Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Detik-detik jadi calon papa


__ADS_3

Beberapa anak buah preman itu datang membantu sang bos. Tapi tidak ada satupun yang bisa mengalahkan remaja pemegang sabuk hitam itu.


" Ada lagi yang mau maju?" tanya Nando.


Para preman itu ragu-ragu. Mereka bingung mau maju atau mundur. Bos mereka saja yang lebih hebat dengan mudahnya dikalahkan. Apalagi mereka, yang seni beladiri nya jauh di atas rata-rata. Jadi mereka pun mundur alon-alon.


" Mau kabur, tidak akan bisa" kata Nando sambil melemparkan kayu kepada preman yang kabur itu.


Bugh.


Salah satu anak buah preman itu tersungkur, karena sebuah kayu tepat mengenai kepalanya.


Temannya mencoba untuk membantu. Tapi sayang, Nando sudah sampai di tempat mereka.


" Mau kabur kemana?"


" A-ampun. Saya tidak akan menggangu para pekerja kalian lagi"


" Mana nyali kamu yang besar tadi, huh!"


" Saya melakukan itu karena di suruh sama bos"


" Makanya sekarang kalian harus ikut saya ke sana"


Anak buah preman yang ingin kabur tadi terpaksa mengikuti Nando. Karena kalau tidak, mereka akan dihabisi sama remaja jelmaan iblis itu.


" Kita apakan mereka ini Bang?" tanya Nando.


" Kita kirim saja mereka ke penjara"


" Ja-jangan! jangan kirim kami ke kantor polisi"


" Tuan, itu orang-orang yang memukul kami tadi. Apa kami boleh membalaskan dendam kami?" tanya salah satu pekerja.


" Silakan"


Para pekerja yang melihat orang yang memukul mereka tadi. Langsung membalaskan dendam mereka pada preman itu.


Bos preman itu hanya bisa melihat anak buahnya dibukuli para pekerja. Ia tidak dapat membantu anak buahnya, karena kakinya patah.


" Apa kamu mau mengganggu para pekerja proyek ini lagi?" tanya Doni.


" Ti-tidak tuan"


" Apa ada orang yang membayar kalian untuk melakukan ini?"


" Tidak tuan"


" Kamu tidak berbohong kan?"


" Tidak tuan"


" Baiklah, sekarang saya akan telpon polisi untuk membawa kalian ke kantor polisi"


" Jangan tuan. Saya mohon jangan telpon polisi"


" Kenapa saya tidak boleh telpon polisi. Kalian kan sudah mengganggu para pekerja. Dan juga membuat beberapa pekerja saya cedera"


" Kalau masalah itu bukannya kita imbang tuan. Bahkan anak buah saya lebih banyak terluka dan juga cidera dibandingkan para pekerja tuan"


Doni melihat sekelilingnya. Benar saja, anak buah preman itu sudah banyak yang babak belur. Bahkan ada dari mereka yang tidak bisa berdiri karena luka mereka sangat serius.


"Kalau saya tidak laporkan ke polisi. Besok-besok kalian pasti akan menggangu lagi?"


" Tidak akan tuan. Saya berjanji"


" Gimana Bang?" tanya Nando.


" Kita tanya tuan muda dulu"


Doni meminta salah satu pekerja untuk mengambilkan ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.


" Saya hubungi bos saya dulu"


" Baik tuan"

__ADS_1


Setelah menunggu selama lima menit. Orang yang ditugaskan Doni untuk mengambil ponselnya sudah kembali. Ia terlihat sangat hati-hati membawa ponsel milik tuannya itu.


" Ini tuan ponsel sama kunci mobilnya"


" Terima kasih"


Doni melihat ada tiga puluh panggilan tidak terjawab dari nomor tuan mudanya. Tanpa menunggu lama ia langsung menghubungi tuan mudanya itu. Tak butuh waktu lama, telpon Pi tersambung.


" Kamu darimana saja? saya telpon nggak di jawab?!"


" Maaf tuan muda, saya lagi menyelesaikan masalah yang ada di sini"


" Terus bagaimana? apa kamu berhasil mengalahkan mereka?"


" Tentu saja berhasil tuan muda. Bahkan Nando mematahkan salah kaki bos preman itu"


" Bagus. Kalau kamu mematahkan apanya bos preman itu?"


Doni bingung mau menjawab apa. Pasalnya ia tidak dapat kebagian untuk menghajar bos preman itu.


" Hei! kenapa kamu diam?"


" Maaf tuan muda. Saya tidak kebagian"


" Uh payah kamu, masa kalah sama Nando?"


