
Lagi-lagi Serly dibuat takjub sama isi didalam gubuk yang dibilang suaminya itu. Semua ruangannya di dekorasi dengan sangat bagus.
" Ini kamu yang mendekorasinya?"
" Arsitek, aku cuma kasih gambaran aja. Terus mereka yang mengembangkan. Kamu suka?"
" Suka banget"
" Sekarang kita lihat kamarnya"
" Hhmm"
Doni mengajak istrinya ke kamar yang biasa ia tempati semasa dirinya masih bujang dulu. Dan sekarang, kamar itu akan menjadi kamar mereka berdua.
Ceklek.
Saat pintu terbuka, tampaklah kamar milik suaminya. Kamar yang di dominasi warna abu-abu itu terlihat macho banget menurutnya. Serly masuk ke dalam kamar itu.
Kamar itu terlihat rapi, tidak seperti kamar lelaki di luar sana, yang terkesan berantakan. Di sana juga ada ranjang berukuran king size dan juga lemari pakaian berukuran jumbo.
Ada beberapa foto Doni waktu masih remaja bersama teman-temannya. Tapi di sana tidak ada foto orang tua atau foto mertuanya. Apa suaminya seorang anak yatim piatu?.
" Yank"
" Hhmm"
" Aku boleh nanya nggak?"
" Tanya aja"
" Tapi kamu jangan marah ya"
" Nggak"
" Janji"
" Janji"
" Foto mertua aku ada nggak?"
" Kedua orang tuaku sudah meninggal sewaktu aku masih berusia 5 tahun. Dan ketika itu juga aku nggak punya uang untuk membayar tukang foto. Alhasil aku tidak mempunyai foto mereka"
Serly kaget sekaligus sedih mendengar jawaban suaminya. Ia tidak menyangka nasibnya akan sama dengan suaminya itu.
" Apa waktu itu kamu di selamatkan oleh Darren?"
" Benar, bahkan dia meminta kedua orang tuanya untuk menjadikan saya adiknya. Padahal kenyataannya saya lebih besar dari tuan muda. Tapi dia tidak mau di panggil adik" kata Doni sambil tersenyum.
" Berarti nasib kita sama. Aku juga di selamatkan sama Kiran dari para preman sewaktu di London dulu. Kita sama-sama beruntung memiliki sahabat seperti mereka"
" Benar, malahan mereka menganggap kita sebagai keluarganya. Bukan orang lain"
Serly berjalan menuju balkon. Ia ingin melihat pemandangan dari atas balkon itu. Mata Serly tak berkedip melihat pemandangan yang sangat indah ada di depan matanya.
" Wow keren banget pemandangan dari sini?"
Doni tersenyum mendengar ucapan istrinya. Memang benar apa yang dikatakan istrinya. Pemandangan yang ada di belakang mansion itu memang sangat bagus.
__ADS_1
" Pemandangan ini lebih indah daripada di apartemen aku. Kalau di apartemen aku cuma ada lampu dan juga gedung-gedung tinggi"
" Apalagi kalau kamu liat ada atas mansion tuan muda. Pemandangannya akan terlihat jauh lebih indah"
" Emang kamu udah pernah melihat pemandangan dari mansion Kiran?"
" Sudah, saat mansion itu belum di tempati nona muda"
" Apa mansion ini Darren yang cari?"
" Iya. Tuan muda sangat menyukai alam "
" Kita tinggal di sini aja ya? apartemen aku dijual aja"
" Jangan! nanti kamu kangen suasana kota, kita bisa menginap di apartemen kamu"
" Baiklah, apapun kata suamiku. Aku akan mematuhinya"
" Istri yang baik" puji Doni sambil mengelus kepala sang istri.
Mereka berdua pun menikmati pemandangan alam itu. Doni tersenyum, biasanya ia memandang pemandangan itu sendiri. Sekarang sudah berdua bersama sang istri.
πππ
Darren sedang melatih Nando di taman belakang mansion. Sesi latihan itu di saksikan para bodyguard yang sedang bertugas pada siang itu.
Para bodyguard itu sangat mengagumi Nando. Di usia Nando yang masih 14 tahun dia sudah mahir dalam beberapa macam jenis beladiri. Dan juga memakai beberapa senjata.
" Apa kamu mau mencoba melawan para bodyguard itu?" tanya Darren.
