
Darren dan Romy baru sampai di hotel tempat mereka akan menginap. Setelah check in mereka langsung menuju kamar mereka masing-masing.
Baru sampai di depan pintu kamarnya ponsel miliknya berbunyi. Ia tersenyum mendengar nada dering ponselnya itu. Karena ia tau kalau bunyi nadanya seperti itu berarti istrinya lah yang menelpon.
" Hallo honey. Aku baru saja sampai di hotel dan baru akan menghubungi kamu. Eh taunya kamu yang menghubungi duluan"
" Tu-tuan muda ini saya Doni"
" Doni? kenapa ponsel istri saya ada sama kamu?!"
" No-nona muda"
" Ada apa dengan istri saya?"
" No-nona muda--"
" Ngomong yang benar Doni. Ada apa dengan saya!"
" Nona muda masuk rumah sakit tuan"
Deg.
" Kenapa bisa masuk rumah sakit? bukankah saya meminta kalian untuk menjaganya!"
" Maafkan saya tuan, kejadiannya begitu tiba-tiba. Untung tadi ada pria yang menyelamatkan nona"
" Pria?"
" I-iya tuan"
" Apa dia yang menggendong istri saya?!"
" I-iya tuan"
" Kenapa kalian biarkan istri saya di gendong lelaki lain, hah?!"
" Kami waktu itu panik tuan, karena wajah nona yang pucat"
" Lalu bagaimana keadaan istri saya?"
" Lagi di tangani sama dokter tuan"
" Cepat berikan ponselnya kepada dokter?!"
" Eh"
" Cepat Doni, kalau terjadi sesuatu dengan istri saya. Habis kalian!"
" Ba-baik tuan muda"
Darren benar-benar akan menghabisi bodyguardnya itu jika terjadi sesuatu pada istrinya.
" Hallo" terdengar suara lelaki dari ujung sana, tapi bukan suara Doni.
" Katakan bagaimana keadaan istri saya?"
" Keadaan istri anda baik-baik saja tuan"
" Baik-baik saja kamu bilang. Istri saya itu tadi pingsan?!"
Dokter itu mungkin menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendengar suara Darren yang sudah mulai meninggi.
" Be-benar tuan, istri anda baik-baik saja. Istri anda sedang hamil, jadi karena itulah dia pingsan"
" Ha-hamil?"
" Iya tuan, dan untuk memastikannya tuan harus bawa istri tuan ke dokter obgyn "
" Dokter tidak salah ngomongkan?"
" Tidak tuan, saya bicara yang benar"
__ADS_1
" Terima kasih Dok. Jika lelaki yang mengantarkan istri saya tadi menanyakan keadaan istri saya. Bilang keadaan istri saya baik-baik saja, jangan bilang dia lagi hamil"
" Baik tuan, tapi laki-laki yang mengantarkan istri anda banyak tuan"
" Oh astaga. Yang menggendong istri saya tadi"
" Ah, baik tuan. Saya mengerti"
" Tolong berikan ponsel saya pada bodyguard saya"
" Hallo tuan muda"
Kalian jaga istri saya. Jangan biarkan lelaki asing masuk kedalam ruangan istri saya sekalipun itu dokter. Kamu cari saja dokter wanita untuk memeriksa istri saya. Satu lagi, tolong berikan bonus untuk dokter tadi, karena sudah memberikan kabar baik untuk saya"
" Baik tuan, kalau boleh tau kabar baik apa ya tuan?"
" Doni, jangan kepo"
Tut.
Darren mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Setelah itu ia berjoget ria.
" Yes, sebentar lagi gue akan jadi daddy" kata Darren sambil berjoget dan juga bersenandung.
Untung saja tidak ada orang yang melihat dia berjoget-joget seperti itu. Kalau tidak hancur sudah reputasinya sebagai Presiden direktur. Ia segera masuk kedalam hotel tempat dia menginap. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan di sini, karena ia tidak sabar ingin memberikan kabar bahagia ini pada semua keluarga besarnya.
Di rumah sakit.
Kiran baru siuman. Ia melihat ruangan yang ia tempati itu sekarang bukanlah kamarnya. Ia pun teringat akan kejadian saat di supermarket tadi. Dia teringat akan seseorang. Apa Daffin yang membawa dia ke rumah sakit.
" Pak"
" Iya nona"
" Laki-laki yang mengantarkan saya ke sini tadi, dimana ya?"
