
Semua keluarga besar Kiran dan juga Darren sudah berada lokasi resepsi. Mereka akan bersiap untuk acara resepsi. Begitu juga dengan manten baru itu. Karena hajatan ini dibuat untuk pasutri baru itu.
MUA sudah standby di sana. Mereka siap untuk melaksanakan tugas kedua mereka. Karena masih ada waktu satu jam lagi untuk mereka bersiap-siap. Ya sekarang mereka sedang berada di hotel.
Kiran memakai gaun pengantin yang kemarin sudah di pilih oleh suaminya itu. Ya untuk memilih gaun yang cocok saja menghabiskan waktu berjam-jam. Bukan karena gaunnya yang nggak cocok, tapi suaminya kemarin banyak protes.
Para pelayan membantu nona muda mereka memakai gaun pengantin. Kiran terlihat seperti putri di negeri dongeng memakai gaun seperti itu. Gaunnya memang tidak terlalu panjang, karena mereka akan mengadakan acara resepsi di pantai.
" Nona sangat cantik seperti Cinderella" puji salah satu pelayannya.
" Iya, pasti tuan muda tambah klepek-klepek sama nona"
" Bibik bisa aja mujinya"
Setelah selesai memakai gaun pengantinnya. Kiran duduk di kursi yang ada di sana, karena sebentar lagi dia akan di make up. Sebenarnya dia tidak ingin di make up lagi. Tapi apalah daya, ini demi menunjang penampilannya.
Darren masuk kedalam kamar hotel tempat istrinya berada sekarang. Ia melihat sang istri sedang di make up. Dia berjalan menghampiri bidadari surganya itu.
" Tuan muda" kaget MUA.
" Lanjutkan saja, saya mau melihat"
Kiran membuka matanya karena mendengar suara yang sangat dia kenal. Benar saja, suaminya sedang tersenyum kepadanya. Lelaki itu semakin tampan memakai tuxedo yang senada dengan gaunnya.
" Aku tau kalau aku tampan"
" Ck,, pede banget"
" Harus dong, kalau nggak pede mana mungkin aku berani meminang wanita cantik kek kamu"
Kiran memutar bola matanya jengah. Suaminya itu memang pintar menggombal. Sedangkan petugas MUA itu hanya tersenyum mendengar ucapan tuan muda keluarga Narendra itu.
" Harap maklum ya Mbak" kata Kiran pada mbak MUA.
" Nggak apa-apa nona, lagi pula apa yang di bilang tuan muda memang benar"
" Tu kan bener. Mbak ini aja mengakuinya"
" Tapi nggak kek gitu juga"
" Gemesin deh kalau lagi kesal kek gitu" kata Darren sambil mengecup bibir sang sang istri sekilas.
Mata Kiran langsung mebulat sempurna. Dia kaget sekaligus malu karena suaminya berani menciumnya di depan umum. Sedangkan mbak MUA mematung, dia tidak menyangka akan menyaksikan adegan yang membuatnya ikut panas dingin. Mana suaminya jauh lagi.
" Darren!" pekik Kiran.
" Ya honey"
" Kenapa cium-cium "
" Karena kamu istri aku, wajarlah kalau aku cium. Kalau cium mbaknya baru nggak wajar"
" Kamu keluar sana! gangguin aja"
" Ngusir nih ceritanya?"
__ADS_1
" Hhmm"
" Sekarang ngusir, ntar kalau kangen di cariin"
" Nggak akan"
" Yakin nih?"
" Udah keluar sana!"
" Aku tunggu di sini aja deh honey. Aku janji nggak akan ganggu lagi"
" Baiklah "
Mbak MUA melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan kerjaannya, karena kalau berlama-lama di sini. Tidak mustahil dia akan melihat adegan unboxing secara live. Membayangkannya saja sudah membuat otaknya traveling.
Darren membuktikan ucapannya, ia tidak lagi menggoda sang istri. Karena dia sedang asik dengan game yang ada di ponselnya. Akhirnya pekerjaannya selesai juga. Dia pun pamit undur diri pada pasutri itu.
πΈπΈπΈ
Para awak media sudah hadir untuk ikut memeriahkan pernikahan anak sultan itu. Mereka juga sudah siap dengan kamera masing-masing, karena mereka akan mengabadikan momen bersejarah dari keluarga yang paling berkuasa di Asia dan Eropa itu.
Para tamu sudah mulai berdatangan. Sampai di tempat acara, mereka di sambut sama foto besar Kiran dan Darren. Setelah itu para tamu akan di periksa satu persatu oleh pihak keamanan yang bertugas. Setelah selesai barulah mereka di perbolehkan duduk.
" Wah dekorasi bagus banget"
" Iya, kita juga bisa melihat laut lepas"
" Benarkah?"
