
Clarissa berjalan menghampiri putranya yang nakal itu. Dia tidak tau putranya ketempelan apa di kolom berenang itu, sehingga dia hampir main nyosor calon mantu kesayangannya.
" Di cariin dari tadi, eh taunya malah berendam di sini"
" Apaan sih Mom?" tanya Darren sambil naik ke atas.
Clarissa tersenyum melihat raut wajah kesal putranya. " Jangan coba-coba curi start"
" Siapa yang curi start coba"
" Itu kamu main nyosor calon mantu mommy"
" Kagak!"
" Jangan bohong? kalau mommy tidak datang tepat waktu, mungkin sekarang bibir mantu mommy sudah nggak perawan lagi karena kamu"
" Aku itu tadi mau tiup matanya Mom"
" Bohong, mommy tau kamu itu tadi mau sosor calon mantu mommy kan?"
" Kagak Mom"
" Kagak salah" kata Clarissa.
" Kagak bener" kata Darren sambil berlalu pergi meninggalkan sang mommy.
" Ck.. udah ketangkep basah masih aja nggak ngaku"
Darren tidak mendengarkan ocehan sang mommy. Dia terus masuk kedalam villa.
Darren tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka akan khilaf mencium Kiran kalau saja mommy-nya tidak datang.
" Tahan, belum halal. Ntar kalau sudah halal baru sosor "gumam Darren.
" Kamu lagi ngomong sama siapa Ren?" tanya sang daddy yang datang tiba-tiba.
" Astagfirullah Dad, ngagetin aja"
" Ya elah gitu aja kaget"
" Kaget lha, Daddy itu datang udah kek jailangkung"
" Anak durhakim kamu. Masa Daddy yang tampan sejagat raya ini kamu samain ama jailangkung"
" Emang! datang tak di jemput dan pulang tak di antar" kata Darren sambil masuk ke dalam kamarnya.
" Ck.. ngidam apa istriku waktu hamil tu bocah" kata Jonathan sambil pergi dari sana.
Sampai di kamar, Darren segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Darren memakai pakaiannya. Dia memakai kaos t-shirt berwarna hitam yang sangat cocok di tubuh atletisnya.
Darren menatap pantulan dirinya di cermin besar itu. Dia sangat fokus menatap pantulan dirinya.
" Tampan, tapi kenapa Kiran belum juga mau menerima cinta gue?. Apa gue emang nggak pantas untuk wanita sebaik dan secantik dia?"
Ceklek.
Darren mendengar suara pintu kamarnya terbuka langsung menoleh kearah pintu. Dia menatap gadis yang sedang basah kuyup akibat ulahnya tadi.
" Kenapa masih berdiri di sana?"
" Ah iya"
" Sorry" ucap Darren.
" Eh!" kaget Kiran.
" Sorry tadi udah lancang menyentuh kamu"
Kiran tersenyum. Dia tidak menyangka Darren akan meminta maaf padanya. " It's ok"
" Kamu nggak marah sama aku?"
" Nggak, lagipula kamu nggak salah apa-apa"
" Tapi tadi aku udah nyentuh kamu, dan untung mommy datang tepat waktu kalau tidak pasti tadi aku udh ci--"
" Stop! jangan dilanjutkan" kata Kiran sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dia membanting pintu kamar mandi hingga Darren terhenyak karena kaget mendengar suara pintu yang di banting Kiran.
" Dia bilang nggak marah, tapi liat sekarang. Pintu di banting begitu, padahal pintu tidak punya salah. Kasihan kami Pin, jadi sasaran amukan wanita ku"
Didalam kamar mandi Kiran ngedumel. Dia tidak menyangka Darren akan mengatakan hal itu memalukan itu.
" Kenapa sih dia harus bahas masalah di kolam renang tadi, bikin malu aja. Ini lagi pipi, kenapa memerah kek gini"
__ADS_1
Tidak mau memikirkan hal yang memalukan tadi, dia segera membersihkan dirinya di bawah guyuran shower.
Setelah membersihkan dirinya, Kiran memakai jubah handuknya. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi.
" Ka-kamu masih di sini?" tanya Kiran.
" Aku nunggu kamu"
" Kan aku nggak minta ditunggu"
" Iya, tapi aku ingin aja"
" Kamu keluar dulu, aku mau pake baju"
" Kenapa harus keluar?"
" Kamu mau liat aku ganti baju"
" Ya nggak lha"
" Makanya cepat keluar"
" Kamu gantinya di kamar mandi aja deh" kata Darren sambil berbaring di atas kasur.
Kiran yang malas berdebat pun, segera mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah Kiran masuk ke dalam kamar mandi. Darren mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke nomor asistennya.
" Hallo, masih ingat punya temen lo?!" terdengar suara kesal dari seberang sana.
" Kenapa suara lo kek orang kesal begitu?"
