
Malam pun tiba.
Darren sudah terlihat rapi dan juga tampan dengan tuxedo berwarna hitamnya. Untuk menunjang penampilannya, Darren juga memakaikan jam tangan mahal.
Perfect.
Setelah di rasa cukup dia mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya. Ia akan menjemput wanitanya untuk pergi ke pesta bersama. Darren bersenandung ria sambil menuruni anak tangga.
Darren melajukan mobilnya menuju rumah tetangga kesayangannya. Sesampainya di sana Darren memarkirkan mobilnya di sebelah mobil mewah milik sang empunya rumah.
Ting nong..
"Sebentar" terdengar suara dari dalam.
Ceklek.
" Malam pujaan ku" sapa Darren pada wanita yang membukakan pintu untuknya.
" Kamu datang juga"
" Tentu saja aku akan datang. Bukankah kita sudah janji akan pergi ke pesta bersama"
" Aku nggak ada janji ya, kamu yang maksa"
" Karena kamu suka di paksa Honey"
" Berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu"
" Why?"
" Aku nggak suka"
" Ntar lama-lama kamu juga akan suka. Yuk berangkat"
" Bentar, aku tunggu Nadia sama Nando dulu?"
" Siapa itu Nando?"
" Anak aku" jawab Kiran asal.
Darren tertawa mendengar jawaban pujaan hatinya itu. " Kamu itu masih segel sayang, jadi mana bisa punya anak"
Wajah Kiran memerah mendengar ucapan Darren barusan. Bisa-bisa lelaki tampan yang menggodanya.
Darren tersenyum melihat wajah Kiran yang bersemu merah itu. Ia tidak tahan untuk menggoda wanitanya.
" Kamu sakit?"
" E-enggak"
" Terus kenapa wajah kamu merah kek gitu?"
" I-ini karena panas, ya panas"
" Masa sih? padahal disini dingin lho?"
" Udah ah, kamu itu banyak tanya"
" Yuk berangkat, ntar kita telat" kata Darren sambil melirik jam tangannya.
" Kan udah aku bilang tadi, kita tunggu Nadia sama Nando dulu"
Tak berselang lama Nadia dan Nando pun turun.
" Udah lama ya nunggunya?" tanya Nadia.
" Udah tau nanya" jawab Darren ketus.
" Maaf, soalnya aku bantu Nando bersiap dulu tadi"
" Yuk berangkat" kata Darren sambil menarik tangan Kiran menuju mobilnya.
Nadia tersenyum melihat tingkah Darren. Dia dan Nando mengikuti sejoli itu di belakang. Sedangkan Nando hanya diam saja
" Kamu bisa bawa mobil kan?" tanya Darren pada Nadia.
" Bisa"
" Kamu bawa mobil Kiran berdua sama bocah itu"
" Aku mau ikut bareng sama Nadia aja" kata Kiran.
" Nggak! kamu satu mobil sama aku" tegas Darren.
__ADS_1
Mau tak mau Kiran masuk kedalam mobil milik Darren. Entah kenapa dia tidak bisa menolak permintaan lelaki tampan nan menyebalkan itu.
Darren melajukan mobilnya menuju tempat acara anniversary pernikahan tuan James. Diikuti sama mobil Nadia di belakang.
Sepanjang perjalanan Kiran hanya diam saja. Ia sibuk memandang lampu-lampu yang menerangi setiap jalan.
Darren sesekali mencuri-curi pandang pada wanita cantik yang duduk di sebelahnya itu.
" Fokus aja nyetirnya, aku nggak mau mati muda" kata Kiran.
" Sebelum kita menikah dan punya anak, aku tidak akan mengizinkan kamu mati"
" Ngaco kamu"
" Harus berapa kali aku mengatakan cinta pada kamu"
" Entahlah, atau kamu menyerah saja"
" Tidak akan! karena tidak ada kata menyerah dalam hidupku"
" Terserah kamu saja"
Aku akan selalu berusaha untuk menaklukkan hati kamu yang keras seperti batu itu.
Mereka pun tiba di hotel tempat acara anniversary pernikahan tuan James. Darren membukakan pintu mobil untuk wanitanya. Kiran turun dari dalam mobil.
" Rangkul tangan aku" titah Darren.
" Apa!"
" Rangkul tangan aku baby"
" Nggak!"
" Harus"
" Kamu kok maksa sih!"
" Karena kamu itu hobinya di paksa. Yuk buru rangkul tangan aku"
" Menyebalkan!" kata Kiran sambil merangkul lengan Darren.
Darren tersenyum penuh kemenangan. Walaupun bersusah payah dulu, tapi akhirnya Kiran mau juga merangkul lengannya. Mereka berdua berjalan memasuki hotel.
