauh dari bini Lo"


" Kenapa sih lo itu nggak bisa bohong dikit buat nyenengin hati gue"


" Males banget "

__ADS_1


Darren segera masuk kedalam lift, diikuti sama Romy. Lift pun membawa kedua lelaki tampan itu ke lantai satu.


Ting.


Kedua lelaki tampan itu keluar setelah pintu lift terbuka. Mereka berjalan dengan cool di lobi kantor. Untung suasana lobi saat itu sedang sepi. Kalau tidak mungkin para karyawan wanita sudah dibuat meleleh oleh kedua lelaki tampan itu.


Darren melajukan mobilnya meninggalkan area kantor menuju perusahaan sang istri. Diikuti sama mobil Romy di belakang.


Saat melewati pedagang buah, Darren menepikan mobilnya. Ia ingin membelikan buah mangga untuk sang istri. Karena istrinya itu sangat suka buah mangga. Romy juga berhenti di toko buah itu.


" Lo kok ikut berhenti juga?"


" Gue mau beli buah juga"


" Dasar asisten nggak kreatif"


Darren menghampiri pedagang buah itu.


" Beli mangga Pak"


" Berapa kilo Den"


" Lima kilo Pak"


Bapak itupun menimbang mangga sesuai permintaan Darren.


" Ada tambahan yang lain lagi Den?"


" Jeruk Pak"


" Jeruknya mau berapa kilo?"


" Lima kilo juga Pak"


Bapak itu memilihkan jeruk yang bagus untuk Darren.


" Ada lagi Den?"


" Cukup Pak. Teman saya juga mau beli buah Pak"


Romy pun menyebutkan buah yang ingin dia beli. Bapak pedagang buah itu pun menimbang buah pesanan Romy.


" Berapa total belanjaan saya Pak?" tanya Darren.


" Seratus tujuh puluh lima Den"


Darren mengambil uang pecahan seratus ribu sebanyak sepuluh lembar. Dan memberikan pada Bapak penjual buah.


" Ini kebanyakan Den"


" Nggak apa-apa Pak, itu rezeki Bapak"


" Terima kasih banyak Den"


" Sama-sama Pak"


Darren ikut bahagia melihat senyum sang pedagang buah. Baginya uang segitu tidak seberapa, tapi bagi Bapak itu uang segitu sangat berarti. Makanya Darren lebih senang beli buah dari pedagang dipinggir jalan. Karena selain bisa membantu ekonomi mereka, ia juga ingin melihat senyuman mereka. Padahal kan dia bisa saja membeli buah yang di jual di supermarket atau di mall.


Setelah membayar buah yang ia beli tadi, kedua cowok tampan itu melanjutkan perjalanan mereka menuju perusahaan sang istri.


To be continue.

__ADS_1


Hai Reader terzayang, udah hari Senin nih, boleh dong minta vote sama hadiahnyaπŸ€—πŸ€—


Happy reading 😚😚


__ADS_2