
Satu bulan kemudian.
Kiran sangat menikmati hari-harinya sebagai seorang ibu. Sekarang wanita cantik itu sedang menunggu kedatangan dokter. Karena hari ini baby twins akan imunisasi.
" Selamat pagi nona"
" Selamat pagi Dok"
" Maaf telat, soalnya tadi anak saya agak rewel. Karena nggak mau ditinggal"
" Nggak apa-apa Dok. Yuk kita langsung aja ke kamar baby twins"
" Baik"
Kiran membawa dokter Linda ke kamar baby twins. Mereka langsung masuk lift menuju lantai tiga. Ya kamar baby twins ada di sibelah kamarnya.
Sampai di depan pintu kamar baby twins, mereka langsung di sambut sama pelayan dan juga bodyguard. Sebenarnya Kiran tidak ingin ada bodyguard di sana, tapi suaminya bilang ini selama ia berada di luar kota saja.
" Mari masuk Dok"
Dokter Linda sangat takjub melihat dekorasi kamar baby twins itu. Ia berpikir baru baby aja kamar mereka sudah se-Wow ini. Apalagi kalau mereka sudah besar nanti?. Benar-benar kamar anak sultan.
" Hallo Alexa dan Axel. Kalian tambah cakep dan cantik aja sih?"
" Makasih Dokter " jawab Kiran sambil menirukan suara anak kecil.
" Siapa dulu nih nona yang mau di suntik?"
" Axel dulu deh Dok"
" Ok. Nona tolong gendong baby Axel nya "
Kiran menggendong Axel. Karena kalau di gendong akan lebih mudah untuk menenangkan kalau baby Axel menangis, ketika selesai di suntik.
Dokter mengusapkan kapas yang sudah di beri bius ke paha Axel. Setelah itu barulah dokter Linda menyuntikkan jarum suntik ke kulit bayi tampan itu.
Axel tidak menangis kala jarum suntik itu menyentuh kulitnya. Ia hanya menggenggam jari sang mommy. Mungkin seperti itulah cara dia untuk menghilangkan rasa sakitnya.
" Wah,, Axel pintar ya. Dia tidak menangis" puji Linda.
" Axel malu kali Dok. Ya secara kan dia laki, masa iya nangis"
" Mungkin juga sih. Sekarang queen Alexa lagi ya"
Kiran pun membaringkan Axel dengan hati-hati di atas kasurnya. Setelah itu ia menggendong baby Alexa.
Dokter Linda juga melakukan hal yang sama pada baby Alexa. Yaitu mengusapkan kapas yang sudah di beri bius terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menyuntikkan jarum suntik itu ke kulit Alexa.
Saat jarum suntik itu sudah masuk kedalam kulit bayi cantik itu. Suara tangis pun terdengar di kamar itu. Kiran segera menyusui baby Alexa. Ia tidak menyangka putrinya akan menangis.
" Cup..cup,, sayang mommy"
Linda tersenyum melihat Kiran yang langsung menyusui bayinya. Tindakan itu sangat baik dan emang seperti itulah seharusnya. Jadi bayi tidak terlalu lama menangis. Benar saja baby Alexa langsung tenang. Bahkan sekarang bayi cantik itu sudah mulai tertidur.
" Sepertinya, si kakak lebih manja daripada si adek"
" Sepertinya begitu Dok"
Kiran membaringkan Alexa di samping Axel. Ia membaringkan dengan sangat hati-hati. Kalau tidak Alexa akan bangun.
Linda melirik jam tangannya. Karena ia ada janji dengan pasiennya yang lain. Ia pun pamit undur diri.
" Nona saya pamit dulu"
__ADS_1
" Iya Dok. Terima kasih, udah mau datang"
" Sama-sama nona. Lagipula ini sudah menjadi tugas saya"
Kiran mengantarkan Dokter Linda ke depan pintu. Setelah Dokter Linda masuk kedalam lift. Barulah Kiran menghampiri kedua anaknya. Ia akan menidurkan baby Axel.
Saat Kiran sedang menyusui putranya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia meminta si mbak untuk mengambilkan ponselnya.
Ia tersenyum kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia langsung menggeser tombol hijau yang ada di sana.
