
Akhirnya rencana jalan-jalan bumil itu harus ditunda dulu, sebab ada hal yang urgent yang harus ia lakukan. Tapi ia berpikir, siapa musuhnya yang sekarang?.
" Sayang"
" Hhmm"
" Lagi mikirin apa?"
" Nggak ada"
" Jangan bohong sayang"
" Beneran nggak lagi mikirin apa-apa By"
Darren memeluk istrinya dari belakang. Ia benar-benar khawatir saat ini. Walaupun istrinya bisa beladiri, tapi sekarang istrinya itu sedang hamil besar.
" Sayang, apa kamu akan ikut bertarung juga?"
" Tidak By. Aku tidak ingin membahayakan baby twins "
" Benar itu sayang. Kamu cukup jadi penonton saja"
" Iya By. Apa para bodyguard sudah siap di posisi mereka masing-masing?"
" Sudah sayang"
" Bagus. Sekarang kita turun untuk menyambut kedatangan tamu-tamu kita"
" Ayo" ajak Darren sambil mengulurkan tangannya pada sang istri. Dengan senang hati Kiran menyambut uluran tangan suaminya.
Pasutri itu keluar dari kamar mereka untuk menyambut kedatangan tamu misterius. Darren merangkul pinggang sang istri. Mereka berdua masuk kedalam lift.
" Lama amat sih lo turunnya?" kata Romy saat melihat pasutri itu datang.
" Gue bosnya di sini. Jadi suka-suka gue dong mau turun jam berapa"
" Ck,, selalu saja begitu "
" Nih pake untuk kalian berdua" kata Nadia sambil memberikan dua earphone pada pasutri itu.
" Apa semuanya sudah make ini ?" tanya Kiran.
" Udah, kalian berdua aja yang belum pake" kata Nadia.
" Good. Jadi kita akan lebih mudah berkomunikasi"
Kiran dan suaminya langsung memakai earphone itu. Baru saja earphone itu terpasang di telinga mereka. Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu bodyguard yang ada di pintu gerbang.
" Lapor tuan, mangsa sudah mendekat"
" Bagus. Semua bersiap di posisi masing-masing" kata Darren.
__ADS_1
Semua bodyguard yang sudah mendengar titah Darren dari earphone yang tersambung antara satu dengan yang lain, langsung mengambil posisi mereka masing-masing.
" Oke guys, sekarang giliran kita untuk bersiap. Karena mangsa sudah datang"
Darren dan yang lain mengambil posisi mereka. Sedangkan Kiran dan Nando duduk manis di kursi, sambil menyaksikan layar monitor yang ada di depan mereka.
Ya monitor itu sudah terhubung ke semua CCTV yang ada di mansion itu. Jadi Kiran hanya melihat pergerakan mereka dari sana.
Dari layar itu tampak lima buah mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang mansion-nya. Beberapa dari mereka keluar dari mobil dan melemparkan bom asap.
Kiran tersenyum melihat layar monitor itu. Ia tidak menyangka, cara penjahat itu sangat kuno. Mereka tidak tau kalau semua bodyguardnya tidak mempan karena bom asap itu.
Para penjahat itu berhasil masuk ke dalam mansion. Mereka semua turun dari dalam mobil. Tapi mereka heran, karena mansion itu terlihat sangat sepi.
" Berpencar!" titah bos penjahat itu.
Para penjahat itu pun berpencar ke seluruh mansion. Saat inilah yang di tunggu-tunggu para bodyguard Darren. Jadi mereka lebih mudah untuk mengalahkan mereka.
Darren memberikan instruksi kepada bodyguardnya. Para bodyguard itu pun mengerti dan bersiap untuk menghadapi para penjahat itu.
Kelompok penjahat itu bertemu dengan bodyguard Darren. Bodyguard itu masuk dalam team 3. Ilmu beladiri mereka tidak bisa diragukan lagi. Karena para bodyguard Darren adalah orang-orang yang hebat semua.
Akhirnya perkelahian pun tidak bisa terelakkan. Jumlah penjahat itu cukup banyak. Tapi itu tidak masalah, karena para bodyguard Darren bisa menghadapi mereka.
Para penjahat itu mengeluarkan senjata tajam. Namun itu tidak ada apa-apanya bagi bodyguard Darren. Bodyguard itu akan mengeluarkan senjata andalan mereka di saat keadaan mereka sudah benar-benar mendesak.