" Iya, kalian tau berapa pundi-pundi uang yang di keluarkan oleh keluarga ini"
" Benar-benar sultan "
" Itu belum seberapa, mahar yang di berikan mempelai pria aja satu buah pulau"
" Pulau?"
" Iya pulau"
" Sungguh beruntung wanitanya"
" Iya, kita aja dulu boro-boro di kasih pulau. Cincin berlian aja masih kredit"
" Curhat Buk"
Para ibu-ibu itupun tertawa bersama. Sambil menunggu mempelai datang mereka berselfie untuk mengabadikan momen merebut. Jadi suatu saat nanti mereka akan menceritakan pada cucu mereka kalau mau cari suami harus seperti keluarga Narendra.
Macam-macam dessert juga tersedia untuk dicicipi para tamu nanti. Tamu yang sudah datang tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan gambar dessert itu. Setelah itu mereka mengunggahnya di media sosial. Sungguh ibu-ibu sosialita banget.
Setelah puas mengambil foto untuk mereka unggah ke sosmed. Ibu-ibu itu berpindah ke tempat para pelayan dan juga koki yang sibuk menyiapkan makanan berat untuk mereka santap nanti.
__ADS_1
Ibu-ibu itu benar-benar takjub melihat hidangan yang ada di sana. Semuanya makanan mahal dan pastinya bahan-bahan yang di gunakan sangat berkualitas tinggi. Dan rasanya sudah pasti endul banget.
Setelah puas berkeliling, ibu-ibu itu pun memutuskan untuk duduk. Mereka mencari tempat duduk yang agak didepan. Karena mereka ingin melihat kedua mempelai dari dekat.
Sinta dan keluarganya sudah datang, berbarengan dengan keluarga Sisil. Anggun menyambut kedatangan kedua sahabatnya itu.
" Megah banget resepsi princess" puji Sinta.
" Namanya juga hajatan anak sultan Sin" kata Sisil.
" Lo berdua bisa aja, silakan duduk. Maaf gue belum bisa nemenin ngobrol lama-lama, soalnya mau menyambut rekan bisnis suami gue"
" Santai aja Nggun, kita maklum kok "
" Makasih pengertiannya. Silakan cicipi makanannya, gue ke sana dulu ya"
" Ok "
Setelah bertegur sapa dengan para sahabatnya, Anggun kembali ke tempat suami dan besannya berada.
MC menginformasikan kalau kedua mempelai akan segera bergabung. Semua tamu berdiri untuk menyambut kedatangan raja dan ratu sehari. Mereka sudah tidak sabar melihat kecantikan dan ketampanan mempelai.
Langkah kaki sudah mulai terdengar dan mendekati tempat resepsi. Para fotografer sudah bersiap untuk mengabadikan momen itu. Begitu juga dengan para wartawan, dan kameraman.
Bunyi kamera dan juga lampu Blitz sudah terdengar di sana. Para tamu begitu terpesona akan kecantikan kedua mempelai itu. Mata mereka tidak berkedip memandang ciptaan Tuhan.
Kiran dan Darren memberikan senyuman manis mereka untuk menyapa para awak media dan juga para tamu yang datang. Kedua mempelai itu terus berjalan melewati para tamu yang juga sedang mengambil foto mereka dari kamera ponsel. Kiran dan Darren berjalan menuju pelaminan.
Para tamu mulai mengantre untuk bersalaman dengan manten baru itu. Mereka membuat antrean yang sangat panjang. Bahkan panjangnya ngalahin gerbong kereta api. Lebay.
Darren dan Kiran sangat senang karena melihat antusias tamu yang ingin mengucapkan selamat dan juga doa untuk mereka berdua. Rasa syukur tak pernah lepas keluar dari mulut wanita cantik itu.
" Kamu jangan sering-sering senyum kek gitu?" kata Darren.
" Kenapa?"
" Karena senyum kamu itu manis dan menawan. Ntar para tamu diabetes"
" Kamu akhir-akhir ini suka banget menggombal"
" Beneran honey. Apalagi bibir kamu itu, sangat manis "
Wajah Kiran langsung memerah. Bagaimana tidak sebelum kesini suaminya itu juga menciumnya hingga dia harus memoles kembali lipstik ke bibirnya. ( Mentang-mentang udah halal nyosor terus ya Renπ€).
" Stop! jangan bahas soal itu lagi"
Darren makin gemas dengan istrinya itu. Ingin rasanya dia mengurung saja wanita cantik yang sudah berstatus istri itu di dalam kamar supaya tidak ada yang meliriknya. Tapi sepertinya hari ini dia harus rela dan juga ikhlas wanitanya di tatap oleh para tamu.
To be continue.
Udah up dua bab nih. Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya π€π€
Happy Reading ππ
__ADS_1