" Silakan masuk tuan dan nona" kata petugas setelah memeriksa Darren dan juga Kiran.
Sama halnya dengan Kiran dan Darren, Nadia dan Nando juga di periksa oleh petugas keamanan yang ada di sana. Setelah selesai di periksa barulah mereka di perbolehkan masuk.
Suasana di dalam hotel yang tadinya riuh karena suara para tamu. Seketika hening karena kedatangan Darren dan juga Kiran. Ya mereka berdua jadi pusat perhatian para tamu yang ada di sana.
" Wah bukankah itu tuan Darren?"
" Benar, siapa gadis yang ada di sebelahnya itu?"
" Mungkin kekasih atau istri mungkin"
" Mereka pasangan yang sangat serasi"
Kiran dan Darren berjalan dengan elegan melewati para tamu undangan yang hadir. Mereka tidak menghiraukan tatapan para tamu-tamu itu. Mereka terus berjalan menuju tempat sang empunya acara.
" Akhirnya kalian berdua datang juga" kata James.
" Selamat untuk anniversary pernikahannya yang ke 50 tuan dan nyonya James" ucap Kiran.
" Terima kasih cantik" balas nyonya James.
" Apa kalian berdua ini pacaran atau sudah bertunangan?" tanya James.
Belum sempat Kiran menjawab, Darren sudah lebih dulu menjawab pertanyaan tuan James tadi. " Kita baru bertunangan tuan"
Kiran kaget mendengar jawaban Darren. Bisa-bisanya lelaki menyebalkan itu bilang, kalau mereka itu bertunangan.
" Wah selamat, semoga cepat melanjutkan ke jenjang pernikahan"
" Aamiin, terima kasih tuan" ucap Darren.
" Silakan cicipi hidangannya" kata istri tuan James.
" Kalau begitu kami permisi dulu tuan, nyonya" kata Darren.
" Baiklah, sekali lagi terima kasih"
Kiran dan Darren berjalan menuju tempat hidangan. Nadia dan Nando dengan setia mengekor di belakang.
__ADS_1
" Nando mau makan apa?" tanya Kiran.
Bukannya menjawab Nando malah melirik Darren. Dia takut kalau lelaki itu akan memarahinya.
" Kenapa kau melihat ku, bocah!"
Plak.
Kiran memukul tangan Darren. " Jangan menakutinya"
" Siapa yang menakutinya, bukankah dia yang melirik ku tadi?"
" Iya, tapi jangan tatap dia seperti itu"
Darren memejamkan matanya. " Udah kan"
" Begitu lebih bagus" kata Kiran.
Kiran mengambilkan makanan untuk Nando. Setelah selesai mengambilkan makanan untuk Nando. Mereka duduk di kursi yang tidak jauh dari sana.
" Anda tidak makan tuan Darren?" tanya Nadia.
" Tidak!" jawab Darren sambil meneguk jus jeruk milik Kiran.
" Hei! itu minumanku!"
" Punya kamu, berarti punyaku juga"
" Sejak kapan punyaku jadi punya mu?"
" Mulai detik ini"
" Kau benar-benar menyebalkan!" kata Kiran sambil beranjak dari duduknya.
" Eits,, mau kemana?" tanya Darren sambil menahan tangan Kiran.
" Ambil minuman"
" Ok, cepat ya"
Kiran berjalan menuju mini bar yang ada di sana. Saat akan mengambil jus, ada tangan seseorang yang mengambil jus yang sama dengannya.
" Wow,,, coba liat siapa ini?" kata seorang wanita.
Kiran menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan wanita itu. " Jusnya buat anda saja"
" Mau kemana lo" kata wanita itu sambil menahan tangan Kiran.
" Lepaskan tangan anda nona Monica, kalau tidak?!"
" Kalau tidak apa, huh!"
Kiran memelintir tangan Monica kebelakang.
" Aawww "
" Saya sudah peringatkan anda untuk tidak menyentuh saya, tapi anda masih ngotot"
" Lepasin tangan gue, bodoh!"
" Jangan pernah mengusik saya lagi. Kalau tidak, saya tidak akan segan-segan mematahkan tangan mu ini"
Monica yang melihat Daffin berjalan kearah mereka langsung memainkan perannya.
" Aaww,, sakit sekali"
" Princess"
Kiran mendengar namanya di panggil sontak menoleh ke arah suara.
" Daffin"
Yes, pasti Daffin tambah membenci Kiran.
" Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Daffin sambil memegang tangan Kiran.
Duarr.
Bagai disambar petir di siang bolong. Monica mendengar ucapan Daffin tadi. Dia pikir Daffin akan memarahi Kiran, tapi nyatanya Daffin mengkhawatirkan wanita manja itu.
to be continue.
Maaf telat up-nya Reader terzayang π€ π€
__ADS_1
Happy Reading ππ