" Di luar nona"
" Bisa tolong panggilkan nggak Pak"
" Itu kalau dia tau kan, kalau nggak tau kan bapak aman"
" Ta-tapi nona"
" Nggak ada tapi-tapian. Lagian saya cuma mau berterima kasih pada dia"
" Baiklah"
Doni memanggil Daffin yang masih duduk di kursi yang ada di luar ruangan tempat Kiran di rawat.
" Tuan, nona muda ingin bertemu dengan anda"
Daffin sangat senang karena Kiran ingin bertemu dengan dirinya. Ia segera masuk kedalam ruangan itu.
" Princess"
" Makasih ya"
" Itu sudah tugasku sebagai sahabat"
Ada rasa sakit dikala mengatakan kalau dirinya hanya sahabat. Tapi mau bagaimana, karena emang itulah kenyataannya. Kalau sekarang dia hanya sahabat wanita cantik itu.
" Oh iya, dokter bilang apa tadi? apa ada penyakit yang serius?" tanya Kiran.
Daffin tersenyum mendengarkan pertanyaan beruntun dari Kiran. " Dokter bilang kamu baik-baik aja, nggak ada penyakit yang serius"
" Lantas kenapa aku pingsan?"
" Itu karena kamu telat makan"
Kiran baru teringat kalau ia belum makan daritadi pagi. Karena tadi dia tidak turun ke bawah. Melihat kepergian suaminya pun dia hanya di balkon kamar.
__ADS_1
Ia teringat akan sesuatu. Bukankah suaminya sudah dari tadi berangkat. Dan sekarang pasti sudah sampai di Bandung.
" Pak"
" Iya nona"
" Tadi suami saya ada menelpon nggak?"
Belum sempat Doni menjawab ponsel Kiran kembali berdering. Doni segera memberikan ponselnya pada Kiran.
" Hallo assalamualaikum, honey"
" Wa'alaikum salam hubby"
" Maaf baru kabari kamu. Karena aku baru sampai di hotel"
" Nggak apa-apa, yang penting hubby nggak lupa sama janjinya"
" Nggak mungkin aku lupa honey. Oh iya sekarang kamu lagi apa?"
Kiran bingung harus jawab apa. Ia tidak boleh bilang kalau sekarang dia lagi di rumah sakit bisa-bisa suaminya itu akan segera terbang ke Jakarta dan pekerjaannya di sana akan tertunda.
" Aku baru pulang belanja "
" Jangan kerja yang berat-berat honey. Aku nggak ingin kamu kecapean"
" Iya hubby, lagian aku cuma belanja doang kok. Bukan ngangkat yang berat-berat"
Daffin tersenyum getir melihat interaksi Kiran ditelpon dengan suaminya. Sakit, tapi tidak berdarah. Ya seperti itulah yang ia rasakan sekarang ini.
Kiran meletakkan ponselnya kembali di atas nakas setelah selesai menerima telepon dari suaminya.
" Princess"
" Hhmm"
" Aku pamit dulu ya"
" Iya, sekali lagi terima kasih ya"
" Sama-sama, jaga kesehatan kamu"
" Kamu juga"
Daffin keluar dari ruangan Kiran. Ia bahagia melihat Kiran hidup bahagia dengan suaminya. Tapi bagaimana dengan dirinya, ia belum bisa melupakan wanita cantik itu sepenuhnya.
Brugk..
" Maaf tuan saya tidak sengaja" ucap seorang wanita yang tidak sengaja menabrak Daffin.
" Tidak apa-apa nona"
Wanita itu terpesona melihat ketampanan Daffin. Ia bersyukur bisa menabrak lelaki tampan itu.
Daffin membantu wanita itu memungut buah yang terjatuh akibat tabrakan dadakan tadi. Untungnya buah apel dan jeruk itu tidak ada yang rusak.
" Ini buahnya nona"
Wanita itu masih memandangi wajah tampan Daffin. Hingga ia tidak mendengarkan kalau Daffin berbicara padanya.
" Nona"
" Ah i-iya"
" Ini buah anda"
" Ya, terima kasih tuan"
" Sama-sama" kata Daffin sambil berlalu pergi meninggalkan wanita yang agak aneh menurutnya.
Wanita itu terus menatap punggung Daffin yang semakin menjauh darinya. Ia tidak tau mimpi apa semalam karena bisa menabrak lelaki setampan itu.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading ππ