
Satu bulan kemudian.
Kiran dan Darren sudah pindah ke mansion milik mereka. Sedangkan Nadia dan Nando tinggal di rumah yang dia beli dulu. Padahal dia ingin Nadia sama Nando tinggal bersama dengannya, tapi Nadia menolaknya.
Sekarang ia sedang mengemas pakaian suaminya kedalam koper. Ya hari ini suaminya akan berangkat ke Bandung untuk melihat cabang perusahaannya yang di sana.
Darren tau istrinya itu lagi merajuk. Dari semalam istrinya itu tidak ingin di peluk atau dekat-dekat dengan dirinya. Ia juga tidak ingin meninggalkan sang istri, tapi mau gimana lagi, cabang perusahaannya yang di Bandung lagi ada masalah dan mau tak mau harus dia sendiri yang datang ke sana.
" Honey, aku ke sana mau kerja bukan mau mudik"
" Lantas?"
" Pakaian yang kamu masukin banyak banget. Kek orang mau mudik tau nggak!"
" Masa sih, padahal aku masukin enam pasang pakaian santai kamu. Dan dua stelan pakaian kantor kamu"
" Itu kebanyakan. Aku cuma dua hari di sana"
" Ya nggak apa-apa"
" Berat nanti bawanya"
" Cemen banget sih jadi laki, masa segini aja berat"
" Ya udah terserah kamu aja"
" Nah gitu dong. Yuk sekarang kita ke bawah, kasihan teman kamu udah nungguin di bawah"
" Tomy udah datang?"
" Hhhm"
" Honey"
" Cepatlah turun, jangan membuat Romy terlalu lama menunggu"
" Apa kamu tidak akan mengantar aku sampai ke depan pintu"
Kiran menggelengkan kepalanya. Ia bukannya tidak mau, tapi dia takut kalau tidak bisa menahan air matanya. Ia tidak ingin suaminya pergi. Ini kali pertamanya mereka akan berpisah cukup lama setelah menikah.
" Honey"
" Pergilah" kata Kiran dengan susah payah menahan tangisnya.
Darren menghampiri sang istri. Ia membawa istrinya ke dalam pelukannya. Ia tau istrinya sekarang ingin menangis, tapi dia berusaha menahannya.
Akhirnya air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Kiran menangis di dalam pelukan suaminya itu.
" Hu-hubby jangan pergi ya?"
Darren merasa sakit melihat istrinya menangis seperti itu. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaannya sedang dalam masalah.
" Aku perginya cuma dua hari. Aku janji akan selalu mengabari kamu. Jadi aku mohon jangan menangis"
" Ja-jangan pergi" isaknya.
Darren benar-benar tidak tau dengan cara apa lagi ia membujuk istrinya itu. Ia membelai rambut sang istri sambil sesekali mencium puncak kepala istrinya.
Setelah tangis istrinya redah, barulah ia melonggarkan pelukannya. Tampak mata sang istri sudah sembab karena kelamaan menangis. Darren menghapus sisa air mata yang ada di pipi sang istri.
" Apa aku sudah boleh pergi?"
__ADS_1
Kiran hanya diam. Kalau boleh jujur, ia ingin suaminya di rumah saja. Tapi ia sadar kalau perusahaan sedang membutuhkan suaminya.
Ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau ia mengizinkan suaminya pergi.
" Aku akan menghubungi kamu setelah sampai di sana"
" Hhmm"
Darren mengecup kening sang istri. Kemudian turun ke mata, hidung, kedua pipi sang istri. Dan yang terakhir ia mengecup bibir sang istri. Bukan hanya mengecup, tapi ia m*l*m*t bibir yang selalu membuatnya candu itu.
Kiran pun membalas ciuman suaminya itu. Walaupun ia tidak semahir suaminya, tapi setidaknya ia bisa membalas ciuman itu.
Setelah pasokan oksigen berkurang barulah Darren melepaskan tangan. Ia menempelkan keningnya dengan kening sang istri.
" Aku berangkat"
" Hhmm"
" Kamu beneran nggak mau mengantar aku ke bawah"
" Nggak" kata Kiran sambil menggelengkan kepalanya.
" Baiklah, baik-baik di rumah. Aku berangkat"
Cup.
Satu kecupan hangat mendarat di kening Kiran. Setelah memberikan kecupan perpisahan. Darren menyeret kopernya keluar dari kamarnya.
