
Darren dan Romy sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Seperti biasa para bodyguardnya datang menyambut kedatangan tuan muda mereka.
" Selamat datang kembali tuan muda"
" Hhmm"
Salah satu bodyguard itu membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya dan juga Romy. Setelah itu mobil mewah itu melaju meninggalkan bandara.
" Apa mommy saya masih ada di mansion?"
" Masih tuan muda. Bahkan tuan besar juga ada di sana"
" Daddy?"
" Iya tuan muda"
" Kapan daddy datang?"
" Tadi sore tuan"
Tanpa terasa mobil mewah itu sampai di apartemen mewah milik Romy. Romy turun dari mobil sahabatnya itu.
" Lo nggak mau mampir dulu?"
" Lain kali aja deh bro"
"Cie yang udah nggak sabar mau peluk istrinya"
" Iya dong, daripada meluk guling kan nggak asik"
" Udah pulang sana!"
Darren tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia tau kalau sahabatnya itu lagi kesal kalau di singgung masalah pergulingan.
" Ya udah, gue cabut dulu. Selamat tidur dengan memeluk guling bro"
" Sialan lo"
Mobil mewah milik Darren melaju kembali meninggalkan apartemen milik Romy. Sekarang tujuan mobil mewah itu adalah mansion mewah miliknya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, mobil mewah itu sampai di depan pintu gerbang mansion mewah miliknya. Bodyguard Darren membunyikan klakson mobilnya. Tanpa menunggu lama, pintu gerbang terbuka. Bodyguard itu melajukan mobilnya masuk.
Darren turun dari mobil, setelah mobil itu berhenti tepat di depan pintu mansion-nya. Sama seperti di bandara tadi, para bodyguardnya yang ada di sana langsung menyambut kedatangan tuan muda mereka.
" Tolong bawa barang-barang saya masuk ke dalam"
" Siap tuan muda"
Setelah memberikan perintah pada salah satu bodyguardnya, barulah Darren masuk ke dalam mansion.
Suasana di mansion terlihat sepi. Karena Darren sampai di sana sudah jam 9 malam. Ia tidak melihat keberadaan istri sama orang tuanya. Mungkin istrinya ada di kamar. Ia pun naik ke atas menuju kamarnya.
Darren membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Saat pintu kamar terbuka, ia melihat istrinya sedang terlelap di atas kasur mereka.
Seulas senyum pun terbit di bibir lelaki tampan itu. Ia berjalan menghampiri istrinya yang baru satu hari ditinggalkannya itu. Rasa rindu langsung membuncah kala melihat wanitanya terlelap dengan sangat nyenyak.
Darren masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia akan melepaskan rindu dengan istrinya itu.
Beberapa menit kemudian.
Lelaki tampan itu sudah selesai mandi. Sekarang tubuhnya sudah terasa fresh. Darren berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya.
__ADS_1
Selesai mengganti pakaiannya. Ia langsung menuju ranjangnya. Darren membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Ia memeluk istrinya dari belakang. Dia menghirup wangi tubuh sang istri.
" Aku kangen banget sama kamu sayang"
Darren menyingkirkan rambut yang menutupi wajah sang istri. Ia mengecup kening dan juga puncak kepala istrinya. Kemudian ia menatap perut sang istri yang masih terlihat rata. Ia mengelus perut itu dengan sangat lembut.
Kiran mengejapkan matanya saat merasakan sentuhan. Ia melihat suaminya sedang tersenyum padanya.
" Hubby"
" Iya sayang ini aku"
" Bukannya hubby bilang pulangnya besok?"
" Masalah di kantor cabang udah selesai, jadi aku nggak mau nunggu besok untuk bertemu istriku yang cantik ini. Rindu"
Kiran memeluk tubuh suaminya. Sama seperti yang dilakukan Darren tadi. Dia juga menghirup aroma tubuh suaminya. Ia sangat suka aroma tubuh suaminya itu.
Darren merasa geli saat istrinya mengecup dadanya. Bukan geli, tapi lebih tepatnya istrinya itu membangunkan sesuatu yang sedang tertidur lelap.
" Sayang jangan seperti itu, nanti ada yang bangun"
Kiran tidak menghiraukan ucapan suaminya itu. Ia masih melakukan aksinya itu. Ia juga tidak tau kenapa pengin sekali mengecup dada suaminya itu.
" Sayang" panggil Darren dengan suara yang berat.
" Hhmm"
" Aku udah nggak tahan" kata Darren yang langsung mencium bibir sang istri. Kiran pun membalas ciuman suaminya.