" Hallo assalamualaikum sayang" terdengar suara lelaki yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.
" Wa'alaikum salam By"
" Lagi apa?"
" Lagi Nina Bobo in Axel"
" Masih pagi baby Axel mau tidur?"
" Baby twins kan habis imunisasi By"
" Oh iya aku lupa. Terus gimana? baby twins nangis nggak?"
" Axel nggak, tapi Alexa nangis. Aku nggak tega gitu liat dia nangis karena nahan rasa sakit, By"
" Iya sayang. Terus sekarang gimana baby Alexa nya?"
" Udah tenang. Dan sekarang lagi tidur"
" Syukurlah. Maaf ya, aku nggak ada di sana untuk menemani kamu"
" Nggak apa-apa, By"
" Baru dua hari pergi, aku udah kangen banget sama kamu dan juga anak-anak"
" Kamu udah sarapan?"
" Udah. Lagian ini udah jam 10, By"
" Oh iya lupa"
" Emang hubby belum sarapan?"
" Udah tadi "
" Sarapan sama apa tadi?"
" Bubur ayam, Romy yang beli entah dimana"
" Kenapa nggak sarapan di restoran hotel aja?"
" Bosan, menu sarapannya itu-itu aja "
" Kan hubby bisa pesan bubut ayam, atau apa kek gitu?"
" Bisa, cuma nggak seenak bubur Abang gerobak sayang"
" Iya juga sih. Mungkin karena micin-nya ya By"
" Mungkin sayang"
" Sekarang hubby lagi dimana?"
__ADS_1
" Masih di hotel, ntar lagi baru berangkat mau meeting"
" Oh. Romy mana?"
" Telpon bininya"
" Lagi telpon juga dia?"
" Iya, dia mana mau kalah dari kita"
" Hubby fokus kerjanya ya. Aku sama baby twins menunggu hubby pulang"
" Iya sayang. Aku usahakan kerjaan aku cepat selesai di sini. Biar aku bisa cepat pulang"
" Hubby jaga kesehatan ya selama di sana?"
" Makasih sayang. Kamu sama anak-anak juga ya. Baik-baik di sana. Dan kalau ada apa-apa, cepat kabari aku"
" Iya By"
" Aku mau meeting dulu, ntar baru lanjut lagi telponnya. Love you sayang "
" Love you more By"
Panggilan pun berakhir.
Kiran meletakkan ponselnya di atas bantal. Jadi kalau nanti ponselnya berbunyi, ia tidak susah untuk mengambilnya.
Baby Axel sudah tidur. Kiran membetulkan posisi tidur kedua anaknya. Kemudian ia memberi guling di sisi kanan dan juga kiri baby twins. Setelah itu ia meminta si mbak untuk menjaga mereka, ia mau ke dapur mengambil buah. Karena perutnya sudah lapar lagi. Mungkin karena menyusui, jadi Kiran selalu merasa lapar.
πππ
Berbeda dengan Darren dan Romy. Doni justru dekat, tapi serasa berjauhan. Bagaimana tidak, istrinya sudah beberapa hari ini tidak mau dekat-dekat dengan dirinya. Setiap di dekati. Istrinya selalu mual dan muntah.
" Yank, aku udah pake parfum lho. Bahkan aku udah menghabiskan separuh botol"
Serly kaget mendengar ucapan suaminya itu. Ia tidak menyangka suaminya memakai parfum sebanyak itu demi ingin dekat dengannya. Tapi entah kenapa ia tetap saja mual dan ingin muntah kalau dekat dengan suaminya itu.
" Ntar orang pikir kita lagu berantem yank, karena duduknya berjauhan kek gini"
" Habisnya aku selalu mual dan muntah kalau kamu dekat sama aku"
" Tapi kenapa?"
" Aku juga nggak tau kenapa bisa kek gitu"
" Terus sampai kapan kita kek gini "
" Sampai aku nggak mual dan muntah lagi "
Doni menghela nafasnya. Ia tidak tau kapan mual dan muntah istrinya akan hilang. Tapi satu yang pasti, selama itu pula juniornya akan berpuasa.
To be continue.
Hot daddy.
Calon Papa
Doni yang malang π€
__ADS_1
Happy reading ππ