" Boleh"
" Tentu saja bisa"
Darren meminta lima orang bodyguardnya untuk maju. Tubuh mereka benar-benar sangat profesional, dan juga sangat kekar. Di tambah lagi otot mereka yang sangat wow.
" Kalian boleh mengeluarkan semua kekuatan kalian untuk menyerang Nando" kata Darren.
" Baik tuan muda"
" Baiklah, mulai!"
Para bodyguard itu mulai menyerang Nando dari beberapa sisi. Tapi dengan sigap Nando bisa menangkis serangan lima lelaki bertubuh kekar itu.
Darren tersenyum melihat kecepatan Nando dalam menangkis serangan dari para bodyguardnya. Ternyata istrinya memang tidak salah mengangkat Nando sebagai adiknya. Dan Nando akan menjadi pelindung untuk baby twins nanti. Terutama baby Alexa.
" Sekarang serang dengan menggunakan katana" kata Darren.
Para bodyguard itu mengambil katana yang ada di sana. Nando pun melakukan hal yang sama. Ia mengambil katana yang sudah tersedia di sana. Darren memang menyiapkan semuanya. Itu semua untuk menunjang latihan para bodyguardnya.
Suara katana yang beradu terdengar seperti alunan musik. Darren sangat menikmati pertunjukan yang ada di hadapannya itu. Bodyguardnya juga tidak mau kalah dari Nando.
" By"
Darren yang mendengar suara istrinya memanggil langsung menoleh. " Sayang, kenapa kamu kesini?"
" Aku mau melihat Nando latihan"
__ADS_1
" Terus twins sama siapa?"
" Tuh"
Darren menoleh kearah yang di tunjuk suaminya. Ia melihat pelayan sedang mendorong kereta bayi menuju ke tempat dia duduk sekarang.
" Apa nggak apa-apa, baby twins di bawah ke sini?"
" Nggak apa-apa. Lagian mereka juga butuh udara segar kek di sini By"
" Syukurlah kalau emang nggak apa-apa"
" Nando udah banyak kemajuan ya?"
" Ya. Dia juga sudah bisa menggunakan beberapa jenis senjata"
" Senjata apa aja?"
" Pistol, pedang, sama katana "
" Berarti tinggal panah yang belum dia pelajari?"
" Iya. Aku rasa juga tidak sulit bagi dia memakai panah. Mengingat dia begitu cepat mempelajari setiap hal yang kita ajarkan"
Kiran tersenyum sambil menatap bocah yang pernah jadi korban di panti asuhan tempat dia bernaung selama ini. Dan ia sangat bangga karena Nando sudah menjadi seorang remaja yang pintar dan juga tampan.
" Jangan senyum-senyum sama lelaki selain suami kamu ini"
" Ck,, kumat lagi penyakitnya"
" Senyum kamu itu hanya aku sama baby twins yang boleh melihatnya"
" Ya,, ya, senyumku ini hanya untuk kamu tuan muda"
" Tentu saja"
Kiran tidak habis pikir dengan suaminya itu. Tapi itulah yang membuat Kiran jatuh cinta setiap hari pada suaminya itu. Sikap Darren yang lemah lembut dan juga sangat peduli sama orang di sekelilingnya membuat Kiran tidak bisa berpaling dari suaminya itu.
Cup.
Mata Darren membulat dengan sempurna. Ia tidak menyangka mendapatkan kecupan manis dari istrinya. Apalagi ini di tempat umum. Biasanya sang istri sangat malu kalau dicium di tempat umum.
" Kamu menggoda aku yank"
" Nggak? lagipula tanpa aku goda pun kamu juga sudah tergoda"
Darren membalas kecupan sang istri. Bukan kecupan, tapi ia memberikan ciuman di bibir manis nan menggoda iman itu.
Para pelayan dan juga bodyguard yang jomlo. Hanya bisa menangis melihat adegan ciuman live itu. Mereka hanya bisa mengelus dada karena kelakuan pasutri itu.
Sedangkan para bodyguard yang latihan segera menutup mata Nando. Mereka tidak ingin mata anak kecil itu terkontaminasi oleh pasutri itu. Sedangkan Nando berusaha membebaskan diri. Karena ia tidak tau kenapa tiba-tiba matanya ditutup.
To be continue.
Masih ada yang baca nggak yaπ€
Hot Daddy
__ADS_1
Happy reading ππ