Bos penjahat itu masuk kedalam mansion, diikuti oleh anak buahnya yang masih tersisa di sana. Karena tadi mereka sudah berpencar.
" Wow,, ternyata kedatangan kita di sambut sama dua wanita cantik"
" Benar bos. Apa kami boleh memakai kedua wanita cantik ini untuk bersenang-senang, bos?" tanya salah satu anak buah penjahat itu.
" Silakan, kalian bebas melakukan apapun di mansion ini. Saya mau masuk dulu"
Nadia dan Serly membiarkan bos penjahat itu masuk kedalam dengan beberapa anak buahnya.
" Yuk, kita main di ruangan itu tuan-tuan" kata Serly dengan nada menggoda.
" Tentu saja manis ku"
Serly dan Nadia tersenyum. Akhirnya mereka bisa memisahkan mereka dengan bosnya. Bos penjahat itu berjalan terus masuk kedalam mansion mewah itu.
Baru beberapa langkah, bos penjahat itu dan beberapa anak buahnya yang tersisa di hadang oleh ketiga lelaki tampan. Ketiga lelaki tampan itu, Darren, Romy dan juga Doni.
" Berani sekali kalian menghadang jalan kami!" kata salah satu anak buah penjahat itu.
" Tentu saja kami berani" kata Doni.
" Apa kalian tidak tau siapa kami, huh?!"
" Kalian hanya hama pengganggu yang tidak diharapkan" kata Romy.
__ADS_1
Darren tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
" Kau berani tertawa, terima ini" kata salah satu penjahat itu sambil memberikan pukulan pada Darren.
Darren menahan pukulan itu dengan tangannya yang sebelah kiri. Alhasil pukulan itu tidak mengenainya. Ia memelintir tangan lelaki itu dengan sangat kuat.
Aaarrggkk...
Terdengar suara rintihan dari mulut lelaki itu. Bos penjahat itu kaget mendengar dan melihat tangan anak buahnya di pelintir hingga patah oleh lelaki tampan itu.
" Jangan coba-coba mengangkat tangan pada saya" kata Darren dengan tatapan membunuh.
" Kalian tunggu apalagi, cepat serang lelaki itu"
Anak buah yang tersisa itu langsung menghajar Darren. Romy dan Doni tentu saja tidak tinggal diam. Mereka berdua membantu Darren untuk melawan anak buah penjahat itu.
Bos penjahat itu mengambil kesempatan itu untuk mencari keberadaan Kiran. Karena ia tau kalau Kiran sedang hamil, jadi wanita itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dan itu akan memudahkannya untuk melenyapkan wanita itu.
" Selamat datang di mansion ku" kata Kiran.
Bos penjahat itu terpesona akan kecantikan Kiran. Ia tidak menyangka kalau Kiran terlihat lebih cantik daripada yang ada di fotonya. Tapi itu tidak penting sekarang, karena ia akan membunuh wanita itu.
Karena Kiran hanya berdua dengan seorang anak kecil, jadi dia akan mudah untuk membunuh wanita itu. Ia segera mengeluarkan pistol yang ia selipkan di celananya.
Ia menarik pelatuk pistol itu. " Kau harus mati! karena kau ibuku masuk penjara dan mati di sana. Jadi aku akan mengirim mu ke neraka"
Kiran tertawa mendengar ucapan bos penjahat itu. Tawanya begitu mengerikan bagi orang yang mendengarnya.
" Siapa ibumu?"
" Titin"
Nando kaget emosi saat mendengarkan nama wanita jahat itu di sebut oleh lelaki itu. Kiran kaget melihat ekspresi wajah Nando. Ia tidak tau kenapa adiknya beraksi seperti itu.
" Nando" panggil Kiran.
" Dia anak wanita jahat itu Kak"
Kiran pun ingat siapa yang di bilang wanita jahat oleh Nando. Ia tidak menyangka sudah matipun wanita tua itu masih saja meninggalkan dendam dan masalah.
" Jadi kau anak wanita serakah itu?"
" Diam kau, berani kau menyebutkan ibuku wanita serakah. Ku tembak kau!"
" Silakan! bukankah kau dari tadi memegang pistol di tanganmu?" kata Kiran sambil bangkit dari duduknya.
Dor.
To be continue.
Mau lanjut nggak? kalau iya, kasih hadiah dan vote-nya dulu dong biar bisa up lagiπ€π€
__ADS_1
Happy reading ππ