Sampai di pintu kamarnya ia melihat sang istri melihat kearah jendela. Ia tau istrinya menangis lagi. Tidak ingin berlama-lama Darren segera turun ke bawah. Ia berharap bisa secepatnya menyelesaikan masalah di sana.
Sesampainya di bawah ia melihat Romy sedang sibuk dengan ponselnya. Sampai-sampai asistennya itu tidak menyadari keberadaannya. Mungkin ia mengabari kekasihnya.
Ehem.
" Hehe,, sorry bro. Gue nggak nyadar kalau ada Lo"
" Gimana mau nyadar, lo sibuk sama ponsel "
" Iya lagi balas chat Nadia. Istri lo mana?"
" Di kamar"
" Dia nggak ngantar lo? apa kalian berantem?"
" Nggak, dia nggak tega liat gue pergi. Nggak kuat katanya"
" Tapi kalian berdua beneran nggak berantem kan?"
" Ya beneran lha. Yuk berangkat"
Kedua lelaki tampan itu berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama. Bodyguard yang melihat tuan mudanya keluar dari rumah, langsung mengambil ahli koper yang ada di tangan tuan mudanya. Bodyguard yang lain membukakan pintu untuk tuan mudanya.
Kiran yang mendengar suara deru mesin mobil pun segera berjalan menuju balkon kamarnya. Ia ingin melihat suaminya itu pergi. Benar saja, ia melihat suaminya akan masuk kedalam mobil.
Darren yang merasa ada seseorang yang sedang menatapnya langsung melihat ke atas. Ia melihat istrinya sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia melambaikan tangan pada wanita yang sangat ia cintai itu. Kiran pun membalas lambaian tangan suaminya.
" Hati-hati" bisiknya.
Darren yang mengerti arti gerakan bibir sang istri pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil.
Mobil itu perlahan melaju meninggalkan mansion-nya. Kiran lagi-lagi menahan tangisnya melihat mobil yang membawa suaminya semakin menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
Sabar sayang, tunggu aku pulang.
Romy melihat sahabatnya yang terus melihat kebelakang. Ia tau kalau sahabatnya itu sedang ada masalah dengan istrinya.
" Bro, lo beneran nggak ada masalah sama istri lo?"
" Hhhmm"
" Terus kenapa dia nggak ngantar lo"
" Dia nggak ingin gue pergi Rom. Gue sakit melihat dia menangis seperti tadi"
" Nangis?"
" Iya. Susah payah gue bujuk dia tadi"
" Gue nggak nyangka istri lo bisa nangis juga"
Pletak.
" Ya bisalah. Lo pikir istri gue robot kagak bisa nangis"
" Bukan gitu maksud gue. Istri lo itu kan sangat kuat, jadi gue agak aneh rasanya kalau dia menangis"
" Sekuat-kuatnya istri gue. Ia tetap seorang wanita"
" Terus gimana cara lo bujuk dia tadi?"
" Gue akan selalu kasih kabar saat berada di sana. Istri gue tetap nggak ingin gue pergi, tapi setelah gue beri pengertian akhirnya dia mengizinkan gue pergi"
" Tapi kok Nadia nggak nangis ya saat gue bilang mau keluar kota dua hari"
" Mungkin lo nggak penting untuk dia. Jadi ada nggak ada lo, nggak masalah buat dia"
" Masa sih?"
" Tuh buktinya dia nggak nangis"
" Iya juga ya"
" Iya. Emang dia bilang apa saat lo bilang mau keluar kota"
" Dia bilang ' Ya pergi aja. Nanti jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk aku ya' gitu katanya"
" Berarti dia lebih tertarik dengan oleh-olehnya"
" Gue rasa juga begitu. Tapi masa iya wajah tampan gue kalah sama oleh-oleh?"
" Emang kenyataannya begitu"
" Nggak bisa, gue harus chat dia lagi"
" Nggak usah. Lagian mana mungkin lo nggak penting bagi dia. Dia hanya tidak ingin membuat lo nggak jadi pergi kalau dia sedih"
" Benar juga.Tumben lo pinter"
Pletak.
" Gue emang pinter udah dari orok " kata Darren setelah memukul kepala sahabatnya itu.
To be continue.
__ADS_1
Happy Reading ππ