Lama-lama ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Darren membuka kancing baju istrinya satu persatu, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Ciuman itu perlahan turun ke leher jenjang sang istri. Darren menyesap lembut kulit leher itu, hingga meninggalkan bekas yang sangat ia sukai.
Darren masih asik menyesap puncak gunung kembar itu secara bergantian. Terkadang ia juga seperti bayi yang kehausan. Ia menyusu di gunung kembar itu.
Setelah sesuatu yang di bawa sana sudah basah. Darren langsung mengarah juniornya pada gawang yang sudah basah itu. Dengan satu hentakan junior itu berhasil masuk kedalam.
Suasana kamar itu menjadi panas akibat dua insan yang sedang memadu kasih itu. Walaupun AC sudah menyala, tapi tidak mengurangi panasnya permainan mereka. Suara d*s*h*n dan juga erangan bersautan di dalam kamar itu.
Kiran merasa sesuatu di dalam sana ingin keluar. Ia m*r*m*s rambut suaminya. Darren yang merasa istrinya sudah mau sampai ke puncak pun mempercepat gerakannya. Akhirnya mereka berdua pun sampai di puncak.
" Makasih sayang" ucap Darren sambil mengecup kening sang istri.
Kiran hanya membalas dengan senyuman ucapan suaminya itu. Darren memeluk tubuh istrinya itu.
" Tidurlah besok pagi kita akan ke rumah sakit?"
" Ke rumah sakit?"
" Hhmm"
" Ngapain? kan aku nggak sakit?"
" Untuk memastikan sesuatu sayang"
" Apa?"
" Besok kamu juga akan tau. Sekarang kita tidur ya"
" Hhmm"
__ADS_1
Kiran memejamkan matanya. Walaupun ia ingin bertanya kenapa mereka harus ke rumah sakit besok. Apa ada penyakit yang sangat serius di dalam tubuhnya.
" Tidurlah, jangan berpikiran yang aneh-aneh"
" Apa aku punya pe--"
Belum sempat Kiran melanjutkan ucapannya. Darren sudah membungkam mulut istrinya dengan ciumannya.
" Jangan ngomong yang aneh-aneh, kamu itu baik-baik aja"
" Lalu kenapa kita harus ke dokter?"
" Besok kamu akan tau sayang, sekarang kita tidur ya?"
Kiran akhirnya pasrah, suaminya itu tidak mau memberi tau dirinya perihal kenapa mereka harus ke rumah sakit. Ia pun mencoba memejamkan matanya, walaupun masih banyak pertanyaan di kepalanya.
Setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap, barulah Darren memejamkan matanya. Ia juga tidak ingin merahasiakan ini dari sang istri. Tapi alangkah baiknya di pastikan dulu, supaya nanti tidak kecewa.
Keesokan harinya.
Darren dan istrinya siap pergi ke rumah sakit. Lelaki tampan itu selalu terpesona melihat kecantikan istrinya. Apalagi saat ini istrinya itu terlihat sangat cantik dengan memakai dress selutut berwarna peach.
" Cantik banget sih istrinya aku?" puji Darren.
Kiran menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Karena suaminya akan menciumnya. Ia tidak ingin lipstik yang dia pakai jadi rusak karena ulah suaminya itu.
" Kok ditutup sih?"
" Ntar lipstik aku belepotan karena ciuman panas kamu"
Darren terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Tapi benar apa yang dikatakan istrinya itu. Ia selalu tidak bisa mengontrol dirinya kalau berada di dekat istrinya itu.
" Yuk turun, mommy sama daddy pasti udah menunggu"
" Astaga, aku baru ingat kalau ada Mak tiri di sini"
Kiran menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya itu. " Yuk turun"
Darren merangkul pinggang sang istri. Mereka berdua segera turun kebawah untuk sarapan bersama dengan mommy dan Daddy mereka.
" Morning Mom, Dad" sapa Darren setelah mereka berada di ruang makan.
" Eh anak nakal, kapan kamu pulang?" tanya Clarissa.
" Semalam Mom"
" Kok mommy sama daddy nggak tau?"
" Gimana mau tau, wong mommy udah sampai di pulau kapuk"
" Habis semalam Daddy kamu ngajak olahraga lebih awal"
Huuffpp...
Jhonatan hampir saja menyemburkan kopi yang dia minum. Ia tidak menyangka istrinya akan berkata seperti itu. Apalagi di depan menantunya. Hilang sudah wibawanya, karena sang istri.
" Yuk kita sarapan, bukankah kalian akan ke rumah sakit?" tanya Jhonatan.
" Iya Dad"
Clarissa tersenyum, ia tau suaminya itu malu karena ia bicara soal masalah ranjang tadi. Mereka mulai menyantap sarapan yang ada di hadapan mereka masing-masing.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading ππ