" Gimana nggak kesal, lo enak-enakkan libur. Lha gue nggak di ajak. malah disuruh kerja sendirian"
" Wajar dong bos liburan. Yang nggak wajar itu bos kerja asistennya libur"
" Emang kapan lo kasih gue waktu untuk liburan?!"
" Lo mau liburan?"
" Ya maulah"
" Gue akan kasih lo waktu untuk liburan, tapi ada syaratnya"
" Ck.. selalu pake syarat"
" Iya mau"
" Nah gitu dong, itu baru asisten gue"
" Udah buruan bilang syaratnya"
" Lo booking restoran untuk gue"
" Itu doang, kecil"
" Bukan itu aja"
" Adalagi?"
" Ada dong, lo dekor tu restoran bagus-bagus pake bunga-bunga yang cantik dan juga segar"
" Bunga ****** mau nggak lo"
" Kenapa nggak bunga kuburan aja lo kasih sekalian "
" Boleh, ntar gue kasih"
" Gue nggak lagi bercanda Romy!"
" Idih ngegas dia"
" Ya udah, waktu liburan lo batal"
" Jangan dong bro"
" Makanya jangan bercanda saat urgent begini!"
" Ok, sorry. Sekarang bilang gue harus ngapain?"
" Lo booking restoran, terus dekor sebagus dan seindah mungkin"
" Siap bos, adalagi?"
" Untuk sekarang cukup. Lo boleh lanjut lagi kerjanya"
__ADS_1
Tut.
Belum sempat Romy menjawab Darren sudah memutuskan sambungan teleponnya. Dia tau pasti sekarang sahabatnya itu sedang mengumpat dirinya.
Darren akan memberi kejutan untuk Kiran nanti setelah mereka pulang dari liburan. Dia berharap wanitanya suka dengan surprise yang akan dia kasih nanti. Ia tersenyum membayangkan Kiran yang terpesona dengan surprise yang akan dia berikan.
" Kamu kenapa?" tanya Kiran yang baru keluar dari kamar mandi.
Darren menoleh kearah suara. Dia terpesona melihat kecantikan Kiran. Walaupun tanpa makeup. Kiran hanya memakai kaos t-shirt berwarna putih dengan celana pants panjang.
" Kok diam?" tanya Kiran lagi.
" Cantik" jawab Darren.
" Gaje banget kamu" kata Kiran sambil mendudukkan pantatnya di sofa yang ada di kamar itu.
" Look so beautiful " kata Darren lagi.
" Kamu lagi ngigo?"
" No, aku lagi mengagumi ciptaan Tuhan"
" Oh iya"
" Hhmm "
" Masih banyak ciptaan Tuhan yang perlu kamu kagumi "
" Iya salah satunya kamu"
" Ck.. gombal banget sih kamu"
" Itu bukan gombalan, tapi kenyataan"
Kiran hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia baru tau kalau Darren pinter menggombal.
" Kapan kita pulang?" tanya Kiran.
" Ntar sore"
" Berarti nggak jadi 3 hari kita liburannya?"
" Nggak soalnya calon mertua kamu tidak sabar ingin bertemu dengan calon besannya"
" Apa kamu yakin mau menikahi aku?"
" Seribu persen yakin. Apa kamu nggak yakin dengan kesungguhanku? "
" Yakin"
" Terus?"
" Aku hanya takut kecewa "
" Aku tidak akan pernah membuat kamu kecewa. Karena aku sangat mencintai kamu sejak dulu sampai sekarang"
" Sajak dulu?"
" Hhmm"
Apa maksud Darren ' sejak dulu?. Kenapa dia tidak bisa mengingat pernah mengenal lelaki tampan itu.
" Apa kamu ingat sama laki-laki yang kamu tabrak waktu saat keluar dari lift di perusahaan daddy kamu. Mungkin kamu nggak ingat, karena kejadiannya sudah lama. Dan waktu itu umur kamu masih 8 atau 9 tahun?"
Kiran mencoba mengingat anak laki-laki itu. Tapi hasilnya nihil dia tidak ingat.
" Apa kamu ingat anak lelaki yang memecahkan kaca supermarket?" tanya Darren lagi.
Deg.
Tentu saja dia ingat. Lelaki itulah yang menolongnya dari manager supermarket itu. Dia tidak akan pernah lupa.
" Ternyata kamu anak laki-laki yang menyebalkan itu?"
Darren tersenyum, sudah lama dia tidak mendengarkan panggilan itu lagi.
" Iya itu aku"
Kiran tidak menyangka anak lelaki itu adalah Darren. Pantas saja Darren selalu memanggilnya dengan sebutan gadis kecil.
Ternyata kamu anak lelaki menyebalkan itu. Sampai sekarang pun menyebalkan.
To be continue.
Abang minta Vote nya Reader ππ
__ADS_1
Happy Reading ππ