" Mau gimana lagi. Belum saya pukul saja, bos preman itu sudah minta ampun"


" Bohong! bilang aja kekuatan kamu itu sudah menurun"


" Bukan begitu tuan muda"


" Doni buruan balik, istri kamu udah mau melahirkan" terdengar suara nona mudanya.


" Melahirkan?"


" Iya. Makanya cepat selesai kan masalah kamu dan temani istri kamu di rumah sakit"


" Baik nona"


Panggilan telepon pun berakhir.


" Apanya?"


" Soal mereka"


" Astaga, Abang lupa bilanginnya"


Doni kembali menghubungi nomor ponsel tuan mudanya.


" Apalagi? kamu kangen sama saya?"


" Bukan tuan muda. Saya mau menanyakan tentang para preman ini"


" Kamu habisi saja mereka semua, gampang kan?"


" Kalau menghabisi mereka, saya angkat tangan tuan muda"


" Kenapa?"


" Istri saya sebentar lagi mau melahirkan. Jadi saya pensiun dulu bunuh orang"


" Iya juga sih. Kalau gitu serahkan mereka ke pihak yang berwajib"


" Justru itu masalahnya tuan muda, mereka tidak mau diserahkan pada polisi"


" Apa-apaan mereka itu. Sudah menunggu para pekerja dan membuat mereka cedera, tapi tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kalau begitu suruh Nando untuk menghabisi mereka"


" Tuan muda yakin?"


" Tunggu! mending kita manfaatkan saja mereka"


" maksud tuan muda. Manfaatkan mereka bagaimana?"


" Suruh mereka jadi keamanan untuk para pekerja proyek"

__ADS_1


" Baik tuan muda"


Doni menutup panggilan teleponnya. Ia menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.


" Kalian beruntung karena bos saya tidak menjebloskan kalian ke penjara"


Para preman itupun merasa senang. Karena mereka tidak jadi mendekam di tahanan.


" Tapi ada syaratnya"


" Syarat?"


" Iya syarat".


" Kalau boleh tau, apa syaratnya tuan?"


" Kalian harus menjaga keamanan para pekerja di sini. Bagaimana? kalian setuju?"


" Kami setuju tuan"


" Ambil kartu ini dan obati luka kamu dan juga anak buah kamu"


" Terima kasih tuan"


" Sama-sama. Dan untuk kalian, silakan kembali bekerja. Karena sekarang kalian sudah aman"


" Baik tuan"


" Kami mau kembali ke kota, karena istri saya mau melahirkan"


" Wah, selamat tuan"


" Terima kasih. Kami pamit dulu semuanya"


" Iya tuan. Hati-hati dijalan"


Doni melajukan mobilnya meninggalkan area proyek itu. Ia harus cepat sampai di kota. Karena ia tidak mau kehilangan momen saat calon anaknya lahir ke dunia.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Darren dan Romy sedang bermain bersama anak-anak mereka di taman yang ada di depan rumah Doni. Sedangkan istri mereka sedang menemani Serly di dalam.


" Kita ke rumah sakit aja Ser?" kata Kiran.


" Ntar aja deh, takutnya aku diprank kek tadi lagi"


" Benar Ser. Masa kamu nggak percaya sama yang udah senior" kata Nadia.


" Lagian tadi aku juga udah bilang sama Doni kalau kamu udah mau melahirkan"


" Bagus dong. Kalau dia cepat pulang, gimana dengan tugasnya yang di berikan Darren padanya?"


" Tenang aja, Doni sama Nando berhasil mengerjakan tugas mereka. Dan kalian tau, Nando kita berhasil mematahkan kaki bos preman itu"


" Wah, si tampan kita keren banget" kata Serly.


" Udah tampan, pintar dan juga jago bela diri lagi. Coba gue belum nikah" kata Nadia.


" Emang kenapa kalau belum nikah"


" Gue embat tu sih Nando"


" Sadar Buk, ingat sama umur" kata Kiran.


" Tau lo. Lagian kalau lo nikah sama Nando, ntar orang pikir Lo Tantenya"


" Ya elah, gue nggak setua itu kali. Gue baru sweet seventeen kali?"


" Ya, sweet seventeen dibalik" kata Serly.


" Kalau dibalik, udah sepuh dong gue"


Ketiga cewek cantik itu pun tertawa. Kiran dan Serly tidak bisa membayangkan kalau Nadia menikah dengan Nando. Pasti ia akan dibully sama netizen.


To be continue.

__ADS_1


Maaf telat up nya, soalnya sinyal di tempat Feby lagi error πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Happy reading 😚😚


__ADS_2